KOMPAS/SOELASTRI SOEKIRNO / Kompas Images Kondisi salah satu ruang kelas di SDN 4 Rawaboni, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (26/2). Kuda-kuda bangunan patah dan mengakibatkan bocor saat hujan. Meski demikian, belum ada rencana renovasi di SDN itu.Rabu, 27 Februari 2008 03:44 WIB
Tangerang, Kompas - Tiga Sekolah Dasar Negeri (SDN) Rawaboni, di Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang sejak lebih dari tiga tahun terakhir rusak berat. Tiga sekolah itu, SDN 1 Rawaboni, SDN 3 dan SDN 4 Rawaboni. Kerusakan parah terjadi di SDN 1 dan SDN 4 Rawaboni.
Bagian atap SDN 1 sudah melengkung sehingga membahayakan pemakainya. Keadaan hampir sama terjadi pada SDN 4 Rawaboni yang berjarak sekitar satu kilometer dari SDN 1 dan 3.
Pada musim hujan, tiga ruang kelas SD 1 Rawaboni harus dikosongkan karena membahayakan keselamatan siswa dan guru. Di SDN 4 Rawaboni, atapnya bocor setiap kali hujan. Sebagian eternit lepas dan berlubang. Potongan kayu bagian atap tampak berayun menunggu saat lepas dari paku. Sekalipun demikian, siswa tetap belajar di tiga ruang kelas yang atapnya bocor itu.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Ahmad Suwandhi hari Selasa (26/2) menyatakan SD 1 dan SD 3 akan direhabilitasi tahun ini. Namun untuk SDN 4, Ahmad mengaku tidak tahu kondisinya karena dirinya tidak menerima laporan.
Anggota DPRD Kabupaten Tangerang Jacky Harahap menyatakan heran mengapa SD 4 yang sudah lama rusak, membahayakan siswa dan guru tak masuk rencana rehabilitasi tahun 2008.
”Kalau Dinas Pendidikan tak tahu seberapa tingkat kerusakannya berarti fungsi pengawasan dan invetarisir sekolah rusak tak berjalan baik," ujar Jacky. Ia berharap fungsi pengawas dikembalikan seperti jaman dulu.
Maksudnya, jenjang pelaporan hasil pengawasan lebih baik dari pengawas ke dinas pendidikan kecamatan lalu ke dinas pendidikan kabupaten. Ini lebih efektif karena usulan perbaikan akan sesuai kebutuhan. (TRI)
Tangerang, Kompas - Tiga Sekolah Dasar Negeri (SDN) Rawaboni, di Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang sejak lebih dari tiga tahun terakhir rusak berat. Tiga sekolah itu, SDN 1 Rawaboni, SDN 3 dan SDN 4 Rawaboni. Kerusakan parah terjadi di SDN 1 dan SDN 4 Rawaboni.
Bagian atap SDN 1 sudah melengkung sehingga membahayakan pemakainya. Keadaan hampir sama terjadi pada SDN 4 Rawaboni yang berjarak sekitar satu kilometer dari SDN 1 dan 3.
Pada musim hujan, tiga ruang kelas SD 1 Rawaboni harus dikosongkan karena membahayakan keselamatan siswa dan guru. Di SDN 4 Rawaboni, atapnya bocor setiap kali hujan. Sebagian eternit lepas dan berlubang. Potongan kayu bagian atap tampak berayun menunggu saat lepas dari paku. Sekalipun demikian, siswa tetap belajar di tiga ruang kelas yang atapnya bocor itu.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Ahmad Suwandhi hari Selasa (26/2) menyatakan SD 1 dan SD 3 akan direhabilitasi tahun ini. Namun untuk SDN 4, Ahmad mengaku tidak tahu kondisinya karena dirinya tidak menerima laporan.
Anggota DPRD Kabupaten Tangerang Jacky Harahap menyatakan heran mengapa SD 4 yang sudah lama rusak, membahayakan siswa dan guru tak masuk rencana rehabilitasi tahun 2008.
”Kalau Dinas Pendidikan tak tahu seberapa tingkat kerusakannya berarti fungsi pengawasan dan invetarisir sekolah rusak tak berjalan baik," ujar Jacky. Ia berharap fungsi pengawas dikembalikan seperti jaman dulu.
Maksudnya, jenjang pelaporan hasil pengawasan lebih baik dari pengawas ke dinas pendidikan kecamatan lalu ke dinas pendidikan kabupaten. Ini lebih efektif karena usulan perbaikan akan sesuai kebutuhan. (TRI)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar