Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Nurachman, mengatakan, operasionalisasi bus sekolah terkendala anggaran. Akibatnya, bus sekolah harus berhenti beroperasi dan dikandangkan.
"Saya mau bayar pakai apa? Sampai sekarang anggarannya belum keluar," ujar Nurachman, di Jakarta, kemarin (25/2). Selain itu, lanjut Nurachman, untuk kembali mengoperasikan bus sekolah harus dilakukan lelang atau tender ulang.
Menurut Nurachman, lelang ulang dilakukan untuk menentukan pihak yang mengoperasikan bus sekolah. Setelah dilakukan lelang ulang, maka bisa dilakukan pembayaran dan kembali dioperasikan. Namun, pada pertengahan Desember lalu, bus ini mulai berhenti beroperasi karena habisnya masa kontrak dengan PT Sinar Jaya selaku operator bus sekolah.
Pengoperasian bus sekolah sedikit banyaknya mirip dengan busway, yaitu diserahkan kepada swasta. Pemenang tender ini nantinya diwajibkan mengelola manajemen pengoperasian, mulai dari pengemudi hingga perawatan. Sedangkan biayanya bersumber dari APBD DKI 2007. Pemprov DKI mengucurkan Rp 55 miliar untuk proyek pengoperasian bus sekolah.
Bus sekolah mulai beroperasi pada 19 Juli 2008 dengan melayani empat rute. Rute pertama jalurnya adalah Kemayoran-Lapangan Banteng dengan jumlah halte sebanyak 8 unit. Rute kedua (Pulogadung-Tanjung Priok) dengan jumlah bus sebanyak lima unit dan jumlah halte sebanyak sembilan.
Sedangkan, rute ketiga (Taman Mini-Kampung Melayu) dengan jumlah bus sebanyak lima unit dan jumlah halte 13. Terakhir, jalurnya adalah Pasar Minggu-Kebayoran Baru dengan jumlah bus sebanyak lima unit 5 dan jumlah halte delapan.
Sedangkan untuk dua rute penghubung, yaitu rute pertama dengan jalur Cawang-Grogol jumlah bus juga lima unit, dan rute penghubung yang kedua jalurnya adalah Cawang-Plumpang dengan jumlah bus sebanyak lima unit pula.
Dengan jumlah armada 34 unit, bus sekolah beroperasi pada pukul 05.30-08.00 WIB, pukul 11.00-13.00 WIB (kecuali Jumat hingga pukul 14.00 WIB), dan pukul 15.00-18.00 WIB. (c52 )
"Saya mau bayar pakai apa? Sampai sekarang anggarannya belum keluar," ujar Nurachman, di Jakarta, kemarin (25/2). Selain itu, lanjut Nurachman, untuk kembali mengoperasikan bus sekolah harus dilakukan lelang atau tender ulang.
Menurut Nurachman, lelang ulang dilakukan untuk menentukan pihak yang mengoperasikan bus sekolah. Setelah dilakukan lelang ulang, maka bisa dilakukan pembayaran dan kembali dioperasikan. Namun, pada pertengahan Desember lalu, bus ini mulai berhenti beroperasi karena habisnya masa kontrak dengan PT Sinar Jaya selaku operator bus sekolah.
Pengoperasian bus sekolah sedikit banyaknya mirip dengan busway, yaitu diserahkan kepada swasta. Pemenang tender ini nantinya diwajibkan mengelola manajemen pengoperasian, mulai dari pengemudi hingga perawatan. Sedangkan biayanya bersumber dari APBD DKI 2007. Pemprov DKI mengucurkan Rp 55 miliar untuk proyek pengoperasian bus sekolah.
Bus sekolah mulai beroperasi pada 19 Juli 2008 dengan melayani empat rute. Rute pertama jalurnya adalah Kemayoran-Lapangan Banteng dengan jumlah halte sebanyak 8 unit. Rute kedua (Pulogadung-Tanjung Priok) dengan jumlah bus sebanyak lima unit dan jumlah halte sebanyak sembilan.
Sedangkan, rute ketiga (Taman Mini-Kampung Melayu) dengan jumlah bus sebanyak lima unit dan jumlah halte 13. Terakhir, jalurnya adalah Pasar Minggu-Kebayoran Baru dengan jumlah bus sebanyak lima unit 5 dan jumlah halte delapan.
Sedangkan untuk dua rute penghubung, yaitu rute pertama dengan jalur Cawang-Grogol jumlah bus juga lima unit, dan rute penghubung yang kedua jalurnya adalah Cawang-Plumpang dengan jumlah bus sebanyak lima unit pula.
Dengan jumlah armada 34 unit, bus sekolah beroperasi pada pukul 05.30-08.00 WIB, pukul 11.00-13.00 WIB (kecuali Jumat hingga pukul 14.00 WIB), dan pukul 15.00-18.00 WIB. (c52 )
Sumber: Republika, 26 Februari 2008

Tidak ada komentar:
Posting Komentar