Waktu masih di sekolah ini, kalau hujan deras, tiba-tiba sungai di belakang ruang kelas kami meluap. Kebanjiran, akhirnya terpaksa pulang cepat. Atapnya juga banyak yang bocor. Kalau hanya air menetes dari atap tetapi tidak sampai banjir, paling kami hanya pindah tempat duduk dan tetap belajar,” kata Ega Nadya Aprilia (12), murid kelas V SDN Sumur Batu 03, Jakarta Pusat, Jumat (29/2).
Ega adalah salah satu dari 154 murid SDN Sumur Batu 03. Ratusan murid sekolah dasar tersebut terpaksa mengungsi dan ditampung di SDN Sumur Batu 04 yang tepat berada di depan SDN Sumur Batu 03. Akan tetapi, SDN Sumur Batu 04 sudah direnovasi dan ditinggikan sekitar satu meter dari permukaan tanah sehingga bebas banjir.
Kondisi harus mengungsi dan menumpang di sekolah lain juga dialami sekitar 350 murid SDN Sumur Batu 12 yang berada di Jalan Nilam Raya, Sumur Batu. Ratusan murid tersebut terpaksa dipindahkan ke SDN 10 yang berada satu kompleks dengan SDN 03 dan SDN 04 di Jalan Sumur Batu Utara.
Jumat kemarin, kondisi bangunan SDN 03 dan SDN 12 terlihat memprihatinkan. Masing-masing sekolah terdiri dari sedikitnya 10 ruangan, termasuk ruang guru. Seluruh ruang kelas dibiarkan kosong terkunci, ditinggalkan para murid dan guru.
Tampak atap-atap kelas berlubang dan kusen kayu maupun tiang kayu keropos hampir di tiap ruang kelas. Salah satu ruang kelas SDN 12 tampak seluruh atapnya nyaris jebol. Tiang kayu dan besi yang sengaja dipasang tidak mampu menahan plafon yang keropos.
Sulit konsentrasi
Nindyawati (40), ibu dari Manisha Alin (8), murid kelas II SDN 03, senang anaknya masih boleh menumpang di SDN 04. Akan tetapi, orangtua murid mengeluhkan jam belajar yang berubah drastis.
”SDN 03 ini sebenarnya masuk pagi. Setelah pindah, terpaksa para murid masuk siang, sekitar pukul 12.30 dan paling sore pulang pukul 17.15. Jam istirahat anak saya terganggu. Biasanya bisa tidur siang, kini tidak bisa lagi. Kalau di kelas, anak saya sering menguap dan susah konsentrasi. Anak saya juga tidak bisa ikut les mengaji lagi,” kata Nindyawati.
Kerusakan parah juga terjadi di SDN 14 yang terletak berdekatan dengan SDN 12. Ruang kelas dan ruang guru terpaksa menggunakan tiang kayu untuk menopang atap yang melengkung, rawan roboh.
Padahal, berdasarkan pantauan para orangtua dari 358 murid sekolah itu, bangunan SDN 14 yang dibangun pada tahun 1978 itu saat ini tak layak pakai lagi. Menurut Kepala SDN 14 Alim Suardi, renovasi ringan sekolah tersebut sempat dilakukan pada tahun 2000.
Manusia tidak bermartabat
Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, Arief Rachman, prihatin ketika mengetahui kondisi ratusan murid yang terpaksa mengungsi. Bagi dia, di era milenium seperti sekarang ini dan di jantung ibu kota Indonesia tidak pantas ditemukan bangunan sekolah yang nyaris roboh.
”Ini masalah mental. Mental bangsa ini adalah mental meminta dan memiliki, tetapi tidak merawat. Bagaimana bisa, bangunan berusia 20-30 tahun dibiarkan tanpa perawatan. Ini kemunduran paling parah dalam sejarah pendidikan Indonesia. Mungkin dua dasawarsa lagi bangsa ini menuai generasi yang tidak terdidik dan tidak bermartabat karena kesalahan yang dilakukan saat ini,” kata Arief. (Neli Triana)
disalin dari Kompas 3/3/2008

Tidak ada komentar:
Posting Komentar