10 Maret 2008

Berlomba Mencuri Start Penerimaan Siswa Baru


Sekitar Januari 2008, bahkan beberapa bulan sebelumnya, iklan penerimaan siswa baru dari berbagai sekolah swasta sudah bertebaran di media massa. Selain berisi visi misi sekolah dan foto-foto kegiatan peserta didik, dicantumkan pula tanggal-tanggal dan syarat-syarat penerimaan siswa baru.

Saat ini sekolah sudah menjadi komoditas jasa yang diperjualbelikan. Sebagai penyedia jasa pendidikan, sekolah menjadi perlu memperkenalkan diri kepada setiap orang, terutama calon peserta didik. Baik sekolah yang sudah diakui bermutu baik maupun yang masih berusaha meningkatkan mutu pendidikannya berlomba-lomba memperkenalkan diri.

Salah satu tolok ukur mutu suatu sekolah dinilai dari kualitas lulusannya. Sekolah dikatakan bermutu jika mampu menghasilkan lulusan yang diterima masuk ke jenjang pendidikan lanjutan yang bermutu. Akan lebih naik lagi pamornya jika lulusannya mampu menduduki posisi penting di pemerintahan. Sekolah-sekolah demikian pasti diburu calon peserta didik. Untuk itu, setiap sekolah berusaha mati-matian menjaga kualitas lulusan.

Alumni, termasuk juga keluarganya, merupakan corong promosi terbaik. Mereka secara naluriah akan menceritakan dengan bangga sekolahnya, mulai dari keburukannya, kejahilannya, sampai kebaikannya. Untuk itu, sekolah berusaha dengan keras menjalin relasi dengan alumni dan keluarganya.

Di sisi lain, siswa yang hampir lulus digiring agar jangan sampai menyeberang ke sekolah lain. Yayasan yang menyelenggarakan sekolah dari play group sampai perguruan tinggi memberi kemudahan bagi peserta didiknya untuk melangkah ke jenjang berikutnya, masih di yayasan itu. Sekolah membuka jalur khusus untuk mereka.

Sementara itu, sekolah berusaha memikat sebanyak mungkin calon siswa baru dari luar. Orangtua sebagai konsumen jasa pendidikan dibujuk agar menyekolahkan anaknya di sekolah dengan cara meyakinkan bahwa konsep pendidikan, guru-guru, dan fasilitas sekolah mampu mengubah peserta didik menjadi orang seperti yang diinginkan.

Berbagai kegiatan itu dilakukan pada pertengahan tahun ajaran. Dengan demikian, peserta didik belum lulus, tetapi sudah mendapatkan sekolah baru. Ini seperti sistem ijon. Petani menjual padinya saat padi masih menghijau di sawah. Pembeli dibolehkan memanen saat panen tiba sebulan berikutnya.

Bagi orangtua, ia sudah memesan bangku di sekolah yang akan ditempati saat anaknya lulus 3-6 bulan mendatang.

Memikat dan mengikat
Calon peserta didik yang terpikat dengan promosi sekolah segera mendaftar. Mereka harus melalui tahapan-tahapan ujian saringan masuk. Beberapa sekolah masih menyaring lagi dengan tes fisik/kebugaran dan tes psikologi serta wawancara.

Giliran orangtua yang pusing setelah nomor pendaftaran atau nama anaknya tercantum dalam daftar peserta didik yang diterima. Dalam waktu singkat orangtua harus segera membayar sejumlah uang untuk berbagai keperluan.

Untuk mengikat calon peserta didik yang sudah diterima, sekolah menerapkan aturan bahwa uang yang sudah disetorkan akan hangus jika calon mengundurkan diri dengan alasan apa pun. Beberapa sekolah masih mengembalikan setelah dipotong biaya administrasi.

Sekolah, dalam hal ini yayasan, akan sangat diuntungkan karena pada Januari sudah masuk dana segar dan baru akan digunakan pada bulan Juli.

Sementara itu, untuk bisa diterima pada sekolah favorit, orangtua dan peserta didik merasa belum cukup jika hanya mengandalkan pembelajaran dari sekolah. Les privat dan bimbingan belajar menjadi keharusan. Tentu semuanya membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Di sisi lain, peserta didik setiap hari mengerjakan soal, soal, dan soal, diselingi pembahasan agar bisa lulus dan masuk sekolah favorit. Seorang rekan berkelakar, seandainya peserta didik ini diibaratakan ayam potong, mereka sudah tidak mengeluarkan darah saat disembelih.

Pagi sampai siang mereka sekolah seperti biasa. Siang sampai sore mereka mengerjakan try out atau les privat yang juga mengerjakan soal. Malam mereka diharuskan mengerjakan soal-soal lagi. Ini semua dilakukan agar saat ujian dapat skor tinggi.

Masalahnya, ketika sekolah favorit sudah di tangan, untuk apa mengerjakan soal-soal latihan berbulan-bulan?

Atur strategi
Dilepas. Itu yang sering terdengar dari mulut peserta didik. Kelelahan yang mendera mengakibatkan ia mengatur strategi dengan melepas mata pelajaran tertentu untuk tidak diseriusi dalam belajar dan dalam mengerjakan soal. Peserta didik sudah dengan sendirinya cerdas memilih mata pelajaran apa yang perlu dipelajari dengan serius dan mana yang agak serius serta mana yang bisa diabaikan.

Situasi demikian membuat proses penanaman nilai-nilai dan pembiasaan pada hal-hal yang baik, seperti keagamaan, keutamaan, kejujuran, kerja sama, dan etos belajar cerdas, sudah berhenti di semester satu.

Sekolah sebenarnya sudah berakhir pada kelas 5, kelas 8, dan kelas 11. Selama satu tahun mereka hanya mendapatkan kursus atau privat atau bimbingan belajar semata. Mereka hanya berlatih trik-trik mengerjakan soal-soal belaka.

Menghadapi kondisi seperti ini, pemerintah seyogianya bisa merangkul berbagai yayasan yang di bawah pembinaannya untuk duduk bersama merumuskan dan menetapkan aturan main mengenai kapan sebuah sekolah dibolehkan mulai membuka pendaftaran.

Sekolah-sekolah barangkali perlu berlapang dada bersedia duduk bersama. Bukan tidak mungkin jika dibiarkan, waktu pendaftaran siswa baru semakin lama semakin maju karena setiap sekolah tidak mau kalah dengan sekolah lain. Akibatnya, orangtua harus menyediakan dana lebih awal dan lebih banyak, bahkan terbuang percuma.

Calon peserta didik lebih lama menunggu untuk mendapat selembar ijazah. Selama itu pula peserta didik digelontori soal-soal.

Sekolah hanya berperan sebagai lembaga bimbingan. Barangkali ada cara yang lebih cerdas?

N Widi Wahyono Guru SMA Kolese Kanisius, Jakarta

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.10.00465853&channel=2&mn=156&idx=156

Tidak ada komentar: