<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515</id><updated>2012-02-16T14:58:49.228+07:00</updated><category term='tawuran'/><category term='anggaran pendidikan'/><category term='dokumen APBS'/><category term='korupsi (dugaan)'/><category term='umptn'/><category term='WASPADA'/><category term='IT'/><category term='SEKOLAH GRATIS'/><category term='SEKOLAH ROBOH'/><category term='bantuan khusus mahasiswa'/><category term='kurikulum'/><category term='belajar mengajar'/><category term='orangtua siswa (surat)'/><category term='budaya'/><category term='pungutan sekolah (di lapangan)'/><category term='perpustakaan sekolah'/><category term='kebangsaan'/><category term='kekerasan anak'/><category term='komite sekolah'/><category term='ekstrakurikuler'/><category term='SMK'/><category term='ujian nasional'/><category term='siswa demo'/><category term='liburan sekolah'/><category term='potret &apos;cerah&apos; siswa'/><category term='akreditasi'/><category term='PSB'/><category term='organisasi'/><category term='SEKOLAH BANGKRUT'/><category term='pungutan sekolah (di atas kertas)'/><category term='perguruan tinggi'/><category term='buku sekolah'/><category term='potret buram siswa'/><category term='beasiswa'/><category term='pendidikan non formal'/><category term='karikatur pendidikan'/><category term='nasib guru sekolah'/><category term='BOS'/><category term='pro - kontra pendidikan'/><category term='ADA APA DENGAN LVRI?'/><category term='prestasi'/><category term='SBI'/><category term='Sengketa'/><category term='orangtua siswa (opini)'/><category term='sertifikasi'/><title type='text'>TRANSPARANSI PENDIDIKAN</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1870</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-8190779551205074540</id><published>2012-02-12T15:03:00.001+07:00</published><updated>2012-02-12T15:03:33.207+07:00</updated><title type='text'>Asosiasi PTS Tolak Jurnal Ilmiah Jadi Syarat Lulus S1</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.detiknews.com/read/2012/02/12/041304/1840271/10/asosiasi-pts-tolak-jurnal-ilmiah-jadi-syarat-lulus-s1"&gt;http://www.detiknews.com/read/2012/02/12/041304/1840271/10/asosiasi-pts-tolak-jurnal-ilmiah-jadi-syarat-lulus-s1&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;strong&gt;Yogyakarta, &lt;/strong&gt; -                 Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi)  menolak ketentuan jurnal ilmiah atau publikasi karya ilmiah sebagai  syarat ketentuan lulusan program sarjana, pascasarjana dan doktoral.  Sebaiknya mahasiswa di perguruan tinggi didorong untuk lebih berpikir  dan bersikap inovatif.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Hal itu dikatakan Aptisi dalam siaran pers  yang ditandatangani Ketua Prof Dr Eddy Suandi Hamid dan Sekjen Suyatno  yang diterima detikcom, Sabtu (11/2/2012).&lt;br&gt;&lt;br&gt;&amp;quot;Itu bukan sebuah solusi dan Surat Edaran Dirjen Dikti tergesa-gesa,&amp;quot; kata Eddy.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Menurut  Eddy, Aptisi telah menggelar Rapat Pengurus Pusat Pleno /RPPP di  Padang, tanggal 10-11 Februari 2012). Salah satunya adalah membahas dan  menyikapi surat edaran dirjen dikti tersebu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Dia mengatakan saat  ini jumlah karya ilmiah yang terbit dalam suatu jurnal masih terbatas.  Hal itu tidak imbang jumlah mahasiswa seluruh Indonesia. Oleh karena itu  mahasiswa yang menempuh di perguruan tinggi lebih baik didorong untuk  bersikap inovatif.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&amp;quot;Aptisi lebih mendorong mahasiswa pascasarjana  dan doktoral membuat karya ilmiah di jurnal-jurnal nasional maupun  internasional,&amp;quot; katanya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Eddy menambahkan terkait pembahasan  Rancangan Undang-Undang (RUU) Perguruan Tinggi, pihaknya meminta  pemerintah bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan pendidikan bagi  seluruh WNI. Hal ini demi terciptanya regulasi penyelenggaraan  pendidikan tinggi baik PTN maupun PTS secara proposional dalam hak dan  kewajiban.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Menurutnya RUUPT juga harus memberikan dasar untuk  terbentuknya Badan Akreditasi Nasional Mandiri. Meski saat ini sudah ada  BAN PT. APTISI akan menyampaikan masukan sendiri karena RUUPT belum  mengakomodasi secara optimal kepentingan yang di Perguruan Tinggi Swasta  (PTS).&lt;br&gt;&lt;br&gt;&amp;quot;Kami meminta pemerintah dan DPR tidak terburu-buru mengesahkan RUU tersebut,&amp;quot; katanya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Selain  itu lanjut Eddy, Aptisi akan meningkatkan peran dan tanggung jawab  dalam menciptakan wirausahawan baru. PTS di seluruh Indonesia akan  menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan entrepreneurship kepada  mahasiswa agar menjadi wirausahawan baru Indonesia pada lima tahun ke  depan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;                 &lt;b&gt; (bgs/fjr)&lt;/b&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-8190779551205074540?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/8190779551205074540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=8190779551205074540' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8190779551205074540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8190779551205074540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2012/02/asosiasi-pts-tolak-jurnal-ilmiah-jadi.html' title='Asosiasi PTS Tolak Jurnal Ilmiah Jadi Syarat Lulus S1'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-756977041866264472</id><published>2012-01-18T10:59:00.001+07:00</published><updated>2012-01-18T10:59:15.530+07:00</updated><title type='text'>RSBI Tidak Layak Dilanjutkan</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com — &lt;/strong&gt;Kebijakan rintisan sekolah  bertaraf internasional (RSBI)  gagal meningkatkan mutu pendidikan  nasional. Program tersebut justru  memperburuk kondisi pendidikan  nasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian penilaian anggota Komisi X DPR, Rohmaini, yang disampaikan melalui surat elektronik, Selasa (17/1/2012) siang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak   kebijakan RSBI diberlakukan, berbagai persoalan muncul, mulai dari   pembiayaan yang harus ditanggung oleh siswa sampai mahalnya biaya   pendidikan hanya karena ada label RSBI.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Padahal, dalam konstitusi  jelas disebutkan mencerdaskan rakyat adalah  kewajiban negara,"  katanya. Persoalan lainnya adalah RSBI telah memunculkan kasta dalam  pendidikan nasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kita  tahu, pendidikan untuk menyejajarkan  seluruh anak negeri. Semua berhak  mendapatkan pendidikan yang layak  tanpa memandang status kemampuan  ekonominya. Faktanya RSBI milik kelas  ekonomi tertentu," kata Rohmani.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah  6 tahun berjalan,  program RSBI belum menunjukkan kemajuan  pembangunan pendidikan  nasional. Bahkan, tujuan dari RSBI belum juga  terwujud, yaitu mencetak  sekolah bertaraf internasional (SBI).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal ini, menurut Rohmani, patut dipertanyakan karena sejak tahun 2005 hingga saat ini belum satu pun sekolah yang berstatus SBI.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Anggaran   yang dikeluarkan pemerintah miliaran rupiah untuk menjadikan SBI.  Belum  lagi dana yang dipungut dari orangtua murid. Namun, hingga hari  ini  hasilnya belum ada," tuturnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berdasarkan evaluasi  Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), seluruh sekolah  yang dikelola  sebagai RSBI tidak satu pun layak menjadi SBI. Jumlah  sekolah RSBI  mencapai 1.305 sekolah yang terdiri atas SD, SMP, SMA, dan  SMK.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Ini ironi di  tengah ekspektasi masyarakat memiliki pendidikan terjangkau dan berkualitas," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk   itu, Rohmani kembali meminta pemerintah mengoreksi kebijakan RSBI.   Menurut dia, semua sekolah berhak mendapat perlakuan yang sama layaknya   fasilitas yang diterima sekolah RSBI, bukan sekolah yang  berlabel RSBI  saja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2012/01/17/18075598/RSBI.Tidak.Layak.Dilanjutkan"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2012/01/17/18075598/RSBI.Tidak.Layak.Dilanjutkan&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-756977041866264472?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/756977041866264472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=756977041866264472' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/756977041866264472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/756977041866264472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2012/01/rsbi-tidak-layak-dilanjutkan.html' title='RSBI Tidak Layak Dilanjutkan'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-699252546644140883</id><published>2011-11-30T09:51:00.001+07:00</published><updated>2011-11-30T09:51:20.159+07:00</updated><title type='text'>4 Saksi Diperiksa Terkait Tembok Roboh yang Timpa Siswa SD di Bekasi</title><content type='html'>&lt;span class="date"&gt;Rabu, 30/11/2011 09:28 WIB    &lt;/span&gt;&lt;br&gt;           &lt;br&gt;&lt;strong&gt;Jakarta &lt;/strong&gt; -                 4 Saksi diperiksa terkait robohnya tembok Yayasan  Al-Ijtuhad, Jl Masjid Al Ikhlas, Kranji, Bekasi Barat. Tembok setinggi 2  meter ini roboh dan menimpa 10 anak SD yang sekolahnya tidak jauh dari  lokasi itu. &lt;br&gt;&lt;br&gt;&amp;quot;Sudah 4 orang saksi yang kita periksa. Itu yang  roboh tembok tanah wakaf,&amp;quot; kata Kapolres Bekasi Kota, Kombes Priyo  Widyanto, kepada detikcom, Rabu (30/11/2011).&lt;br&gt;&lt;br&gt;Priyo mengatakan  polisi belum meminta keterangan siswa-siswa SD yang tertimpa tembok. Hal  ini disebabkan sebagian siswa SD ini masih menjalani perawatan. &lt;br&gt;&lt;br&gt;&amp;quot;Mereka masih belum dimintai keterangan karena masih dirawat,&amp;quot; jelasnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Tembok  setinggi 2 meter dan panjang 12 meter ini roboh dan menimpa 10 siswa  SDN Kranji III dan SDN Kranji XV, Selasa (29/11) kemarin pukul 12.15  WIB. Selain siswa SD, dua orang pedagang juga menjadi korban peristiwa  tersebut. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Menurut informasi Humas Polda Metro Jaya, seluruh  korban yang mengalami luka-luka selanjutnya dibawa ke RSU Kota Bekasi.  Datar korban akibat peristiwa ini adalah :&lt;br&gt;&lt;br&gt;1. Alfi Sahrin (10)&lt;br&gt;2. Diva (12) &lt;br&gt;3. Ramdhani (11) tahun.&lt;br&gt;4. Kirana &lt;br&gt;5. Kasimin (64), pedagang.&lt;br&gt;6. Ayu Ardia (8)&lt;br&gt;7. Andrian (8) &lt;br&gt;8. Herni (7) &lt;br&gt;9. Arda (5) &lt;br&gt; 10. Samsul Bahri (7) &lt;br&gt;11. M. Rizki Ardiansyah (10) &lt;br&gt;12. Wahyudi (30) pedagang.&lt;br&gt;&lt;br&gt;                 &lt;b&gt; &lt;/b&gt;(nal/vit)&lt;br&gt;&lt;a href="http://www.detiknews.com/read/2011/11/30/092811/1778805/10/4-saksi-diperiksa-terkait-tembok-roboh-yang-timpa-siswa-sd-di-bekasi"&gt;http://www.detiknews.com/read/2011/11/30/092811/1778805/10/4-saksi-diperiksa-terkait-tembok-roboh-yang-timpa-siswa-sd-di-bekasi&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;br&gt; &lt;/b&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-699252546644140883?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/699252546644140883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=699252546644140883' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/699252546644140883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/699252546644140883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/11/4-saksi-diperiksa-terkait-tembok-roboh.html' title='4 Saksi Diperiksa Terkait Tembok Roboh yang Timpa Siswa SD di Bekasi'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-1564949899627246495</id><published>2011-10-16T18:59:00.001+07:00</published><updated>2011-10-16T18:59:33.652+07:00</updated><title type='text'>Tiga Opsi Status Perguruan Tinggi Negeri</title><content type='html'>&lt;div class="font11 c_abu03_kompas2011 pb_3"&gt;                                  &lt;span class="c_abu01_kompas2011"&gt;Ester Lince Napitupulu&lt;/span&gt;  |                                                                      &lt;span class="c_abu01_kompas2011"&gt;Agus Mulyadi&lt;/span&gt;   |                                                                 &lt;span class="c_abu01_kompas2011"&gt;Kamis, 13 Oktober 2011 | 20:36 WIB&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br&gt;JAKARTA, KOMPAS.com — &lt;/strong&gt;Pasca-batalnya Undang-Undang  Badan Hukum Pendidikan, pemerintah dan DPR menawarkan tiga opsi status  perguruan tinggi negeri. Perguruan tinggi milik pemerintah bisa memilih  status sebagai perguruan tinggi negeri otonom, semi-otonom, atau otonom  terbatas.&lt;p&gt;Apa pun status yang dipilih perguruan tinggi negeri  (PTN), pemerintah tetap wajib mengucurkan anggaran untuk setiap PTN.  Namun, PTN otonom tentu saja harus lincah dalam memenuhi kebutuhan  internal karena mereka tetap dituntut untuk mandiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pembahasan  soal status PTN tersebut mengemuka dalam rapat dengar pendapat umum  pembahasan Rancangan Undang-Undang Perguruan Tinggi (RUU PT) di Jakarta,  Kamis (13/10/2011).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertemuan dihadiri perwakilan  pemerintah, Komisi X DPR, dan  tujuh PTN Badan Hukum Milik Negara (PTN BHMN).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rully  Chairul Azwar, Ketua Panitia Kerja RUU PT, menjelaskan, pemilihan  istilah PTN otonom, semi-otonom, dan otonom terbatas yang terkait dengan  tata kelola tersebut karena tidak ingin di dalam RUU PT ini ada roh UU  Badan Hukum Pendidikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Istilah otonom itu lebih fleksibel.  Pilihan PTN soal statusnya itu tergantung pada kesiapan dan pilihan PTN.  Pemerintah nanti menilai, apakah memang PTN itu layak dengan status  yang dipilihnya,&amp;quot; kata Rully.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelumnya, PTN di Indonesia terbagi  sebagai PTN BHMN yang terdiri atas  Universitas Indonesia, Universitas  Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Pendidikan Indonesia,  Universitas Sumatera Utara, Institut Teknologi Bandung, dan Institut  Pertanian Bogor. Adapun PTN non-BHMN, ada yang berstatus  badan layanan  umum (BLU) dan PTN murni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tata kelola PTN BHMN yang leluasa bisa  diakomodasi dalam status PTN otonom.  PTN ini memiliki sejumlah organ  yang melaksanakan fungsi akuntabilitas dan transparansi, hak untuk  mengelola aset negara, pengelolaan keuangan/pendapatan yang tidak  diperhitungkan sebagai pendapatan negara bukan pajak, dan  ketenagaan  yang diangkat oleh lembaganya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;PTN yang dikelola secara otonom menerima bantuan biaya penyelenggaraan pendidikan dari pemerintah secara berkesinambungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara  PTN yang dikelola secara semi-otonom  diberikan fleksibilitas  kewenangan  pengelolaan keuangan dengan pola tertentu, yang merupakan  pengecualian ketentuan pengelolaan keuangan negara pada umumnya. Adapun  PTN dengan otonom terbatas menjalankan penyelenggaraan pendidikan  sepetti layaknya PTN murni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Reni Marlina, anggota Komisi X,  mengatakan, apa pun status PTN, bagi masyarakat, yang penting bisa  kuliah di perguruan tinggi bermutu dengan biaya  terjangkau.  Perguruan  tinggi bermutu seperti yang dicerminkan PTN BHMN diminta jangan  komersial yang memungut dana pendidikan besar dari mahasiswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rektor  IPB Herry Suhardiyanto menambahkan, soal pembiayaan ini memang jadi  persoalan.  Peran pemerintah tetap harus jelas. &amp;quot;Untuk ketenagaan, di  PTN otonom mestinya juga bisa mengelola dosen dan pegawai PNS,&amp;quot; kata  Herry.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Herry, pemerintah dengan persetujuan DPR bakal  menetapkan satuan biaya pendidikan tinggi secara periodik. Ini bisa jadi  dasar untuk perhitungan biaya yang mesti ditanggung mahasiswa,  pemerintah, dan perguruan tinggi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Untuk yang tidak bisa membayar  penuh, itu mesti dapat subsidi dari pemerintah. Yang mampu membayar  penuh tetap diizinkan membayar penuh,&amp;quot; kata Herry.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rektor ITB Akhmaloka mengatakan, bantuan pemerintah untuk PTN otonom semestinya bukan cuma biaya pendidikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Terkait  SDM di kampus juga mesti dibantu. Kalau semua ketenagaan, seperti dosen  dan pegawai, dibebankan ke PTN otonom, nanti komersial lagi,&amp;quot; kata  Akhmaloka. &lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/10/13/20363022/Tiga.Opsi.Status.Perguruan.Tinggi.Negeri"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2011/10/13/20363022/Tiga.Opsi.Status.Perguruan.Tinggi.Negeri&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;br&gt;                             &lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-1564949899627246495?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/1564949899627246495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=1564949899627246495' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/1564949899627246495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/1564949899627246495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/10/tiga-opsi-status-perguruan-tinggi.html' title='Tiga Opsi Status Perguruan Tinggi Negeri'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-5163111094844436796</id><published>2011-09-13T11:47:00.000+07:00</published><updated>2011-09-13T11:48:45.622+07:00</updated><title type='text'>5 Panduan Membaca Efektif</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - Suka membaca? Agar apa yang Anda baca  tak &amp;quot;menguap&amp;quot; begitu saja, ada strateginya! Dengan menerapkan sejumlah  panduan dalam membaca, Anda akan mendapatkan sesuatu dari buku yang  dibaca. Panduan berikut ini bisa membuat cara membaca Anda lebih  efektif!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;1.&lt;em&gt; Scanning&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  &lt;em&gt;&lt;br&gt;Scanning &lt;/em&gt;atau  membaca sepintas lalu, bertujuan untuk mendapatkan informasi, menjawab  pertanyaan atau  menyelesaikan masalah yang spesifik. Misalnya, Anda  ingin mengetahui tentang perjuangan wanita dalam revolusi Indonesia di  sebuah buku sejarah. Bacalah dahulu daftar isi&lt;em&gt;, &lt;/em&gt;abstraksi,  kesimpulan akhir, ringkasan, dan tabel-tabel di dalam buku tersebut.  Cara ini memungkinkan Anda untuk menemukan bagian yang relevan dengan  apa yang Anda cari, dan Anda dapat hanya membaca informasi-informasi  yang Anda butuhkan saja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Skimming&lt;/strong&gt; &lt;br&gt;Skimming&lt;/em&gt;  adalah membaca bagian awal sebuah bacaan secara cepat untuk memperoleh  gambaran umum atau inti dari buku tersebut. Cari dan surveilah isi buku  tersebut dengan membaca cepat bagian awal setiap babnya hingga Anda  menemukan bagian yang Anda cari. &lt;strong&gt; &lt;br&gt;&lt;br&gt;3. Membaca kalimat topik&lt;/strong&gt; &lt;br&gt;Lakukan  ini sebelum Anda membaca lebih dalam. Membaca kalimat-kalimat topik  akan berguna ketika Anda mendapatkan bacaan yang padat atau konten yang  benar-benar asing/baru bagi Anda. Bacalah kalimat topik atau kalimat  inti dari setiap paragrafnya. Dengan ini, Anda akan mendapatkan &lt;em&gt;overview&lt;/em&gt; atau gambaran dari bab tersebut&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;4. Baca secara detil&lt;/strong&gt;  &lt;br&gt;Setelah  Anda melakukan 3 hal di atas, bacalah bagian utama atau bagian yang  padat dari bacaan tersebut untuk menyaring bukti-bukti pendukung atau  mendapatkan isi dari apa yang Anda cari. Bacalah perlahan, berikan  perhatian pada hal-hal yang detil. Analisalah isi bacaan Anda dengan  menghubungkan ide-ide yang terkait, mempertimbangkan berbagai sudut  pandang, mengidentifikasi prinsip-prinsip kunci dari bacaan tersebut,  menerapkan ide atau mentransfer pengetahuan dari bacaan tersebut, serta  mengevaluasi argumen sang penulis terhadap bukti-bukti yang dipaparkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;5. Bacalah untuk meningkatkan kemampuan menulis Anda&lt;/strong&gt; &lt;br&gt;Setelah  membaca, mungkin Anda tertarik untuk menulis tentang apa yang Anda cari  tersebut. Nah, tingkatkanlah kemampuan menulis Anda dengan  memperhatikan struktur dan teknik yang digunakan dalam bacaan Anda.  Perhatikanlah struktur keseluruhan bacaan tersebut, struktur dan panjang  paragraf, konstruksi argumen penulis, penggunaan bukti-bukti untuk  penulisan, analisis literaturnya, transisi serta diskursus penulisan  (hubungan antara tulisan satu dengan lainnya, serta alur (&lt;em&gt;flow) &lt;/em&gt;tulisan tersebut), serta penggunaan bahasa dan gaya tulisan buku tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selamat mencoba!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.ecu.edu.au"&gt;www.ecu.edu.au&lt;/a&gt; &lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/09/05/10271799/5.Panduan.Membaca.Efektif"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2011/09/05/10271799/5.Panduan.Membaca.Efektif&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-5163111094844436796?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/5163111094844436796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=5163111094844436796' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5163111094844436796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5163111094844436796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/09/5-panduan-membaca-efektif.html' title='5 Panduan Membaca Efektif'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-8020718019031457611</id><published>2011-08-17T10:51:00.001+07:00</published><updated>2011-08-17T10:51:35.557+07:00</updated><title type='text'>Presiden: Rakyat Miskin Tetap Bisa Sekolah</title><content type='html'>&lt;div class="font11 c_orange_kompas2011 pb_5 pt_5"&gt;Pidato Kenegaraan&lt;/div&gt; 							&lt;div class="judul_artikel2011"&gt;&lt;/div&gt; 								 									                                                								 								&lt;div class="font11 c_abu03_kompas2011 pb_3"&gt;                   								 										&lt;span class="c_abu01_kompas2011"&gt;Hindra Liu&lt;/span&gt;   | 																			 										&lt;span class="c_abu01_kompas2011"&gt;Inggried&lt;/span&gt;   | 									                                    &lt;span class="c_abu01_kompas2011"&gt;Selasa, 16 Agustus 2011 | 12:44 WIB&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br&gt;JAKARTA, KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - Seiring dengan semakin  membaiknya keuangan Negara, pemerintah terus berupaya meningkatkan  kualitas pelayanan dan akses warga Negara terhadap pendidikan dan  kesehatan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, demi keadilan  yang makin luas, pemerintah memberikan perhatian ekstra kepada  masyarakat berpendapatan rendah. &lt;br&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;&amp;quot;Di masa lalu, masyarakat  berpendapatan rendah sering mengalami kesulitan untuk mengakses  pelayanan dasar. Alhamdullilah, keadaan ini telah berubah. Saat ini,  saya dapat memastikan bahwa semua warga negara berpenghasilan rendah,  memiliki hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan pendidikan dari  pemerintah. Tidak boleh ada lagi anak-anak kita dalam usia wajib belajar  yang tidak bisa bersekolah. Tidak boleh juga ada warga negara tidak  mampu, yang gagal memperoleh pelayanan dasar kesehatan dari pemerintah.  Oleh karena itu, saya menyeru agar seluruh jajaran pemerintah, di  tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan kota, memastikan bahwa program  yang mulia ini dapat diimplementasikan dengan baik dan nyata,&amp;quot; kata  Presiden ketika menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka HUT ke-66  Proklamasi Kemerdekaan RI di depan sidang bersama DPD RI dan DPR RI,  Selasa (16/8/2011) di Kompleks Parlemen, Jakarta. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Turut hadir  dalam sidang tersebut Wakil Presiden Boediono, jajaran menteri Kabinet  Indonesia Bersatu II, pimpinan lembaga tinggi negara, dan pejabat  lainnya.&lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt;                 &lt;div&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/quote_1.gif" height="38" width="43"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div class="font20 c_orange_quote pd_10"&gt;                   Saat ini, saya dapat memastikan bahwa semua warga  negara berpenghasilan rendah, memiliki hak untuk memperoleh pelayanan  kesehatan dan pendidikan dari pemerintah.                 &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/quote_1.gif" height="38" width="43"&gt;&lt;/div&gt;               &lt;/div&gt;&lt;p&gt;Presiden mengatakan, pemerintah menganut sebuah  prinsip pembangunan yang bersifat inklusif dan sekaligus berkelanjutan.  Pemerintah ingin memastikan, buah pembangunan dapat dinikmati oleh  seluruh rakyat. Pembangunan tidak boleh hanya menguntungkan segelintir  orang karena bertentangan dengan moralitas pembangunan yang esensinya  bersumber dari Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Berdasarkan  filosofi dan moralitas pembangunan yang secara kuat berorientasi pada  manusia, pemerintah mendorong pembangunan berdasarkan pilar-pilar yang  berorientasi pada pro-pertumbuhan, pro-lapangan kerja, dan  pro-pengurangan kemiskinan dan pro-lingkungan. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Pilar ini,  sambung Presiden, sangat penting untuk memastikan bahwa dalam jangka  panjang, pembangunan yang dijalankan dapat memenuhi asas keberlanjutan.  Dalam mengembangkan pembangunan, pemerintah telah memutuskan untuk  menempuh dua pendekatan yang berbeda, namun saling melengkapi, dalam  upayanya menciptakan kesejahteraan umum, utamanya penanggulangan  kemiskinan di negeri ini. &lt;br&gt;&lt;br&gt;&amp;quot;Pendekatan pertama adalah melalui  mekanisme ekonomi. Melalui pendekatan ini, pertumbuhan ekonomi yang kuat  didorong, di antaranya dengan memperluas investasi dan meningkatkan  belanja pemerintah. Melalui pertumbuhan ekonomi yang kuat terjadi  perluasan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Tersedianya  kesempatan kerja dan kesempatan berusaha membawa dampak pada makin  banyaknya warga negara yang memperoleh penghasilan. Melalui mekanisme  ekonomi semacam inilah peningkatan kesejahteraan umum dan penurunan  kemiskinan terjadi,&amp;quot; kata Presiden. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Sementara itu, pendekatan  kedua adalah membuka ruang bagi intervensi positif pemerintah, untuk  terlibat secara langsung dalam penurunan kemiskinan melalui berbagai  kebijakan. Pemerintah membagi program bantuan untuk rakyat miskin ini ke  dalam empat klaster. Klaster pertama merupakan program bantuan dan  perlindungan sosial yang di antaranya berwujud beras murah untuk  masyarakat ekonomi tidak mampu (raskin), Program Keluarga Harapan,  Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan jaminan kesehatan masyarakat atau  Jamkesmas. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Klaster kedua melalui Program Nasional Pemberdayaan  Masyarakat (PNPM) Mandiri. Klaster ketiga melalui Kredit Usaha Rakyat  (KUR). &lt;br&gt;&lt;br&gt;&amp;quot;Klaster keempat yang mulai efektif pada 2012 dan  dilaksanakan secara bertahap meliputi sejumlah program, yaitu rumah  murah dan sangat murah, kendaraan umum angkutan murah, air bersih untuk  rakyat, listrik murah dan hemat, peningkatan kehidupan nelayan, dan  peningkatan kehidupan masyarakat miskin perkotaan. Melalui empat klaster  itu, kita berharap, kebijakan ini dapat menjadi langkah terobosan yang  secara fundamental dapat menurunkan kemiskinan, sekaligus memperkuat  ekonomi rakyat kita,&amp;quot; katanya. &lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/08/16/12444337/Presiden.Rakyat.Miskin.Tetap.Bisa.Sekolah"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2011/08/16/12444337/Presiden.Rakyat.Miskin.Tetap.Bisa.Sekolah&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;br&gt;&lt;span class="c_abu01_kompas2011"&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt; 									 &lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-8020718019031457611?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/8020718019031457611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=8020718019031457611' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8020718019031457611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8020718019031457611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/08/presiden-rakyat-miskin-tetap-bisa.html' title='Presiden: Rakyat Miskin Tetap Bisa Sekolah'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-6883895801393056563</id><published>2011-08-07T21:17:00.001+07:00</published><updated>2011-08-07T21:17:43.772+07:00</updated><title type='text'>Disiapkan 3 Alternatif Penyaluran Dana BOS</title><content type='html'>&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - Menteri Pendidikan Nasional  (Mendiknas) Mohammad Nuh mengatakan, sampai dengan hari ini, Senin  (1/8/2011), sedikitnya hanya tinggal 35 kabupaten/kota dari sebelumnya  39 kabupaten/kota yang belum menyelesaikan penyaluran dana BOS triwulan  pertama dan kedua. Ia mengungkapkan, menindaklanjuti rapat yang dipimpin  oleh Wakil Presiden Boediono, pekan lalu, digelar rapat Kementerian  Pendidikan Nasional (Kemdiknas) bersama Kementerian Koordinasi dan  Kesejahteraan Rakyat (Kemkokesra).&lt;br&gt; &lt;br&gt; Dalam rapat tersebut, selain  membahas percepatan penyaluran dana bantuan operasional sekolah (BOS)  bagi daerah yang belum menyalurkannya, juga akan merumuskan beberapa  poin yang kemungkinan akan dijadikan alternatif jika metode penyaluran  BOS pada tahun mendatang perlu diubah ataupun dimodifikasi.&lt;br&gt; &lt;br&gt;  &amp;quot;Rapat di Kemkokesra merumuskan bukan sekedar bagaimana mempercepat dana  BOS yang sekarang ini. Tetapi juga akan membahas apakah tetap akan  dibiarkan seperti ini atau ada modifikasi. Ada tiga altenatif dan akan  dimatangkan siang ini,&amp;quot; kata Nuh, Senin (1/8/2011), di Jakarta.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Adapun tiga alternatif yang disiapkan adalah, &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt;,  metode penyaluran dana BOS tetap akan seperti saat ini, yaitu dari  pemerintah pusat ditransfer kepada kas daerah untuk kemudian diserahkan  oleh daerah kepada sekolah. Dengan catatan, aturan dan sangsi akan  setiap pelanggarannya lebih diperketat lagi.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;,  dilakukan pemilihan terhadap daerah mana saja yang dinilai siap dengan  metode penyaluran dana BOS seperti saat ini, yaitu dari pemerintah pusat  ditransfer kepada kas daerah. Sebaliknya, daerah yang dinilai belum  siap maka akan dikembalikan dengan metode penyaluran dana BOS pada tahun  sebelumnya, yaitu dari pusat langsung ditransfer ke nomor rekening  sekolah.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;quot;Karena hakekatnya SD dan SMP itu diurus oleh  kabupaten/kota. Tapi setelah terbukti ada beberapa daerah yang nggak  jalan, maka kami beri alternatif kedua. Bagi yang sudah siap, tetap  dengan metode saat ini. Cara melihatnya mudah, yaitu record penyaluran  BOS selama 2011 ini,&amp;quot; paparnya.&lt;br&gt; &lt;br&gt; Alternatif &lt;em&gt;ketiga&lt;/em&gt;,  sambung Nuh, semuanya akan ditarik kembali oleh pusat. Untuk selanjutnya  akan dipilah daerah mana saja yang dianggap telah siap menyalurkan dana  BOS. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Ia menjelaskan, semua alternatif itu harus sudah  ditentukan sebelum Oktober 2011 mendatang. Menurutnya, apapun alternatif  yang akan dipilih nanti akan terkait dengan alokasi anggaran.&lt;br&gt; &lt;br&gt;  Untuk itu ia berjanji, alternatif penyaluran dana BOS sudah diputuskan  sebelum pidato Presiden pada 16 Agustus mendatang tentang nota keuangan  yang akan menyampaikan postur keuangan di pusat dan postur keuangan di  daerah.&lt;br&gt; &lt;br&gt; &amp;quot;Memutuskan alternatif itu harus selesai dalam waktu  satu minggu. Karena alternatif apapun yang akan ditentukan itu akan  mempengaruhi postur anggaran yang akan disampaikan oleh Presiden nanti,&amp;quot;  tandasnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/08/01/17253047/Disiapkan.3.Alternatif.Penyaluran.Dana.BOS"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2011/08/01/17253047/Disiapkan.3.Alternatif.Penyaluran.Dana.BOS&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-6883895801393056563?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/6883895801393056563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=6883895801393056563' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6883895801393056563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6883895801393056563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/08/disiapkan-3-alternatif-penyaluran-dana.html' title='Disiapkan 3 Alternatif Penyaluran Dana BOS'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-946308131131592387</id><published>2011-08-07T21:16:00.001+07:00</published><updated>2011-08-07T21:16:46.114+07:00</updated><title type='text'>Wajib Belajar 12 Tahun Sulit Diwujudkan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - Kementerian Pendidikan  Nasional (Kemendiknas) melalui Direktur Jenderal Pendidikan Menengah,  Hamid Muhammad mengaku masih ada kesulitan untuk mewujudkan pendidikan  wajib belajar 12 tahun.&lt;p&gt;Ia mengungkapkan, kesulitan utama untuk  mewujudkan wajib belajar 12 tahun adalah terbatasnya anggaran yang  dialokasikan Kemendiknas kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berdasarkan  penjelasannya, tahun ini Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah hanya  mendapatkan porsi anggaran sekitar Rp 5 triliun yang berasal dari APBN.  Sedangkan untuk mendukung wajib belajar di Pendidikan Dasar, Kemdiknas  tercatat sudah menggelontorkan dana Rp 42 triliun yang dibagi ke dalam  Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar Rp 18 triliun, Dana Alokasi  Khusus (DAK) Rp 9 triliun dan tambahan dana dari pusat sekitar Rp 15  triliun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Itu persoalannya, di Pendidikan Menengah tidak ada  subsidi BOS dan sebagainya, karena saat ini semua fokus mensukseskan  wajib belajar 9 tahun,&amp;quot; kata Hamid di Jakarta, Jumat (5/8/2011).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hamid  menyadari bahwa mutu pendidikan yang berkualitas harus didukung dengan  pembiayaan yang mencukupi. Namun, ia mengaku tak ingin keterbatasan  anggaran kemudian menjadi beban masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk itu ia berjanji  akan segera memformulasikan secepat mungkin apa saja yang menjadi  keluhan masyarakat. Termasuk mengatur mahalnya biaya pendidikan menengah  yang saat ini semakin sulit untuk dikontrol.  &amp;quot;Pemerintah harus turun  tangan untuk membuat biaya pendidikan menjadi terjangkau, termasuk  pemerintah kota dan provinsi,&amp;quot; ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia melanjutkan, saat ini  dirinya sedang berupaya untuk meningkatkan anggaran Biaya Operasional  Manajemen Mutu (BOMM) agar bisa menjangkau semua anak di pendidikan  menengah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terlebih karena saat ini ledakan lulusan SMP yang ingin  melanjutkan ke jenjang SMA dan SMK begitu besar, maka mau tidak mau  pemerintah harus membuka kesempatan pendidikan menengah secara lebar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Saat  ini BOMM termasuk dalam Rp 5 triliun itu, makanya salah satu yang akan  kami dorong itu adalah peningkatan BOMM,&amp;quot; terangnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berdasarkan  data Kemdiknas, dari 3,7 juta lulusan SMP, yang melanjutkan ke SMA/SMK  hanya sekitar 2,2 juta.  Sisanya, sebanyak 1,5 juta inilah yang menjadi  pekerjaan rumah pemerintah. Karena jika tidak diperhatikan secara  serius, maka para siswa lulusan SMP ini hanya mempunyai dua pilihan,  yaitu menganggur atau bekerja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Jika tidak melanjutkan atau tidak  mengikuti kursus, yang paling aman kalau mereka bekerja, lulusan SMP itu  hanya menjadi TKI atau pekerja kasar. Inilah yang sedang saya bahas  dengan Wakil Menteri Pendidikan Nasional,&amp;quot; katanya. &lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/08/05/17105497/Wajib.Belajar.12.Tahun.Sulit.Diwujudkan"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2011/08/05/17105497/Wajib.Belajar.12.Tahun.Sulit.Diwujudkan&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-946308131131592387?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/946308131131592387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=946308131131592387' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/946308131131592387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/946308131131592387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/08/wajib-belajar-12-tahun-sulit-diwujudkan.html' title='Wajib Belajar 12 Tahun Sulit Diwujudkan'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-7098214546748432676</id><published>2011-05-28T17:04:00.001+07:00</published><updated>2011-05-28T17:04:55.293+07:00</updated><title type='text'>Karakter Lemah, Bangsa Pun Lemah...</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com&lt;/strong&gt; — Mantan Menteri Pendidikan  Nasional Malik Fadjar mengatakan, pendidikan karakter sangat menentukan  kemajuan suatu bangsa. Kuatnya karakter suatu bangsa mampu mewujudkan  kemajuan bangsa tersebut. Mengutip mantan Mendiknas sebelum dirinya, S  Mangonkarsono, Ketua PP Muhammadiyah ini menyatakan, lemahnya karakter  bangsa berarti lemahnya bangsa sebagai bangsa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Lemahnya karakter seseorang menandakan tidak kokohnya suatu bangsa,&amp;quot; ujarnya dalam &lt;em&gt;workshop &lt;/em&gt;&amp;quot;Implementasi  Pendidikan Karakter di Sekolah&amp;quot;, Rabu (25/5/2011) di Kampus Universitas  Muhammadiyah Prof dr Hamka (Uhamka), Jakarta Selatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia  mengatakan, karakter memiliki nilai psikologis yang bisa dikatakan  sebagai watak atau budi pekerti. Pendidikan karakter sendiri telah  dibangun oleh para pendiri bangsa jauh sebelum Indonesia merdeka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Jauh  sebelum Indonesia merdeka, pendidikan karakter sudah dibangun, yang  nantinya menyatukan dan membentuk suatu peradaban bangsa,&amp;quot; ujar Malik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia  mencontohkan, pendidikan karakter mampu membawa kemajuan sebuah bangsa  seperti yang terjadi di Jepang pada 1945. Saat itu, negara Jepang hancur  lebur dibombardir oleh Amerika Serikat pada Perang Dunia II. Namun,  karena mempunyai karakter yang kuat, akhirnya Jepang mampu bangkit  kembali dari keterpurukan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Pendidikan karakter sangatlah penting bagi suatu bangsa. Buktinya, Jepang bisa bangkit kembali,&amp;quot; kata Malik. &lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/25/11421435/Karakter.Lemah.Bangsa.Pun.Lemah"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/25/11421435/Karakter.Lemah.Bangsa.Pun.Lemah&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-7098214546748432676?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/7098214546748432676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=7098214546748432676' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/7098214546748432676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/7098214546748432676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/05/karakter-lemah-bangsa-pun-lemah.html' title='Karakter Lemah, Bangsa Pun Lemah...'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-3503337805720713134</id><published>2011-05-24T13:57:00.001+07:00</published><updated>2011-05-24T13:57:54.229+07:00</updated><title type='text'>Nak, Urungkan Niatmu Jadi Sarjana... (BIAYA KULIAH MUAHALLL)</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;i style="font-weight: normal;"&gt;Pengantar Redaksi TranparansiPendidikan: Inilah potret hitam legam betapa tunas-tunas cerdas bangsa terganjal potensi dahsyatnya. Institusi pendidikan telah berubah wataknya tak ubahnya sebagai sales bangku kampus. Puluhan juta rupiah mungkin kecil, tak seberapa untuk orang Jakarta yang kaya, tapi ... uang itu di mata rakyat kecil, sungguh, sungguh, dan sungguh buuuuuuuuuuuuuuanyaaaaaaaakkkkkkkkkkkkk!!!&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;&lt;br&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Oleh Daus &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt; —  &amp;quot;Maafkan aku, Nak, ya. Urungkan niatmu untuk menjadi sarjana. Ayah tidak  sanggup menyediakan uang sebesar itu dalam waktu sekejap.&amp;quot;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kata  itu mungkin yang sering muncul dari seorang ayah yang anaknya diterima  menjadi mahasiswa jalur undangan perguruan tinggi negeri (PTN). Dulu,  jalur ini dikenal dengan penelusuran minat dan kemampuan, atau kerap  disingkat PMDK.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagaimana tidak, seorang teman di Facebook,  Coen  Husain Pontoh, menuliskan keluh kesahnya di statusnya. &amp;quot;Keponakan saya  keterima di salah satu universitas terkemuka di Pulau Jawa melalui jalur  &amp;quot;undangan&amp;quot;. Tapi, untuk bisa masuk kuliah, ia pertama kali harus bayar  Rp 40 juta kontan,&amp;quot; tulisnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Kampusnya terkenal sebagai kampus rakyat, namanya: Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta,&amp;quot; tulisnya di &lt;a href="http://www.kompasiana.com/daus"&gt;&lt;strong&gt;http://www.facebook.com/home.php#!/coenhusainpontoh/posts/10150185073318500&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bayangkan,  orangtua yang gajinya di atas upah minimum, katakanlah Rp 2,5  juta per  bulan, belum tentu bisa menyediakan uang sebesar itu dalam waktu  singkat. Kecuali, kalau orangtua itu &lt;em&gt;nyambi &lt;/em&gt;korupsi tentunya. Padahal, upah minimum seorang buruh atau karyawan/karyawati di Jakarta berkisar Rp 1,2 juta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada  situs Pemprov DKI Jakarta tertanggal 29 November 2010 diberitakan bahwa  upah minimum DKI Jakarta (UMP/UMR DKI Jakarta) tahun 2011 ditetapkan  sebesar Rp 1.290.000 per bulan per orang.  Apa ini artinya? Artinya,  jika kita anak seorang buruh yang gajinya sesuai dengan upah minimum  atau dua kalinya upah minimum yang ditetapkan pemerintah, kita dilarang  untuk menjadi mahasiswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kampus hanya untuk orang kaya. Orang  miskin dilarang masuk kampus untuk belajar.  Yang boleh belajar di  kampus adalah orang-orang kaya. Sementara jika pendidikan tinggi adalah  salah satu pintu masuk untuk mengubah kehidupan agar lebih baik, pintu  itu sekarang sudah perlahan-lahan ditutup.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang kaya makin kaya  dan yang miskin tetaplah miskin.  Tak peduli di negeri yang mengklaim  berdasarkan Pancasila, yang berdasarkan Ketuhanan, Kemanusiaan, dan  Keadilan Sosial. Yang jelas di negeri ini anak orang miskin silakan  minggir dari pendidikan tinggi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Salah sendiri &lt;em&gt;lu&lt;/em&gt; miskin, orang miskin, enyah &lt;em&gt;aja &lt;/em&gt;lu&amp;quot;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin,  itu kata-kata yang muncul di pikiran, hati, dan lisan para petinggi  negeri ini, yang membiarkan komersialisasi pendidikan semakin menggila.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nak, urungkan niatmu jadi sarjana ya….&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sudah jangan menangis terus, Nak….&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin kita hidup di negeri yang salah.…&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di negeri yang menganggap orang-orang miskin hanya sekadar angka, bukan warga negara….&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://www.kompasiana.com/daus"&gt;&lt;strong&gt;Penulis adalah anggota Kompasiana&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/20/10261678/Nak.Urungkan.Niatmu.Jadi.Sarjana"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/20/10261678/Nak.Urungkan.Niatmu.Jadi.Sarjana&lt;/a&gt;.&lt;br&gt;   							&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-3503337805720713134?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/3503337805720713134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=3503337805720713134' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3503337805720713134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3503337805720713134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/05/nak-urungkan-niatmu-jadi-sarjana-biaya.html' title='Nak, Urungkan Niatmu Jadi Sarjana... (BIAYA KULIAH MUAHALLL)'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-8056179817198916461</id><published>2011-05-24T13:51:00.001+07:00</published><updated>2011-05-24T13:51:22.757+07:00</updated><title type='text'>314 Peserta UN di NTT Belum Dapat Hasil</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KUPANG, KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - Sebanyak 314 peserta Ujian  Nasional pada dua sekolah menengah kejuruan di Nusa Tenggara Timur  sampai hari ini belum mendengar hasil kelulusan. Para siswa bersama  orangtua siswa peserta ujian nasional resah. Perguruan tinggi sudah  mulai melakukan pendaftaran mahasiswa baru, bahkan perguruan tinggi  negeri menutup waktu pendaftaran Rabu, 25 Mei 2011.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedua sekolah  menengah kejuran (SMK) itu adalah SMK Yohannes XXIII Maumere, Flores,  dan SMK Kristen Soe. Peserta UN pada SMK Yohannes XXIII Maumere sebanyak  214 orang, sedangkan SMK Kristen Soe sebanyak 100 siswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala  Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Nusa Tenggara Timur, Tobias Uly di  Kupang, Senin (23/5/2011) membenarkan. Tidak hanya dua sekolah itu,  tetapi juga SMKN Baa Rote Ndao dengan jumlah siswa peserta UN sebanyak  87 orang pun mengalami persoalan serupa. Tetapi kasus di Rote Ndao telah  ditangani hari ini. Hasil kelulusan SMKN Baa sudah dikirim ke sekolah  itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Kasus seperti ini kebanyakan menimpa sekolah menengah  kejuruan di NTT. Persoalan terletak pada entri data hasil ujian akhir  sekolah itu ke panitia Ujian Nasional di Jakarta. Banyak diantara  sekolah kejuran itu keliru kode, nomor dan seterusnya sehingga hasil  ujian sekolah itu tidak sempat terpantau di Jakarta,&amp;quot; kata Uly.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Uly  mengatakan sangat kecewa dengan sikap para kepala sekolah dan petugas  entri data di sekolah itu. Mereka itu sudah berulang kali mengikuti  pendidikan dan pelatihan untuk mengoperasikan komputer dan mengirimkan  hasil-hasil ujian sekolah melalui internet.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yoseph Kanisius (48)  salah satu orangtua siswa peserta UN di Maumere mengancam akan mengusir  para guru dan melakukan kekacauan di sekolah itu bila pihak sekolah  berlarut-larut mengumumkan hasil UN putra mereka. Semua sekolah di  Maumere sudah mengumumkan hasil UN, dan para siswa yang lulus sudah  mulai mendaftar di sejumlah perguruan tinggi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Ini keterlaluan.  Hak siswa paling utama dan pertama seperti hasil UN pun diabaikan. Kalau  siswa terlambat bayar uang ujian atau uang sekolah, siswa langsung  diberi sanksi berupa pengusiran dari sekolah atau pengurangan nilai  ujian sekolah. Tetapi pihak sekolah yang melakukan pelanggaran seperti  ini, siapa yang memberi sanksi atau teguran kepada sekolah,&amp;quot; kata  Kanisius.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menegaskan, harus ada kelonggaran untuk masuk  perguruan tinggi negeri dan swasta terhadap para lulusan SMK yang sampai  hari ini belum mendapat hasil UN 2011. Keterlambatan itu bukan  disebabkan para siswa tetapi pihak sekolah dan pe nyelenggaran UN.  Koordinasi lemah antara panitia UN tingkat nasional dan panitia UN  tingkat provinsi atau daerah sebagai penyebab keterlambatan itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anggota  Komisi D DPRD NTT yang membidangi masalah pendidikan, Hendrik Rawambaku  sangat menyesalkan terjadinya kasus itu. Para kepala sekolah tidak  mampu memimpin sekolah tetapi selalu berambisi menjadi pemimpin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Seharusnya  dinas pendidikan setempat selalu memantau kesipan dan pelaksanaan ujian  di setiap sekolah, termasuk menyelidiki apakah sekolah itu mampu  mengoperasikan teknologi komputer atau tidak seperti mengirimkan  data-data ujian ke pihak panitia ujian nasional di Jakarta,&amp;quot; kata  Hendrik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akibat keteledoran para guru itu, siswa peserta UN  dirugikan. Tidak hanya menyangkut keterlambatan pengumuman hasil UN  tetapi juga pendidikan lanjutan bagi siswa yang dinyatakan lulus. Siswa  yang ingin melanjutkan pendidikan di sekolah negeri terpaksa harus  menunggu tahap berikut atau beristirahat sampai tahun 2012 kemudian bisa  melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekretaris  Daerah NTT Frans Salem mengatakan, belum mendapat informasi itu dari  kepala dinas NTT. Tetapi ia berharap, peristiwa ini menjadi pelajaran  penting bagi sekolah bersangkutan pada UN mendatang. &lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/23/22411745/314.Peserta.UN.di.NTT.Belum.Dapat.Hasil"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/23/22411745/314.Peserta.UN.di.NTT.Belum.Dapat.Hasil&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-8056179817198916461?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/8056179817198916461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=8056179817198916461' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8056179817198916461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8056179817198916461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/05/314-peserta-un-di-ntt-belum-dapat-hasil.html' title='314 Peserta UN di NTT Belum Dapat Hasil'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-3898033579178692431</id><published>2011-04-18T12:45:00.001+07:00</published><updated>2011-04-18T12:45:55.911+07:00</updated><title type='text'>Entropi Pendidikan</title><content type='html'>Oleh ROBERT BALA&lt;p&gt;Hari ini maraton  ujian nasional dimulai. Siswa SMA mengawalinya, diikuti SMP dan SD,  dengan jumlah total peserta yang cukup fantastis: hampir 10 juta anak. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tanpa  mengingkari berbagai modifikasi yang sudah dilakukan, pelaksanaan UN  masih menyisakan tanya: apakah telah mendekati atau malah menjauhkan  kita dari transformasi sosial sebagai titik tuju dari semua perubahan?  Apakah kita sudah berada di jalan yang tepat?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam bukunya El Fin  de la Educación (1999), Neil Postman punya jawaban. Dengan berkaca pada  hukum termodinamika, ia membuka mata siapa pun yang berkecimpung dalam  pendidikan untuk menyadari kesia-siaan yang kerap terjadi dalam  kebijakan pendidikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Jelasnya, setiap kebijakan—ibarat  materi dalam fisika—akan mengalami proses entropi atau ketidakberaturan  yang mengarah pada kehancuran. Itu hukum alam. Tidak ada orang yang  terbebas dari aturan itu. Yang bisa dibuat adalah upaya negentropis  untuk memperlambat kehancuran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian pula dengan  kebijakan pendidikan. bila tidak kontributif terhadap perubahan sosial,  pendidikan hanya menjadi fenomena yang ditakuti. Oleh karena itu,  pendidikan perlu berubah sesuai tuntutan zaman. Sampai di titik ini  muncul pemahaman, mengapa para pengambil keputusan pendidikan begitu  gemar membarui kurikulum, termasuk UN di dalamnya?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akan  tetapi, mengapa perubahan itu tidak berimbas langsung terhadap perbaikan  kualitas bangsa? Antonio Arboledas dalam Problemas de la Educación  (2010) punya jawaban. Pendidikan yang semestinya integratif mencakup  otak, hati, dan tangan tidak dijalankan sebagaimana diwacanakan. Dalam  praksis, yang lebih mengutama adalah rasio atau yang dikenal sebagai  hipertrofi rasionalitas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentu saja pola ini tidak  seimbang, ia pincang dalam praksis. Kecerdasan otak yang semestinya amat  mulia dengan mudah dibelokkan untuk hal-hal tak terpuji: bukan untuk  mencari solusi, melainkan sekadar mengakal-akali orang lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Banyak akal-akalan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidaklah  mengherankan bila dalam kehidupan nyata terjadi banyak akal-akalan.  Pajak yang seharusnya jadi harga mati bisa dinegosiasikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aparat  yang sudah digaji melayani publik malah sering melakukan pungutan liar.  Tabungan nasabah yang semestinya dijaga dibobol dengan mudah. Namun,  nasabah kakap yang dirugikan tidak berani angkat bicara karena ternyata  rekeningnya adalah bagian dari mekanisme pencucian uang. Jadilah adagium  "jika Anda diam, Anda emas".&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seribu satu contoh masih  bisa disebutkan tanpa melupakan begitu hebat anggota Dewan kita  memperjuangkan pembangunan gedung baru DPR, padahal masih punya gedung  yang bisa dipakai. Sekali lagi yang muncul adalah mentalitas merasa  lumrah menganggarkan untuk diri sendiri, lupa bahwa rakyat yang diwakili  masih hidup menderita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keadaan seperti ini semestinya  mencemaskan. Kita telah memasuki zona yang disebut jurnalis Spanyol,  Iñaki Gabilondo, sebagai el pacto de la ceguera atau pakta kebutaan.  Semua orang seakan sepakat untuk tidak melihat apa yang menjadi masalah  dan malah berusaha membenarkan diri sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu,  haruskah kita membiarkan percepatan pelapukan entropis yang  menggerogoti bangsa ini merajalela? Apakah derita akibat salah ajar,  dalam istilah Thomas Amstrong, dibiarkan berlarut sambil bangsa ini  melewatkan waktu tanpa ada perubahan transformatif yang lebih mengena?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentu  saja tidak. Duka bangsa ini sudah begitu banyak dan tidak perlu  diperpanjang. Karena itu, yang dibutuhkan adalah komitmen untuk melawan  pola peraksasaan otak dan pengerdilan hati ini dengan menawarkan model  pendidikan yang lebih kritis, kreatif, dan tentu saja konstruktif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melawan  di sini tentu tidak sekadar berarti menghalangi pelaksanaan UN lantaran  di baliknya ada megaproyek yang tentu saja jadi tumpuan hidup banyak  orang. Melawan juga bukan sekadar melansir model UN baru yang lebih  transparan lantaran pola yang ada saat ini terkesan misterius dan baru  disosialisasikan tiga bulan sebelum pelaksanaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal yang  sangat diharapkan adalah mentalitas proses pembelajaran. Suasana  pendidikan akan menjadi akrab dan menyenangkan karena antara konsep dan  proses metodologis begitu baik diimplementasikan. Dengan demikian, ujian  (apalagi UN), apa pun modelnya, akan disambut gembira dan tidak lagi  menjadi makhluk aneh yang ditakuti.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, pembelajaran  semestinya punya sokongan publik sehingga tidak hanya dilaksanakan di  ruang kelas, tetapi juga di semua lini: dari pasar, jalan, lembaga  publik, hingga media massa. Semua sadar bahwa apa pun yang dilakukan  akan menjadi panutan yang nilainya tidak kalah penting daripada ujian di  sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bila kita berkomitmen demikian, niscaya bangsa  ini akan lebih cepat maju. Proses entropis yang menjadi proses alamiah  tidak perlu dicemaskan karena semua orang yakin, pada masanya mereka  sudah berbuat yang terbaik. Itulah harapan kita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;ROBERT BALA&lt;br&gt;Pengajar Creative and Critical Thinking di Universitas Multimedia Nusantara, Serpong&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/04/18/07542826/entropi.pendidikan"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/04/18/07542826/entropi.pendidikan&lt;/a&gt;.&lt;/em&gt;&lt;br&gt; &lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-3898033579178692431?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/3898033579178692431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=3898033579178692431' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3898033579178692431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3898033579178692431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/04/entropi-pendidikan.html' title='Entropi Pendidikan'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-396827364245558769</id><published>2011-04-18T12:44:00.001+07:00</published><updated>2011-04-18T12:44:31.161+07:00</updated><title type='text'>Ujian yang Membahagiakan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Oleh SIDHARTA SUSILA&lt;/em&gt;&lt;p&gt;Waktu  menjadi mahasiswa, ujian adalah peristiwa yang sangat membahagiakan.  Demikian kata seorang dosen kami. Pertanyaannya, apakah kebahagiaan itu  dialami semua atau hanya oleh mahasiswa yang cerdas? &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang membahagiakan dalam ujian seperti itu? Siapa dan apa saja yang harus dilakukan agar ujian membahagiakan?&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Orang  punya beragam sikap dan cara menghadapi peristiwa ujian. Kebanyakan  dengan rasa tegang dan takut. Saat ujian sering membuat orang emosional  hingga banyak yang tak mampu menguasai diri. Efek psikosomatis, seperti  sakit perut, pusing-pusing, atau mual, pun muncul.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akibatnya  konsentrasi buyar. Daya nalar saat mempersiapkan ujian terganggu.  Persiapan ujian menjadi kacau. Hal yang sama terjadi saat menjalani  ujian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dinamika kondisi emosi dan nalar inilah yang sering kali  mewarnai peristiwa ujian. Tak heran kalau pada setiap peristiwa ujian  kita menemukan banyak fakta yang mengejutkan. Siswa yang sehari-hari  berprestasi justru hasilnya tak memuaskan. Beberapa bahkan gagal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun,  kegagalan ujian bukan hanya karena gugup, bingung, takut, atau tegang.  Beberapa siswa gagal mencapai hasil optimal justru karena meremehkan  atau kurang cermat. Dengan demikian, perlu sikap bijak memahami suatu  hasil ujian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ujian membahagiakan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ujian adalah bagian dari pembelajaran, yaitu proses pengembangan dan pemberdayaan diri yang mesti dialami dengan bermartabat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam  pemahaman di atas, mulai dari persiapan, saat menjalani, hingga  menerima hasil ujian sedapat mungkin menghindari kondisi-kondisi yang  melemahkan, apalagi membunuh karakter pembelajar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beragam cara dan  sikap diupayakan para dosen kami untuk merawat karakter pembelajar ini.  Di kampus kami, banyak dosen memilih model ujian lisan. Setiap  mahasiswa menghadap dosen di ruang ujian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seorang dosen melumerkan ketegangan dengan menyapa ramah peserta ujian. Kadang diawali dengan canda sebelum pertanyaan diajukan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dosen  lain yang menggunakan model ujian tertulis meruntuhkan belenggu ujian  dengan memberikan sejumlah pertanyaan pembantu sebelum ujian pada akhir  masa perkuliahan. Dari sederet pertanyaan itu dipilih lima soal saat  ujian. Dari lima soal itu peserta ujian bisa memilih empat soal untuk  dikerjakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dosen lain melumerkan ketegangan ujian dengan meminta  peserta ujian memilih sendiri empat bab yang dipelajari selama masa  perkuliahan sebagai bahan ujian. Saat ujian, dosen menentukan tiga bab  dari empat bab pilihan mahasiswa dan mengajukan pertanyaan dari situ.  Dosen masih mengajukan satu pertanyaan dari materi bab lain yang dia  tentukan sendiri. Inilah bagian dari upaya mewujudkan ujian yang  membahagiakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dosen lain memanfaatkan ujian bukan hanya untuk  mengevaluasi mahasiswa, melainkan juga mengevaluasi diri sendiri. Hal  ini penulis alami dalam model ujian lisan. Setelah peserta ujian  menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian, pada akhir ujian dosen menegaskan  hal-hal pokok yang belum dikuasai peserta ujian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cara tersebut di  atas membantu dosen memastikan serta menjamin pemahaman materi  pembelajaran oleh peserta didik. Ini sangat penting untuk materi  pembelajaran yang implementasinya kelak akan melibatkan kelangsungan  hidup banyak orang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Upaya menyempurnakan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau  saja banyak lembaga pendidikan mampu menyelenggarakan dan menyikapi  peristiwa ujian seperti ini, pastilah ujian menjadi peristiwa yang  membahagiakan, bahkan dirindukan. Penguji (guru atau dosen) dan peserta  ujian sama-sama berusaha menyempurnakan dan memberdayakan diri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para  guru atau dosen berupaya menemukan yang kurang dari caranya mengajar.  Peserta ujian pun menjadikan ujian sebagai kesempatan untuk  menyempurnakan penguasaan materi. Dengan cara begitu, ujian sungguh  menjadi bagian dari proses pembelajaran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ujian yang membahagiakan  membutuhkan guru atau dosen berkarakter pembelajar yang sadar dan butuh  terus belajar. Sebab, kegagalan pemahaman materi tak selalu disebabkan  oleh kelemahan peserta didik. Sering kali permasalahan justru pada para  pendidiknya. Sesungguhnya peserta didik adalah mitra, bahkan anugerah  yang menuntun para pendidik untuk terus-menerus belajar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konon  negeri ini butuh banyak guru dan dosen yang mampu menyikapi anak didik  sebagai mitra dan anugerah yang membantunya untuk terus berkembang.  Rasanya itulah guru sejati.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia akan terus membakar semangat  belajar dan membangun komunitas pembelajar. Maka, hasilnya adalah ujian  yang menjadi peristiwa membahagiakan dan dirindukan, sekaligus  mencerahkan: baik anak didik maupun pendidiknya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;SIDHARTA SUSILA&lt;br&gt;Rohaniwan; Pendidik di Yayasan Pangudi Luhur di Muntilan&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/04/18/0755474/ujian.yang.membahagiakan"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/04/18/0755474/ujian.yang.membahagiakan&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-396827364245558769?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/396827364245558769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=396827364245558769' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/396827364245558769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/396827364245558769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/04/ujian-yang-membahagiakan.html' title='Ujian yang Membahagiakan'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-6881965418508857565</id><published>2011-04-18T12:43:00.001+07:00</published><updated>2011-04-18T12:43:05.428+07:00</updated><title type='text'>Menjelang UN, Siswa Dikarantina</title><content type='html'>&lt;p&gt;Jakarta, Kompas - Menjelang pelaksanaan ujian  nasional SMA/SMK sederajat yang dimulai Senin (18/4) ini, sejumlah  sekolah melakukan persiapan khusus. Di SMK 3 Kota Banjarbaru, Kalimantan  Selatan, misalnya,  79 siswa harus menjalani karantina di sekolah.   &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para siswa  mulai dikarantina sejak Minggu (17/4) sore hingga Rabu (20/4) mendatang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Dengan dikarantina, mereka tidak akan keluyuran saat malam menjelang ujian," kata Kepala SMK 3 Rosihan Anwar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orangtua  siswa sebelumnya juga sudah diberi tahu agar mereka menyiapkan  peralatan tidur dan kebutuhan sehari-hari untuk anaknya selama  dikarantina. Selama karantina, siswa akan menjalani bimbingan dan  latihan soal oleh guru mereka. "Karantina juga untuk menghindari siswa  terlambat datang ke sekolah karena cuaca akhir-akhir tidak menentu,"  kata Rosihan Anwar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengamanan diperketat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara  itu pengamanan  naskah soal ujian diperketat. Untuk wilayah  DKI  Jakarta, selain dijaga  aparat kepolisian dan panitia rayon, juga dijaga  satuan polisi pamong praja dan satuan pengamanan sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pengamanan  ketat mulai dilakukan sejak naskah soal UN diberangkatkan dari  percetakan Balai Pustaka, Minggu (17/4) pukul 05.00. Sebanyak 75  kendaraan PT Pos Indonesia dikerahkan untuk mendistribusikan naskah soal  ke 27 rayon.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kami percayakan pada  PT Pos Indonesia karena  sudah berpengalaman mendistribusikan berkas atau dokumen penting," kata   Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di  Merauke, Provinsi Papua, karena beratnya medan, distribusi lembar soal  sudah dilakukan sejak Rabu (13/4) lalu. Pendistribusian  pun harus  menggunakan pesawat kecil dan speed boat. "Jika menggunakan jalur darat,  tidak mungkin karena medannya sangat berat," kata Marlan Maulud, Ketua  Panitia Ujian Nasional  SD, SMP, SMA sederajat  Kabupaten Merauke.  Di  Merauke peserta UN SMA sebanyak 1.419 siswa dari 14 sekolah, sedangkan  untuk SMK sebanyak 848 siswa dari 12 sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Secara terpisah,  saat meninjau persiapan ujian nasional di Kabupaten Gresik dan Lamongan,  Jawa Timur, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengingatkan agar  siswa, guru, sekolah, dan semua pihak yang terlibat agar melaksanakan UN  dengan jujur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Siswa yang tidak jujur akan dikenakan sanksi  berupa penghapusan nilai UN. Sanksi dalam bentuk lain juga  akan  dijatuhkan pada guru dan pihak lain yang bersikap tidak jujur dalam  pelaksanaan UN," kata Nuh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Terlalu mendadak&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di  Jakarta, guru-guru menilai penggunaan  nilai rapor sebagai bagian untuk  penentuan kelulusan siswa kelas 3  SMA sederajat dalam pelaksanaan  ujian nasional tahun ini membuat repot para guru.  Sebab, kebijakan ini  dinilai terlalu mendadak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Muncul kekhawatiran dari sejumlah  sekolah  yang tidak royal memberi nilai tinggi di rapor akan nasib siswa  mereka yang sudah menjalani  pendidikan tiga tahun di sekolah.  Akibatnya, ada sekolah yang mengubah nilai rapor untuk menyelamatkan  siswa. Ada kekhawatiran jika bertahan dengan nilai rapor apa adanya,  siswa tidak bisa mencapai nilai kelulusan minimal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Persoalan itu  antara lain dikemukakan sejumlah pemimpin sekolah swasta di Jakarta dan  sekitarnya yang hadir dalam sarasehan  di  Harian Kompas di Jakarta,  Jumat (15/4). Mulai tahun ini nilai rapor semester 3-5  digunakan juga  dalam pembobotan nilai sekolah yang menentukan kelulusan siswa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ada  guru yang sengaja memberi nilai rendah agar siswa terpacu untuk giat  belajar. Ternyata malah sekarang rapor dijadikan pertimbangan  kelulusan," kata seorang guru.&lt;/p&gt; (LUK/ELN/ COK/KOR/ WER/ RWN/EGI/ BAY/ACI/TIF)&lt;br&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/04/18/05443913/menjelang.un.siswa.dikarantina"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/04/18/05443913/menjelang.un.siswa.dikarantina&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-6881965418508857565?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/6881965418508857565/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=6881965418508857565' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6881965418508857565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6881965418508857565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/04/menjelang-un-siswa-dikarantina.html' title='Menjelang UN, Siswa Dikarantina'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-4395440929702374325</id><published>2011-04-14T06:13:00.001+07:00</published><updated>2011-04-14T06:13:41.198+07:00</updated><title type='text'>Kritik atas Kebijakan Dana BOS 2011</title><content type='html'> 																                    	 						 																				                                                        &lt;div id="article_content" style="padding-top:12px; line-height:18px; font-size:12px; color:#696969;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;Febri Hendri AA &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Korupsi  massal dan sistemis mengancam penyelenggaraan dana bantuan operasional  sekolah triwulan I tahun 2011 di puluhan ribu SD dan SMP.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Risiko  dana bantuan operasional sekolah (BOS) dikorupsi kali ini diprediksi  lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, pelayanan publik  sekolah sangat terganggu karena kekurangan dana operasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Korupsi  massal dan sistemis dapat dipicu dua hal, yakni keterlambatan  penyaluran dan buruknya sistem pengawasan atas penggunaan dana BOS.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada  awal Januari 2011, pemerintah pusat telah menyalurkan dana BOS triwulan  I tahun 2011 ke kas umum daerah. Namun, sampai akhir Maret hampir 50  persen pemerintah kabupaten/kota masih menunda penyaluran dana BOS ke  sekolah. Alasan penundaan, antara lain, masih menunggu pengesahan APBD,  pelengkapan dokumen sekolah, atau menunggu pelantikan kepala daerah  hasil pilkada.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akibatnya, sekolah terpaksa berutang pada berbagai  toko untuk memenuhi kebutuhan operasional mereka. Bahkan, banyak  sekolah terpaksa meminjam dana pihak ketiga untuk menutupi kebutuhan  operasional karena keterlambatan dana BOS.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Utang dan pinjaman  dana pihak ketiga ini akan memaksa sekolah memanipulasi laporan keuangan  dan pertanggungjawaban. Manipulasi dilakukan untuk menutupi pelanggaran  penggunaan dana BOS guna membayar bunga pinjaman. Sekolah melakukan  penggelapan maupun    mark-up    atas pembelian barang kebutuhan operasional dan membuat pertanggungjawaban seakan-akan sesuai petunjuk  teknis dana BOS atau peraturan perundang-undangan lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Manipulasi  laporan keuangan dan pertanggungjawaban merupakan cara ampuh menutupi  penyalahgunaan dan penyelewengan dana BOS. Praktik semacam ini sering  kali luput dari pengawasan instansi terkait, khususnya dinas pendidikan  atau tim manajemen BOS daerah dan lembaga pemeriksa internal, yakni  inspektorat provinsi, kabupaten/kota.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekolah merupakan  penyelenggara pelayanan publik sebagaimana diatur dalam UU No 25 Tahun  2009 tentang Pelayanan Publik. Sebagai penyelenggara pelayanan publik,  sekolah wajib melaksanakan pelayanan berkualitas sebagaimana diatur  dalam Pasal 15 (e) UU dimaksud.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain itu, guru sebagai  pelaksana pelayanan publik juga terancam melanggar asas pelayanan publik  sebagaimana diatur dalam Pasal 17 Ayat (e) UU tersebut. Guru tidak  mendapatkan dukungan dana dan barang untuk kegiatan belajar-mengajar  dengan murid. Guru honorer juga terancam mendapatkan gaji lebih rendah  dari sebelumnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karena itu, keterlambatan dana BOS akan  menghambat sekolah menunaikan kewajiban sebagai badan penyelenggara  pelayanan publik. Sekolah tidak memiliki dana operasional yang cukup  untuk memenuhi pelayanan pendidikan sebagaimana diwajibkan oleh UU.  Namun, pelanggaran ini bukan karena kesalahan pihak sekolah, tetapi  dipicu oleh kebijakan pemerintah pusat dan DPR yang tidak hati-hati  memutuskan kebijakan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Biang keterlambatan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemerintah  pusat, terutama Mendiknas, selalu menyalahkan pemerintah kabupaten/kota  yang terlambat menyalurkan dana BOS ke sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meski pemerintah  kabupaten/kota berkontribusi atas keterlambatan penyaluran, kesalahan  utama justru pada pemerintah pusat dan DPR. Kesalahan terjadi karena dua  institusi ini bersepakat memutuskan dana BOS masuk dalam komponen Dana  Penyesuaian yang ditransfer ke daerah, meski mereka mengetahui bahwa  dana akan terlambat disalurkan oleh pemerintah di daerah ke sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal  ini menimbulkan dugaan bahwa dana BOS dijadikan korban eksperimen  desentralisasi fiskal oleh pemerintah pusat serta pemenuhan permainan  politik politisi Senayan. Politisi akan mengklaim telah memajukan  pendidikan pada konstituen mereka karena memasukkan dana BOS dalam  komponen transfer ke daerah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Salah kebijakan ini bermula dari  masuknya dana BOS pada komponen Dana Penyesuaian dalam UU No 10/2010  tentang APBN 2011. Berdasarkan RUU APBN dan Nota Keuangan yang  disampaikan Presiden RI kepada DPR, Agustus 2010, terungkap bahwa  pemerintah pusat merupakan inisiator kebijakan ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berdasarkan  Nota Keuangan APBN 2011 halaman 4 paragraf 1, pemerintah memutuskan  mengalihkan dana BOS pada Kementerian Pendidikan Nasional sebesar Rp  16,8 triliun menjadi transfer ke daerah. Dengan demikian, jumlah belanja  bantuan sosial yang dialihkan jadi transfer ke daerah pada 2011  seluruhnya mencapai Rp 78,3 triliun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertanyaannya, mengapa hanya dana BOS yang "dikorban-   kan" jadi komponen transfer ke daerah? Mengapa dana lain yang dikuasai  oleh pemerintah pusat—seperti dana bantuan sosial untuk Jamkesmas, PNPM,  atau anggaran pada kementerian/lembaga yang dibelanjakan di  daerah—tidak dimasukkan dalam komponen ini?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dana BOS merupakan  dana sangat penting bagi operasional sekolah. Hampir 90 persen dana  operasional sekolah berasal dari dana BOS. Oleh karena itu, dana ini  memiliki karakteristik berbeda dengan dana program lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Salah  satu karakteristik penting itu adalah ketepatan waktu penyaluran.  Keterlambatan penyaluran sedikit saja akan memicu masalah korupsi  sistemis dan masalah kompleks.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meski Mendiknas dan Mendagri telah  mengeluarkan surat edaran bersama terkait penyaluran dana BOS, nyatanya  belum mampu mengatasi masalah keterlambatan penyaluran ini. Pemerintah  di daerah tetap saja menunda penyaluran dan memilih menunggu pengesahan  RAPBD oleh DPRD. Mereka tidak ingin terjerat masalah hukum dan politik  lokal jika tetap menyalurkan dana BOS ke sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Rekomendasi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kebijakan  penyaluran dana BOS 2011 ini dapat dinilai sebagai kelalaian kewajiban  pemerintah pusat dan DPR atas Pasal 11 Ayat (2) UU No 20 Tahun 2003  tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal ini berbunyi: "Pemerintah dan  pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya  pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan  lima belas tahun".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Frasa "menjamin tersedianya dana" tidak hanya  berarti wajib mengalokasikan anggaran dalam APBN dan APBD, juga menjamin  alokasi tersebut sampai di tingkat satuan pendidikan tepat waktu.  Kelalaian ini dapat dianggap sebagai mal-administrasi kebijakan  pemerintah dan DPR.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Guna menghindari masalah lebih lanjut,  penulis merekomendasikan beberapa hal berikut. Pertama, pemerintah pusat  dan DPR merevisi UU No 10/2010 tentang APBN 2011. Revisi antara lain  dilakukan dengan memasukkan kembali dana BOS pada kelompok belanja  pemerintah pusat di daerah dan bukan pada kelompok Dana Penyesuaian yang  ditransfer ke daerah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua, Mendiknas merevisi Permendiknas No  37 Tahun 2010 dengan membuka ruang partisipasi publik seluas-luasnya  dalam pencairan dan penggunaan dana BOS.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketiga, Ombudsman  menginvestigasi dugaan mal-administrasi penyaluran, dan bersama KPK  mengawasi bunga giro atas pengendapan dana BOS pada kas umum daerah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Febri Hendri AA&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Koordinator Divisi Monitoring Pelayanan Publik  Indonesia Corruption Watch&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/04/14/04052719/kritik.atas.kebijakan.dana.bos.2011"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/04/14/04052719/kritik.atas.kebijakan.dana.bos.2011&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;                            &lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-4395440929702374325?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/4395440929702374325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=4395440929702374325' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4395440929702374325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4395440929702374325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/04/kritik-atas-kebijakan-dana-bos-2011.html' title='Kritik atas Kebijakan Dana BOS 2011'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-8503272982601195925</id><published>2011-04-14T06:12:00.001+07:00</published><updated>2011-04-14T06:12:21.533+07:00</updated><title type='text'>UJIAN NASIONAL: Sejumlah Sekolah Belum Mengirim Nilai</title><content type='html'>&lt;p&gt;Jakarta, Kompas - Empat  hari menjelang pelaksanaan ujian nasional jenjang SMA/MA/SMK sederajat   masih ada sekolah di berbagai daerah yang belum mengirimkan nilai  sekolah. Padahal, batas akhir pengirimannya 11 April 2011 lalu.  Pengiriman nilai sekolah melalui internet dikoordinasikan penyelenggara  UN provinsi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian  Pendidikan Nasional Mansyur Ramly, Rabu (13/4) di Jakarta, mengatakan,  pihaknya  sudah mengirim surat ke daerah-daerah yang belum mengirim  nilai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Nilai sekolah penting karena kelulusan UN ditentukan  nilai akhir yang diperoleh dari gabungan nilai UN dan nilai sekolah,"  ujarnya. Nilai sekolah diperoleh dari gabungan nilai ujian sekolah dan  nilai rata-rata rapor semester 3, 4, dan 5 untuk SMA/MA/SMK sederajat.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;"Pembobotan  nilai dilakukan pusat. Daerah tinggal kirim nilainya. Sekolah yang  tidak menyetor nilai sekolah tidak bisa dinilai. Sekolah rugi sendiri  karena hanya UN yang akan menjadi penentu nilai akhir," ujar Mansyur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menteri  Pendidikan Nasional Mohammad Nuh juga mengingatkan pentingnya nilai  sekolah untuk profil sekolah dan distribusi nilai sekolah. Tujuannya  untuk membandingkan nilai sekolah dan nilai UN. "Penting untuk dijadikan  justifikasi pada saat pemerintah melakukan akreditasi sekolah," kata  Nuh.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Utama dan susulan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebanyak  2,4 juta  murid di 25.656 sekolah akan mengikuti UN utama jenjang  SMA/MA sederajat pada  18-21 April 2011 dan UN susulan pada  25-28 April  2011. Adapun UN utama jenjang SMK dan SMALB pada 18-20 April 2011 dan  UN susulan pada 25-27 April 2011.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"UN susulan untuk peserta  didik yang tidak bisa mengikuti UN utama," kata anggota Badan Standar  Nasional Pendidikan, Mungin Eddy Wibowo.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Secara terpisah, dari  Sulawesi Selatan (Sulsel) dilaporkan, distribusi soal UN di Sulsel  dilaksanakan dalam tiga tahap sejak Selasa malam. Dinas Pendidikan  Sulsel mendahulukan mengirim soal ke daerah-daerah yang letaknya jauh,  seperti Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur —yang harus ditempuh  dengan 12 jam perjalanan darat—lalu Palopo dan Enrekang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk  mengantisipasi kebocoran, soal yang sudah sampai di kabupaten akan  disimpan di kepolisian resor masing-masing. Soal akan diserahkan ke  sekolah pada H-1.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pihak sekolah saat ini terus mendampingi anak  didiknya menjelang UN. Di SMAN 1 Makassar, sekolah mengadakan doa  bersama untuk siswa kelas III SMA sejak pukul 18.30. Sementara itu,  murid kelas 12 (III) di SMA Katolik Rajawali mengikuti doa novena  berkelompok di kapel sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ketidaklulusan kadang bukan karena  ketidakmampuan menjawab, tetapi karena tidak teliti mengisi biodata,"  ujar Kepala Sekolah SMA Katolik Rajawali Suster Leoni Tarore.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kepala  Sekolah SMAN 1 Makassar Sakaruddin mengharapkan agar anak didiknya  tidak termakan penawaran kunci jawaban soal. "Belum tentu itu juga kunci  yang benar," ucapnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan,  siswa-siswa yang akan mengikuti ujian nasional mengunjungi panti asuhan  dan panti wreda untuk kemantapan hati.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di Surabaya, doa bersama  semakin rutin digelar menjelang ujian nasional. Seperti yang dilakukan  siswa Taman Perguruan Ta&amp;#39;miriyah Surabaya di Masjid Kemayoran, kompleks  Ta&amp;#39;miriyah, Jalan Indrapura Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/4).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut Wakil Kepala SMA Ta&amp;#39;miriyah Sucipto, doa bersama rutin dilakukan menjelang ujian nasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wakil  Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono meminta masyarakat tidak  terpancing rumor beredarnya soal ujian nasional. Apalagi tahun 2010,  Pemerintah Kota Surabaya sempat kesulitan karena beredarnya kunci  jawaban palsu.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pakta kejujuran &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di  Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, peserta ujian nasional mulai tingkat  SD, SMP, hingga SMA sederajat,   Rabu (13/4),  secara serentak mengikuti  apel untuk mengikrarkan pakta kejujuran di sekolah masing-masing.  Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro Zainuddin menuturkan,  kegiatan itu dimaksudkan agar siswa paham betul nilai kejujuran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ikrar  itu juga dimaksudkan agar siswa peserta ujian nasional, guru, sekolah,  maupun pengawas siap melaksanakan ujian nasional dengan jujur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di  Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menjelang ujian nasional, siswa  SMA  yang akan mengikuti ujian nasional diliburkan selama dua hari. Hal ini  dimaksudkan agar siswa bisa istirahat cukup dan dalam kondisi kesehatan  yang prima saat ujian nasional.&lt;/p&gt;  "Siswa jangan terlalu tegang  menghadapi ujian nasional. Setelah menjalani latihan soal, bimbingan,  dan ujian sekolah, sudah saatnya siswa beristirahat sehingga kondisi  kesehatan dan psikisnya baik," kata Kepala SMA Negeri I Sooko Mojokerto  HM Ali Ismail.(LUK/SIN/WER/ACI/ ETA/ TIF)&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/04/14/03301745/sejumlah..sekolah.belum.mengirim.nilai"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/04/14/03301745/sejumlah..sekolah.belum.mengirim.nilai&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-8503272982601195925?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/8503272982601195925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=8503272982601195925' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8503272982601195925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8503272982601195925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/04/ujian-nasional-sejumlah-sekolah-belum.html' title='UJIAN NASIONAL: Sejumlah Sekolah Belum Mengirim Nilai'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-589710893689666864</id><published>2011-04-08T06:54:00.001+07:00</published><updated>2011-04-08T06:54:49.087+07:00</updated><title type='text'>Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! (Opini Yudhistira ANM Massardi)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;Yudhistira ANM Massardi&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Jika  orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna  kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai—katakanlah hingga  dua dekade ke depan—yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekarang  saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang  menganggur. Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah  jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak  2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5  juta siswa setiap tahun. Dalam "kalimat lain", ada sekitar 50 juta anak  Indonesia yang tak mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi,  untuk apa sebenarnya generasi baru bangsa bersekolah hingga ke  perguruan tinggi? Jika jawabannya agar mereka bisa jadi pegawai, fakta  yang ada sekarang menunjukkan orientasi tersebut keliru. Dari sekitar  105 juta tenaga kerja yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai  adalah lulusan SD! Pemilik diploma hanya sekitar 3 juta orang dan  sarjana sekitar 5 juta orang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika sebagian besar lapangan kerja  hanya tersedia untuk lulusan SD, lalu untuk apa anak-anak kita harus  buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang  lebih tinggi?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sir Ken Robinson, profesor pakar pendidikan dan  kreativitas dari Inggris, dalam orasi-orasinya, yang menyentakkan  ironisme: menggambarkan betapa sekarang ini sudah terjadi inflasi gelar  akademis sehingga ketersediaannya melampaui tingkat kebutuhan.  Akibatnya, nilainya di dunia kerja semakin merosot. Lebih dari itu, ia  menilai sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para siswa. Maka,  harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang lebih mengutamakan  pembangunan kreativitas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Paul Krugman, kolumnis The  New York Times yang disegani, dalam tulisannya pada 6 Maret 2011,  menegaskan fakta-fakta di Amerika Serikat bahwa posisi golongan kerah  putih di level menengah— yang selama beberapa dekade dikuasai para  sarjana dan bergaji tinggi—kini digantikan peranti lunak komputer.  Lowongan kerja untuk level ini tidak tumbuh, malah terus menciut.  Sebaliknya, lapangan kerja untuk yang bergaji rendah, dengan jenis kerja  manual yang belum bisa digantikan komputer, seperti para petugas  pengantaran dan kebersihan, terus tumbuh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kreativitas dan imajinasi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fakta  lokal dan kondisi global tersebut harus segera diantisipasi oleh para  pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan. Persepsi kultural dan  sosial yang mengangankan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan semakin  mudah mendapatkan pekerjaan adalah mimpi di siang bolong!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun,  jika orientasi masyarakat tetap untuk "jadi pegawai", yang harus  difasilitasi adalah sekolah-sekolah dan pelatihan-pelatihan murah dan  singkat. Misalnya untuk menempati posisi operator, baik yang manual  seperti pekerjaan di bidang konstruksi, manufaktur, transportasi,  pertanian, ataupun yang berbasis komputer di perkantoran. Untuk itu, tak  perlu embel-embel (sekolah) "bertaraf internasional" yang menggelikan  itu karena komputer sudah dibuat dengan standar internasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akan  tetapi, kualitas peradaban sebuah bangsa tak cukup hanya ditopang oleh  para operator di lapangan. Mutlak perlu dilahirkan para kreator yang  kaya imajinasi. Oleh karena itu, seluruh potensi kecerdasan anak bangsa  harus dibangun secara lebih serius yang hanya bisa dicapai jika  rangsangannya diberikan sejak usia dini. Maka, diperlukan metode  pengajaran yang tak hanya membangun kecerdasan  visual-auditori-kinestetik, juga kreativitas dan kemandirian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kata  kuncinya adalah "kreativitas" dan "imajinasi"; dua hal yang belum akan  tergantikan oleh komputer secerdas apa pun! Zaman terus berubah. Sistem  pendidikan dan paradigma usang harus diganti dengan yang baru. Era  teknologi analog sudah ketinggalan zaman. Kini kita sudah memasuki era  digital.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itu artinya, konsep tentang ruang dan waktu pun berubah.  Hal-hal yang tadinya dikerjakan dalam waktu panjang, dengan biaya  tinggi, dan banyak pekerja, jadi lebih ringkas. Maka, tujuan paling  mendasar dari suatu sistem pendidikan baru harus bisa membangun semangat  "cinta belajar" pada semua peserta didik sejak awal. Dengan spirit dan  mentalitas "cinta belajar", apa pun yang akan dihadapi pada masa depan,  mereka akan bisa bertahan untuk beradaptasi, menguasai, dan mengubahnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Membangun  semangat "cinta belajar" tak perlu harus ke perguruan tinggi. Kini  seluruh ilmu pengetahuan sudah tersedia secara digital, bisa diakses  melalui komputer di warnet ataupun melalui telepon genggam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi,  cukup berikan kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi  yang dibutuhkan di internet, dan bahasa Inggris secukupnya karena di  dunia maya tersedia mesin penerjemah aneka bahasa yang instan. Anak-anak  cukup sekolah 12 tahun saja (mulai dari pendidikan anak usia dini,  PAUD)! Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai  tinggi tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada.&lt;/p&gt;&lt;em&gt;Yudhistira ANM Massardi Sastrawan; Pengelola Sekolah Gratis untuk Dhuafa, TK-SD Batutis Al-Ilmi Bekasi&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/04/08/03583312/berhentilah.sekolah.sebelum.terlambat"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/04/08/03583312/berhentilah.sekolah.sebelum.terlambat&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/em&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-589710893689666864?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/589710893689666864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=589710893689666864' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/589710893689666864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/589710893689666864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/04/berhentilah-sekolah-sebelum-terlambat.html' title='Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat! (Opini Yudhistira ANM Massardi)'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-958884748405470690</id><published>2011-04-08T06:43:00.001+07:00</published><updated>2011-04-08T06:43:43.371+07:00</updated><title type='text'>Ujian Nasional, Bergantung Kredibilitas Kepala Sekolah</title><content type='html'>&lt;p&gt;Jakarta, Kompas - Untuk  mencegah kecurangan dan penyimpangan pada ujian nasional SMA/MA/SMK, 18  April mendatang, seluruh kepala sekolah diimbau menjaga kredibilitas.  Caranya, tak terpengaruh politik lokal dan pejabat birokrasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itu  diingatkan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Rohmat Wahab,  koordinator pelaksanaan dan pengawasan UN SMA/MA/MAK/SMK 2011, ketika  dihubungi di Yogyakarta, Kamis (7/4). "Kekhawatiran kami, banyak kepala  sekolah di daerah dikendalikan kepala dinas dengan kepentingan  tertentu," kata dia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meski UN tahun lalu ada kecurangan, secara  umum dinilai baik. "Kami percaya hasil UN asalkan kepala sekolah bisa  jaga kredibilitasnya," ujar Rohmat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rohmat menekankan pentingnya  kejujuran birokrasi pemerintah provinsi hingga kepala sekolah. Perguruan  tinggi terlibat melaksanakan dan mengawasi UN untuk memastikan proses  berjalan jujur. Meski demikian, PTN tetap belum bisa sepenuhnya menerima  hasil UN sebagai parameter masuk SNMPTN.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mulai tahun ini,  pengawas UN dibagi dua, pemerintah provinsi serta perguruan tinggi  negeri dan swasta. Tim pengawas independen dihapuskan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anggota  Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Mungin Eddy Wibowo mengatakan,  pengawas dari pemerintah provinsi akan mengawasi SMP, MTS, SMPLB, dan  SMALB. Pengawas dari perguruan tinggi mengawasi UN SMA/MA/SMK karena  lulusannya akan melanjutkan kuliah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Ini juga untuk menghapus keraguan perguruan tinggi atas mutu lulusan UN yang ingin kuliah," kata Mungin. (LUK)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/04/08/03040073/bergantung.kredibilitas.kepala.sekolah"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/04/08/03040073/bergantung.kredibilitas.kepala.sekolah&lt;/a&gt;..&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-958884748405470690?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/958884748405470690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=958884748405470690' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/958884748405470690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/958884748405470690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/04/ujian-nasional-bergantung-kredibilitas.html' title='Ujian Nasional, Bergantung Kredibilitas Kepala Sekolah'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-711718738539815587</id><published>2011-04-06T08:15:00.001+07:00</published><updated>2011-04-06T08:15:08.575+07:00</updated><title type='text'>Nilai UN Tidak Menjadi Parameter</title><content type='html'>&lt;h1 class="judul_artikel"&gt;&lt;/h1&gt; 																                    	 						 																				                                                                                         &lt;p&gt;Padang, Kompas -  Sejumlah rektor perguruan tinggi negeri menolak nilai ujian nasional  dijadikan parameter untuk masuk perguruan tinggi negeri. Mereka menilai  masih banyak masalah dalam penyelenggaraan ujian nasional sehingga  banyak hal yang harus dibenahi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pembantu Rektor I Universitas  Andalas Padang Febrin Anas Ismail, Selasa (5/4) di Kota Padang,  mengatakan, sejumlah daerah melakukan berbagai cara untuk menaikkan  nilai rata-rata ujian nasional (UN) karena menganggap nilai UN  menyangkut gengsi daerah. Hal ini tentu tidak bisa diterima perguruan  tinggi negeri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Rektor Universitas Sriwijaya Palembang Badia  Perizade mengatakan, cakupan UN terlalu luas dan diikuti seluruh siswa  kelas 12 SMA/SMK. Padahal, perguruan tinggi negeri membutuhkan  kualifikasi khusus untuk menjadi calon mahasiswa. Karena itu, PTN  melakukan seleksi masuk melalui SNMPTN (seleksi nasional masuk perguruan  tinggi negeri) maupun melalui jalur undangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Meskipun UN tidak  dijadikan parameter masuk PTN, UN tetap digunakan sebagai syarat mutlak  untuk mendaftar ke perguruan tinggi negeri," ujar Badia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kompetensi khusus&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Secara  terpisah, Pembantu Rektor I Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof  Sofyan Salam mengatakan, sejumlah program studi di PTN membutuhkan  kompetensi khusus bagi calon mahasiswanya sehingga UN tidak bisa  dijadikan parameter masuk PTN.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sofyan mencontohkan, Fakultas Ilmu  Keolahragaan UNM memberlakukan tes fisik dan wawancara selain tes  tertulis untuk para calon mahasiswa. Kompetensi dalam ilmu keolahragaan  selama ini tidak diuji dalam UN. Fakultas Seni dan Desain juga  menerapkan ujian keterampilan dan seni bagi para pelamar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kendala  lain ialah rasio antara kursi yang tersedia dengan jumlah pelamar. UNM  membuka jalur undangan di semua fakultas yang diikuti oleh 4.000  pelamar, padahal kursi yang tersedia hanya 1.000 buah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Bukan  pekerjaan mudah menyaring calon mahasiswa jika hasil UN mereka  mirip-mirip, sedangkan yang diterima terbatas," ujar Sofyan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Humas  Universitas Hasanuddin Dahlan Abubakar menilai, universitas belum yakin  dengan sistem pengawasan UN. Dia melihat masih banyak kasus kebocoran  soal dan karut-marut UN di kawasan-kawasan terpencil yang membuat hasil  UN tidak optimal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Sistem pengawasan UN masih banyak kelemahan sehingga sulit dijadikan ukuran untuk masuk PTN," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(INK/IRE/SIN)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/04/06/03285346/nilai.un..tidak.menjadi.parameter"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/04/06/03285346/nilai.un..tidak.menjadi.parameter&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-711718738539815587?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/711718738539815587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=711718738539815587' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/711718738539815587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/711718738539815587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/04/nilai-un-tidak-menjadi-parameter.html' title='Nilai UN Tidak Menjadi Parameter'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-3317687999279004628</id><published>2011-04-02T10:09:00.001+07:00</published><updated>2011-04-02T10:09:57.020+07:00</updated><title type='text'>Nurul Mendaur Ulang Limbah (Pendidikan Non Formal)</title><content type='html'>&lt;h4 class="judulmerah mt12"&gt;PROFIL USAHA&lt;/h4&gt; 												&lt;h1 class="judul_artikel"&gt;&lt;/h1&gt; 																	&lt;div class="img_kontener" style="margin: 0px 15px 10px 0px;"&gt; 														&lt;img src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/04/02/4244911p.jpg" id="myImage" width="344" height="390"&gt; 														&lt;h5&gt;&lt;font size="1"&gt;KOMPAS/AGNES SWETTA PANDIA&lt;/font&gt;&lt;/h5&gt; 							 							&lt;p class="img_lead"&gt;&lt;font size="1"&gt;Nurul Soraya (36), perajin sepatu dengan bahan baku limbah kulit di Surabaya, Jawa Timur.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt; 						&lt;/div&gt; 																	 													                                                              &lt;p style="text-align: left;"&gt;Oleh &lt;strong&gt;Agnes Swetta Pandia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Limbah  kulit dari pabrik sandal dan sepatu bermerek internasional ternyata  bisa bernilai jual tinggi. Bagaimana kita bisa menuangkan ide dan kreasi  untuk memanfaatkan limbah kulit menjadi alas kaki bergengsi? &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Limbah  kulit berukuran paling besar 15 sentimeter dan berbentuk berantakan  karena merupakan sisa potongan ternyata bisa diolah oleh pasangan Jovi  Suyuti (48) dan Nurul Soraya (36) di Surabaya, Jawa Timur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pasangan  yang pernah jatuh bangun dengan berbagai bisnis, termasuk jual beli  mobil bekas, sudah menetapkan hati mengembangkan usaha alas kaki dengan  memanfaatkan limbah kulit berkualitas ekspor.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bermodal uang Rp  100.000, pada tahun 2005 mereka merintis usaha alas kaki, terutama  sandal orang dewasa untuk perempuan dan laki-laki. Kala itu dana  tersebut bisa untuk memproduksi lima pasang sandal, yang langsung dijual  kepada tetangga dan teman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam perjalanannya, respons terhadap  produk alas kaki kulit itu terus meningkat sehingga Jovi dan Nurul  termotivasi untuk mendongkrak produksi hingga kini. Kini sekitar 20-30  pasang sandal selesai digarap setiap hari dengan dibantu empat pekerja.  Sandal dijual Rp 30.000 per pasang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka  berupaya menekan biaya produksi dengan  mengandalkan alat kerja bekas, seperti cetakan sandal atau gelbut  yang dibeli di pasar loak di Surabaya. Sepasang cetakan cuma Rp 1.000.  Kalau cetakan baru, harganya justru Rp 60.000 per pasang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bahan  baku berupa guntingan kulit dibeli dengan harga Rp 10.000-Rp 15.000 per  kilogram dari pabrik sepatu kulit PT Ecco di Candi, Sidoarjo.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari bahan ini bisa dibuat 10-15 pasang sandal dewasa berwarna coklat, merah muda, merah maroon,  putih, dan hitam seharga Rp 30.000-Rp 40.000 per pasang. Soal warna  alas kaki sangat tergantung pada pasokan dari pabrik tersebut  dan  didominasi warna coklat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibu dua anak ini, yang  mengembangkan galeri usaha sekaligus tempat tinggal di Jalan  Nginden  Raya 61, membeli sol langsung di pabrik di kawasan industri Surabaya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Harga  jual produk bisa murah karena alas atau sol juga memanfaatkan limbah  plastik dan bekas peralatan rumah tangga. Setiap pekan mereka  membutuhkan 100-200 pasang sol warna hitam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Keahlian membuat  sandal diturunkan dari orangtua yang selama ini perajin sandal berbahan  spons di Wedoro, Sidoarjo. Sejak kecil, saya ikut membantu orangtua saat  mengerjakan sandal," kata Jovi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kini mereka justru mulai  memanfaatkan bekas jok mobil untuk menekan harga jual sandal. "Kami coba  bekas jok mobil, termasuk tenda atau terpal, karena memang cocok untuk  alas kaki dan tahan lama. Bagi orang lain itu adalah limbah, padahal  bisa memiliki nilai ekonomi yang mahal kalau diolah," kata Nurul, yang  mulai mendekati perusahaan persewaan tenda untuk memperoleh bahan baku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menyangkut  pemasaran, Jovi dan Nurul tak lagi repot karena pembeli baik eceran  maupun grosir datang langsung. Kendati demikian, mereka tidak pernah  berhenti memasarkan produk melalui pasar kaget, bazar kampung, dan  pameran di pusat perbelanjaan. Kini ada kecenderungan order dari  pedagang sandal meningkat sehingga kapasitas produksi ditingkatkan  dengan menggandeng tetangga untuk menggarap sandal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sandal  diproduksi secara massal dengan ukuran 36-43. Konsumen bisa memesan  model dan ukuran sesuai dengan selera. Bahkan, jika pesanan, alas sandal  dipakai berkualitas bagus sehingga harga jual mencapai Rp 100.000 per  pasang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut Nurul, memanfaatkan limbah kulit atau jok mobil  lebih menguntungkan ketimbang  menggunakan bahan baku bukan limbah.  "Jika bukan limbah, untuk satu kaki (setengah pasang)  harga lembarannya  Rp 15.000, belum biaya  lain seperti lem, benang, kop, dan  aksesorinya," ujarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengembangkan usaha dengan modal pas-pasan  tidak menyurutkan keinginan mereka untuk terus meningkatkan kapasitas  produksi. Mereka berbelanja bahan baku pendukung seperti benang nilon  dalam jumlah besar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Merek  alas kaki  juga terus berubah sesuai  dengan pesanan atau apa yang diinginkan. Biaya pembuatan merek sandal  dari kertas Rp 1.000 per lembar isi 50 merek. Biasanya, setiap pemesanan  merek minimal untuk lima kodi sandal atau 100 pasang. Hal serupa juga  berlaku ketika membeli nomor ukuran sandal yang harganya Rp 800-Rp 900  per lembar atau isi 50 biji.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meski masih jago kandang karena  pemasarannya di sekitar Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, mereka ingin  menjajaki pembuatan sepatu dengan memanfaatkan bahan baku limbah serupa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bagi   Jovi dan Nurul , usaha sepatu dengan bahan baku limbah berupa kulit  sisa, termasuk sol plastik yang didaur ulang, sulit bangkit. Permintaan  pasar memang banyak, tetapi minimnya modal kerja dan sarana jadi kendala  utama meningkatkan kapasitas produksi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka belum mengurus hak cipta atas karya berupa sandal karena ketiadaan modal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/04/02/05311175/nurul.mendaur.ulang.limbah"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/04/02/05311175/nurul.mendaur.ulang.limbah&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-3317687999279004628?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/3317687999279004628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=3317687999279004628' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3317687999279004628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3317687999279004628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/04/nurul-mendaur-ulang-limbah-pendidikan.html' title='Nurul Mendaur Ulang Limbah (Pendidikan Non Formal)'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-8457038464987691159</id><published>2011-04-01T07:06:00.001+07:00</published><updated>2011-04-01T07:06:03.323+07:00</updated><title type='text'>Sekolah Tak Ada Pustaka</title><content type='html'>&lt;h1 class="judul_artikel"&gt;&lt;/h1&gt; 																						 													                                                              &lt;p&gt;Jakarta, Kompas -  Tak hanya masalah  ratusan ribu ruang kelas rusak di sekolah dasar dan  tingkat menengah yang belum tuntas. Puluhan ribu SD dan SMP di seluruh  Indonesia juga belum memiliki perpustakaan yang penting sebagai pusat  belajar dan mengembangkan minat baca siswa sejak dini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hingga  tahun 2011, Kementerian Pendidikan Nasional mencatat  55,39 persen SD  belum memiliki perpustakaan sekolah. Dari 143.437 SD, ada 79.445 sekolah  belum punya perpustakaan. Adapun di SMP, 39,37 persen sekolah (34.511  dari  13.588 sekolah) tidak punya perpustakaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perpustakaan  sekolah yang ada pun belum memadai, baik dari segi ruangan, koleksi,  hingga kegiatan. Hal itu tampak dari  pantauan Kompas ke sejumlah  sekolah di Jakarta, Kamis (31/3).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di SDN Duri Pulo 06 Petang,  Jakarta, ruang perpustakaan digabung dengan ruang guru dan ruang  penyimpanan barang sekolah. Perpustakaan hasil bantuan bank pemerintah  itui juga dipakai siswa SDN Duri Pulo 10.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kalau tidak ada  bantuan dari luar,  kami belum  punya perpustakaan. Koleksi buku pun  disumbang," kata Sutisna, penanggung jawab perpustakaan itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kondisi  yang sama  terlihat di perpustakaan di SDN Duri Pulo 04, Jakarta.  Kondisinya lebih baik karena siswa dapat duduk di karpet.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kesulitan  sekolah menyediakan ruang perpustakaan adalah karena tidak ada ruangan.  Ruang perpustakaan disediakan dengan mengorbankan satu ruang kelas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akibatnya,  sekolah itu hanya  menggunakan lima ruang kelas. Siswa kelas I dan II SD memakai ruang kelas secara bergantian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di  SD Inpres Maccini Baru, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sudah ada  ruang perpustakaan  khusus. Namun, koleksi bukunya hanyalah buku-buku  pelajaran. Kondisi serupa  banyak dijumpai di perpustakaan sekolah lain.  Mereka  minim bacaan yang merangsang minat baca anak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dana kurang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada  rapat kerja dengan Komisi X DPR, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad  Nuh  mengatakan, kebutuhan dana untuk membangun ruang perpustakaan di SD  dan SMP sekitar Rp 9,9 triliun. Namun, anggaran dana alokasi khusus  sebesar Rp 10 triliun dari pemerintah pusat tahun 2011  juga dipakai  untuk memperbaiki ruang kelas yang rusak dan peningkatan mutu, seperti  pembelian buku referensi dan pengayaan serta alat-alat peraga dan  laboratorium.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lucya Damayanti, Kepala Bidang Perpustakaan Sekolah  dan Perguruan Tinggi Perpustakaan Nasional, memprihatinkan masih  banyaknya sekolah, terutama  SD,  tidak punya perpustakaan. Kondisi itu  menunjukkan belum ada kesadaran pentingnya mengembangkan perpustakaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Perlu  diprioritaskan adanya perpustakaan di tiap sekolah. Dinas pendidikan  setempat mesti  berkoordinasi dengan Perpustakaan Nasional dan daerah  supaya program perpustakaan sekolah  berkesinambungan dan jadi pusat  belajar," kata Lucya.  (ELN)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/04/01/04291042/sekolah.tak.ada.pustaka"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/04/01/04291042/sekolah.tak.ada.pustaka&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-8457038464987691159?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/8457038464987691159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=8457038464987691159' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8457038464987691159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8457038464987691159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/04/sekolah-tak-ada-pustaka.html' title='Sekolah Tak Ada Pustaka'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-6943470493824657679</id><published>2011-03-31T07:39:00.001+07:00</published><updated>2011-03-31T07:39:38.404+07:00</updated><title type='text'>Ke Mana Arah Prioritas Pendidikan Nasional?</title><content type='html'>&lt;h1 style="text-align: left;" class="judul_artikel"&gt;&lt;/h1&gt; 																						 													                                                              &lt;p style="text-align: left;"&gt;Oleh &lt;strong&gt;Hafid Abbas&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada  23 Maret lalu harian ini  melaporkan bahwa sampai saat ini 88,8 persen  sekolah di Indonesia, mulai SD hingga SMA/SMK, belum melewati mutu  standar pelayanan minimal. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berdasarkan data yang ada,  40,31 persen dari 201.557 sekolah di Indonesia di bawah standar  pelayanan minimal,  48,89 persen pada posisi standar pelayanan minimal,  dan hanya 10,15 persen  yang memenuhi standar nasional pendidikan.  Dengan keadaan  itu, pemerintah justru gencar menggelontorkan dana   menciptakan rintisan sekolah bertaraf internasional: 0,65 persen.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedikit  sekali sekolah  kita yang  memenuhi persyaratan. Bagaimana implikasinya  terhadap mutu lulusan yang diharapkan? Orangtua tentu  mulai khawatir  jika pendidikan yang tengah atau akan dijalani anaknya di berbagai  jenjang dan jenis pendidikan jauh dari mutu yang diharapkan.  Berbahayalah jika masyarakat hilang kepercayaan kepada pemerintah atas  kemampuannya menyediakan layanan pendidikan yang berkualitas dan merata  bagi semua warga negara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Indonesia-Malaysia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Risau   seperti itu sudah lama muncul. Pada 2003, Menko Kesra Jusuf Kalla  menugaskan  seorang deputinya  membandingkan mutu pendidikan kita dengan  Malaysia. Kajian itu menunjukkan bahwa tingkat kesukaran ujian akhir  jenjang SD di Malaysia untuk Bahasa Inggris relatif sebanding dengan  tingkat kesukaran ujian akhir jenjang SLTA di Indonesia. Untuk IPA dan  Matematika, tingkat kesukaran jenjang SLTP relatif sebanding dengan  jenjang SLTA.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Artinya, Indonesia relatif tertinggal dari Malaysia  3-6 tahun dalam tingkat kesukaran materi ujian nasional. Standar  kelulusan nasional Malaysia dengan tingkat kesukaran itu  pada 2003  adalah 6, sedangkan Indonesia 3. Ini berarti, jika Indonesia  meningkatkan standar kelulusannya 0,5 setahun, kita baru mencapai  keadaan seperti Malaysia (2003) pada 2009. Jadi,  Indonesia tertinggal  9-12 tahun dari Malaysia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tanpa bermaksud mengecilkan arti dan  keberadaan sekolah bertaraf internasional (SBI) yang gencar dikembangkan  itu, yang terpenting pada hemat saya adalah bagaimana kebijakan  pengelolaan pendidikan dilakukan dengan langsung menyentuh inti  peningkatan kualitas proses belajar-mengajar  yang berlangsung di ruang  kelas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Malaysia  kelihatannya tak tergila-gila mengembangkan SBI.  Ia membenahi  hal-hal pokok. Jika proses pengelolaan belajar-mengajar  tak berkualitas, sebaik dan selengkap apa pun sarana dan prasarana  sekolah, mutu pendidikan kita akan tetap tertinggal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang perlu  dipikirkan,  bagaimana sampai pada titik temu, prioritas penggunaan  anggaran untuk peningkatan kesejahteraan guru yang secara nyata  berdampak pada peningkatan mutu proses belajar-mengajar, dan selanjutnya  mutu lulusan dan mutu pendidikan secara keseluruhan. Guru diberi  insentif  mengembangkan media belajar, misalnya, demi  meningkatkan  kualitas belajar-mengajarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelihatannya masih relevan ditelaah  laporan Katarina Tomasevski, Special Rapporteur PBB (2001), yang   mengkaji  mutu pendidikan di Indonesia. Ia mengungkapkan,  mutu  pendidikan kita amat rendah. Meski gaji guru dinaikkan dua-tiga kali  lipat, kebijakan itu tetap tak berdampak pada perbaikan mutu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Alasannya,   jam mengajar guru hanya rata-rata 2,5 jam per hari atau 15 jam per  minggu. Akibatnya, sulit ditemukan guru yang tak bekerja rangkap dalam  berbagai bentuk: ada yang berbisnis, ada yang honorer di berbagai  sekolah lain sehingga tugas utamanya terabaikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Gila ijazah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal  ini diperburuk  dengan banyaknya topik bahasan  dalam kurikulum yang  harus diajarkan  guru. Meski siswa belum menguasai suatu konsep atau  topik bahasan, guru harus pindah lagi ke topik lain. Akibatnya, sampai  tamat, siswa tidak menguasai apa-apa karena hanya mempelajari setiap  pokok bahasan secara sepintas tanpa pernah mengalami bagaimana indahnya  dan menyenangkannya  cara mengetahui pengetahuan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan keadaan  seperti itu, Katarina terkesan bahwa sekolah di Indonesia hanya memberi  ijazah yang jauh dari mutu yang diharapkan. Gejala penyakit gila ijazah   itu terlihat jelas pada saat menjelang pemilu atau pemilukada. Begitu  banyak kasus ijazah palsu  di berbagai kabupaten dan kota. Keadaan  seperti itu  belum banyak berubah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang juga diangkat  Katarina,   adanya diskriminasi promosi karier guru:  53 persen dari jumlah  keseluruhan guru SD, 43 persen guru SLTP, dan 34 persen guru SLTA adalah  wanita. Namun,  yang dipromosikan menjadi kepala sekolah SD hanya 27  persen, SLTP 11 persen,  dan SLTA  10 persen. Praktik diskriminasi  seperti ini telah meredupkan motivasi guru  berprestasi  meningkatkan  mutu belajar-mengajar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah beberapa catatan elementer yang  kelihatannya belum banyak mendapat perhatian oleh pengambil kebijakan  pendidikan nasional. Jika pengembangan SBI tetap  prioritas, kiranya hal  itu tidak menimbulkan kesenjangan pengetahuan antaranak didik  karena  amat berbahaya pada masa depan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kesenjangan ini saya nilai jauh  lebih berbahaya dibandingkan dengan kesenjangan lain karena akan  menciptakan keretakan peradaban dan keretakan generasi yang kelak  mengancam sendi kekukuhan NKRI.&lt;/p&gt; Hafid Abbas &lt;em&gt;Guru Besar FIP UNJ; Mantan Dirjen Perlindungan HAM dan Konsultan UNESCO&lt;br&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/03/31/03314232/ke.mana.arah.prioritas.pendidikan.nasional"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/03/31/03314232/ke.mana.arah.prioritas.pendidikan.nasional&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/em&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-6943470493824657679?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/6943470493824657679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=6943470493824657679' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6943470493824657679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6943470493824657679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/03/ke-mana-arah-prioritas-pendidikan.html' title='Ke Mana Arah Prioritas Pendidikan Nasional?'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-491562793582065002</id><published>2011-03-29T07:05:00.001+07:00</published><updated>2011-03-29T07:05:47.565+07:00</updated><title type='text'>Lanjut S-2 atau Kerja Dulu?</title><content type='html'>&lt;div class="kompas"&gt;&lt;/div&gt; 								 			  			   						  			 				 					 					 												&lt;h4 class="judulmerah mt12"&gt;JAJAK PENDAPAT &lt;/h4&gt; 												&lt;h1 class="judul_artikel"&gt;&lt;/h1&gt; 																	&lt;div class="img_kontener" style="margin: 0px 15px 10px 0px;"&gt; 														&lt;img src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/03/29/4236994p.jpg" id="myImage" width="371" height="581"&gt; 														&lt;h5&gt;KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO&lt;/h5&gt; 							 							&lt;p class="img_lead"&gt;Para pencari kerja mengikuti proses wawancara  pada stan bursa kerja di Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi  Bandung (ITB), Kota Bandung, Jawa Barat.&lt;/p&gt; 						&lt;/div&gt; 																	 													                                                              &lt;p&gt;Bagi sebagian besar anak muda  masa kini, mendapat gelar S-1 saja dirasa enggak cukup. Supaya punya  "nilai jual" yang lebih tinggi di tengah ketatnya persaingan dunia  kerja, mayoritas anak muda merasa perlu melanjutkan kuliah ke jenjang  pendidikan yang lebih tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;emikian salah satu  kesimpulan yang berhasil ditarik dari hasil jajak pendapat Litbang  Kompas yang digelar pekan lalu (23-26/3/ 2011). Survei jajak pendapat  ini dilakukan untuk menghimpun opini masyarakat, khususnya pendapat anak  muda, terkait minat mereka melanjutkan pendidikan tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari  1.127 responden yang  dijaring  tim Litbang Kompas, tak kurang dari 210  orang adalah anak muda alias mereka yang usianya di bawah 25 tahun.  Bahkan, tercatat ada 115 responden di antaranya yang berusia 17-21 tahun  dan masuk dalam kategori usia mahasiswa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Minat anak muda tampak  cukup besar untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.  Lebih dari 70 persen dari responden yang usianya 17-21 tahun  menyampaikan minat mereka untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang  lebih tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara itu, kebanyakan responden yang tidak  antusias untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi  adalah kelompok responden yang usianya sudah lebih dari 30 tahun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beragam  alasan mereka, di antaranya karena sudah berkeluarga,  prioritas  alokasi keuangan dan waktu yang tercurah untuk urusan keluarga. Alasan  lain, "faktor U" alias faktor umur. Mereka merasa sudah  terlalu tua  untuk belajar lagi. Mereka  enggan untuk memulai lagi bersentuhan dengan  dunia pendidikan formal.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kerja dulu?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seberapa  penting sebenarnya  melanjutkan kuliah itu? Mayoritas anak muda   spontan menjawab penting! Tetapi, kalau ditanya, "Setelah lulus kuliah  S-1, sebaiknya langsung meneruskan kuliah ke jenjang S-2 atau kerja  dulu?" Ternyata sebagian besar anak muda berpendapat  lulus kuliah  sebaiknya kerja dulu,  kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang  berikutnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedikitnya 62 persen responden dalam jajak pendapat  ini yang menyuarakan pendapat tersebut. Mayoritas responden  beralasan  bahwa titel alias gelar yang tinggi belum tentu bisa dijadikan pegangan  kalau kita tak  punya pengalaman kerja yang cukup.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Alih-alih  mendapat pekerjaan yang sesuai dengan modal gelar yang sudah diraih,  banyak lulusan S-2 tetap harus memulai kariernya dari nol dengan  menggunakan standar gelar S-1-nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi kalau melihat sisi yang  lain, tuntutan berbeda dihadapi oleh mereka yang berkarier di dunia  akademisi. Salah seorang responden yang  diwawancarai Litbang Kompas,  Ilwa Nuzul Rahma (26), menjadi salah satu contoh anak muda yang penuh  semangat  menuntut ilmu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ilwa mengaku sudah merasa mantap untuk  berkarier di dunia akademisi sebagai dosen. Maka tidak heran kalau bagi  Ilwa, gelar yang tinggi adalah sebuah keharusan. Untuk itu, setelah  sukses meraih gelar sarjana ekonomi di Universitas Padjajaran, Ilwa  langsung mendaftar kuliah di program pascasarjana Ilmu Ekonomi   Universitas Indonesia (UI).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Begitu lulus S-2 saat Ilwa berusia 24  tahun, dia lalu melanjutkan studi ke jenjang doktoral (S-3) pada  program studi yang sama di UI. Sekarang Ilwa tengah sibuk menyelesaikan  disertasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Contoh lain adalah Muhammad Fariz (23) yang  sedang  menyelesaikan tesis untuk meraih gelar magister manajemen di Universitas  Gadjah Mada. Fariz memilih melanjutkan kuliah begitu dia lulus S-1 dari  Universitas Bina Nusantara, Jakarta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut Fariz, sebetulnya  orang lebih baik bekerja dulu supaya punya pengalaman, baru kemudian  melanjutkan kuliah untuk memantapkan karier. Tetapi Fariz memutuskan   langsung mengambil pendidikan S-2 atas dorongan orangtuanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Mumpung ada kesempatan, kenapa enggak dimanfaatkan sebaik-baiknya?" ujar Fariz.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Meningkat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Fenomena  maraknya minat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih  tinggi tampak dari jumlah mahasiswa baru yang tercatat di sejumlah  universitas di Indonesia. Kalau kita simak data dari Kementerian  Pendidikan Nasional, jelas sekali tergambar peningkatan minat masyarakat  untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jumlah  pendaftar perguruan tinggi, baik di jenjang S-1, S-2, maupun S-3,  melonjak cukup signifikan selama beberapa tahun terakhir. Begitu juga  jumlah lulusan pada setiap jenjang pendidikan tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memang,  data tersebut cuma sebatas menunjukkan kuantitas atau paparan berbasis  jumlah. Ilustrasi lewat angka-angka semacam ini tidak dengan serta-merta  menggambarkan  kualitas dan daya saing lulusan lembaga perguruan tinggi  di negeri ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meskipun begitu, gambaran soal meningkatnya minat  masyarakat untuk meraih pendidikan tinggi cukup memberi semangat  positif dalam memandang masa depan bangsa ini. Semakin banyak masyarakat  yang berpendidikan tinggi, berarti makin besar potensi sumber daya  manusia berkualitas untuk membangun bangsa menjadi lebih baik di masa  mendatang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; (SUWARDIMAN/LITBANG KOMPAS)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/03/29/04485871/lanjut.s-2.atau.kerja.dulu"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/03/29/04485871/lanjut.s-2.atau.kerja.dulu&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-491562793582065002?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/491562793582065002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=491562793582065002' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/491562793582065002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/491562793582065002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/03/lanjut-s-2-atau-kerja-dulu.html' title='Lanjut S-2 atau Kerja Dulu?'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-281579433933331145</id><published>2011-03-25T11:16:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T11:16:08.170+07:00</updated><title type='text'>Gara-gara Politik, Dana BOS Telat Cair</title><content type='html'>&lt;div class="left"&gt; 								&lt;div class="font12 c_abu03_kompas2011 pb_3"&gt; 								 										Penulis: &lt;span class="c_abu01_kompas2011"&gt;&lt;b&gt;Syamsul Hadi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;   | 																			 										 Editor: &lt;span class="c_abu01_kompas2011"&gt;&lt;b&gt;Latief&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; 									 									 &lt;/div&gt; 										 &lt;div class="font11 c_abu02_kompas2011 pb_3 pt_3"&gt;Kamis, 24 Maret 2011 | 17:16 WIB&lt;/div&gt; 									 &lt;/div&gt; 								  								 								&lt;div class="right font12 c_abu03_kompas2011"&gt;&lt;span id="text_613050"&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;div id="fontresize"&gt; 										 									 										 										&lt;/div&gt; 										 								&lt;/div&gt; 				 								  								 								 								     								&lt;div class="multi_foto_wide"&gt;     &lt;div style="display: block;" id="foto1"&gt;          &lt;img src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/09/17/1951404620X310.jpg" height="198" width="387"&gt;         &lt;span class="pb_10"&gt;&lt;br&gt;KOMPAS/LASTI KURNIA &lt;/span&gt;         Ilustrasi: Molornya pencairan dana BOS karena keterlambatan  pengesahan APBD 2011 oleh DPRD yang disebabkan memanasnya persoalan  politik daerah itu.      &lt;/div&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_5"&gt;   			&lt;p&gt;                                         &lt;/p&gt;&lt;div class="pd_5 hl_1 font12 c_abu01_kompas2011"&gt;&lt;strong&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					 &lt;div class="list_4 font12 c_biru_kompas2011 pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/23/20023681/ICW.Sebaiknya.Mendiknas.Minta.Maaf."&gt;ICW: &amp;quot;Sebaiknya Mendiknas Minta Maaf&amp;quot;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/23/18325597/Permendiknas.Paksa.Sekolah.Berakrobat."&gt;Permendiknas Paksa Sekolah &amp;quot;Berakrobat&amp;quot;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/22/19575687/Dua.Menteri.Jamin.Penyaluran.BOS.Aman"&gt;Dua Menteri Jamin Penyaluran BOS Aman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/22/19013070/Baru.5.Provinsi.Cairkan.BOS.Lainnya."&gt;Baru 5 Provinsi Cairkan BOS, Lainnya?&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/22/11074962/BOS.Terlambat.Korupsi.Bebas.Meluas"&gt;BOS Terlambat, Korupsi Bebas Meluas&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt;                      					                 &lt;/div&gt; 							 								&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JEMBER, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;— Setelah Anggaran  Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jember 2011 diverifikasi Gubernur  Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Jember secepatnya menyerahkan revisinya  kepada DPRD dan kemudian ditindaklanjuti dengan peraturan bupati.  Harapannya supaya biaya bantuan operasional sekolah (BOS) bagi semua  sekolah segera bisa dicairkan untuk meringankan beban kepala sekolah dan  wali murid.&lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt;                 &lt;div&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/quote_1.gif" height="38" width="43"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div class="font20 c_orange_quote pd_10"&gt;                   Saya minta kepala sekolah berupaya mencari alternatif  serta jalan keluar agar proses pendidikan di sekolah berjalan sesuai  kurikulum.                  &lt;/div&gt;&lt;div class="font12 pl_10 c_orange_quote"&gt;--  Rahmatullah&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/quote_1.gif" height="38" width="43"&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;p&gt;Kepala  Unit Pelaksana Teknis Dinas Kecamatan Ambulu, Rahmatullah, di Jember,  Kamis (24/3/2011), mengatakan, beban kepala sekolah sekarang ini sangat  berat. Mereka bertanggung jawab terhadap kelangsungan proses kegiatan  belajar mengajar di sekolah. Padahal, pemerintah daerah belum  menyalurkan sama sekali biaya-biaya itu ke semua sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Molornya  pencairan dana BOS tersebut karena keterlambatan pengesahan APBD 2011  oleh DPRD yang disebabkan memanasnya persoalan politik daerah. Sebanyak  29 orang anggota DPRD Jember dari partai koalisi mengulur-ulur  pembahasan RAPBD sehingga penetapannya menjadi ikut molor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Saya  minta kepala sekolah berupaya mencari alternatif serta jalan keluar agar  proses pendidikan di sekolah berjalan sesuai kurikulum. Ini menjadi  tanggung jawab kepala sekolah. Akibat harus memenuhi biaya di sekolah,  maka konsentrasi kepala sekolah terganggu,&amp;quot; kata Rohmatullah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di  satu sisi kepala sekolah dituntut harus meningkatkan prestasi siswa  menjelang ujian nasional (UN), sedangkan di sisi lain dibebani  memperoleh dana untuk kegiatan pembelajaran sebelum mengikuti UN yang  bakal dilangsungkan pada Mei bagi SD dan bulan April bagi siswa SMP/MTs  kelas 9 dan bulan Mei bagi siswa SMA/SMK/MA kelas 12.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekretaris  Daerah Jember Sugiarto mengatakan, verifikasi APBD sudah dilakukan.  Namun, tim anggaran sedang melakukan koreksi terhadap poin yang  direvisi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Sejauh ini kami masih belum mengetahui mata anggaran  yang direvisi. Nanti kami akan sampaikan ke DPRD untuk dibahas bersama  dengan eksekutif,&amp;quot; kata Sugiarto.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sugiarto mengaku banyak menerima  keluhan dari sejumlah kepala sekolah mengenai belum cairnya dana BOS.  Namun, keluhan itu disampaikan secara lisan dan belum tertulis. Melalui  kiat kepala sekolah, mereka mampu menalangi sendiri meski harus  diperoleh dengan utang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala Bidang TK/SD Dinas Pendidikan  Jember Jumari mengatakan, dana BOS yang bakal dialokasikan untuk  kegiatan di SD hingga SMA jumlahnya mencapai Rp 129 miliar. Ia berharap  sistem administrasi penggunaan BOS tertib dan sesuai aturan. &lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/24/17164418/Gara-gara.Politik.Dana.BOS.Telat.Cair"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/24/17164418/Gara-gara.Politik.Dana.BOS.Telat.Cair&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-281579433933331145?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/281579433933331145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=281579433933331145' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/281579433933331145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/281579433933331145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/03/gara-gara-politik-dana-bos-telat-cair.html' title='Gara-gara Politik, Dana BOS Telat Cair'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-7949066175448723310</id><published>2011-03-17T15:04:00.001+07:00</published><updated>2011-03-17T15:04:47.610+07:00</updated><title type='text'>Dana BOS Ditahan, Mendiknas Bingung...</title><content type='html'>&lt;div class="font11 c_orange_kompas2011 pb_5 pt_5"&gt;REMBUK NASIONAL&lt;/div&gt; 							&lt;div class="judul_artikel2011"&gt;&lt;br&gt;&lt;div class="left"&gt; 								&lt;div class="font12 c_abu03_kompas2011 pb_3"&gt; 								 								 										 Editor: &lt;span class="c_abu01_kompas2011"&gt;&lt;b&gt;Latief&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; 									 									 &lt;/div&gt; 										 &lt;div class="font11 c_abu02_kompas2011 pb_3 pt_3"&gt;Kamis, 17 Maret 2011 | 10:35 WIB&lt;/div&gt; 									 &lt;/div&gt; 								  								 								&lt;div class="right font12 c_abu03_kompas2011"&gt;&lt;span id="text_609644"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;DEPOK, KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - Sebanyak 315 dari 497  kabupaten/kota yang ada di seluruh Indonesia sampai saat ini belum  menyalurkan dana bantuan operasional sekolah (BOS) triwulan pertama  tahun 2011 ke sekolah. Padahal, batas akhir penyaluran telah ditetapkan  pada 15 Maret 2011.&lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt;                 &lt;div&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/quote_1.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div class="font20 c_orange_quote pd_10"&gt;                   Pokoknya yang belum menyalurkan itu kami beri sanksi.  Saya sudah katakan itu di DPR. Kementerian Pendidikan Nasional dan  Kementerian Keuangan sudah sepakat untuk itu.                  &lt;/div&gt;&lt;div class="font12 pl_10 c_orange_quote"&gt;-- Mohammad Nuh &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/quote_1.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="float: left; padding: 20px 10px 20px 0pt; line-height: 24px; width: auto;"&gt;&amp;amp;lt;a   href=&amp;#39;&lt;a href="http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a194c574&amp;amp;amp;amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE"&gt;http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a194c574&amp;amp;amp;amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&lt;/a&gt;&amp;#39;  target=&amp;#39;_blank&amp;#39;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;img  src=&amp;#39;&lt;a href="http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=645&amp;amp;amp;amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;amp;amp;amp;n=a194c574"&gt;http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=645&amp;amp;amp;amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;amp;amp;amp;n=a194c574&lt;/a&gt;&amp;#39;  border=&amp;#39;0&amp;#39; alt=&amp;#39;&amp;#39; /&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/a&amp;amp;gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Sampai pada batas akhir itu baru ada 171 kabupaten/kota  yang menyalurkan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Adapun sampai  Rabu (16/3/2011) kemarin baru 182 kabupaten/kota yang menyalurkan dana  BOS. Untuk itu, pemerintah akan memberikan sanksi finansial kepada 315  kabupaten/kota yang menahan dana BOS tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menteri Pendidikan  Nasional Mohammad Nuh menekankan hal itu seusai pembukaan &amp;quot;Rembuk  Nasional Pendidikan Tahun 2011&amp;quot;, Rabu (16/3/2011), di Bojongsari, Depok,  Jawa Barat. Sanksi finansial itu berupa pengurangan alokasi anggaran  dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah pada 2012.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Pokoknya  yang belum menyalurkan itu kami beri sanksi. Saya sudah katakan itu di  DPR. Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Keuangan sudah  sepakat untuk itu,&amp;quot; ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nuh mengatakan tidak tahu alasan  keterlambatan penyaluran dana BOS ke sekolah. Alasan yang kerap  diutarakan pemerintah daerah terkait dengan penyusunan dokumen  administratif. &lt;strong&gt;(LUK)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/17/10355175/Dana.BOS.Ditahan..Mendiknas.Bingung."&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/17/10355175/Dana.BOS.Ditahan..Mendiknas.Bingung.&lt;/a&gt;..&lt;br&gt; &lt;/strong&gt;  							&lt;/p&gt;&lt;br&gt;&lt;div id="fontresize"&gt; 										 									 										 										&lt;/div&gt; 										 								&lt;/div&gt; 				 								  								&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-7949066175448723310?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/7949066175448723310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=7949066175448723310' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/7949066175448723310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/7949066175448723310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/03/dana-bos-ditahan-mendiknas-bingung.html' title='Dana BOS Ditahan, Mendiknas Bingung...'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-8469635339513472730</id><published>2011-03-17T15:02:00.001+07:00</published><updated>2011-03-17T15:02:27.938+07:00</updated><title type='text'>Saat Teguran Tertulis Tak Lagi Mempan</title><content type='html'>  					  									 								&lt;div class="font11 c_orange_kompas2011 pb_5 pt_5"&gt;&lt;font size="4"&gt;PENCAIRAN DANA BOS&lt;/font&gt;&lt;/div&gt; 							&lt;div class="judul_artikel2011"&gt;Saat Teguran Tertulis Tak Lagi Mempan&lt;/div&gt; 								 									  								  								&lt;div class="left"&gt; 								&lt;div class="font12 c_abu03_kompas2011 pb_3"&gt; 								 										Penulis: &lt;span class="c_abu01_kompas2011"&gt;&lt;b&gt;Indra&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;   | 																			 										 Editor: &lt;span class="c_abu01_kompas2011"&gt;&lt;b&gt;Latief&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; 									 									 &lt;/div&gt; 										 &lt;div class="font11 c_abu02_kompas2011 pb_3 pt_3"&gt;Kamis, 17 Maret 2011 | 11:35 WIB&lt;/div&gt; 									 &lt;/div&gt; 								  								 								&lt;div class="right font12 c_abu03_kompas2011"&gt;&lt;span id="text_609668"&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;div id="fontresize"&gt; 										 									 										 										&lt;/div&gt; 										 								&lt;/div&gt; 				 								  								 								 								     								&lt;div class="multi_foto_wide"&gt;     &lt;div style="display: block;" id="foto1"&gt;          &lt;img src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/12/29/1023382620X310.jpg" width="342" height="175"&gt;         &lt;span class="pb_10"&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;Sampai pada Rabu, (16/3/2011), baru 171 dari 497  kabupaten/kota atau sekitar 40,2 persen daerah yang menyalurkan dana BOS  untuk disalurkan ke sekolah.     &lt;/div&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div id="multi_foto_wide" style="display: none;"&gt;&lt;a class="selected" href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/17/1135530/Saat.Teguran.Tertulis.Tak.Lagi.Mempan#" rel="foto1"&gt;1&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_5"&gt;    			&lt;p&gt;                                         &lt;/p&gt;&lt;div class="pd_5 hl_1 font12 c_abu01_kompas2011"&gt;&lt;strong&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					 &lt;div class="list_4 font12 c_biru_kompas2011 pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/17/10355175/Dana.BOS.Ditahan.Mendiknas.Bingung."&gt;Dana BOS Ditahan, Mendiknas Bingung...&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/14/17093390/Banyak.Sekolah.Tanpa.Rencana.Anggaran"&gt;Banyak Sekolah Tanpa Rencana Anggaran&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/01/18474366/Daerah.Dipaksa.Segera.Cairkan.BOS"&gt;Daerah &amp;quot;Dipaksa&amp;quot; Segera Cairkan BOS&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/02/25/04254384/Pencairan.Dana.BOS.Tidak.Boleh.Telat"&gt;Pencairan Dana BOS Tidak Boleh Telat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/02/24/16241356/Pencairan.Dana.BOS.DKI.Jakarta.Tertunda"&gt;Pencairan Dana BOS DKI Jakarta Tertunda&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt;                      					                 &lt;/div&gt; 							 								&lt;p&gt;&lt;strong&gt;DEPOK, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;— Kementerian Pendidikan  Nasional (Kemdiknas) memberikan batas akhir penyaluran dana bantuan  operasional sekolah (BOS) pada Selasa (15/3/2011). Namun, sampai Rabu,  baru 171 dari 497 kabupaten/kota atau sekitar 40,2 persen daerah yang  menyalurkan dana BOS untuk disalurkan ke sekolah.&lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt;                 &lt;div&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/quote_1.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div class="font20 c_orange_quote pd_10"&gt;                   Teguran tertulis biasanya cenderung tidak efektif. Maka, kami memutuskan untuk memberikan sanksi finansial.                  &lt;/div&gt;&lt;div class="font12 pl_10 c_orange_quote"&gt;-- Mohammad Nuh&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/quote_1.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;p&gt;Terkait hal itu, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh  telah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan  untuk mengusulkan diberikannya sanksi keras berupa sanksi finansial  kepada daerah yang telat menyalurkan dana BOS itu. Koordinasi itu juga  guna me-&lt;em&gt;review &lt;/em&gt;daerah mana saja yang telat menyalurkan sampai batas akhir 15 Maret 2011.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Review &lt;/em&gt;itu,  lanjut Nuh, meliputi apa saja yang telah dikirimkan pusat kepada  daerah. Karena selain dana BOS, masih ada lagi kiriman pemerintah pusat,  seperti dana alokasi khusus (DAK) dan dana alokasi umum (DAU) .&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Setelah &lt;em&gt;review&lt;/em&gt;, kita akan mengetahui daerah mana saja yang perlu diberikan sanksi,&amp;quot; ujar Nuh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Teguran tertulis biasanya cenderung tidak efektif, maka kami memutuskan untuk memberikan sanksi finansial,&amp;quot; papar Nuh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sangsi  finansial, lanjut Nuh, berupa pemotongan dana, tetapi bukan dari dana  pendidikan karena itu akan menyebabkan implikasi terhadap undang-undang.  Sanksi finansial berupa pemotongan yang bukan dari dana pendidikan. &lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/17/1135530/Saat.Teguran.Tertulis.Tak.Lagi.Mempan"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2011/03/17/1135530/Saat.Teguran.Tertulis.Tak.Lagi.Mempan&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-8469635339513472730?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/8469635339513472730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=8469635339513472730' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8469635339513472730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8469635339513472730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/03/saat-teguran-tertulis-tak-lagi-mempan.html' title='Saat Teguran Tertulis Tak Lagi Mempan'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-3852740888717910429</id><published>2011-03-17T08:27:00.001+07:00</published><updated>2011-03-17T08:27:12.251+07:00</updated><title type='text'>Dana BOS Ditahan</title><content type='html'>&lt;h1 class="judul_artikel"&gt;&lt;/h1&gt; 																						 													                                                              &lt;p&gt;Depok, Kompas - Sebanyak  315 dari 497 kabupaten/kota yang ada di seluruh Indonesia sampai saat  ini belum menyalurkan dana bantuan operasional sekolah triwulan pertama  tahun 2011 ke sekolah. Padahal, batas akhir penyaluran telah ditetapkan  pada 15 Maret 2011.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sampai pada batas akhir itu baru ada 171  kabupaten/kota yang menyalurkan dana bantuan operasional sekolah (BOS).  Adapun sampai Rabu (16/3) baru 182 kabupaten/kota yang menyalurkan dana  BOS. Untuk itu, pemerintah akan memberikan sanksi finansial kepada 315  kabupaten/kota yang menahan dana BOS tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menteri Pendidikan  Nasional Mohammad Nuh menekankan hal itu seusai pembukaan "Rembuk  Nasional Pendidikan Tahun 2011", Rabu di Bojongsari, Depok, Jawa Barat.  Sanksi finansial itu berupa pengurangan alokasi anggaran dari pemerintah  pusat ke pemerintah daerah pada tahun 2012.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Pokoknya yang belum  menyalurkan itu kami beri sanksi. Saya sudah katakan itu di DPR.  Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Keuangan sudah sepakat  untuk itu," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nuh menjelaskan, sanksi finansial itu tidak  berupa pengurangan alokasi dana BOS atau dana alokasi khusus, melainkan  pengurangan alokasi anggaran atau dana-dana transfer dari pusat ke  daerah yang nonpendidikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nuh mengatakan tidak tahu alasan  kelambatan penyaluran dana BOS ke sekolah. Alasan yang kerap diutarakan  pemerintah daerah terkait dengan penyusunan dokumen administratif.  Namun, ia mengingatkan hal itu tidak bisa dijadikan alasan. Namun, Nuh  memaklumi jika daerah-daerah tersebut baru menyelenggarakan pemilihan  kepala daerah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, termasuk awal  dalam menyalurkan dana BOS. Kenapa mereka bisa dan yang lain tidak? Ini  menunjukkan komitmen dan kesadaran saja," kata Nuh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nuh berharap  penyaluran dana BOS tahun 2011 triwulan kedua, April hingga Juni, akan  tepat waktu. "Tahap kedua April harus turun. Jangan mengulang kesalahan  dua kali," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung  Laksono menambahkan, seharusnya penyaluran dana BOS tidak terlambat dan  bisa lebih cepat karena desentralisasi sehingga program-program  kegiatan belajarmengajar tidak terganggu. "Jangan sampai terlambat dan  jangan sampai ditarik kembali ke sentralisasi," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut  Nuh, perlu ada kajian mendalam mengenai pelaksanaan kebijakan  sentralisasi dan desentralisasi pendidikan. Berbeda dengan Kemdiknas,  Kementerian Agama tidak menggunakan kebijakan desentralisasi padahal ada  fungsi pendidikan di dalamnya. "Harus ditata lagi kenapa sama-sama  memiliki fungsi pendidikan tetapi yang satu desentralisasi dan yang satu  lagi sentralisasi," ujarnya. (LUK)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/03/17/03222172/dana.bos.ditahan"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/03/17/03222172/dana.bos.ditahan&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-3852740888717910429?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/3852740888717910429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=3852740888717910429' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3852740888717910429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3852740888717910429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/03/dana-bos-ditahan.html' title='Dana BOS Ditahan'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-2603957027433325849</id><published>2011-03-17T08:26:00.001+07:00</published><updated>2011-03-17T08:26:28.198+07:00</updated><title type='text'>Konsep RSBI Akan Diubah</title><content type='html'>  			   						  			 				 					 					 												&lt;h4 class="judulmerah mt12"&gt;PENGAJARAN&lt;/h4&gt; 												&lt;h1 class="judul_artikel"&gt;&lt;/h1&gt; 																						 													                                                              &lt;p&gt;Depok, Kompas - Pemerintah  akan merombak konsep dasar dan penyelenggaraan rintisan sekolah  bertaraf internasional yang dinilai tak sesuai lagi dengan harapan dan  ide awal. Institusi pendidikan salah menerjemahkan kualitas dengan label  "internasional" dan menggunakan pendekatan kelas, serta menafsirkan  metodologi pengajaran dengan bahasa asing sebagai bahasa pengantar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Tidak  penting namanya apa, internasional atau nasional. Masyarakat inginnya  institusi pendidikan berkualitas. Jangan pakai nama internasional kalau  jiwanya belum internasional," kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad  Nuh usai pembukaan "Rembuk Nasional Pendidikan Tahun 2011" di  Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/3).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nuh mengaku memahami  kritik dan protes masyarakat mengenai rintisan sekolah bertaraf  internasional (RSBI), terutama kesan RSBI eksklusif hanya untuk "anak  orang kaya", yang dikuatkan biaya tinggi. Padahal, RSBI tetap sekolah  publik yang harus mengalokasikan 20 persen untuk siswa dari keluarga  kurang mampu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wakil Mendiknas Fasli Jalal menyayangkan adanya  sekolah yang tidak membatasi penarikan biaya pendidikan dari orangtua.  Meski tak ada aturan khusus yang mengatur penarikan uang itu, Fasli  mengingatkan, RSBI tetap mempunyai kewajiban menerima siswa kurang  mampu. "Tidak ada keharusan biaya mahal. Setiap RSBI berbeda-beda. Ada  RSBI yang bebas biaya juga tergantung masing-masing pemerintah  daerahnya," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemerintah mengevaluasi 130 RSBI. Hasilnya  jadi dasar menyusun peraturan menteri tentang RSBI. Peraturan menteri  itu terbuka untuk diubah. (LUK)&lt;/p&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/03/17/03241649/konsep.rsbi.akan.diubah"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/03/17/03241649/konsep.rsbi.akan.diubah&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-2603957027433325849?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/2603957027433325849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=2603957027433325849' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2603957027433325849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2603957027433325849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/03/konsep-rsbi-akan-diubah.html' title='Konsep RSBI Akan Diubah'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-2834003414089615574</id><published>2011-03-15T08:06:00.001+07:00</published><updated>2011-03-15T08:06:07.783+07:00</updated><title type='text'>UJIAN NASIONAL: Orangtua Keluarkan Biaya Tambahan</title><content type='html'>Magelang, Kompas  - Sejumlah sekolah di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, bersiap  menghadapi ujian nasional. Orangtua siswa harus mengeluarkan biaya untuk  pelajaran tambahan dan tes uji coba.&lt;p&gt;Kepala SMA Muhammadiyah I  Muntilan Yanto Siswoyo mengaku setiap siswa wajib membayar Rp 700.000  per orang. Itu untuk membiayai pelajaran tambahan, tes uji coba,  mendukung kebutuhan pelaksanaan UN, hingga mengantarkan hasil UN ke  rumah masing-masing siswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penarikan tambahan biaya untuk  persiapan UN itu rutin setiap tahun. "Orangtua murid tak mempersoalkan  karena besaran uang sudah kami diskusikan dan disepakati," kata Yanto,  Senin (14/3).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal yang sama dilakukan di SMK Muhammadiyah  Borobudur. Kepala SMK Muhammadiyah Borobudur Hidayatul Laili mengatakan,  biaya tambahan itu dibayar mencicil, yang disebut tabungan siswa.  Besaran biaya UN tak disebutkannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tambahan uang dari wali murid  diperlukan sekolah karena kegiatan menyiapkan siswa mengikuti UN sangat  banyak. Segala kegiatan itu tak dibantu pemerintah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Pemerintah  biasanya hanya membantu dana pelaksanaan UN. Itu pun tak semua kebutuhan  siswa dapat tercukupi dari dana bantuan itu," ujar Hidayatul. Jumlah  peserta UN dari SMK Muhammadiyah Borobudur kali ini mencapai 212 siswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua  Tim Sukses UN SMP Negeri 1 Muntilan Nur Wasiyati mengatakan, sekalipun  mendapatkan dana bantuan operasional sekolah (BOS), SMP Negeri 1  Muntilan—yang berstatus sebagai rintisan sekolah bertaraf internasional  (RSBI)—tetap butuh tambahan dana persiapan UN. Tambahan uang itu  diambilkan dari uang sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) dan tabungan  siswa, yang ditetapkan Rp 25.000 per orang dan Rp 10.000 per orang. (EGI)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/03/15/0329410/orangtua.keluarkan.biaya.tambahan"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/03/15/0329410/orangtua.keluarkan.biaya.tambahan&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-2834003414089615574?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/2834003414089615574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=2834003414089615574' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2834003414089615574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2834003414089615574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/03/ujian-nasional-orangtua-keluarkan-biaya.html' title='UJIAN NASIONAL: Orangtua Keluarkan Biaya Tambahan'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-8272990673151263533</id><published>2011-03-15T07:58:00.001+07:00</published><updated>2011-03-15T07:58:28.234+07:00</updated><title type='text'>Penyalahgunaan Dana RSBI Terbanyak di SMA</title><content type='html'> 																						 													                                                              &lt;p&gt;Jakarta, Kompas - Penyalahgunaan  dana dari pemerintah pusat, provinsi, dan pungutan orangtua siswa untuk  rintisan sekolah bertaraf internasional paling banyak terjadi di  jenjang SMA. Sementara di tingkat SD hanya sekitar 25 persen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wakil  Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, Senin (14/3), mengakui dana  untuk RSBI tidak seluruhnya digunakan untuk meningkatkan kualitas proses  belajar-mengajar dan kualitas guru, melainkan untuk pembangunan fisik  seperti perbaikan ruangan kelas, pembangunan laboratorium, pemasangan  mesin pendingin ruangan, dan pagar atau gerbang sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk  itu, hasil evaluasi pemerintah terhadap RSBI itu akan menjadi landasan  penyusunan peraturan Menteri Pendidikan Nasional mengenai RSBI yang  antara lain akan memperketat penggunaan dana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penyalahgunaan  penggunaan dana oleh RSBI ini, kata Fasli, menjadi fokus utama evaluasi  pemerintah. "Selain masalah dana, perbaikan juga akan diutamakan bagi  tenaga pengajar di RSBI, terutama kualitas kemampuan bahasa Inggris.  Kami akan memberi kesempatan menggunakan dua bahasa, tidak hanya bahasa  Inggris saja," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Evaluasi pemerintah terhadap RSBI—dengan  sampel 130 sekolah—difokuskan pada tiga hal, yakni tata cara penerimaan  murid, pungutan dana dari orangtua, dan sumber daya manusia. Hasil  evaluasi dan analisis untuk menyusun kebijakan itu membutuhkan waktu  beberapa tahun sehingga untuk sementara tidak akan ada RSBI baru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Peraturan Mendiknas akan mengikat 1.300 RSBI yang sudah ada. Keberadaan RSBI tersebut nanti akan ditinjau kembali," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tidak substantif&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Secara  terpisah, Dewan Pembina Ikatan Guru Indonesia Ahmad Rizali mengatakan,  evaluasi pemerintah terhadap RSBI tidak akan efektif karena yang  dievaluasi hanya tataran implementasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Pemerintah seharusnya  menghentikan pelaksanaan RSBI dan melakukan evaluasi konsep atau kajian  konseptual RSBI, bukan hanya evaluasi di tataran pelaksanaan," ujar  Ahmad.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hingga saat ini RSBI konsepnya tidak jelas karena tidak  mengacu pada rujukan akademik yang jelas. "Apa yang mau dievaluasi jika  konsepnya saja tidak jelas," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ahmad juga heran dengan  kebijakan RSBI yang terkesan dipaksakan meski konsepnya tak jelas.  Padahal, di negara lain, seperti Malaysia dan Korea Selatan, sekolah  bertaraf internasional dihentikan karena menurunkan kualitas pendidikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Penggunaan dwibahasa menurunkan mutu pendidikan. Akhirnya mereka kembali menggunakan bahasa ibu di sekolah," ujarnya. (LUK)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/03/15/03271773/penyalahgunaan.dana.rsbi.terbanyak.di.sma"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/03/15/03271773/penyalahgunaan.dana.rsbi.terbanyak.di.sma&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-8272990673151263533?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/8272990673151263533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=8272990673151263533' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8272990673151263533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8272990673151263533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/03/penyalahgunaan-dana-rsbi-terbanyak-di.html' title='Penyalahgunaan Dana RSBI Terbanyak di SMA'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-5189075241657395093</id><published>2011-03-14T07:12:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T07:12:39.146+07:00</updated><title type='text'>Wamendiknas : Banyak Sekolah Menyalahgunakan Dana RSBI</title><content type='html'>         &lt;p class="datetime"&gt;Minggu, 13 Maret 2011 21:56 WIB | 654 Views&lt;/p&gt;&lt;p class="datetime"&gt;&lt;span class="post-content" style="margin-top: 20px;"&gt;Jakarta (ANTARA  News) - Kementerian Pendidikan Nasional untuk sementara waktu mengkaji  pendirian rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI).&lt;br&gt;&lt;br&gt;     Pasalnya, karena hasil evaluasi menunjukkan banyak pengelola  menggunakan dana yang diterima dari pemerintah pusat, pemerintah  provinsi dan pungutan orang tua tidak sesuai ketentuannya, kata Wakil  Menteri Pendidikan nasional Fasli Jalal di acara Kelompok Kerja  Neurosains BPH RS Islam Jakarta, Minggu&lt;br&gt;&lt;br&gt;     &amp;quot;Banyak pengelola rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI)  menyalahgunakan dana yang  seharusnya dipergunakan untuk peningkatan  mutu pendidikan malah digunakan untuk pembangunan fisik,&amp;quot; katanya  menambahkan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;     Fasli mengatakan besarnya penyalahgunaan dana mencapai antara 25  persen hingga 50 persen dari dana yang diterima oleh Rintisan Sekolah  Bertaraf Internasional (RSBI).&lt;br&gt;&lt;br&gt;     &amp;quot;Pemerintah dalam satu tahun terakhir melakukan evaluasi terhadap  program RSBI, terkait dengan masukan dari masyarakat bahwa program RSBI  telah  menjadi ajang komersialisasi pendidikan. Karena hampir sebagian  besar sekolah RSBI memungut dana yang begitu besar dari masyarakat,&amp;quot;  katanya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;     Wamendiknas menjelaskan, RSBI menerima dana dari pemerintah pusat,  provinsi dan juga pungutan dari orang tua siswa. Namun dana tersebut  tidak digunakan sesuai ketentuan pemerintah yakni untuk peningkatan mutu  didalam proses belajar mengajar serta kualitas tenaga pengajar sehingga  siswa yang bersekolah di RSBI menjadi siswa yang lebih berkualitas  dibanding sekolah nasional.&lt;br&gt;&lt;br&gt;     Sesuai dengan evaluasi yang dilakukan beberapa waktu lalu, jelasnya,  sekolah menggunakan dana tersebut untuk memperbaiki ruangan kelas,  membangun laboratorium, memasang air conditioner dan memasang pagar atau  gerbang sekolah untuk mempercantik tampak luar gedung dibandingkan mutu  pengajaran. &lt;br&gt;&lt;br&gt;     &amp;quot;Padahal kan dana untuk fisik itu tidak bertepi. Dan harapan kita  uang itu dipakai untuk mutu, baru fisik itupun harus dipilih dulu apa  saja yang sangat penting untuk diperbaiki,&amp;quot; katanya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;     Wamendiknas mengungkapkan,  penyalahgunaan dana paling banyak  terjadi di SMA sementara hasil evaluasi menyebut penyalahgunaan dana di  SD hanya 25 persen. &lt;br&gt;&lt;br&gt;     Oleh karena itu, dengan studi komprehensif yang dilakukan  Kemendiknas untuk membuat peraturan menteri (permen) baru RSBI maka  pemakaian dana akan diperketat. &lt;br&gt;&lt;br&gt;     Ia menyatakan, evaluasi tentang dana ini memang menjadi fokus utama  karena hasil evaluasi menyebut mutu yang diciptakan RSBI ini sudah baik  walau belum secepat yang diharapkan. Akan tetapi, perbaikan juga akan  diutamakan bagi tenaga pengajar di sekolah khusus ini. &lt;br&gt;&lt;br&gt;     &amp;quot;Evaluasi mencakup tiga hal yakni tata cara penerimaan murid baru,  pungutan biaya dari orang tua serta kesiapan SDM. Saat ini ada 1300  sekolah RSBI. Nanti jika permen sudah rampung dan disahkan akan  diketahui sekolah mana saja yang akan dikembalikan ke status biasa,  sebagian diberi peringatan untuk memperbaiki diri serta sekolah RSBI  yang sudah siap maju menjadi SBI akan tetap dikawal oleh Kemendiknas.   (*)&lt;br&gt;&lt;br&gt; (T.Z003/E001) &lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 20px 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12px;"&gt;&lt;i&gt;Editor: Ruslan Burhani&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="font-size: 10px;"&gt;COPYRIGHT © 2011&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 20px 0;"&gt;&lt;span style="font-size: 10px;"&gt;&lt;a href="http://www.antaranews.com/berita/249792/wamendiknas--banyak-sekolah-menyalahgunakan-dana-rsbi"&gt;http://www.antaranews.com/berita/249792/wamendiknas--banyak-sekolah-menyalahgunakan-dana-rsbi&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-5189075241657395093?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/5189075241657395093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=5189075241657395093' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5189075241657395093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5189075241657395093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/03/wamendiknas-banyak-sekolah.html' title='Wamendiknas : Banyak Sekolah Menyalahgunakan Dana RSBI'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-5849692841105061057</id><published>2011-03-14T06:38:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T06:38:57.084+07:00</updated><title type='text'>Anak Tak Mau Sekolah meski Ayahnya Sudah Bebas Murni (REDAKSI YTH Kompas Cetak)</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai  pedagang kecil, saya sangat terpukul. Saya ditahan tiga bulan 10 hari  dengan tuduhan penggelapan yang, menurut saya, penuh rekayasa. Ada  permainan kotor antara pelapor, oknum polisi, dan oknum jaksa. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tuhan  Mahaadil. Majelis hakim Pengadilan Negeri Gunung Sugih, Lampung Tengah,  memvonis saya bebas murni pada 16 Juni 2010. Setelah bebas dari  tahanan, saya stres berat. Saya dan keluarga menanggung malu. Anak-anak  sampai tak mau sekolah karena ayah mereka ditangkap dan ditahan. Saya  juga kehilangan mata pencarian karena bekas orang tahanan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai  pihak yang dizalimi, saya menuntut keadilan. Saya telah melaporkan  pihak-pihak yang merekayasa—pelapor dan oknum penyidik—ke Markas Polda  Lampung. Harapan saya, pihak-pihak yang telah menyalahgunakan hukum  ditindak. Kenyataannya, hingga kini tidak ada tanggapan. Pihak-pihak  yang telah menzalimi saya hingga kini masih bebas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya masih  percaya bahwa Indonesia adalah negara hukum. Kedudukan semua orang sama  di depan hukum. Yang terjadi pada saya, saya dan keluarga dihancurkan  oleh rekayasa hukum. Semoga Kepala Polda Lampung tergerak oleh  kenestapaan saya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;JUNIEDI RACHMAT EKO&lt;/strong&gt; Bernah, Kota Alam, Kotabumi Selatan, Lampung Utara&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/03/14/03091868/redaksi.yth"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/03/14/03091868/redaksi.yth&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-5849692841105061057?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/5849692841105061057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=5849692841105061057' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5849692841105061057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5849692841105061057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/03/anak-tak-mau-sekolah-meski-ayahnya.html' title='Anak Tak Mau Sekolah meski Ayahnya Sudah Bebas Murni (REDAKSI YTH Kompas Cetak)'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-919477513546014699</id><published>2011-03-14T06:36:00.001+07:00</published><updated>2011-03-14T06:36:23.550+07:00</updated><title type='text'>Dana RSBI Sebagian Lari ke Luar Negeri</title><content type='html'>Jakarta, Kompas - Penyelenggaraan  rintisan sekolah bertaraf internasional yang awalnya ditujukan untuk  "menahan" dana orang-orang kaya supaya tidak berbondong-bondong  menyekolahkan anaknya ke luar negeri pada kenyataannya justru  sebaliknya.&lt;p&gt;Sebagian dana rintisan sekolah bertaraf internasional  (RSBI) yang berasal dari negara dan masyarakat justru sebagian lari ke  luar negeri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini disebabkan untuk mengejar status sebagai sekolah  internasional yang tak kalah mutunya dengan sekolah-sekolah di negara  maju, setiap sekolah yang berstatus RSBI harus mengejar  sertifikat-sertifikat internasional. Para siswa juga diberi pengalaman  untuk berkunjung ke negara-negara lain, terutama ke sekolah mitra  (sister school).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Muchlas Suseno, dosen Universitas Negeri Jakarta,  mengatakan, pelaksanaan RSBI justru perlu dikritisi juga dari segi dana  yang lari ke luar negeri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Ada yang kontradiktif dengan rancangan  awal dan pelaksanaan di lapangan," kata Muchlas, yang juga fasilitator  SMA RSBI Tahun 2007-2009.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk mendapatkan satu sertifikat ISO  yang terakreditasi internasional, misalnya, dibutuhkan dana sekitar Rp  50 juta. Belum lagi dana-dana kunjungan ke luar negeri, baik atas nama  menjalin relasi dengan sekolah mitra, pelatihan guru, hingga study tour  siswa ke luar negeri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekolah juga mesti menawarkan sertifikat  internasional untuk siswa, salah satunya Cambridge. Untuk ujian satu  mata pelajaran, dananya sekitar Rp 1,4 juta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua Umum Ikatan  Guru Indonesia Satria Dharma mengatakan, penyelenggaraan RSBI pada  akhirnya menjadikan sekolah publik menjadi sangat mahal dan hanya untuk  kelompok orang kaya. Padahal, dana negara yang tersedot ke RSBI lebih berguna dan bermakna untuk perbaikan sistem pendidikan nasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hywel  Coleman, konsultan pendidikan di British Council dan dosen Universitas  Leeds, Inggris, mengatakan, terjadi salah penafsiran RSBI yang diartikan  sekolah menggunakan pengantar bahasa Inggris dan fasilitas seperti  sekolah luar negeri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Akhirnya terjadi sekolah yang elitis, tidak berwawasan global dan meninggalkan budaya lokal," ujar Coleman. (ELN)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/03/14/03225648/dana.rsbi..sebagian.lari.ke.luar.negeri"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/03/14/03225648/dana.rsbi..sebagian.lari.ke.luar.negeri&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-919477513546014699?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/919477513546014699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=919477513546014699' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/919477513546014699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/919477513546014699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/03/dana-rsbi-sebagian-lari-ke-luar-negeri.html' title='Dana RSBI Sebagian Lari ke Luar Negeri'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-4164807880678437289</id><published>2011-03-12T08:05:00.001+07:00</published><updated>2011-03-12T08:05:59.853+07:00</updated><title type='text'>Skandal Plagiarisme Global</title><content type='html'>Oleh &lt;strong&gt;Alois A Nugroho&lt;/strong&gt; &lt;p&gt;Plagiarisme  ternyata tidak hanya terjadi di negeri-negeri dengan tradisi akademik  yang belum kukuh. Skandal plagiarisme terkini tengah melanda Jerman dan  Inggris, dua negeri yang memiliki rekam jejak akademik yang kukuh dan  panjang. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karl Theodor zu Guttenberg, anak ajaib dalam  dunia politik Jerman, pada 1 Maret 2011, terpaksa mundur sebagai menteri  pertahanan sesudah kontroversi yang membuat namanya diolok-olok  koran  Tageszeitung Berlin sebagai Googleberg.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di Inggris skandal  plagiarisme telah menyebabkan The London School of Economics  terancam  diplesetkan menjadi The Libyan School of Economics.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Nonakademisi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yang  menarik ialah kedua kasus plagiarisme akademis itu menyangkut  tokoh-tokoh yang tidak pertama-tama dikenal sebagai akademisi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karl  Theodor zu Guttenberg ialah politisi muda (39), keturunan bangsawan,  karismatis, berbakat, dan disebut-sebut sebagai calon pengganti Angela  Merkel. Pada 23 Februari 2011 Universitas Bayreuth mencabut gelar doktor  dalam ilmu hukum, yang pada 2007 diperoleh anak ajaib Jerman itu  sesudah lima tahun menduduki kursi parlemen.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kasus itu mulai  terbuka setelah pada 16 Februari 2011 sebuah koran Jerman memberitakan  bahwa karya akademis yang bersangkutan mendasarkan diri pada koran-koran  Jerman dan pada situs Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat tanpa  menyebut sumber-sumber itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para pemirsa stasiun televisi Al  Jazeera dan CNN hari-hari ini juga dikejutkan oleh kaitan antara putra  mahkota Khadafy dengan The London School of Economics.  Saif al-Islam  ternyata alumnus LSE yang belajar di sana antara 2003 dan 2008, meraih  MSc dan kemudian PhD. Karena sering disorot  media, para pemirsa tahu  bahwa judul disertasinya adalah The Role of Civil Society in the  Democratization of Global Governance Institutions dengan dibimbing oleh   nama besar dalam pemikiran globalisasi, Profesor David Held.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain  kasus dana penelitian yang mengalir dari Libya ke LSE, tuduhan  plagiarisme juga membayangi disertasi sang putra mahkota. Saif al-Islam  diduga menggunakan ghost writer dan  penelitiannya mungkin tidak  dilakukan sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para penyandang gelar akademis yang  dipersoalkan dalam kedua kasus ini tidak bekerja di bidang akademis.  Kalau begitu, apakah kaidah-kaidah etika akademik sebagaimana diperikan  oleh Edward Shils berlaku pula untuk para politisi, tentara, selebriti,  pebisnis, dan lain-lain yang bergelar akademis?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada yang  cenderung menjawab "tidak". Ibu Kanselir Merkel, misalnya,  membela  mati-matian posisi menteri pertahanannya, bahkan hingga dua minggu  sesudah kasus Googleberg meledak di media. Menurut dia,  kinerja zu  Gutttenberg sebagai politisi tidak dipengaruhi oleh kinerja akademisnya.  Ia juga mengingatkan,  yang ia rekrut adalah zu Guttenberg sebagai   politisi, bukan sebagai  asisten peneliti.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, ada juga yang menjawab "ya". Paling tidak, ini terlihat dari protes yang terus mengalir.  Seperti diberitakan   Christian Science Monitor, 51.500 sarjana  mengirim petisi kepada  Merkel untuk memberhentikan menteri pertahanan itu. Profesor Neugebauer  dari Freie Universitaet Berlin menyatakan bahwa kejadian ini merupakan  tonggak sejarah ketika  seorang politisi dimakzulkan bukan oleh ulah  para politisi lain, melainkan oleh keprihatinan para akademisi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Etika akademik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada  dua alasan untuk bersikap bahwa gelar akademis yang disandang para  tokoh nonakademis itu tidak sah bila terbukti bahwa gelar itu diperoleh  dengan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh etika akademik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertama,  pada waktu mengerjakan karya ilmiah,  mereka adalah anggota civitas  academica. Dengan demikian, pembuatan karya ilmiahnya  terikat  oleh  etika akademik. Tidak mematuhi etika akademik berarti menanggung risiko  untuk diragukan integritasnya dalam berbagai aktivitasnya:  politik,  bisnis,  militer, LSM, dan sebagainya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua, pada umumnya para  tokoh nonakademis yang bergelar akademis itu memperoleh manfaat dari  gelarnya, terutama  untuk menaikkan pamornya. Dalam kasus Googleberg,  menteri pertahanan dengan gelar doktor tentu lebih bernilai dibandingkan  dengan  menteri pertahanan lulusan strata satu atau dua.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wakil  rakyat atau pejabat eksekutif bergelar doktor akan memiliki citra lebih  kuat dibandingkan dengan  yang bergelar master, yang bergelar master  lebih tinggi nilainya dibanding dengan  yang bergelar sarjana, dan  seterusnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau tidak percaya, lihat saja papan-papan dan  poster-poster kampanye politik kita sampai ke pelosok-pelosok desa, yang  dipenuhi oleh foto lengkap dengan gelar akademis  berderet-deret. Kalau  gelar akademis tidak terlalu relevan, seperti kilah Ibu Merkel, tentu  tidak ada gunanya memajang deretan gelar itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena pada  kenyataannya gelar akademis relevan bagi kerja politik dan bisnis, cara  perolehannya pun relevan pula untuk dipersoalkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Siapa tahu,  gelar akademis itu hasil jual beli. Siapa tahu, karya ilmiahnya hasil  jual beli. Siapa tahu, saat menulis  memakai metode copy and paste.  Siapa tahu, penelitiannya disubkontrakkan. Bahkan, siapa tahu yang tanda  tangan di presensi kuliah juga  sekretaris atau ajudannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kondisi pascamodern&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kondisi  pascamodern oleh Fredric Jameson dikritisi sebagai zaman kapitalisme  lanjut. Kapitalisme lanjut memperdagangkan banyak hal yang dulunya tidak  dianggap sebagai komoditas. Maka, kegiatan sosial budaya yang namanya  pendidikan, sekarang ini,  menjadi kegiatan ekonomi yang namanya  industri jasa pendidikan. Gelar akademis ikut menjadi barang dagangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalau  sebelumnya yang disebut "benda modal" itu  uang atau mesin yang dapat  dipakai untuk berproduksi, Bourdieu mengajak kita untuk melihat  jenis-jenis modal lain dalam kondisi pascamodern. Bagi para politisi,  pebisnis, tentara, dan selebriti,  gelar akademis tampaknya menjadi  semacam modal simbolis yang dapat menaikkan pamor mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena  kemajuan teknologi membuat  gelar akademis tidak harus mengacu lempang  pada usaha ilmiah, pada tirakat masa kini, pada diskursus ilmiah yang  dijalankan di ruang-ruang akademis, maka ada banyak dampak yang  bisa  terjadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Gelar akademis lalu hanya menjadi label yang gagah, yang  tak selalu  mencerminkan berapa banyak otak sendiri diperas, keringat  sendiri dikucurkan, air mata sendiri diteteskan dalam kerja ilmiah untuk  memperolehnya. Begitulah, gelar akademis menjadi apa yang oleh  Jean-Baudrillard disebut sebagai simulakrum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bangsa ini sudah  menyoroti plagiarisme yang dilakukan oleh para akademisi, baik dalam  kerja ilmiah mereka maupun dalam aktivitas mereka sebagai intelektual  publik. Kini sudah waktunya kita menyoroti keabsahan gelar-gelar  akademik dari para tokoh nonakademisi. Perekrutan politisi sebaiknya  memerhatikan aspek ini.&lt;/p&gt;  Alois A Nugroho  &lt;em&gt;Profesor  Filsafat/Etika di Fakultas Ilmu Administrasi dan Ilmu Komunikasi Unika  Atma Jaya Jakarta; Staf Senior pada Pusat Pengembangan Etika&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/03/12/04064613/skandal.plagiarisme.global"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/03/12/04064613/skandal.plagiarisme.global&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;/em&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-4164807880678437289?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/4164807880678437289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=4164807880678437289' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4164807880678437289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4164807880678437289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/03/skandal-plagiarisme-global.html' title='Skandal Plagiarisme Global'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-2679097464126722800</id><published>2011-03-12T08:03:00.001+07:00</published><updated>2011-03-12T08:03:53.034+07:00</updated><title type='text'>Sekolah "Siasati" RSBI</title><content type='html'>&lt;h1 class="judul_artikel"&gt;&lt;/h1&gt; 																	&lt;div class="img_kontener" style="margin:0px 15px 10px 0px;"&gt; 														&lt;img src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/03/12/4212547p.jpg" id="myImage" height="238" width="378"&gt; 														&lt;h5&gt;KOMPAS/IWAN SETIYAWAN&lt;/h5&gt; 							 							&lt;p class="img_lead"&gt;Suasana belajar-mengajar di SDN 11 Kebon  Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (10/3). Sekolah ini berstatus rintisan  sekolah bertaraf internasional (RSBI) sejak tiga tahun terakhir. Setiap  kelas pada program RSBI hanya diisi 28 murid dan diasuh dua guru.&lt;/p&gt; 						&lt;/div&gt; 																	 													                                                              &lt;p&gt;Jakarta, kompas -  Kualitas guru di sekolah berstatus rintisan sekolah bertaraf  internasional sebenarnya banyak yang belum memenuhi syarat, terutama  kemampuannya dalam berbahasa Inggris. Meski demikian, sejumlah sekolah  menyiasatinya dengan beragam cara.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejumlah sekolah,  misalnya, menyiasati rendahnya kemampuan guru berbahasa Inggris dengan  merekrut guru-guru honorer untuk mengajar berbagai mata pelajaran dalam  Bahasa Inggris. Tenaga honorer yang lebih disukai umumnya sarjana  lulusan luar negeri karena lebih fasih berbahasa Inggris.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di  sekolah lainnya, guru yang seharusnya mengajar dalam Bahasa Inggris  hanya menggunakan bahasa tersebut saat membuka pelajaran dan mengakhiri  mata pelajaran. Sementara pelajaran disampaikan dalam bahasa Indonesia.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Dari  penelitian dan evaluasi yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan  Nasional  terungkap,   lebih dari 80 persen guru dan kepala sekolah   kemampuan bahasa Inggris-nya sangat rendah.  Berdasarkan hasil test of  english for international communication (TOEIC), para guru dan kepala  sekolah berada di level novice (100-250) dan elementry (255-400).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemampuan  berbahasa Inggris yang rendah justru ada di guru-guru Matematika dan  sains (Fisika, Biologi, dan Kimia). Padahal, di RSBI seharusnya mereka   menyampaikan pelajaran dalam bahasa Inggris.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari sisi jenjang  pendidikan, di tingkat SD kurang dari 50 persen  kepala sekolah yang  berpendidikan S-2. Sementara di tingkat SMP/SMA/SMK, sekitar 65-80  persen  kepala sekolah sudah S-2.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Khusus untuk guru, di tingkat  SD baru sekitar 10 persen yang  berpendidikan S-2. Adapun guru  SMP/SMA/SMK yang berpendidikan S-2 sebanyak 18-23 persen.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meski  RSBI banyak yang belum  memenuhi syarat, kenyataannya sekolah yang  bermetamorfosis menjadi RSBI melonjak pesat. Dalam waktu kurang  lima  tahun, sudah ada 1.329  SD, SMP dan SMA/SMK berstatus RSBI.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Pengajuan baru&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lardi,  Kepala Seksi Manajemen SMP dan SMA Dinas Pendidikan DKI Jakarta,  mengakui jika masalah sumber daya guru di RSBI masih menghadapi kendala,  utamanya dalam penguasaan bahasa Inggris. "Memang masih terbatas dalam  penggunaan bahasa Inggris. Supaya murid tidak bingung, saat menjelaskan  konsep-konsep pelajaran menggunakan pengantar bahasa Indonesia,"  ujarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada kenyataannya, kendala tersebut tidak menghalangi  Dinas Pendidikan DKI memperbanyak RSBI. Hingga tahun 2010 sudah ada 40  sekolah RSBI. Pada tahun ini, sebenarnya DKI mengajukan enam sekolah  lagi, tetapi nasibnya tak jelas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untung Suwantoro, Kepala SD RSBI  11 Jakarta, mengatakan sejak dibuka kelas internasional untuk kelas 1-3  SD  tahun 2007, minat orangtua murid, guru, dan komite sekolah untuk  mengembangkan RSBI  sangat baik. "Kemampuan guru dalam berbahasa Inggris  memang harus ditingkatkan. Ini tantangan buat kami," ujarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;M  Nur, Kepala SMP RSBI 19 Jakarta, mengatakan, untuk mengatasi lemahnya  kemampuan guru berbahasa Inggris,  guru-guru honorer yang fasih  berbahasa Inggris diangkat. (ELN)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/03/12/0450146/sekolah.siasati.rsbi"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/03/12/0450146/sekolah.siasati.rsbi&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-2679097464126722800?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/2679097464126722800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=2679097464126722800' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2679097464126722800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2679097464126722800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/03/sekolah-siasati-rsbi.html' title='Sekolah &quot;Siasati&quot; RSBI'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-7776140598132553135</id><published>2011-03-02T07:39:00.001+07:00</published><updated>2011-03-02T07:39:25.927+07:00</updated><title type='text'>Kemdiknas: Silakan Usut Rp 2,3 Triliun</title><content type='html'>&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;— Kementerian Pendidikan  Nasional membuka diri kepada penegak hukum untuk menindaklanjuti temuan  Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) soal penyimpangan Rp 2,3 triliun di  lembaga itu.&lt;div class="left"&gt;&lt;div class="font11 c_abu02_kompas2011 pb_3 pt_3"&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Kalau memang ada tanda-tanda korupsi, kami akan  laporkan kepada penegak hukum, baik itu KPK ataupun Kejaksaan, dan kami  sangat membuka diri kapan pun KPK dan Kejaksaan akan masuk, kami &lt;em&gt;welcome,&amp;quot; &lt;/em&gt;kata Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, Selasa (1/3/2011) malam di Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fasli  mengatakan, temuan dugaan korupsi ini terdiri dari berbagai kategori.  &amp;quot;Ada yang sifatnya belum diverifikasi, ada denda yang belum dibayar, ada  harga yang menurut BPK nilainya tidak sesuai harga di pasar, dan ada  uang yang digunakan tidak pada tempatnya,&amp;quot; ujar Fasli.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fasli juga  mengatakan, jika ada kesalahan prosedural namun tidak ada indikasi  apa-apa, itu akan diberikan surat karena dianggap lalai.  Kegiatan yang  sifatnya kurang jelas, ditambahkan Fasli, harus diverifikasi dan  kegiatan yang tidak sesuai anggaran akan diberi teguran serta harus  dijelaskan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Temuan dugaan korupsi ini kebanyakan terjadi di  tingkat perguruan tinggi. Sebagian ada yang sifatnya perlu diverifikasi,  jika sudah, berarti dianggap selesai.  &amp;quot;Dari hasil verifikasi, 95  persen  hal-hal tersebut (di atas), dan Pak Menteri sudah memberi  teguran kepada puluhan pelakunya, terutama di perguruan tinggi, karena  kebanyakan kejanggalan berada di perguruan tinggi,&amp;quot; kata Fasli.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut  dia, kinerja satgas yang dipimpin Inspektorat Jenderal (Irjen)  Kemdiknas Wukir Ragil sejauh ini sudah 80 persen diverifikasi BPK.   &amp;quot;Satgas langsung dipimpin oleh Irjen, dan sejauh ini sudah 80 persen di&lt;em&gt;-okekan &lt;/em&gt;oleh BPK,&amp;quot; kata Fasli.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/2011/03/02/0533287/Kemdiknas.Silakan.Usut.Rp.2.3.Triliun"&gt;http://nasional.kompas.com/read/2011/03/02/0533287/Kemdiknas.Silakan.Usut.Rp.2.3.Triliun&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;   									 &lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-7776140598132553135?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/7776140598132553135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=7776140598132553135' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/7776140598132553135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/7776140598132553135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/03/kemdiknas-silakan-usut-rp-23-triliun.html' title='Kemdiknas: Silakan Usut Rp 2,3 Triliun'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-2417446194725403581</id><published>2011-02-25T09:05:00.001+07:00</published><updated>2011-02-25T09:05:22.216+07:00</updated><title type='text'>Pencairan Dana BOS Tidak Boleh Telat</title><content type='html'>&lt;h1 class="judul_artikel"&gt;&lt;/h1&gt; 																						 													                                                              &lt;p&gt;Jakarta, Kompas - Pencairan  dana bantuan operasional sekolah yang berasal dari Anggaran Pendapatan  dan Belanja Negara tidak boleh terlambat pencairannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian  dikatakan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo saat melantik Wakil Kepala  Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang baru, Suradika, Kamis (24/2) di  Balaikota. Pernyataan Fauzi itu disampaikan karena hingga akhir Februari  ini dana BOS triwulan I 2011 belum juga cair.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"BOS itu urat nadi  kegiatan belajar mengajar sekolah dan komite sekolah. Menurut catatan  saya, pencairan BOS itu sering terlambat," kata Fauzi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padahal,  masih menurut Fauzi, salah satu upaya untuk memajukan kualitas  pendidikan di Jakarta adalah mempercepat dana BOS. Untuk keterlambatan  kali ini, Fauzi memberikan tenggat waktu hingga minggu pertama Maret  2011 dana BOS sudah harus disalurkan ke sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Saya juga minta  transparansi informasi mengenai pemanfaatan dana-dana yang ada di  lingkungan sekolah. Jangan karena bukan dari APBD DKI pemanfaatan dana  tersebut dibiarkan begitu saja, tetapi kita harus menjemput bola,"  ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik  Yudi Mulyanto mengatakan, pihaknya berupaya melakukan percepatan  pencairan dengan meminta suku dinas-suku dinas segera mencairkan. Dana  dari APBN sebesar Rp 552 miliar itu langsung dikirim ke suku dinas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Khusus  untuk sekolah swasta, Taufik mengungkapkan, penyalurannya masih  terhambat karena dana BOS untuk sekolah swasta diberikan dalam bentuk  hibah sehingga harus ada regulasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kami masih mengaturnya dengan Biro Hukum DKI dan Badan Pengelola Keuangan Daerah," kata Taufik. (arn)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/02/25/04254384/pencairan.dana.bos.tidak.boleh.telat"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/02/25/04254384/pencairan.dana.bos.tidak.boleh.telat&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-2417446194725403581?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/2417446194725403581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=2417446194725403581' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2417446194725403581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2417446194725403581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/02/pencairan-dana-bos-tidak-boleh-telat.html' title='Pencairan Dana BOS Tidak Boleh Telat'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-5900894984430664128</id><published>2011-02-14T15:36:00.001+07:00</published><updated>2011-02-14T15:36:52.744+07:00</updated><title type='text'>Kampus Belum Dorong Kewirausahaan</title><content type='html'>&lt;h1 class="judul_artikel"&gt;&lt;/h1&gt; 																						 												 							&lt;p&gt;Jakarta, Kompas - Kurikulum pada jenjang pendidikan tinggi belum mendorong semangat entrepreneurship atau kewirausahaan sehingga kualitas sumber daya manusia lulusan perguruan tinggi tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, terutama industri. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Perguruan tinggi harus lebih spesifik untuk mengejar ketertinggalan. Caranya dengan entrepreneurship," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, pada acara wisuda perdana Universitas Bakrie, Sabtu (12/2) di Jakarta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut dia, Indonesia membutuhkan kebijakan baru yang mendorong semangat entrepreneurship agar tercapai pertumbuhan ekonomi yang stabil. Dengan entrepreneurship, bahan-bahan baku bisa diolah di dalam negeri dengan inovasi dalam negeri sehingga memiliki nilai tambah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kajian Harvard Kennedy School of Government 2010 menyebutkan, model pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini sangat menggantungkan diri pada eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Akibatnya, investasi pada pembangunan manusia minim. Padahal kualitas daya saing dan kualitas inovasi yang ditentukan kewirausahaan masyarakat harus ditingkatkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Jika kita ingin unggul bersaing, kewirausahaan masyarakat harus dibangkitkan dan daya inovasi harus dikembangkan seperti technopreneurship," kata Fadel.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Technopreneurship merupakan upaya membangun daya saing unggul yang membutuhkan sinergi antara kewirausahaan dan kemampuan mengeksploitasi teknologi. Usaha yang dijalankan oleh technopreneur umumnya ditandai pertumbuhan yang tinggi. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Indonesia memiliki peluang mengembangkan technopreneurship untuk menciptakan nilai tambah khususnya bagi produk-produk pertanian, kehutanan, peternakan, dan perikanan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rektor Universitas Bakrie Sofia W Alisjahbana mengatakan, untuk menjembatani antara perguruan tinggi dan kebutuhan industri, Universitas Bakrie aktif menjalin relasi dengan dunia industri dan lembaga bertaraf internasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Universitas Bakrie yang sebelumnya bernama Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bakrie School of Management mewisuda 72 lulusan program studi Manajemen serta Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial. (LUK)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/02/14/04363443/kampus.belum.dorong.kewirausahaan"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/02/14/04363443/kampus.belum.dorong.kewirausahaan&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-5900894984430664128?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/5900894984430664128/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=5900894984430664128' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5900894984430664128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5900894984430664128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/02/kampus-belum-dorong-kewirausahaan.html' title='Kampus Belum Dorong Kewirausahaan'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-430529020686727978</id><published>2011-01-17T07:22:00.001+07:00</published><updated>2011-01-17T07:22:03.324+07:00</updated><title type='text'>Anggaran Sekolah Belum Libatkan Masyarakat</title><content type='html'>&lt;p&gt;Medan, Kompas - Selama ini penyusunan anggaran tidak  melibatkan semua komponen yang ada, tetapi lebih banyak dikendalikan  oleh pengurus yayasan atau kepala sekolah. Akibatnya, tidak sedikit  korupsi atau penyalahgunaan dana sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penyusunan anggaran  pendapatan dan belanja sekolah (APBS) seharusnya melibatkan masyarakat  untuk mengurangi potensi penyalahgunaan dana sekolah sekaligus  memperkuat kontrol penggunaannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua Serikat Guru Indonesia  (Segi) Medan Herliadi mengatakan hal itu seusai pelatihan penyusunan  APBS di Medan, Sumatera Utara, Minggu (16/1).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Acara itu dihadiri  28 anggota yang terdiri dari kepala sekolah, pegawai sekolah, guru, dan  masyarakat atau anggota komite sekolah. Sebagai pembicara yaitu dari  Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Sentra Advokasi untuk Hak  Pendidikan Rakyat (Sahdar). "Sasaran kami adalah melatih kepada pemangku  kepentingan sekolah agar mampu membuat anggaran secara profesional dan  transparan," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Peneliti Sahdar, Arif Faisal, menambahkan,  selama ini sekolah swasta menggunakan standar ganda. Di satu sisi mereka  mengklaim seluruh usaha sekolah sebagai usaha sosial, tetapi di sisi  lain mereka tak mau mengeluarkan dana cukup untuk pengadaan dan  operasionalisasi sekolah. "Kalau ada keuntungan diambil oleh yayasan,"  ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut dia, ada kecenderungan pengelolaan keuangan  sekolah-sekolah swasta itu tidak transparan. Kalau sekolah dibisniskan,  harus ada kejelasan. Jika untuk kegiatan sosial, harus jelas garis  batasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia menambahkan, di Sumut, baru Sekolah Menengah Atas  Negeri 1 dan Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Medan yang menerapkannya.  Itu pun sebatas rapat tahunan sekolah yang berisi laporan dana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Manajer  Monitoring Pelayanan Publik ICW Ade Irawan mengatakan, penyusunan  anggaran partisipatif merupakan kampanye positif untuk mencegah korupsi.  Beberapa sekolah di Tangerang, Banten, dan Garut, Jawa Barat, sudah  menerapkan hal ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Dengan anggaran partisipatif, semua dana bisa  dimaksimalkan untuk proses belajar-mengajar karena penyalahgunaannya  bisa diantisipasi. Segala bentuk pungutan liar dari dinas (pendidikan)  juga bisa dikurangi atau dihilangkan. Model ini sudah diterapkan di  Chicago, Amerika Serikat, dan Porto Alegre, Brasil," katanya. (MHF)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/01/17/03564113/anggaran.sekolah.belum.libatkan.masyarakat"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/01/17/03564113/anggaran.sekolah.belum.libatkan.masyarakat&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-430529020686727978?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/430529020686727978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=430529020686727978' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/430529020686727978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/430529020686727978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/01/anggaran-sekolah-belum-libatkan.html' title='Anggaran Sekolah Belum Libatkan Masyarakat'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-3477176684185746029</id><published>2011-01-10T08:43:00.001+07:00</published><updated>2011-01-10T08:43:13.406+07:00</updated><title type='text'>PTN Selenggarakan Seleksi Mandiri</title><content type='html'>&lt;p&gt;Jakarta, Kompas - Sejumlah perguruan  tinggi negeri tetap bersikukuh menyelenggarakan seleksi mandiri sebelum  pelaksanaan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Sikap ini  bertolak belakang dengan kebijakan yang digariskan oleh pemerintah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemerintah  telah mengeluarkan ketentuan agar perguruan tinggi negeri mulai tahun  2011 menyelenggarakan seleksi masuk secara mandiri setelah pelaksanaan  seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) sekitar Juni  2011.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 34 Tahun  2010 tentang Pola Penerimaan Mahasiswa Baru Program Sarjana pada  Perguruan Tinggi yang Diselenggarakan Pemerintah, ditegaskan keharusan  bagi perguruan tinggi negeri (PTN) menerima mahasiswa baru lewat seleksi  nasional (SNMPTN ujian tulis dan undangan) minimal 60 persen dan jalur  mandiri sekitar 40 persen. Bahkan, di Pasal 6 diatur jika pola  penerimaan mahasiswa baru secara mandiri dilaksanakan setelah  pelaksanaan pola penerimaan mahasiswa baru secara nasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun,  kenyataannya, sejumlah PTN telah membuka pendaftaran seleksi mandiri.  Ada yang pendaftaran dan ujian tulis dilaksanakan sebelum SNMPTN. Ada  juga PTN yang membuka pendaftaran terlebih dahulu, tetapi pelaksanaan  ujian tulis setelah SNMPTN.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seleksi mandiri yang dilaksanakan  sebelum SNMPTN, antara lain, dilakukan Institut Teknologi Bandung (ITB).  Pendaftaran seleksi mandiri yang dilakukan lewat jalur penelusuran  minat, bakat, potensi ITB (PMBP-ITB) dan Kemitraan Nusantara ITB mulai  dibuka secara online pada 1 Februari-1 April 2011. Adapun ujian tulis  dilaksanakan pada 30 April-1 Mei.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rektor ITB Akhmaloka mengatakan,  seleksi mandiri ITB tetap dilaksanakan sesuai rencana semula. Pasalnya,  ITB saat ini masih dalam masa transisi dan masih berstatus sebagai PTN  BHMN (badan hukum milik negara).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan demikian, Akhmaloka  menilai ketentuan pelaksanaan seleksi mandiri setelah SNMPTN belum  mengikat ITB. Sebab, ITB saat ini bukan sebagai perguruan tinggi yang  diselenggarakan pemerintah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Yang penting, ITB tetap komitmen  menerima mahasiswa baru lewat seleksi nasional, minimal 60 persen.  Bahkan, ke depannya kalau bisa 100 persen," kata Akhmaloka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Secara  terpisah, Direktur Administrasi Akademik Universitas Gadjah Mada (UGM)  yang juga Ketua Ujian Masuk UGM Budi Prasetyo Widyobroto mengatakan,  tahun 2011 UGM akan tetap melaksanakan ujian mandiri sebelum SNMPTN.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ujian  masuk UGM dari jalur mandiri yang diberi nama Ujian Tulis Jalur  Penelusuran Bakat Swadana akan dilaksanakan sesuai jadwal, yaitu 27  Maret 2011.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Jadwal ini sudah telanjur diinformasikan ke  masyarakat sejak Oktober 2010. Adapun peraturan soal jalur mandiri harus  sesudah seleksi nasional baru saja keluarnya," katanya di Yogyakarta.  Menurut Budi, perubahan jadwal seleksi secara mendadak dikhawatirkan  akan membuat masyarakat kebingungan.&lt;/p&gt;(ELN/IRE)&lt;br&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/01/10/04124647/ptn..selenggarakan.seleksi.mandiri"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/01/10/04124647/ptn..selenggarakan.seleksi.mandiri&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-3477176684185746029?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/3477176684185746029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=3477176684185746029' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3477176684185746029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3477176684185746029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/01/ptn-selenggarakan-seleksi-mandiri.html' title='PTN Selenggarakan Seleksi Mandiri'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-6065211667575244392</id><published>2011-01-09T18:04:00.001+07:00</published><updated>2011-01-09T18:04:36.985+07:00</updated><title type='text'>Tunjangan Disunat Rp 250.000 Per Bulan</title><content type='html'>&lt;div class="judul_kecil"&gt;&lt;strong&gt;SERTIFIKASI&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 			&lt;div class="judul_artikel"&gt;&lt;/div&gt; 						&lt;div class="c_blue_kompas font11 pb_10 pt_3"&gt;Jumat, 7 Januari 2011 | 11:43 WIB&lt;/div&gt; 			&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_10"&gt;   				  &lt;div class="img310"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2009/10/01/1812477p.jpg"&gt;&lt;/div&gt;   				  &lt;div style="text-align: left;" class="font10 c_abu "&gt;&lt;font size="1"&gt;shutterstock&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;   				     				  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;" class="c_abu font11 pt_5"&gt;&lt;font size="1"&gt;   					Ilustrasi: Meskipun hanya Rp 250.000 setiap orang untuk setiap  kali pencairan tunjangan sertifikasi, namun dalam setahun setiap guru  akan dipotong Rp 500.000 per orang.   				  &lt;/font&gt;&lt;/div&gt;   				                       				&lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/30/09580810/Guru.Belum.Terima.Tunjangan.Khusus"&gt;Guru Belum Terima Tunjangan Khusus&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/29/09413834/Tunjangan.Guru.Rp.30.Miliar.Cair.Sebelum.Ganti.Tahun"&gt;Tunjangan Guru Rp 30 Miliar Cair Sebelum Ganti Tahun&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/27/0358197/Tunjangan.Guru.Tak.Lancar"&gt;Tunjangan Guru Tak Lancar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/22/21491392/2015..Dana.Sertifikasi.Rp.60.Triliun"&gt;2015, Dana Sertifikasi Rp 60 Triliun&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt;             				&lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;LAMONGAN, KOMPAS.com&lt;/strong&gt;  — Para guru bersertifikat yang bernaung di bawah Kantor Kementerian  Agama mengeluh pemotongan tunjangan sertifikasi mereka lantaran setiap  kali cair dipotong Rp 250.000. Meski tidak rela, mereka tidak berani  melawan karena takut dampak pada diri mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Praktik tersebut  sudah berjalan selama tiga tahun sejak adanya kebijakan sertifikasi bagi  guru di bawah naungan Kementerian Agama. Meskipun hanya Rp 250.000  setiap orang untuk setiap kali pencairan tunjangan sertifikasi, dalam  setahun setiap guru akan dipotong Rp 500.000 per orang. Jumlah uang yang  terkumpul cukup besar jika dikalikan seluruh guru bersertifikat yang  ada di naungan Kementerian Agama se-Kabupaten Lamongan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sampai  detik ini, para guru juga tidak tahu pasti ke mana uang itu larinya dan  peruntukannya.  Pemotongan dilakukan melalui seorang guru yang ditunjuk  sebagai koordinator kecamatan dan diduga uang tersebut disetor ke Seksi  Madrasah dan Pendidikan Agama (Mapenda) Kantor Kementerian Agama  Lamongan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala Seksi Mapenda Kementerian Agama Lamongan M Rusdi  saat dikonfirmasi terkait masalah yang dihadapi para guru itu  mengatakan, Mapenda tidak pernah memberlakukan pungutan apa pun untuk  sertifikasi guru. Mapenda hanya meneruskan berkas usulan sertifikasi ke  provinsi kemudian ke Kementerian Agama pusat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Insya Allah kami tidak pernah melakukan itu, dan ini bisa mengarah ke fitnah," ujar Rusdi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalaupun  ada potongan, kemungkinan itu dilakukan para guru untuk kegiatan  lapangan yang tidak melibatkan Mapenda. Bisa juga mereka, lanjutnya,  membentuk forum atas kesepakatannya sendiri. Kantor Kementerian Agama  tidak bisa memotong karena tunjangan tersebut ditransfer ke  masing-masing rekening.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Lha kami memotong dari mana ceritanya?" tambah Rusdi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara  itu, Ketua Forum Komunikasi Guru dan Pengajar (FKGP) Lamongan Khoirul  Huda yang dikonfirmasi wartawan mengakui, pemotongan tunjangan  sertifikasi tersebut dilakukan FKGP atas kesepakatan para guru dan bukan  dilakukan Mapenda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurutnya, dari sekitar 2.311 guru  sertifikasi di lingkungan kantor Kemenag Lamongan, 90 persen menjadi  anggota FKGP, yang pembentukannya sesuai amanat UU Nomor 14/2005.  Besarnya potongan bukan Rp 250.000, tapi Rp 225.000.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Huda menilai  kemungkinan guru yang mempersoalkan pemotongan tunjangan tersebut belum  menjadi anggota forum sehingga belum mengetahui kesepakatan bersama  tersebut. &lt;strong&gt;(st36)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;	  			 						 			&lt;span class="right"&gt;&lt;a href="http://www.surya.co.id/" target="_blank"&gt;&lt;img alt="Surya" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/logo/logo_surya.gif" align="absmiddle" border="0" height="30"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/01/07/1143343/Tunjangan.Disunat.Rp.250.000.Per.Bulan"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2011/01/07/1143343/Tunjangan.Disunat.Rp.250.000.Per.Bulan&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/span&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-6065211667575244392?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/6065211667575244392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=6065211667575244392' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6065211667575244392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6065211667575244392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/01/tunjangan-disunat-rp-250000-per-bulan.html' title='Tunjangan Disunat Rp 250.000 Per Bulan'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-2726648881982468119</id><published>2011-01-09T18:00:00.001+07:00</published><updated>2011-01-09T18:00:55.283+07:00</updated><title type='text'>Ujian Nasional 18-21 April 2011</title><content type='html'>&lt;div class="judul_artikel"&gt;&lt;/div&gt; 			&lt;div class="font12 c_abu pt_5"&gt;Laporan wartawan &lt;strong class="c_abu5"&gt;KOMPAS Luki Aulia&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;			&lt;div class="c_blue_kompas font11 pb_10 pt_3"&gt;Selasa, 4 Januari 2011 | 13:03 WIB&lt;/div&gt; 			&lt;div class="artikel"&gt;&lt;div id="foto1" class="tab_1" style="display: block;"&gt;&lt;img src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/02/08/1205555620X310.jpg" width="365" height="187"&gt;&lt;div class="font10" align="right"&gt;PRIYOMBODO/KOMPAS IMAGES&lt;/div&gt; Ilustrasi:  Pada UN 2011 mendatang pemerintah tak lagi menggelar UN ulang. Siswa  yang tidak lulus UN disarankan mengikuti ujian paket C untuk siswa SMA.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_5"&gt;                              &lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/31/15370974/Maaf..Tak.Ada.Lagi.UN.Ulang.."&gt;Maaf, Tak Ada Lagi UN Ulang! &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/31/15370974/Maaf..Tak.Ada.Lagi.UN.Ulang.."&gt;Maaf, Tak Ada Lagi UN Ulang! &lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/31/03164111/Dinas.Pendidikan.Tunggu.Juklak.UN"&gt;Dinas Pendidikan Tunggu Juklak UN&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/29/02464757/Nilai.Murni.UN.Syarat.Siswa.Daftar.Sekolah"&gt;Nilai Murni UN Syarat Siswa Daftar Sekolah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/27/03410626/Tahun.Baru.dengan.Ujian.Lama"&gt;Tahun Baru dengan Ujian Lama&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt;                            &lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;    JAKARTA, KOMPAS.com — &lt;/strong&gt;Ujian  nasional tahun pelajaran 2010/2011 jenjang sekolah menengah  atas/madrasah aliyah/sekolah menengah kejuruan (SMA/MA/SMK) akan  diselenggarakan 18-21 April 2011. Sementara jenjang sekolah menengah  pertama/madrasah tsanawiyah (SMP/MTs) akan dilaksanakan 25-28 April  2011.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadwal UN ini tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan  Nasional (Permendiknas) Nomor 45 Tahun 2010 tentang Kriteria Kelulusan  dan Permendiknas Nomor 46 tentang Pelaksanaan UN SMP dan SMA Tahun  Pelajaran 2010/2011 yang ditandatangani Menteri Pendidikan Nasional  Mohammad Nuh Senin (4/1/2011) di Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam UN April mendatang  sudah digunakan formula baru untuk menentukan kelulusan yaitu nilai  gabungan antara nilai UN dengan nilai sekolah yang meliputi ujian  sekolah dan nilai rapor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan  Kemdiknas Mansyur Ramly mengatakan, UN Susulan SMA/MA/SMK akan  dilaksanakan 25-28 April 2011 dan pengumuman kelulusan oleh satuan  pendidikan paling lambat 16 Mei 2011.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara UN Susulan SMP/MTs  diselenggarakan 3-6 Mei 2011, sedangkan pengumuman UN SMP/MTs oleh  satuan pendidikan pada tanggal 4 Juni 2011. &amp;quot;UN kompetensi keahlian  kejuruan SMK dilaksanakan sekolah paling lambat sebulan sebelum UN  dimulai,&amp;quot; kata Mansyur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelum kelulusan diumumkan, sekolah  mengirimkan hasil nilai sekolah untuk digabungkan dengan hasil nilai UN  ke Kemdiknas. Selanjutnya, setelah digabungkan dengan formula 60 persen  UN ditambah dengan 40 persen nilai sekolah, nilai tersebut dikembalikan  lagi ke sekolah. Sekolah menggabungkan nilai dengan mata pelajaran lain.  &amp;quot;&lt;em&gt;Kan&lt;/em&gt; ada tujuh mata pelajaran lain yang harus lulus. Yang menentukan kelulusan tetap satuan pendidikan,&amp;quot; kata Nuh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nuh  melanjutkan, dari peta nilai akan dilakukan analisis setiap sekolah.  Sekolah yang nilainya rendah akan dilakukan intervensi seperti tahun  2010 yakni memberikan insentif dana sebesar Rp 1 miliar sebagai stimulus  kepada 100 kabupaten/kota yang memiliki nilai UN rendah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Insentif  dana itu diberikan pada kabupaten/kota dengan persentase kelulusan  siswa kurang dari 80 persen. Selain dana, pemerintah juga melakukan  intervensi program peningkatan kompetensi guru dan remedial. &amp;quot;Tidak ada  target khusus kelulusan siswa. Targetnya kejujuran pelaksanaan UN. Itu  yang lebih mahal karena dari angka kelulusan tahun lalu sudah 99  persen,&amp;quot; kata Nuh.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;	  			 							 						&lt;div&gt; 			   			  &lt;div class="left c_abu w125 font11"&gt; 				 							  &lt;/div&gt; 			   			   			  &lt;div class="font12 left w320" align="center"&gt; 							  &lt;/div&gt; 			     			   			  &lt;div class="right c_abu w125 font11" align="right"&gt; 				 							  &lt;/div&gt; 			   			   			&lt;/div&gt;           						 			&lt;div class="c_abu font11 pt_5 pb_5 mt_15 hl_1"&gt; 			  &lt;span class="left"&gt; 				  								Editor: Glori K. Wadrianto&lt;/span&gt;&lt;span class="right"&gt;&lt;strong id="text_577404"&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/01/04/1303567/Ujian.Nasional.1821.April.2011"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2011/01/04/1303567/Ujian.Nasional.1821.April.2011&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; 			                 			&lt;/div&gt; 			 			 			 			 			 			 &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-2726648881982468119?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/2726648881982468119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=2726648881982468119' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2726648881982468119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2726648881982468119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/01/ujian-nasional-18-21-april-2011.html' title='Ujian Nasional 18-21 April 2011'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-2222030327405390235</id><published>2011-01-04T08:03:00.001+07:00</published><updated>2011-01-04T08:03:50.272+07:00</updated><title type='text'>Penarikan Guru PNS Masih Terjadi</title><content type='html'>Jakarta, kompas - Proses penarikan guru-guru  pegawai negeri sipil yang mengajar di sekolah-sekolah swasta di beberapa  daerah masih terjadi. Padahal, pemerintah sudah menjamin tidak ada  penarikan dan tidak berencana menarik guru-guru PNS dari sekolah swasta.   &lt;p&gt;Proses penarikan guru berstatus pegawai negeri sipil  (PNS) ini masih terjadi karena dinas pendidikan di daerah belum menerima  aturan dari Kementerian  Pendidikan Nasional (Kemendiknas). Mereka  hanya mendengar dari pernyataan lisan saja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Semestinya, jaminan  pemerintah itu disertai dengan ketentuan tertulis sehingga bisa menjadi  pegangan bagi aparat dinas pendidikan di daerah," kata Suparman, Ketua  Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Senin (3/1).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketua  Badan Musyawarah Perguruan Swasta Said Sedyohadi mengusulkan, selain  mempertahankan guru PNS di sekolah swasta, sebaiknya ada seleksi tegas  bagi  guru PNS di sekolah swasta. Apabila keberadaannya menunjang  kinerja sekolah swasta, guru PNS harus dipertahankan. Namun, jika tidak  berkontribusi maksimal, seharusnya guru PNS sebaiknya ditarik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Hal ini untuk memaksimalkan penempatan guru PNS di  sekolah swasta," kata Said.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dipetakan kembali&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketua  Bidang Pendidikan Yayasan Bopkri Yogyakarta Mulyo Prabowo mengatakan,  menyusul  pembatalan penarikan guru PNS dari sekolah swasta, pemerintah  diharap memetakan dan menata penempatan guru sesuai kebutuhan sekolah.  Selama ini penempatan guru dinilai belum sesuai  kebutuhan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ada guru-guru yang penempatannya tak sesuai dengan  jenjang mengajarnya," kata Prabowo di  Yogyakarta, Senin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut  Mulyo, keputusan Menteri Pendidikan Nasional membatalkan penarikan guru  pegawai negeri sipil (PNS) dari sekolah swasta sangat positif bagi  pendidikan Indonesia secara umum. Sebab, sekolah swasta masih dibutuhkan  masyarakat. Sejumlah sekolah swasta juga menyelenggarakan pendidikan  untuk masyarakat menengah ke bawah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain itu, sekolah swasta  juga masih membutuhkan guru PNS. Penempatan guru PNS di sekolah swasta  membantu meringankan biaya gaji para penyelenggara sekolah swasta,  mengingat gaji para guru PNS ditanggung pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di Yayasan  Bopkri, sekitar 40 persen guru berstatus PNS. Sebelumnya, penarikan  sekitar 11 guru PNS dari  beberapa sekolah di bawah Yayasan Bopkri di  Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, sempat membuat sekolah kesulitan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketua  Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Yogyakarta Sudarto  mengatakan, pihaknya sangat mendukung pembatalan penarikan guru PNS dari  sekolah swasta. Sebab, pihak swasta mempunyai andil besar terhadap  pendidikan Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut Sudarto, penarikan guru PNS dari  sekolah swasta akan menyebabkan sekolah swasta limbung karena mereka  harus mencari dan menggaji sendiri guru.&lt;/p&gt;      &lt;p&gt;Ketua Persatuan  Guru Swasta Balikpapan Subyanto menilai, guru PNS sangat membantu  kegiatan belajar-mengajar siswa di sekolah swasta, terutama dari segi  anggaran pengeluaran sekolah. "Jika tidak ada guru PNS, sekolah swasta  harus mencari sendiri dan membiayai sendiri tenaga pengajarnya,"  ujarnya. (LUK/CHE/ IRE/UTI) &lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/01/04/04035070/penarikan.guru.pns.masih.terjadi"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/01/04/04035070/penarikan.guru.pns.masih.terjadi&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-2222030327405390235?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/2222030327405390235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=2222030327405390235' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2222030327405390235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2222030327405390235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2011/01/penarikan-guru-pns-masih-terjadi.html' title='Penarikan Guru PNS Masih Terjadi'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-5518312218324528327</id><published>2010-12-18T09:59:00.001+07:00</published><updated>2010-12-18T09:59:44.962+07:00</updated><title type='text'>Ujian Nasional Dilaksanakan Mei 2011</title><content type='html'>&lt;p&gt;Jakarta, Kompas  - Pemerintah dan Badan Standar  Nasional Pendidikan telah siap dengan formula baru penilaian kelulusan  siswa dari satuan pendidikan. Untuk itu, pelaksanaan ujian nasional  tahun ajaran 2010/2011 hanya dilaksanakan satu kali pada  Mei 2011.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ujian  nasional (UN) utama untuk SMA/SMK digelar pada minggu pertama Mei 2011,  sedangkan untuk SMP pada minggu kedua Mei 2011. Adapun UN susulan bagi  mereka yang belum mengikuti UN utama dilaksanakan satu minggu kemudian.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tahun ini UN ulangan ditiadakan. Adapun ujian sekolah diadakan sebelum  UN.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Demikian  perubahan yang terungkap dalam sosialisasi kebijakan UN tahun ajaran  2010/2011 yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan Nasional  (Kemendiknas) dan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) di Jakarta,  Kamis (17/12). Kegiatan tersebut selain untuk menyosialisasikan juga  meminta masukan soal perubahan UN dari dinas pendidikan kota/kabupaten  dan perguruan tinggi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pemerintah memang telah memegang formula  baru. Namun, sebelum ditetapkan secara resmi, pemerintah dan BSNP  meminta masukan dari daerah apakah perubahan dalam pelaksanaan UN 2011  bisa diterima dengan baik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menteri Pendidikan Nasional Mohammad  Nuh mengatakan, dengan adanya formula baru yang mengevaluasi siswa  secara komprehensif selama tiga tahun belajar, polemik UN yang muncul  setiap tahun diharapkan bisa berhenti. "Kita nantinya mesti lebih fokus  pada apa yang perlu dikerjakan atau diperbaiki dari hasil UN," ujar Nuh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketua  BSNP Djemari Mardapi mengatakan, penilaian kelulusan antara UN dan  hasil belajar di sekolah tidak lagi saling memveto, tetapi bisa saling  membantu. Untuk itu, penilaian UN  digabung dengan nilai dari sekolah. Kelulusan siswa dari sekolah dengan melihat nilai gabungan rencananya dipatok minimal 5,5.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendiknas Mansyur Ramli mengatakan,   penilaian kelulusan siswa tidak  lagi hasil potret evaluasi sesaat.  Penilaian dilakukan selama proses belajar siswa di sekolah.(ELN)&lt;/p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/12/18/04140067/ujian.nasional.dilaksanakan.mei.2011"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/12/18/04140067/ujian.nasional.dilaksanakan.mei.2011&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-5518312218324528327?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/5518312218324528327/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=5518312218324528327' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5518312218324528327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5518312218324528327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/12/ujian-nasional-dilaksanakan-mei-2011.html' title='Ujian Nasional Dilaksanakan Mei 2011'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-4640626069316750951</id><published>2010-12-13T07:06:00.001+07:00</published><updated>2010-12-13T07:06:04.167+07:00</updated><title type='text'>Kualitas Masih Jadi Persoalan Utama</title><content type='html'>&lt;strong&gt;MUTU PENDIDIKAN&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;&lt;p&gt;Jakarta, Kompas - Akses terhadap pendidikan yang kian  luas tidak serta-merta disertai dengan mutu pendidikan yang baik. Dari  segi akses, menurut Indeks Pembangunan Manusia 2010, Indonesia masuk  dalam peringkat 10 besar negara yang mengalami kemajuan pesat selama 40  tahun dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Ke-10 negara itu adalah  Oman, China, Nepal, Indonesia, Arab Saudi,  Laos, Tunisia, Korea Selatan, Aljazair, dan Maroko.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Wakil  Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, Sabtu (11/12), mengingatkan,  Indeks Pembangunan Manusia (IPM) hanya menggunakan akses sebagai  indikator utama keberhasilan. Dalam data IPM, rata-rata lama bersekolah  di Indonesia 5,7 tahun, sementara lama bersekolah yang diharapkan 12,7  tahun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Kalau dilihat lama sekolah tentu pendidikan Indonesia  maju. Apalagi banyak daerah yang tidak lagi hanya mematok wajib belajar  sembilan tahun, tetapi sudah 12-15 tahun, seperti di Pangkal Pinang,"  kata Fasli.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Namun, jika dilihat dari mutu pendidikan, Indonesia  kalah jauh dibandingkan negara lain. Jika indikator mutu ikut dihitung  dalam IPM, menurut Fasli, hasilnya akan variatif karena tak ada satu  patokan yang pasti. Apalagi mengingat kesenjangan mutu pendidikan  antardaerah.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa   (UNDP) Country Director Beate Trankmann mengakui, data IPM tidak bisa  spesifik melihat setiap indikator hingga dapat diketahui adanya  kesenjangan pada akses atau mutu pendidikan dan kesehatan setiap daerah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yang  terpenting, menurut dia, adalah bagaimana mengolah data IPM agar bisa  menjadi dasar penyusunan kebijakan dan perencanaan anggaran pemerintah  pusat dan daerah. "Tantangannya, bagaimana membawa semua daerah pada  tingkatan yang sama. Sama seperti pendekatan kita pada  Tujuan  Pembangunan Milenium," ujarnya.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Meski hanya melihat rata-rata  nasional, penulis laporan IPM,  Jeni Klugman, mengingatkan, pada IPM  kali ada penemuan penting bahwa beberapa tahun belakangan ini  pertumbuhan ekonomi ternyata tidak otomatis meningkatkan kualitas  pendidikan dan kesehatan. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia,  tetapi juga di Afganistan, Banglades, India, Iran, Nepal, dan Pakistan. (LUK)&lt;/p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/12/13/03552919/kualitas.masih.jadi.persoalan.utama"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/12/13/03552919/kualitas.masih.jadi.persoalan.utama&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-4640626069316750951?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/4640626069316750951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=4640626069316750951' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4640626069316750951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4640626069316750951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/12/kualitas-masih-jadi-persoalan-utama.html' title='Kualitas Masih Jadi Persoalan Utama'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-5218000878857289707</id><published>2010-12-06T16:43:00.001+07:00</published><updated>2010-12-06T16:43:34.775+07:00</updated><title type='text'>Parah, 6 dari 10 Sekolah Tilap Dana BOS!</title><content type='html'>&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;- Jauh sebelum Badan Pemerika Keuangan (BPK) Perwakilan Jakarta menemukan indikasi penyimpangan dan kerugian negara senilai Rp 5,7 miliar dalam pengelolaan dana BOS, BOP, dan Block Grant di enam SMPN dan 1 SD di Jakarta pada 2009, pada 2007 juga menemukan penyelewengan dana BOS yang lebih parah. Data BPK menyebutkan, terjadi penyimpangan pada 2.054 sekolah dari 3.237 sampel sekolah yang diperiksa dengan nilai penyimpangan kurang lebih Rp 28,1 miliar.&lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt;                 &lt;div&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_1.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div class="font20 c_abu pd_10"&gt;                   &lt;strong&gt;Artinya, enam dari sepuluh sekolah melakukan penyimpangan pengelolaan dana BOS pada tahun 2007 dengan rata-rata penyimpangan sebesar Rp 13,6 juta. &lt;/strong&gt;                 &lt;/div&gt;&lt;div class="font12 pl_10 c_abu"&gt;-- Febri Hendri&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_2.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;               &lt;/div&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Artinya, terdapat enam dari sepuluh sekolah melakukan penyimpangan pengelolaan dana BOS pada tahun 2007 dengan rata-rata penyimpangan sebesar Rp 13,6 juta,&amp;quot; kata Febri Hendri, peneliti senior Indonesian Corruption Watch (ICW), di kantor Kementrian Pendidikan Nasional di Jakarta, Senin (6/12/2010).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diberitakan sebelumnya, ICW dan Koalisi Anti Korupsi Pendidikan (KAKP), Senin (6/12/2010), mendatangi kantor Kementrian Pendidikan Nasional untuk menyerahkan salinan putusan KIP (Komisioner Informasi Pusat) dan audit dari BPK (Badan Pemeriksaan Keuangan) Perwakilan Jakarta. Kedatangan itu untuk menyampaikan menyerahkan salinan putusan KIP dan temuan BPK terhadap 6 SMPN dan SDN berupa kerugian sebesar Rp 5,7 miliar karena penyelewengan pengelolaan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Operasional Pendidikan (BOP), serta &lt;em&gt;block grant &lt;/em&gt;Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Febri mengatakan, penyimpangan dana bantuan operasional sekolah (BOS) di tingkat sekolah disebabkan rendahnya transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi warga atas pengelolaannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Pengelolaan dana BOS selama ini cenderung tertutup dan tidak mengikuti panduan pengelolaan dana BOS yang telah dibuat Kemdiknas,&amp;quot; papar Febri.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;	                                       	                         &lt;div&gt;                              &lt;div class="left c_abu w125 font11"&gt;                                                &lt;/div&gt;                                             &lt;div class="font12 left w320" align="center"&gt;                               &lt;/div&gt;                                               &lt;div class="right c_abu w125 font11" align="right"&gt;                                                &lt;/div&gt;                                           &lt;/div&gt;                                                   &lt;span class="left"&gt;                 Penulis: Natalia Ririh                                    |                                    Editor: Latief&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/06/16021539/Parah..6.dari.10.Sekolah.Tilap.Dana.BOS"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/06/16021539/Parah..6.dari.10.Sekolah.Tilap.Dana.BOS&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/span&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-5218000878857289707?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/5218000878857289707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=5218000878857289707' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5218000878857289707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5218000878857289707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/12/parah-6-dari-10-sekolah-tilap-dana-bos.html' title='Parah, 6 dari 10 Sekolah Tilap Dana BOS!'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-1573841593201728601</id><published>2010-11-28T20:08:00.001+07:00</published><updated>2010-11-28T20:08:29.570+07:00</updated><title type='text'>Bangkit Setelah PHK (PENDIDIKAN HIDUP)</title><content type='html'>&lt;div class="img620 pt_10"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/11/28/4088814p.jpg" width="431" height="288"&gt;&lt;/div&gt; 					   &lt;div class="font10 c_abu " align="right"&gt;KO M PA S / P R I YO M B O D O&lt;/div&gt;&lt;div class="c_abu font11 pt_5"&gt;Erick  Kadarman (tengah) terjun langsung membantu karyawannya membuat roti di  dapur produksi miliknya di Kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Kamis  (25/11). Erick memulai bisnis burger dengan label Blenger Burger setelah  mengalami pemutusan hubungan kerja pada 2004.&lt;/div&gt;                 						 				&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Lusiana Indriasari &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak  krisis ekonomi melanda dunia belakangan ini, beberapa perusahaan  melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawannya. Mereka yang  semula hidup mapan tiba-tiba harus memulai segala sesuatunya dari bawah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sudah  hampir satu bulan ini, Hendra (41) lebih banyak berada di rumah. Ayah  dua anak yang tinggal di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan, itu baru  saja kehilangan pekerjaannya sebagai pengawas bidang pemeliharaan  alat-alat berat di sebuah perusahaan pengeboran minyak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hendra  tidak pernah menyangka tuntutan kenaikan gaji yang ia ajukan bersama  teman-temannya berbuntut pada pemecatan. Padahal, ia sudah bekerja lebih  dari enam tahun di perusahaan asing tersebut. Ia tidak boleh lagi  bekerja setelah statusnya sebagai pekerja kontrak dicabut oleh manajemen  perusahaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Saya menuntut perbaikan kesejahteraan karena selama  enam tahun ini gaji kami sebagai pekerja lapangan tidak naik-naik,"  tutur Hendra yang sebelumnya mendapat gaji sekitar Rp 5 juta per bulan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kebutuhan  hidup yang terus meningkat tanpa diimbangi pemasukan yang cukup membuat  hidup Hendra semakin mepet. Dalam sekejap ia kehilangan satu-satunya  penghasilan untuk menopang ekonomi rumah tangganya. Istrinya tidak  bekerja, sementara kedua anaknya tentu membutuhkan biaya pendidikan yang  tidak sedikit. Belum lagi ia masih harus membantu ibunya yang tinggal  di kota lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ekonomi rumah tangga Tri Handini (40) juga goyang  ketika ia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai marketing perusahaan  informasi dan teknologi (IT) di Jakarta. Maklum saja, gajinya selama ini  menyumbang separuh dari total penghasilan rumah tangga yang ia  kumpulkan bersama suaminya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perempuan yang akrab dipanggil Tuti  ini terpaksa mengundurkan diri dari perusahaannya tahun 2009 lalu karena  perusahaan tempat ia bekerja bermasalah. Sebelum mundur, ia dan 10  teman-temannya sempat dirumahkan hanya dengan menerima separuh gaji.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Saya  mundur karena percuma bertahan. Perusahaan tidak punya itikad baik  untuk membayar karyawannya. Jangankan pesangon, uang Jamsostek yang  dipotong dari gaji kami pun tidak dibayarkan," kata Tuti yang lalu  membuka usaha aksesori pakaian dan mukena.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Harga diri&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi  laki-laki dengan embel-embel status kepala rumah tangga, kehilangan  pekerjaan tidak hanya berarti kehilangan penghasilan, tetapi juga  berimbas pada runtuhnya harga diri dan rasa percaya diri. Setidaknya  itulah yang dirasakan Hendra ketika tidak lagi bekerja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Agar bisa  tetap menghidupi keluarga sekaligus menyelamatkan harga dirinya, Hendra  rela bekerja apa saja. Ia memilih untuk mencari pekerjaan baru sambil  bekerja seadanya sebagai sopir mobil sewaan. Meski penghasilannya tidak  tetap, hanya mendapat Rp 100.000 sekali jalan, Hendra sudah bersyukur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Setidaknya  saya masih bisa memberi makan dan menyisihkan untuk uang jajan anak,"  tutur Hendra. Ia kini sudah menerima panggilan kerja di beberapa tempat  di seputaran Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Erick Kadarman (38) juga merasakan hal yang  sama. Sebagai kepala rumah tangga, ketika ekonomi keluarganya anjlok  akibat PHK, ia menyimpan perasaan bersalah, terutama kepada anaknya.  "Hati seperti diiris-iris melihat anak meminta sesuatu, tetapi saya  tidak bisa memberikan," tutur Erick.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Agar tetap bisa menghidupi  keluarga sekaligus menyelamatkan harga dirinya, Erick rela bekerja apa  saja untuk menambah pemasukan rumah tangga ketika perusahaan tempat ia  bekerja di Jakarta mulai goyah. "Saya harus menyiapkan sekoci baru  sebelum 'kapal' yang saya tumpangi benar-benar tenggelam," kenang Erick.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sambil  tetap bekerja di perusahaan IT yang sudah digelutinya selama dua tahun,  Erick juga berjualan pakaian. Baju dan celana yang ia beli dari Pasar  Tanah Abang itu ia titipkan ke kantor-kantor temannya. Ternyata hasilnya  lumayan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari situlah Erick mulai menimbang-nimbang apakah akan  mencari tempat kerja baru atau banting setir merintis bisnis apabila ia  benar-benar di PHK. Dan, pilihannya jatuh pada yang terakhir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan  modal tabungan Rp 7 juta, Erick mencoba berjualan burger di gerobak  kaki lima di Jalan Lamandau, Jakarta Selatan, sambil masih tetap  bekerja. Karena minim modal, awalnya Erick harus mengerjakan segala  sesuatunya sendirian dibantu sang istri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadilah pagi hingga sore  hari Erick bekerja di kantor dan malamnya ia sudah siap di pinggir jalan  untuk memasak burger. Karena lokasi jualannya merupakan tempat  nongkrong anak muda, Erick membuka gerainya hingga pukul 12.00 malam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pulang  dari berjualan ia masih harus belanja sayuran ke pasar, lalu mengolah  daging burger di dapur rumahnya. Seluruh pekerjaan baru selesai sekitar  pukul 04.00 pagi. Praktis Erick hanya punya waktu sekitar 2-3 jam untuk  tidur sebelum ia berangkat lagi ke kantor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hasil kerja keras Erick  berbuah nikmat. Bisnis burger yang ia beri nama Burger Blenger ini  laris dilirik pembeli. Dalam waktu empat bulan, ia sudah bisa  mengantongi keuntungan sekitar Rp 4 juta per bulan, sama dengan gaji  yang ia peroleh dari perusahaan IT yang memecatnya.&lt;/p&gt;Setelah lebih  dari delapan tahun berjalan, usaha burger yang dirintisnya semakin besar  dan sudah memiliki empat outlet dan satu departemen pesan antar. Dalam  satu hari, ia bisa menjual rata-rata 6.500 burger, dengan omzet sekitar  Rp 50 juta per bulan.&lt;br&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/11/28/03242348/bangkit.setelah.phk"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/11/28/03242348/bangkit.setelah.phk&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-1573841593201728601?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/1573841593201728601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=1573841593201728601' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/1573841593201728601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/1573841593201728601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/11/bangkit-setelah-phk-pendidikan-hidup.html' title='Bangkit Setelah PHK (PENDIDIKAN HIDUP)'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-3859951571210560788</id><published>2010-11-28T20:06:00.001+07:00</published><updated>2010-11-28T20:06:10.254+07:00</updated><title type='text'>Menjalani Kehidupan Setelah Tak Muda Lagi (Psikologi pendidikan)</title><content type='html'>&lt;div class="judul_artikel"&gt; &lt;strong&gt;Agustine Dwiputri&lt;/strong&gt; Psikolog&lt;/div&gt;&lt;br&gt; 					                    						 				&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Saya  pria umur 41 tahun, berkeluarga, 2 anak, dan sudah 12 tahun ini bekerja  di bank dengan pendidikan terakhir S-2. Karena senang dengan dunia  pendidikan, saya menyempatkan diri menjadi dosen honorer di dua kampus,  untuk kelas malam atau akhir pekan. Dalam seminggu, saya menyempatkan  diri mengajar di kampus tersebut. Kebayang capek, kan?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat ini  keinginan saya adalah mengulang lagi pendidikan S-2 di kampus ternama di  Depok dengan biaya yang menurut saya tidak murah. Atas keinginan itu,  saya selalu bertanya kepada diri sendiri, apakah niat saya untuk kuliah  lagi merupakan hal aneh? Karena, menurut teman-teman, kalau punya uang,  lebih baik uang itu diinvestasikan dalam bentuk tanah, kendaraan, atau  rumah, tetapi kalau saya malahan untuk kuliah. Selain itu, mengingat  usia yang tidak muda lagi, apakah niat kuliah tersebut merupakan suatu  hal yang kurang berguna?" &lt;strong&gt;(T di Jakarta)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelum  menjawab pertanyaan Bapak T, saya akan menguraikan mengenai masa dewasa  madya, suatu masa yang biasanya antara usia 40 tahun hingga 59 tahun,  tahap yang sedang Bapak masuki. Pada masa ini, seseorang memang sudah  tak dapat dikatakan belia lagi, tetapi kebanyakan tetap berada dalam  kondisi fisik, kognisi, dan emosi yang baik. Mereka biasanya punya  tanggung jawab berat dan berbagai peran dalam kehidupannya, tetapi  merasa mampu untuk menanganinya. Biasanya merupakan masa untuk melakukan  evaluasi diri dan mengambil keputusan untuk sisa kehidupannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Perkembangan fisik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ahli psikologi perkembangan, Papalia, Olds, dan Feldman (2008) mengatakan bahwa pada masa ini:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;—  meski terjadi perubahan-perubahan fisiologis akibat penuaan dan faktor  genetis, tingkah laku dan gaya hidup dewasa madya dapat memengaruhi  kemunculan dan peningkatannya. Makin sehat gaya hidup dan tingkah laku  mereka, makin kecil perubahan yang dialami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;— kebanyakan dapat  mengompensasi penurunan-penurunan minor yang bertahap dalam kemampuan  sensoris dan psikomotor, termasuk fungsi penglihatan, kehilangan daya  tahan tubuh, atau menurunnya kepadatan tulang dan kapasitas utama  seseorang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Perkembangan kognisi/pemikiran&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;—  Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan mental dasar kebanyakan mencapai  puncaknya pada masa ini. Kemampuan intelegensi cair menurun lebih cepat  daripada intelegensi terkristalisasi. Yang dimaksud dengan intelegensi  cair adalah tipe intelegensi yang diterapkan pada permasalahan baru, tak  dipengaruhi oleh pendidikan dan budaya, tapi oleh hal-hal neurologis,  penalaran, dan abstraksi. Sedangkan intelegensi terkristalisasi meliputi  kemampuan mengingat dan menggunakan informasi yang pernah dipelajari,  dipengaruhi oleh pendidikan dan latar belakang budaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;— Pemikiran  seorang dewasa yang telah matang dapat memadukan logika dengan intuisi  dan emosi, fakta dengan ide, informasi baru dan lama, interpretasi  hal-hal yang dibaca, dilihat dan didengar. Jadi mampu menyaring  berdasarkan pengalaman dan pembelajaran sebelumnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;— Kemampuan mengatasi masalah praktis tampak kuat dan mencapai puncaknya pada masa dewasa madya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;— Jika terjadi penurunan produktivitas, akan diimbangi dengan peningkatan kualitas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;—  Beberapa dewasa madya terlihat masuk kampus kembali atau terlibat dalam  pendidikan lanjutan. Hal ini dilakukan terutama untuk memperbaiki  keterampilan kerja dan pengetahuan, atau untuk persiapan pergantian  karier.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, proses menua yang sukses bukanlah sesuatu yang  berhubungan dengan penyesuaian terhadap kehilangan-kehilangan karena  usia, tetapi lebih pada pengembangan kapasitas baru dan pencarian  tantangan baru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Aktualisasi diri&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah  satu tanda manusia yang berkepribadian matang adalah mampu  mengembangkan potensi diri yang positif dan bermanfaat. Setelah  menjalani kehidupan sekian lama sebagai manusia dewasa, sangat wajar  bila seseorang telah dapat memenuhi berbagai kebutuhan dasarnya, seperti  kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Kemudian tercapai pula kebutuhan  akan rasa aman, kasih sayang, terus meningkat pada pencapaian harga diri  yang tinggi, hingga akhirnya ingin mencapai aktualisasi diri (pandangan  dari Abraham Maslow, tokoh psikologi humanistik). Perolehan aktualisasi  diri bisa berbeda-beda dan sangat bervariasi antara satu individu dan  individu lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berbicara mengenai pekerjaan bagi dewasa madya  dapat dijelaskan bahwa telah terjadi perubahan paradigma pada masa  dahulu dan sekarang. Paradigma dulu, di masa mudanya seseorang memulai  kegiatan dengan terlebih dulu menjalani pendidikan, kemudian bekerja  sampai dipensiun, dan setelah lansia dia beristirahat. Paradigma masa  kini berbeda, menjalani pendidikan, bekerja, dan beristirahat dilakukan  secara bersamaan dan berkelanjutan, baik pada masa muda, dewasa madya,  maupun usia lanjut. Yang penting adalah proporsi yang seimbang di antara  ketiga kegiatan tersebut, disesuaikan dengan tahapan kehidupannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi,  rasanya tak perlu khawatir dianggap aneh oleh orang lain karena memilih  ingin kuliah lagi. Sejauh Bapak telah cukup memenuhi kebutuhan dasar  untuk hidup sehari-hari nanti, tak ada salahnya Bapak memenuhi kebutuhan  yang lebih tinggi lagi, yaitu melanjutkan pendidikan untuk menggali  ilmu pengetahuan sekaligus bekal Bapak yang sangat menikmati kegiatan  mengajar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang Bapak inginkan adalah sesuatu yang sangat wajar  sesuai dengan perkembangan manusia pada umumnya. Secara spesifik,  memang bergantung pada kebutuhan dan nilai-nilai hidup yang dianut  setiap orang selama ini. Aktualisasi macam apa yang sesuai bagi dirinya,  akan menentukan apa yang dipilihnya untuk melanjutkan kehidupan ke masa  depan. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa manusia adalah the self determining being, makhluk yang mampu menentukan sendiri segala sesuatunya, termasuk kualitas hidupnya.&lt;/p&gt;Selamat menentukan pilihan dan menikmatinya.&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/11/28/03300622/.menjalani.kehidupan.setelah.tak.muda.lagi"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/11/28/03300622/.menjalani.kehidupan.setelah.tak.muda.lagi&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-3859951571210560788?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/3859951571210560788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=3859951571210560788' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3859951571210560788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3859951571210560788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/11/menjalani-kehidupan-setelah-tak-muda.html' title='Menjalani Kehidupan Setelah Tak Muda Lagi (Psikologi pendidikan)'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-6564680290954709077</id><published>2010-11-26T14:59:00.001+07:00</published><updated>2010-11-26T14:59:37.731+07:00</updated><title type='text'>KORUPSI 7 SEKOLAH. Kadisdik: Saya Sudah Siapkan Teguran!</title><content type='html'>&lt;font size="4"&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Inilah keanehan dunia pendidikan. Penyimpangan atawa korupsi hanya diminta mengembalikan dan seolah-olah tak ada apa-apa. Kata Kepala Dinas, &amp;quot;mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan, saya tinggal  menunggu aksi &lt;em&gt;real&lt;/em&gt;-nya saja,&amp;quot;. Statemen cam apa ini???&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;             &lt;div class="artikel"&gt;&lt;div id="foto1" class="tab_1" style="display: block;"&gt;&lt;img src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/07/27/1803585620X310.jpg" width="372" height="185"&gt;&lt;div class="font10" align="right"&gt; APRIANITA GANADI&lt;/div&gt;Kadisdik  DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto menyatakan sedang melakukan proses  verbal untuk surat teguran kepada kepala-kepala sekolah terkait temuan  Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Jakarta berupa indikasi dan  potensi kerugian negara/daerah sedikitnya Rp 5,7 miliar di 7 sekolah di  DKI Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_5"&gt;                              &lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/26/12074662/Kerja.Inspektorat.Provinsi.DKI.Diragukan"&gt;Kerja Inspektorat Provinsi DKI Diragukan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/26/11140364/ICW:.Rp.5.7.miliar..Angka.yang.Fantastis"&gt;ICW: Rp 5,7 miliar, Angka yang Fantastis&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/26/1056552/7.Sekolah.Rugikan.Negara.Rp.5.7.Miliar."&gt;7 Sekolah Rugikan Negara Rp 5,7 Miliar &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt;                            &lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;-  Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto  menyatakan sedang melakukan proses verbal untuk surat teguran kepada  kepala-kepala sekolah terkait temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)  Perwakilan Jakarta berupa indikasi dan potensi kerugian negara/daerah  sedikitnya Rp 5,7 miliar dalam pengelolaan dana BOS, BOP, dan Block  Grant RSBI di tujuh sekolah di DKI Jakarta. Ketujuh sekolah itu adalah  SMPN 30, SMPN 84, SMPN 95, SMPN 28, SMPN 190, SMPN 67 dan SDN 012 RSBI  Rawamangun Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt;                 &lt;div&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_1.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div class="font20 c_abu pd_10"&gt;                   &lt;strong&gt;Mereka membuat pernyataan akan mengembalikan  dan pada dasarnya mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan, saya  tinggal menunggu aksi real-nya saja. &lt;/strong&gt;                 &lt;/div&gt;&lt;div class="font12 pl_10 c_abu"&gt;-- Taufik Yudi Mulyanto &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_2.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;               &lt;/div&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Secara formal belum, tapi bentuk sangsinya  teguran dan pengembalian uang atau alat yang dibeli. Mereka (kepala  sekolah) itu sudah membuat pernyataan akan mengembalikan dan pada  dasarnya mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan, saya tinggal  menunggu aksi &lt;em&gt;real&lt;/em&gt;-nya saja,&amp;quot; ujar Taufik kepada &lt;em&gt;Kompas.com&lt;/em&gt;, Jumat (26/11/2010).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kadisdik menambahkan, sebagian upaya kepala sekolah sudah pada porsinya dan &lt;em&gt;clear&lt;/em&gt;.  Solusinya, kata Kadisdik, sesuai ketentuan adalah kelebihan dana dari  honor pengajar yang diambil tanpa pendelegasian oleh TKBM, harus  dikembalikan ke sekolah terbuka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Kepsek-kepsek itu sudah diundang  untuk menjelaskan lebih formal lagi dan membuat action plan mereka  dengan mengembalikan uang ke negara atau alat-alat yang sudah dibeli dan  ada pada mereka segra dikembalikan ke sekolah induk,&amp;quot; tambah Taufik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diberitakan  sebelumnya, BPK Perwakilan Jakarta menemukan indikasi dan potensi  kerugian negara dalam pengelolaan dana BOS, BOP, dan Block Grant RSBI di  tujuh sekolah, yaitu SMPN 30, SMPN 84, SMPN 95, SMPN 28, SMPN 190, SMPN  67, dan SDN RSBI Rawamangun 12 Jakarta.  Kerugian negara dalam  pengelolaan dana BOS dan BOP di SMPN Induk ditaksir mencapai Rp 1,1  miliar lebih, sementara di SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi sebesar Rp 4,5  miliar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Ini angka yang sangat fantastis dan di luar dugaan kami,  bahkan mungkin bisa lebih dari ini. Khusus di sekolah-sekolah RSBI, dana  yang paling banyak dikorupsi itu adalah dana yang berasal dari orangtua  murid, seperti kasus di SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi,&amp;quot; ujar peneliti  senior ICW Febri Hendri kepada &lt;em&gt;Kompas.com&lt;/em&gt;, Jumat (26/11/2010).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/26/13084578/Kadisdik.Saya.Sudah.Siapkan.Teguran"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/26/13084578/Kadisdik.Saya.Sudah.Siapkan.Teguran&lt;/a&gt;.&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-6564680290954709077?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/6564680290954709077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=6564680290954709077' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6564680290954709077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6564680290954709077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/11/korupsi-7-sekolah-kadisdik-saya-sudah.html' title='KORUPSI 7 SEKOLAH. Kadisdik: Saya Sudah Siapkan Teguran!'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-7825780679885431683</id><published>2010-11-26T07:27:00.001+07:00</published><updated>2010-11-26T07:27:24.507+07:00</updated><title type='text'>Mengembalikan Kehormatan Guru</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt; &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh &lt;strong&gt;Doni Koesoema A&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Tak pernah ada dalam sejarah bangsa ini profesi guru begitu terpuruk di mata masyarakat seperti saat ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seringnya  guru mogok mengajar karena berdemonstrasi, citra guru yang rusak karena  tuntutan ujian nasional, dan kebijakan pendidikan yang abai terhadap  pengembangan profesional guru hanya beberapa kenyataan yang menunjukkan  betapa kehormatan guru telah hilang. Mengembalikan kehormatan guru tak  lagi bisa ditawar untuk menyelamatkan masa depan negeri ini. Tugas itu  tak ringan dan memerlukan kerja sama banyak pihak sesuai cakupan  tanggung jawab mereka. Hanya dengan pendekatan utuh dan sinergilah, kita  dapat mengembalikan kehormatan guru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tiga sisi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Persoalan  guru bisa diurai dengan melihatnya dari tiga sudut pandang: guru,  negara, dan masyarakat. Pertama, persoalan yang penting direfleksikan  oleh guru adalah bagaimana mereka tetap memiliki inspirasi pribadi yang  memberi landasan nilai, makna bagi perkembangan dirinya sebagai guru.  Inspirasi adalah sumber kekuatan, berupa nilai, prinsip pendidikan, dan  tujuan hidup yang diyakini sebagai dasar bagi pengembangan panggilan  pribadinya sebagai guru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memiliki inspirasi yang kuat sebagai  guru berarti bahwa di tengah menumpuknya tugas rutin, guru tak pernah  boleh kehilangan idealismenya sebagai pembelajar. Rutinitas dan  keteraturan adalah ciri pendidikan formal. Persoalan seperti tugas  administrasi, membuat silabus, satuan pelajaran adalah bagian dari  kinerja guru. Oleh karena itu, beres secara administratif saja belum  cukup. Lebih dari itu, mampu merefleksikan dasar terdalam panggilan  sebagai guru bisa menjadi sumber rohani yang memungkinkan guru tetap  menemukan makna di tengah tantangan dan kesulitan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memiliki  inspirasi sangat penting sebab dengan itu, guru dapat mempertahankan  kebebasan dan kemerdekaan sebagai pengajar. Kebebasan adalah dasar dari  pengembangan bermutu setiap profesi. Jika inspirasi tak ada, guru bisa  kering nilai dan tanpa makna menjalani panggilan sebagai guru. Bahkan,  guru bisa terpuruk sekadar jadi tukang yang melakukan sesuatu karena  disuruh atau diperintah orang lain, atau sekadar taat aturan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tentu  guru tak bisa bertindak seenak sendiri tanpa aturan yang sesuai dengan  prosedur. Negara, dalam hal ini pemerintah, telah memberi rambu hukum  dan peraturan yang membatasi profesi guru. Mengembalikan kehormatan guru  tak mungkin terjadi secara efektif dan sistematis tanpa campur tangan  negara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ruang kebebasan guru&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh  karena itu, persoalan kedua yang mendesak dibuat oleh pemerintah untuk  mengembalikan kehormatan guru adalah diberikannya ruang bagi guru untuk  melaksanakan kebebasan profesionalnya sebagai guru dan pendidik. Ruang  ini selama ini telah direnggut oleh UN. Pendidikan yang merupakan  komunikasi antara anak didik dan guru jadi sebuah komunikasi teknis dan  instrumental karena tak ada lagi keautentikan suasana pembelajaran yang  terenggut karena tuntutan UN. Kehormatan guru tak akan pulih dengan  efektif jika polemik seputar kebijakan UN tidak diselesaikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Negara  memang telah memberi peraturan dan rambu untuk menyeleksi siapa saja  yang layak dan pantas mengajar di depan kelas melalui peraturan  perundang-undangan, terutama lewat sertifikasi. Namun, perlindungan atas  profesi guru—negeri dan swasta—belum terjadi secara sinergis.  Melindungi profesi guru dari terabasan berbagai kepentingan di luar  dunia pendidikan, yang sering kali mempolitisasi guru, adalah hal yang  mendesak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal ketiga yang bisa membantu guru menemukan kembali  kehormatan adalah tanggung jawab masyarakat sebagai rekan kerja utama  para guru di sekolah, terutama orangtua. Mau tak mau, harus diakui,  sekolah kita banyak diintervensi oleh orangtua dan masyarakat yang  arogan, yang menganggap sekolah mesin produksi untuk memintarkan anak.  Bahkan, ada yang sekadar menganggap sekolah lembaga pemberi ijazah.  Mental dagang itu ada di masyarakat kita, dan guru harus berhadapan  dengan kultur yang tak kondusif ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mental dagang seperti tak  mau terlibat dengan pendidikan anak karena sudah bayar mahal sekolah  serta mental korup yang ada dengan membeli nilai atau ijazah adalah hal  yang merugikan anak dan melecehkan martabat guru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, tak  jarang juga mental dagang itu ada dalam diri guru sendiri. Gejala jual  beli soal dan jawaban ujian, lobi orangtua untuk memperoleh nilai baik  untuk anaknya dengan cara "membeli" guru pun, sering juga tak disadari  guru sebagai bagian yang sesungguhnya merusak martabatnya sebagai guru.  Masyarakat perlu sadar bahwa kehormatan guru bisa pulih jika masyarakat  membantu menciptakan kondisi yang baik bagi pertumbuhan guru dan anak  didik. Tanpa bantuan masyarakat, pendidikan di sekolah tak akan  berkesinambungan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengembalikan kehormatan guru adalah hal  mendesak. Tindakan yang bisa dibuat mesti sinergis dan simultan,  serentak bersama-sama tiga pihak yang berkepentingan dengan pulihnya  kehormatan dan martabat guru itu sendiri: guru, masyarakat, dan negara.  Hari Guru Nasional yang kita peringati kemarin merupakan momentum untuk  menyadari kembali, kehormatan guru harus segera dipulihkan demi  perbaikan pendidikan di negeri ini. -- Doni Koesoema A Peneliti dan Konsultan Pendidikan, Alumnus Boston College Lynch School of Education, AS&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/11/26/0342380/mengembalikan.kehormatan.guru"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/11/26/0342380/mengembalikan.kehormatan.guru&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/em&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-7825780679885431683?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/7825780679885431683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=7825780679885431683' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/7825780679885431683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/7825780679885431683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/11/mengembalikan-kehormatan-guru.html' title='Mengembalikan Kehormatan Guru'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-8545757885103724469</id><published>2010-11-24T06:44:00.001+07:00</published><updated>2010-11-24T06:44:31.140+07:00</updated><title type='text'>Sertifikasi Guru</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Oleh &lt;strong&gt;Waras Kamdi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Fenomena  kecurangan dalam pelaksanaan Sertifikasi Guru Dalam-Jabatan lewat  Portofolio  kian menguak apa yang sesungguhnya telah jadi rahasia umum. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terungkapnya  kasus plagiasi 1.700 guru di Riau menunjukkan sebagian kecil dari  kecurangan dalam memenuhi portofolio sertifikasi guru. Banyak masyarakat  yang merisaukan aneka pelanggaran itu, tetapi program sertifikasi   terus saja melaju atas nama pemenuhan amanat peraturan  perundang-undangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kerisauan juga berkembang di kalangan  pimpinan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK), terutama yang  diserahi tugas melaksanakan sertifikasi tersebut. Dalam lima tahun  terakhir (2006-2009), lebih dari 500.000 guru telah diberi sertifikat  oleh LPTK yang ditunjuk pemerintah (Kompas, 1/11). Namun,  hingga detik  ini belum ada kabar menggembirakan adanya peningkatan kinerja guru  bersertifikat pendidik itu. Malahan, sertifikasi telah  sempurna  menyemaikan dan menyuburkan budaya jalan pintas yang amat mencederai  sosok profesional guru itu sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Publik hanya tahu  guru-guru  bersertifikat itu buah karya LPTK. Ketika mereka gagal mewujudkan impian  publik akan peningkatan mutu pendidikan di Tanah Air,  LPTK-lah yang  pertama akan ditagih akuntabilitasnya. Ini sungguh tagihan yang amat  berat bagi LPTK yang terlibat dalam prosesi sertifikasi guru meskipun  sesungguhnya sejak awal sejumlah pimpinan LPTK skeptis mengenai  sertifikasi  massal itu akan membuahkan hasil seperti  diidealkan, yakni  peningkatan mutu pendidikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Alih-alih, menuai kemaslahatan,  kita  lebih banyak menuai kemudaratan. Angka Rp 60 triliun bukan angka  kecil untuk peningkatan guru (Kompas, 1/11).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Potensi "GiGo"&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jauh  lebih penting dari soal pelanggaran adalah menyempurnakan perangkat dan  sistem sertifikasi  sungguh perlu dilakukan. Prosesi uji kompetensi   yang dilakukan empat tahun terakhir  banyak mengandung kelemahan,  terutama instrumen dan teknik pengumpulan data. Instrumen penilaian yang  menggunakan ukuran persepsional sangat berpotensi menghasilkan data dan  informasi yang keliru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian pula teknik penilaian  yang asal menelurkan angka juga berpotensi menghasilkan data penilaian yang keliru.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Instrumen  penilaian yang mengandalkan persepsi penilai, seperti pada penilaian  kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional  yang dipercayakan kepada kepala sekolah dan (pengawas), sangat sulit  dipercaya dapat menghasilkan data  valid. Data penilaian terhadap  variabel ini menunjukkan nyaris semua kandidat mendapatkan skor sempurna  karena kepala sekolah dan pemda juga merupakan  pihak yang  berkepentingan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian juga instrumen penilaian kompetensi  profesional dan kompetensi pedagogis yang mengandalkan penilaian  persepsional terhadap RPP dan sertifikat tanda mengikuti diklat dan  aneka macam kegiatan lain juga tak cukup menggambarkan pengembangan  profesional. Skor  pengukuran dengan instrumen serba persepsional itu  sesungguhnya tak mampu membedakan antara guru kompeten dan tidak  kompeten. Artinya, kesimpulan atas kelulusan guru  juga berpotensi  mengandung kesalahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kekeliruan semacam ini dikenal dengan  istilah GiGo (garbage in garbage out),  masuk sampah,  keluar juga  sampah. Apalagi pola penilaian kompetensi dengan menggunakan portofolio  yang menyerupai borang ini telah dinodai aneka kecurangan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt; Portofolio berbasis kelas&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya  menggunakan portofolio untuk uji kinerja guru dalam rangka sertifikasi  adalah hal biasa. Bahkan portofolio diyakini banyak ahli merupakan  cara   paling andal untuk mengukur kinerja. Ada dua hal inti yang dilupakan   yang membuat portofolio  dimaksud jadi sosok lain yang mencederai  portofolio itu sendiri. Pertama, diabaikannya unsur analisis dan  refleksi kinerja yang mestinya ditampilkan   penyusun. Kedua, tak  mengukur kinerja, melainkan hal-hal yang bersifat instrumental-input  yang masih diduga memengaruhi kinerja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sertifikasi guru  seharusnya diletakkan dalam bingkai pengembangan profesionalitas  pendidik dan bukan sekadar alat  pemenuhan tuntutan yuridis formal yang  penuh  aroma politik praktis. Proses sertifikasi  tak boleh terjebak  pada justifikasi lulus-tidak lulus saja,  tetapi harus jadi sebuah  prosesi yang fungsional- akademis yang memberikan pengalaman belajar  bermakna bagi guru di dalam meningkatkan mutu pembelajaran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Proses  sertifikasi guru yang demikian ini menempatkan penilaian sebagai bagian  terintegrasi dalam proses pengembangan profesi. Portofolio itu  merupakan analisis reflektif tentang praktik pembelajaran yang dilakukan  guru dan dampaknya pada belajar siswa. Jadi, karakteristik khas  portofolio berbasis kelas  adalah analitik-reflektif.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Portofolio  berupa laporan analisis (semacam evaluasi sumatif) terhadap kerja  profesional guru mengenai segala keputusan tindakan pembelajaran yang  telah dilakukan selama rentang waktu tertentu dalam menjalankan tugas  sebagai pendidik. Penilaian portofolio dapat menggunakan instrumen  berupa rubrik, dengan skala pemeringkatan tertentu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semangat yang  dibawa adalah pemberdayaan guru. Dengan mekanisme penilaian portofolio  ini, guru akan mengelola pembelajarannya dengan kerangka pikir  pengembangan, dan dengan demikian berdampak pada proses pertumbuhan  profesi secara berkelanjutan karena siklus kinerja yang  analitik-reflektif  akan menjamin pertumbuhan profesional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Portofolio  berbasis kelas juga tak bias kota, yang konon banyak menyediakan  fasilitas seminar dan pelatihan. Untuk menyusun portofolio yang baik,  guru cukup berkutat dengan urusan pemantapan pembelajaran. Dengan format  portofolio berbasis kelas, di pelosok mana pun guru menjalankan tugas,  mereka bisa membuat portofolio  terbaik dan "mengujikan" kompetensi  dirinya untuk mendapatkan sertifikat pendidik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kompetensi  pendidik merupakan bangun  utuh antara domain proses berpikir dan domain  tindak pembelajaran. Artinya, perangkat uji kompetensi juga  satu  kesatuan bangun  utuh yang mampu mengukur domain berpikir dan domain  tindakan guru. Portofolio harus mampu jadi media pengukuhan profesi guru  secara konsisten (berkelanjutan). Sebagai perangkat penilaian kinerja,  portofolio harus mampu mengungkap pengetahuan teoretik dan konsepsi  (keyakinan) guru, pikiran dan keputusan guru yang menggambarkan bangun  (domain) proses berpikir guru, serta perwujudannya dalam bentuk tindak  pembelajaran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bangun proses berpikir guru ini sesungguhnya  menunjukkan epistemologi dan paradigma belajar dan pembelajaran yang  dibangun  guru lewat proses resiprokal antara pengalaman berpikir dan  bertindak di sepanjang perjalanan karier sebagai agen pembelajaran.&lt;/p&gt; Waras Kamdi &lt;em&gt;Ketua LP3 Universitas Negeri Malang; Pegiat Kelompok Peduli Pendidikan Guru&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/11/24/02560687/sertifikasi.guru"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/11/24/02560687/sertifikasi.guru&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/em&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-8545757885103724469?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/8545757885103724469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=8545757885103724469' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8545757885103724469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8545757885103724469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/11/sertifikasi-guru.html' title='Sertifikasi Guru'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-4089299028919596401</id><published>2010-11-24T06:42:00.001+07:00</published><updated>2010-11-24T06:42:20.919+07:00</updated><title type='text'>Guru PNS di Sekolah Swasta Mulai Ditarik</title><content type='html'>&lt;p&gt;Jakarta, Kompas - Guru-guru berstatus pegawai  negeri sipil yang diperbantukan di sekolah-sekolah swasta mulai ditarik   untuk mengajar di sekolah-sekolah negeri. Padahal, kehadiran guru-guru  tersebut  masih dibutuhkan sekolah-sekolah swasta yang  keuangannya  terbatas. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Informasi yang beredar di kalangan sekolah  swasta, dinas pendidikan di daerah mulai menginstruksikan agar   guru-guru pegawai negeri sipil (PNS) yang diperbantukan di sekolah  swasta segera ditarik dan berdinas di sekolah negeri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sulistiyo,  Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), di  Jakarta, Selasa (23/11), mengatakan, beberapa tahun lalu memang ada  surat edaran dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara yang intinya  melarang penempatan guru PNS di sekolah swasta. "PGRI sudah lama  menolak kebijakan itu, tetapi tidak ada respons. Sejumlah pemerintah  daerah ada yang mengikuti, ada yang masih membiarkan," ujar Sulistiyo.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut  Sulistiyo, sekolah-sekolah swasta, terutama SD dan SMP swasta kecil dan  keuangannya terbatas, tidak bisa sepenuhnya mengandalkan dana bantuan  operasional sekolah (BOS) dari pemerintah. Adanya bantuan guru PNS di  sekolah swasta mampu mengurangi biaya operasional sekolah sehingga  bisa  menggratiskan biaya pendidikan dasar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;E  Baskoro Poedjinoegroho  dari Tim Advokasi Keadilan Pelayanan Pendidikan Dasar untuk Anak Bangsa  mengatakan, kebijakan pemerintah yang menarik guru-guru PNS di sekolah  swasta itu merupakan bukti perlakuan diskriminatif pemerintah kepada  sekolah swasta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Padahal, institusi pendidikan swasta yang tidak  semuanya mampu itu juga sama-sama melayani anak bangsa yang wajib  dibiayai pemerintah, terutama yang masuk dalam usia wajib belajar," kata  Baskoro.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sikap pemerintah itu berdasarkan ketentuan dalam  Undang-Undang  Sistem Pendidikan Nasional yang dengan tegas mengatur  bahwa sekolah negeri sepenuhnya tanggung jawab pemerintah. Adapun  sekolah yang didirikan masyarakat sepenuhnya harus jadi tanggung jawab  masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Untuk sekolah swasta yang keuangannya mapan,   penarikan guru PNS ini tak menjadi masalah. Namun, bagi sekolah swasta  yang keuangannya kurang mapan, kebijakan ini menjadi  persoalan besar.  Bahkan, bisa menyebabkan kekurangan guru," kata Baskoro.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Diimbau pindah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Warnoto,  Kepala SMAN 18 Jakarta, mengatakan, dirinya sejak 1994 menjadi guru   yang diperbantukan di SMA PGRI 12 Jakarta. Namun, dalam dua-tiga tahun  belakangan, para guru PNS yang ada di sekolah swasta  diimbau untuk  pindah ke sekolah negeri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Untuk guru PNS di kota tidak mudah  mencari sekolah negeri yang bersedia menerima. Sebab, sekolah-sekolah  negeri di kota umumnya sudah memiliki guru yang cukup," kata Warnoto.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rosmini  Lede, guru PNS yang diperbantukan di SD Alkhairaat di Poso, Sulawesi  Tengah, mengatakan, belum ada informasi bahwa guru-guru PNS di sekolah  swasta akan dikembalikan ke negeri. "Di SD swasta tempat saya mengajar,  sebagian besar justru guru PNS," kata Rosmini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;SD Alkhairaat  merupakan sekolah swasta yang kecil dan kondisi bangunan sekolahnya  sudah tidak layak. Sekolah ini tidak memungut bayaran dari siswa.  Keberadaan guru PNS dari pemerintah membantu yayasan untuk bisa  menjalankan pendidikan dasar gratis yang dibutuhkan masyarakat sekitar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kementerian Pendidikan Nasional melihat ada masalah dalam distribusi guru. Sebanyak   68 persen sekolah di kota kelebihan guru. Adapun  37 persen sekolah di  desa dan 66 persen sekolah di daerah terpencil kekurangan guru. (ELN)&lt;/p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/11/24/03421047/guru.pns.di.sekolah.swasta.mulai.ditarik"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/11/24/03421047/guru.pns.di.sekolah.swasta.mulai.ditarik&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-4089299028919596401?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/4089299028919596401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=4089299028919596401' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4089299028919596401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4089299028919596401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/11/guru-pns-di-sekolah-swasta-mulai.html' title='Guru PNS di Sekolah Swasta Mulai Ditarik'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-6131393010049326450</id><published>2010-11-19T07:11:00.000+07:00</published><updated>2010-11-19T07:12:03.052+07:00</updated><title type='text'>UN Tak Multifungsi</title><content type='html'>&lt;p&gt;Jakarta, Kompas - Ujian nasional di  jenjang SMA sederajat tidak bisa multifungsi, yaitu untuk pemetaan,  kelulusan, sekaligus seleksi masuk perguruan tinggi. Justru pemerintah  diminta berbesar hati segera mengkaji kembali kebijakan ujian nasional  supaya tidak merugikan siswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kajian dari panitia Seleksi Nasional  Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2010 yang menunjukkan rendahnya  korelasi nilai ujian nasional (UN) dengan nilai SNMPTN yang rata-rata  nasional hanya 0,2 seharusnya jadi masukan bagi pemerintah dan Badan  Standar Nasional Pendidikan (BSNP) untuk tidak memaksakan pelaksanaan  UN. Perlu ada kajian serius dan jujur soal kredibilitas UN, baik dari  soal maupun pelaksanaannya di lapangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Said Hamid Hasan, ahli  evaluasi pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, yang  dihubungi dari Jakarta, Kamis (18/11), mengatakan, karena hakikat soal  UN dan SNMPTN berbeda, tentu saja korelasinya akan rendah. Karena itu,  sulit memakai hasil UN sebagai dasar seleksi masuk PTN.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kalau mau  tetap dipakai untuk seleksi, soal UN harus diubah seperti dalam SNMPTN.  Namun, apakah pemerintah siap jika nanti banyak siswa yang tidak lulus.  Sebab, pemerintah cuma fokus pada banyak siswa yang lulus. Bukan  bagaimana membenahi supaya pembelajaran di SMA/SMK membuat siswa siap  untuk kuliah atau bekerja," kata Hamid.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut dia, masukan dari  PTN itu seharusnya membuka pemikiran pemerintah yang keliru soal UN.  Tidak bisa UN bersifat multifungsi, lalu berharap mutu pendidikan  meningkat drastis. "Pelaksanaan UN itu justru menghukum anak-anak yang  tidak mendapat hak-haknya. Mereka yang mendapatkan layanan pendidikan  terbatas divonis dengan kebijakan UN yang memutuskan dia lulus atau  tidak," kata Hamid.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tujuan berbeda&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Elin  Driana, ahli evaluasi dan penelitian pendidikan, menjelaskan, validasi  sebuah tes tergantung dari tujuan dibuatnya tes itu. Menurut dia, tujuan  UN dan SNMPTN jelas berbeda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Elin, dari hasil kajian PTN  itu bisa didalami lebih jauh soal pelaksanaan UN selama ini. Jika hasil  UN memang mencerminkan kemampuan siswa sesungguhnya, siswa juga cukup  siap menghadapi tes seleksi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kita mendengar pada UN itu banyak  kecurangan. Pemerintah selalu bilang enggak, tetapi suara dari guru dan  siswa sebaliknya. Bisa jadi korelasi yang sangat rendah ini juga  mengarah pada kredibilitas UN yang masih harus dibuktikan lagi," kata  Elin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebab, pelaksanaan SNMPTN relatif jauh dari kecurangan. Masyarakat bisa menilai dan lebih percaya bahwa hasil tes SNMPTN akan lebih menggambarkan kemampuan yang sebenarnya dari siswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Erlin  menambahkan, dari kajian literatur yang dilakukannya di Amerika  Serikat, ternyata prestasi anak di sekolah lebih menggambarkan  keberhasilannya di kampus daripada hasil tes SAT (Scholastic Aptitude  Test).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Nilai sekolah itu kan bervariasi. Ada guru yang pelit  memberi nilai, ada yang royal. Tetapi, siswa yang berprestasi di sekolah  terlihat IPK-nya pada tahun pertama bagus. Kenapa tidak soal kelulusan  siswa itu diserahkan pada penilaian sekolah," kata Elin yang juga salah  satu Koordinator Education Forum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Priyo Suprobo, Rektor Institut  Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, yang juga Koordinator  Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) SNMPTN 2010, mengatakan, UN  sebenarnya tidak diperlukan untuk kelulusan siswa. Yang penting adalah  hasil UN itu diperkuat untuk memetakan kondisi sekolah-sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Yang tahu betul kemampuan siswa itu, ya guru. Bukan BSNP dan komputer. Malah lebih baik pakai ujian sekolah," ujar Priyo.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut  dia, pemerintah dan BSNP mesti berani untuk membuka ke masyarakat mana  daerah putih, hitam, atau abu-abu dari hasil UN. Sebab, nilai UN yang  tinggi masih dipertanyakan kredibilitasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Musliar Kasim, Ketua  Majelis Rektor PTN, mengatakan, kredibilitas UN memang masih menjadi  ganjalan bagi PTN untuk menerimanya sebagai bagian dari seleksi masuk.  Dia menilai, UN masih perlu ditingkatkan agar efektif dan bermanfaat. (ELN)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/11/19/03484423/.un.tak.multifungsi"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/11/19/03484423/.un.tak.multifungsi&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-6131393010049326450?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/6131393010049326450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=6131393010049326450' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6131393010049326450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6131393010049326450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/11/un-tak-multifungsi.html' title='UN Tak Multifungsi'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-1581309422221833814</id><published>2010-11-15T13:54:00.001+07:00</published><updated>2010-11-15T13:54:13.427+07:00</updated><title type='text'>Hore.. SPJ Dana BOS Terbuka bagi Publik!</title><content type='html'>&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;- Komisi Informasi Pusat (KIP) memutuskan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) beserta kuitansi di dalamnya merupakan dokumen publik. Artinya, SPJ berikut kuitansinya diputuskan terbuka dan bisa diakses oleh masyarakat yang ingin menggunakan informasi di dalam dokumen itu.&lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt;                 &lt;div&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_1.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div class="font20 c_abu pd_10"&gt;                   &lt;strong&gt;ICW mendesak agar SPJ tersebut, termasuk kuitansi penggunaan dana, dibuka kepada publik. &lt;/strong&gt;                 &lt;/div&gt;&lt;div class="font12 pl_10 c_abu"&gt;-- Ahmad&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_2.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;               &lt;/div&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Di dalam UU No 14 Tahun 2008 tentang Informasi Publik, tidak disebutkan bahwa SPJ termasuk dalam dokumen yang tertutup,&amp;quot; kata Ketua Majelis Komisioner Ahmad Alamsyah Saragih usai sidang ajudikasi, Senin (15/11/2010), di Ruang Serbaguna Kementerian Komunikasi dan Informasi, Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sidang ajudikasi yang diikuti dua anggota komisioner, yakni Dono Prasetiyo dan Abdul Rahman Ma&amp;#39;mun, tersebut mempersoalkan sengketa informasi antara Indonesia Corruption Watch (ICW) sebagai pemohon dengan 5 Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Jakarta serta Dinas Pendidikan DKI Jakarta sebagai termohon. Kelima SMP itu diantaranya SMPN 190 , SMPN 95, SMPN 84, SMPN 67 dan SMPN 28. Sengketa informasi antara pihak ICW dengan para termohon itu karena termohon tidak memperkenankan permintaan informasi mengenai SPJ penggunaan dana BOS dan BOP tahun 2007, 2008, dan 2009.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;ICW mendesak agar SPJ tersebut, termasuk kuitansi penggunaan dana, dibuka kepada publik,&amp;quot; jelas Ahmad, Ketua KIP.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut dia, contoh dokumen tertutup adalah analisis asing atau opini terhadap hal yang diperiksa. &amp;quot;Sedangkan SPJ dan kuitansi itu dokumen publik,&amp;quot; tegasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia menambahkan, SPJ dan kuitansi bisa terbuka bagi publik apabila laporan hasil pertanggungjawaban masing-masing sekolah sudah diserahkan ke legislatif. Meskipun bukan bagian dari laporan yang disampaikan ke legislatif, SPJ dan kuitansi itu bisa diambil di tempat dokumen itu berada.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Dalam kasus ini ada di masing-masing SMP dan Kepala SMP wajib mempersilakannya,&amp;quot; ujar Ahmad.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/15/13261349/Hore...SPJ.Dana.BOS.Terbuka.bagi.Publik"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/15/13261349/Hore...SPJ.Dana.BOS.Terbuka.bagi.Publik&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-1581309422221833814?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/1581309422221833814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=1581309422221833814' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/1581309422221833814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/1581309422221833814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/11/hore-spj-dana-bos-terbuka-bagi-publik.html' title='Hore.. SPJ Dana BOS Terbuka bagi Publik!'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-7127186150704212639</id><published>2010-11-14T19:54:00.001+07:00</published><updated>2010-11-14T19:54:49.187+07:00</updated><title type='text'>ICW Minta SPJ Sekolah Dibuka</title><content type='html'>&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com&lt;/strong&gt; -  Indonesia Corruption Watch mendesak Komisi Informasi Pusat menetapkan  bahwa dokumen surat pertanggungjawaban (SPJ) atas penggunaan dana  Bantuan Operasional Siswa (BOS) dan Bantuan Operasional Publik (BOP)  adalah informasi publik, dan dapat diakses publik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada Senin  esok, Majelis Komisioner KIP akan membacakan putusan sidang sengketa  informasi antara ICW sebagai pemohon dan lima kepala SMPN Induk Jakarta  dan Kepala Dinas Pendidikan Jakarta sebagai termohon.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kelima  kepala sekolah tersebut adalah kepala SMPN 67 Jakarta, Kepala SMPN 28  Jakarta, Kepala SMPN 84 Jakarta, Kepala SMPN 95 Jakarta, dan Kepala SMPN  190 Jakarta. Kelima kepala sekolah tersebut diduga melakukan tindak  pidana korupsi atas dana BOS dan BOP.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Putusan Majelis Komisioner  KIP sangat penting karena berpengaruh terhadap transparansi, akses, dan  pengawasan publik terhadap dokumen dan bukti transaksi keuangan di badan  publik,&amp;quot; kata peneliti senior ICW di kantor ICW, Jakarta, Minggu  (14/11/2010).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada proses persidangan, saksi ahli Surachmin,  mantan Komisioner Badan Pemeriksa Keuangan, telah menegaskan dokumen SPJ  dana BOS bukan dokumen rahasia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bahkan, dokumen yang belum dan  tidak diaudit harus dibuka seluas-luasnya pada publik agar masyarakat  dapat mengawasi pengelolaan keuangan sekaligus membantu pemeriksaan yang  dilakukan oleh pemeriksa internal dan eksternal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pendapat hukum  ini diperkuat saksi ahli dari BPKP, Jenri Sinaga. Jenri mengatakan,  dokumen SPJ dapat diakses publik.  Pihak termohon, selama persidangam  tidak dapat mengajukan dalil hukum atau undang-undang yang menyatakan  bahwa permintaan untuk membuka dokumen SPJ tidak dapat dikabulkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;ICW  yakin, dokumen SPJ adalah informasi publik. UU Nomor 14 Tahun 2008  tentang Keterbukaan Informasi Publik mendefinisikan informasi publik  sebagai informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau  diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara  dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan  badan publik lainnya sesuai dengan UU KIP serta informasi lain yang  berkaitan dengan kepentingan publik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pasal 17 UU KIP  mengelompokkan informasi yang dikecualikan adalah informasi yang jika  dibuka akan memiliki konsekuensi sebagai berikut: menghambat proses  hukum; mengganggu kepentingan perlindungan hak atas kekayaan intelektual  dan perlindungan dari persaingan usaha tidak sehat; membahayakan  pertahanan dan keamanan negara; mengungkapkan kekayaan alam Indonesia;  merugikan ketahanan ekonomi nasional; merugikan kepentingan hubungan  luar negeri; mengungkapkan akta otentik yang bersifat pribadi dan  kemauan terakhir ataupun wasiat seseorang; dan mengungkap rahasia  pribadi. ICW meyakini dokumen SPJ tidak termasuk yang dikecualikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dikatakan  Febri, selama ini kebocoran dan praktik korupsi dalam pengelolaan  anggaran publik didukung oleh tertutupnya dokumen dan bukti transaksi  keuangan di badan publik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Informasi publik berupa kuitansi dan  bukti transaksi keuangan lainnya, sambung Febri, merupakan bukti hukum  yang dibutuhkan dalam pembuktian tindak pidana korupsi.  &amp;quot;Selama ini  badan publik, terutama badan negara, selalu menutup akses publik  terhadap dokumen tersebut. Mereka berlindung dengan menyatakan bahwa  kuitansi dan bukti transaksi keuangan adalah dokumen negara yang  penggunaannya diatur oleh perundang-undangan,&amp;quot; kata Febri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/14/13283436/ICW.Minta.SPJ.Sekolah.Dibuka"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/14/13283436/ICW.Minta.SPJ.Sekolah.Dibuka&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-7127186150704212639?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/7127186150704212639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=7127186150704212639' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/7127186150704212639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/7127186150704212639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/11/icw-minta-spj-sekolah-dibuka.html' title='ICW Minta SPJ Sekolah Dibuka'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-2057033585861036105</id><published>2010-11-14T06:02:00.001+07:00</published><updated>2010-11-14T06:02:46.756+07:00</updated><title type='text'>Guru Harus Melihat Perkembangan Zaman</title><content type='html'>&lt;div class="artikel"&gt;&lt;div id="foto1" class="tab_1" style="display: block;"&gt;&lt;img src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/10/25/1535217620X310.jpg" width="380" height="195"&gt;&lt;div class="font10" align="right"&gt;cadiknusantara&lt;/div&gt; Belajar sejarah di  kelas seringkali membuat siswa mudah bosan dan mengantuk. Hal itu  terjadi karena proses pembelajarannya memakai metode menghafal. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_5"&gt;                              &lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/12/17500498/Oahhmm....Sejarah.Bikin.Siswa.Ngantuk.."&gt;Oahhmm...  Sejarah Bikin Siswa Ngantuk! &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/12/16402418/Empat.Sebab.Pelajaran.Sejarah.Mandek"&gt;Empat  Sebab Pelajaran Sejarah Mandek&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/12/16032455/Menghafal.Sejarah..Siswa.Dapat.Apa."&gt;Menghafal  Sejarah, Siswa Dapat Apa?&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt;                            &lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA,  KOMPAS.com &lt;/strong&gt;- Paparan sejarah harus diberi makna kendatipun itu  adalah sejarah mengenai perlawanan yang bermakna negatif karena bisa  dipelajari cara mengemas negatif menjadi positif. Pembelajaran sejarah  saat ini harus semakin kreatif.&lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt;                 &lt;div&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_1.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div class="font20 c_abu pd_10"&gt;                   &lt;strong&gt;Dengan kemampuan belajar siswa, kemampuan  berpikir siswa, serta rasa ingin tahunya, siswa bisa mempelajari  sejarah. &lt;/strong&gt;                 &lt;/div&gt;&lt;div class="font12 pl_10 c_abu"&gt;-- S Hamid Hasan&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_2.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;               &lt;/div&gt;&lt;p&gt;Demikian diungkapkan Guru Besar Sejarah  Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Prof S Hamid Hasan,  ditemui di acara Diskusi Publik Nasional: Mengkaji Ulang Peranan  Pendidikan Sejarah, Jumat (12/11/2010), di Gedung Kementerian Pendidikan  Nasional, Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Dasar-dasar belajar sejarah itu ada di  Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Dengan kemampuan belajar  siswa, kemampuan berpikir siswa, serta rasa ingin tahunya, siswa bisa  mempelajari sejarah,&amp;quot; lanjut Hamid.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelumnya,    Ketua Asosiasi  Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Ratna Hapsari mengatakan, belajar sejarah  di kelas sering kali membuat siswa mudah bosan dan mengantuk. Hal itu  terjadi karena proses pembelajarannya memakai metode menghafal. Untuk  itu, salah satu cara agar pelajaran Sejarah tidak membosankan, guru  Sejarah harus bisa melihat perkembangan zaman siswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Dengan  begitu, metode pembelajaran yang disampaikan juga lebih modern dan guru  juga harus banyak membaca. Terakhir, pelajaran Sejarah bisa  diaplikasikan lewat kehidupan sehari-hari,&amp;quot; ungkap Ratna. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terkait  itu, lanjut Ratna, AGSI meluncurkan Jurnal Pendidikan Sejarah Edisi  Pertama. Untuk tujuan tersebut, AGSI menggandeng elemen masyarakat yang  peduli pada pendidikan sejarah. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Diharapkan kami bisa  mengembangkan jurnal ini dan terbit secara rutin tiga bulan sekali,&amp;quot;  ujar Ratna. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Bagi guru-guru sejarah yang ingin berbagi pengalaman  mengenai metode belajar sejarah atau apapun itu bisa mengirimkannya  kepada kami,&amp;quot; lanjut dia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/13/10593592/Guru.Harus.Melihat.Perkembangan.Zaman"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/13/10593592/Guru.Harus.Melihat.Perkembangan.Zaman&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-2057033585861036105?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/2057033585861036105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=2057033585861036105' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2057033585861036105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2057033585861036105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/11/guru-harus-melihat-perkembangan-zaman.html' title='Guru Harus Melihat Perkembangan Zaman'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-2704099490326767549</id><published>2010-11-14T06:01:00.001+07:00</published><updated>2010-11-14T06:01:39.407+07:00</updated><title type='text'>Bahasa Asing di RSBI "Memble"</title><content type='html'>&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;BANGKOK, KOMPAS.com&lt;/strong&gt; -  Bahasa asing sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah berstatus  rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) di Indonesia berjalan  tidak efektif. Ini disebabkan tidak ada standar pengajaran yang jelas  sehingga metode pengajaran bahasa asing setiap guru berbeda.&lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt;                 &lt;div&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_1.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div class="font20 c_abu pd_10"&gt;                   &lt;strong&gt;Setiap guru di satu sekolah yang sama bisa  saja metode pengajaran dengan bahasa Inggrisnya berbeda-beda, karena  tidak ada panduan dan standar pengajaran yang jelas. &lt;/strong&gt;                 &lt;/div&gt;&lt;div class="font12 pl_10 c_abu"&gt;-- Danny Whitehead&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_2.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;               &lt;/div&gt;&lt;p&gt;Hal itu dikemukakan Head of English Development  British Council Danny Whitehead yang memaparkan hasil penelitian Stephen  Bax dari University of Bedfordshire, Inggris, di konferensi  internasional "Language, Education, and Millenium Development Goals  (MDGs)", Kamis (11/11/2010) di Bangkok, Thailand.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Setiap guru di  satu sekolah yang sama bisa saja metode pengajaran dengan bahasa  Inggrisnya berbeda-beda. Ini disebabkan tidak ada panduan dan standar  pengajaran yang jelas," ungkap Whitehead.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hasil penelitian itu  juga menyebutkan, penggunaan bahasa asing tidak efektif karena jumlah  guru yang memiliki kemampuan mengajar dalam bahasa Inggris kurang dari  25 persen. Mayoritas guru hanya sekadar bisa berbicara dalam bahasa  Inggris.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Mahir bicara dalam bahasa Inggris dan mampu mengajar  dalam bahasa Inggris jelas dua hal yang berbeda. Guru harus dilatih  secara khusus untuk bisa mengajar dengan bahasa Inggris," kata  Whitehead. &lt;strong&gt;(LUK)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/12/10113452/Bahasa.Asing.di.RSBI..quot.Memble.quot"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/12/10113452/Bahasa.Asing.di.RSBI..quot.Memble.quot&lt;/a&gt;.&lt;br&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-2704099490326767549?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/2704099490326767549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=2704099490326767549' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2704099490326767549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2704099490326767549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/11/bahasa-asing-di-rsbi-memble.html' title='Bahasa Asing di RSBI &quot;Memble&quot;'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-6465567885086000405</id><published>2010-11-06T18:01:00.001+07:00</published><updated>2010-11-06T18:01:17.212+07:00</updated><title type='text'>Konsep RSBI Tak Jelas</title><content type='html'>&lt;div class="img620 pt_10"&gt;&lt;/div&gt; 					                    						 				&lt;p&gt;Jakarta, Kompas - Pemerintah diminta  untuk menghapuskan proyek rintisan sekolah bertaraf internasional yang  dimulai sejak 2006. Karena konsepnya tidak jelas, mutu pendidikan tidak  bertambah baik, malah terjadi diskriminasi pendidikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemerintah  seharusnya fokus menjalankan kewajiban untuk meningkatkan kualitas  pelayanan pendidikan sehingga setiap sekolah di seluruh pelosok Tanah  Air mencapai delapan standar nasional pendidikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Proyek rintisan  sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional  (SBI) dalam kenyataannya menciptakan hambatan bagi warga untuk  mendapatkan pelayanan pendidikan berkualitas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian kesimpulan  dari studi awal proyek RSBI/SBI yang dilaksanakan Koalisi Pendidikan.  Tergabung dalam koalisi ini, antara lain, serikat guru dari berbagai  wilayah di Indonesia, Aliansi Orang Tua Peduli Pendidikan, dan Indonesia  Corruption Watch (ICW).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Secara terpisah, praktisi pendidikan  Mochtar Buhori, Jumat (5/11), mengatakan, konsep "internasional" dalam  RSBI tidak jelas. "Standar internasional itu apanya? Kenyataannya, yang  dikejar adalah fasilitas sekolah, penggunaan bahasa Inggris, dan jadi  alasan pembenar bagi sekolah untuk melakukan pungutan. Ini keliru  besar," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dana melimpah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ade  Irawan, Koordinator Monitoring Pelayanan Publik ICW, mengatakan,  subsidi dari pemerintah dan pemerintah daerah untuk setiap RSBI  rata-rata mencapai Rp 1,5 miliar per tahun. Namun, ironisnya, pemerintah  menutup mata ketika sekolah melakukan pungutan tanpa batas kepada  orangtua siswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari hasil penelitian Koalisi Pendidikan, pungutan  masuk RSBI sekolah dasar rata-rata SPP Rp 200.000 per bulan, sedangkan  dana sumbangan pembangunan (DSP) mencapai Rp 6 juta. Di RSBI SMP,  besarnya SPP sekitar Rp 450.000 dan DSP Rp 6 juta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di SMA/SMK,  besarnya SPP Rp 500.000 dan DSP Rp 15 juta. Biaya-biaya tersebut belum  termasuk biaya tes masuk dan biaya belajar atau studi banding ke sekolah  di luar negeri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ade mengatakan, Kemendiknas mendorong sekolah  berlabel RSBI untuk melakukan pungutan kepada orangtua atau calon  orangtua murid. Tak ada aturan untuk mengendalikan pungutan yang  dilakukan oleh sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lody Paat, Koordinator Koalisi Pendidikan,  menjelaskan, secara konsep, program RSBI bertentangan dengan tujuan  pendidikan seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945. Program RSBI tidak  berkontribusi signifikan dalam peningkatan mutu pendidikan  nasional. "Pemerintah mengabaikan kewajiban konstitusionalnya dalam  menyediakan layanan pendidikan murah dan berkualitas," kata Lody.&lt;/p&gt;Secara  teknis, program RSBI cenderung dipaksakan. Pelaksanaannya pun  "amatiran", mulai dari sosialisasi, penentuan sekolah pelaksana, serta  pemantauan dan evaluasi. Kualitas guru RSBI masih buruk, terutama dalam  penggunaan bahasa Inggris.(ELN)&lt;br&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/11/06/03001614/.konsep.rsbi.tak.jelas"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/11/06/03001614/.konsep.rsbi.tak.jelas&lt;/a&gt;.&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-6465567885086000405?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/6465567885086000405/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=6465567885086000405' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6465567885086000405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6465567885086000405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/11/konsep-rsbi-tak-jelas.html' title='Konsep RSBI Tak Jelas'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-6721799026377900342</id><published>2010-11-02T06:41:00.001+07:00</published><updated>2010-11-02T06:41:35.264+07:00</updated><title type='text'>Dana BOS Diselewengkan</title><content type='html'>&lt;p&gt;jakarta, kompas - Indonesia Corruption Watch   mendesak agar  surat pertanggungjawaban dan kuitansi untuk penggunaan  dana bantuan operasional sekolah  dibuka kepada publik. Berdasarkan  audit BPK, enam dari sepuluh sekolah di Indonesia menyelewengkan dana  tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam sidang terakhir sengketa informasi antara  ICW dan lima SMP negeri di Jakarta, Senin (1/11) di kantor Komisi  Informasi Pusat, terungkap bahwa sebenarnya tidak ada larangan bagi  kepala sekolah untuk memberikan informasi yang diminta ICW, yaitu  kuitansi yang merupakan bagian dari surat pertanggungjawaban (SPJ)  penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Febri Hendri,  peneliti senior ICW, mengatakan, berdasarkan audit BPK tahun 2007-2009,  rata-rata enam dari sepuluh sekolah menyelewengkan dana BOS sebesar Rp  13 juta per sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kami yakin banyak manipulasi dana BOS. Dari  kuitansi akan diketahui dana BOS itu digunakan untuk apa saja dan apa  hasilnya," ujarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejak Mei 2010, ICW sudah mengajukan  permohonan salinan anggaran pendapatan dan belanja sekolah (APBS) dan  SPJ dari SMPN 28, SMPN 67, SMPN 84, SMPN 95, dan SMPN 190, semuanya di  Jakarta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Permohonan itu diajukan karena kelima SMP itu  diindikasikan menyelewengkan dana BOS hingga Rp 1,2 miliar. Namun,  permintaan itu ditolak dengan alasan kepala sekolah harus meminta izin   dulu kepada atasan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, terungkap dalam sidang kemarin,  ternyata tidak ada aturan yang menyatakan harus ada izin dari atasan  untuk memberikan informasi tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Supriyadi, salah seorang  pegawai Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang mewakili Kepala Dinas  Pendidikan DKI, berkilah belum ada prosedur untuk memberi informasi  semacam itu kepada pihak luar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Harus dibentuk PPID (Pejabat  Pengelola Informasi dan Dokumentasi) dulu. Karena ini masih baru, kami  belum punya prosedurnya," kata Supriyadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat Ketua Majelis  Komisioner Alamsyah Saragih mengatakan bahwa kepala kehumasan bisa  memberikan informasi yang diminta ICW, Supriyadi menjawab, "Kepala Humas  sedang pergi naik haji."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut Febri, alasan penolakan yang  diberikan Dinas Pendidikan DKI Jakarta amat tidak substansial karena  tidak sesuai  dengan undang-undang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"SPJ itu tidak membahayakan  keamanan negara, keamanan ekonomi, tidak melanggar HAKI. Jadi, kenapa  tidak dibuka kepada publik?" ujarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Preseden&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketua  Forum  Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) se-Jakarta Ade Pujiati  mengatakan, jika  majelis komisioner memutuskan  agar kelima SMP itu  memberikan kuitansi kepada ICW,  ini akan menjadi preseden bagi semua  sekolah di Indonesia. Sekolah dipastikan harus membuka  penggunaan dana  BOS kepada publik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kalau tidak ada yang disembunyikan oleh sekolah, tentu kepala sekolah tidak akan keberatan memberikannya," katanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;TKBM  adalah semacam SMP terbuka yang dikelola masyarakat untuk siswa miskin.  TKBM tidak pernah tahu bahwa mereka mendapat alokasi bantuan BOS dari  pemerintah yang disalurkan melalui SMP induk, di antaranya kelima SMP di  Jakarta itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari delapan TKBM, hanya TKBM Ibu Pertiwi  yang  menerimanya.   Sidang sengketa akan dilanjutkan  15 November dengan  agenda pembacaan putusan. (FRO)&lt;/p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/11/02/03135016/dana.bos.diselewengkan"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/11/02/03135016/dana.bos.diselewengkan&lt;/a&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-6721799026377900342?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/6721799026377900342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=6721799026377900342' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6721799026377900342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6721799026377900342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/11/dana-bos-diselewengkan.html' title='Dana BOS Diselewengkan'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-1834967076930286904</id><published>2010-10-24T09:46:00.001+07:00</published><updated>2010-10-24T09:46:26.648+07:00</updated><title type='text'>Senat ITS "Kepincut" Priyo Suprobo</title><content type='html'>&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;SURABAYA, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;- Senat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memilih rektor &lt;em&gt;incumbent&lt;/em&gt;  Prof Priyo Suprobo sebagai calon rektor ITS 2011-2015 dalam rapat  tertutup yang dihadiri 104 anggota senat di kampus setempat, Jumat  (22/10/2010).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Hasilnya, Priyo Suprobo mendapatkan 60 suara,  sedangkan dua calon lainnya, yakni Prof Triyogi Yuwono meraih 39 suara  dan Prof Daniel M Rosyid tiga suara. Nanti, hasilnya akan kami sampaikan  ke Mendiknas,&amp;quot; kata Sekretaris Senat ITS Prof I Gusti Putu Raka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hasil  dari proses penetapan Senat ITS itu berbeda dengan proses penjaringan  yang melibatkan dosen, karyawan, dan mahasiswa. Melalui hasil pemilihan  ini Triyogi justeru unggul dengan 4.723 suara, sedangkan Priyo  menghimpun 3.238 suara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Prof I Gusti Putu Raka mengatakan, anggota  senat ITS berjumlah 106 orang. Dua anggota senat berhalangan hadir  karena sedang melaksanakan tugas ke luar negeri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Jadi, anggota senat ITS yang hadir dalam rapat senat ITS itu berjumlah 104 orang,&amp;quot; katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menanggapi  hasil rapat senat tersebut, Priyo menilai penjaringan sivitas akademika  merupakan tahapan akseptabilitas, sedangkan penjaringan oleh senat  merupakan tahapan kapabilitas.      &amp;quot;Karena menjadi tahapan kapabilitas,  maka anggota senat melihat kemampuan yang ditunjukkan melalui program  kerja yang dirancang secara teknis untuk empat tahun ke depan  (2011-2015),&amp;quot; katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, kata Priyo, ia mengaku tidak mau  berandai-andai karena tahapan yang ada masih merupakan keputusan Senat  ITS. Sementara itu, Prof Triyogi menilai, proses penjaringan calon  rektor ITS berjalan lancar dan rukun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Saya puas dengan proses  yang berlangsung. Saya akan berdoa saja soal keputusan Mendiknas. Yang  jelas, ketiga calon mempunyai kans yang sama,&amp;quot; katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/10/22/20200748/Senat.ITS..quot.Kepincut.quot..Priyo.Suprobo"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/10/22/20200748/Senat.ITS..quot.Kepincut.quot..Priyo.Suprobo&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-1834967076930286904?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/1834967076930286904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=1834967076930286904' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/1834967076930286904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/1834967076930286904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/10/senat-its-kepincut-priyo-suprobo.html' title='Senat ITS &quot;Kepincut&quot; Priyo Suprobo'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-1370644838125231463</id><published>2010-10-24T09:44:00.001+07:00</published><updated>2010-10-24T09:44:37.511+07:00</updated><title type='text'>1.500 Program Studi Belum Terakreditasi</title><content type='html'>&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;-  Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) lewat asesornya saat  ini sedang melakukan proses awal untuk memberi nilai akreditasi pada  program studi. Sampai 2010 ini, masih banyak perguruan tinggi maupun  program studi yang terakreditasi.&lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt;                 &lt;div&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_1.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div class="font20 c_abu pd_10"&gt;                   &lt;strong&gt;Penilaian tersebut tidak sulit asalkan ada  buku panduannya. Yang sulit itu saat menilai perbedaan antara data dan  kondisi real di lapangan. &lt;/strong&gt;                 &lt;/div&gt;&lt;div class="font12 pl_10 c_abu"&gt;-- Saiful Akhyar&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_2.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;               &lt;/div&gt;&lt;p&gt;Data BANP-PT mengungkapkan, sampai 2010 ini sudah  ada 3.000 perguruan tinggi yang terdaftar, namun baru 78 yang sudah  terakreditasi. Sementara untuk program studi, saat ini hanya 2.500  program studi yang telah terakreditasi dan masih tersisa 1.500 program  studi yang belum memiliki akreditasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu asesor BAN-PT  dari Medan, Saiful Akhyar, mengatakan pemberian nilai tersebut tidaklah  sulit asalkan ada buku panduannya. &amp;quot;Yang sulit itu saat menilai ada  perbedaan antara data yang ada dan kondisi &lt;em&gt;real &lt;/em&gt;di lapangan,&amp;quot; ujar Saiful kepada &lt;em&gt;Kompas.com&lt;/em&gt;, Jumat (22/10/2010), di Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menjabat  sebagai asesor sejak 2005, Saiful mengatakan, ada tujuh standar yang  dijadikan penilaian akreditasi oleh BAN-PT, yaitu penilaian berdasarkan  standar mahasiswanya, dosen, infrastruktur meliputi sarana dan  prasarana, kurikulum, penelitian, pengabdian pada masyarakat, serta  prospek kerja alumni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Asesor lainnya, Harni Koesno, juga  berpendapat demikian. Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia ini mengatakan,  penilaian untuk akreditasi perguruan tinggi sebetulnya tidak sulit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Tidak  ada kesulitan menilai Program Studi Kebidanan, misalnya, karena sudah  ada buku panduannya. Apalagi, sekarang ini semuanya sudah ditetapkan  oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), jadi tinggal ikut saja,&amp;quot;  imbuh Harni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Harni mengatakan, saat ini saja terdapat 729 Program  Studi Kebidanan. Namun, dari jumlah tersebut yang terakreditasi baru 30  persen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Sedangkan target BAN-PT pada 2012 kepada kami agar semua  Program Studi Kebidanan harus terakreditasi, sehingga sekarang semua  program studi ini berlomba-lomba untuk mencapai akreditasi,&amp;quot; lanjut  Harni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kalangan akademis&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kamanto Sunarto,  Ketua BAN-PT mengatakan, saat ini sudah ada 1.400 asesor di seluruh  Indonesia. Para asesor atau tim penilai tersebut harus berasal dari  kalangan ahli di program studi yang bersangkutan seperti mantan rektor  atau guru besar, dan doktor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut dia, saat ini terdapat 400  asesor dengan beban 200 program studi untuk dinilai. Tiap satu program  studi dinilai oleh dua asesor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu anggota majelis BAN-PT,  Eduardus Tandelilin, menambahkan, khusus untuk menilai Program Diploma  asesor harus bergelar master, sementara untuk menilai Program Sarjana  atau Pascasarjana asesor harus bergelar doktor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/10/22/1912219/1.500.Program.Studi.Belum.Terakreditasi"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/10/22/1912219/1.500.Program.Studi.Belum.Terakreditasi&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-1370644838125231463?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/1370644838125231463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=1370644838125231463' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/1370644838125231463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/1370644838125231463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/10/1500-program-studi-belum-terakreditasi.html' title='1.500 Program Studi Belum Terakreditasi'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-4251077950454389432</id><published>2010-08-19T07:25:00.001+07:00</published><updated>2010-08-19T07:25:35.838+07:00</updated><title type='text'>Ningsih dan Pendidikan Baca-Tulis</title><content type='html'>&lt;div class="img620 pt_10"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/08/19/3952087p.jpg" width="375" height="245"&gt;&lt;/div&gt; 					   &lt;div class="font10 c_abu " align="right"&gt;KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANG&lt;/div&gt;                 						 				&lt;p align="center"&gt; &lt;strong&gt;Cornelius Helmy&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Bila  ada umur panjang, izinkanlah aku berbagi makanan.Bila ada umur panjang,  izinkanlah aku berbagi pakaian.Bila saat ini dipandang hina karena  keadaanku, izinkanlah suatu saat aku mempunyai sekolah." &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Doa  itulah yang disampaikan Prapti Wahyuningsih pada malam Idul Fitri  puluhan tahun lalu. Doa kala lapar karena tak punya uang ternyata  memberikan kekuatan dalam perjalanan hidupnya. Setelah berdoa, mendadak  rasa laparnya hilang. Bahkan, ia bersemangat menjalani pekerjaannya  sebagai buruh. Ibunya pun mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu rumah  tangga dan pengasuh anak-anak tetangga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Tuhan mungkin ingin agar  kami tidak menyerah, mungkin ada hal lain yang Dia inginkan untuk kami  lakukan," ujar Ningsih, panggilannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun berganti, perjalanan  hidupnya tak berubah. Pangkat tertinggi sebagai buruh hanya pengawas  keuangan. Namun, karena melihat banyak ketidakadilan terhadap buruh dan  mulai berkenalan dengan organisasi buruh, ia lantas bergabung dengan  salah satu organisasi buruh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Saya mulai banyak membaca berbagai  macam buku. Entah mengapa, saya mudah menangkap isi buku tentang buruh.  Mungkin karena saya adalah salah satunya," kata Ningsih yang menjadi  buruh sejak berusia 11 tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun 1999 ia berhenti bekerja dan  memilih konsentrasi berjuang untuk masyarakat miskin. Ia merintis  Sanggar Budaya Anak Indonesia (Sang Budi) yang mengajarkan bernyanyi dan  membaca anak di sekitar tempat tinggalnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hasil dari banyak  membaca buku, ia yakin pendidikan itu amunisi utama yang harus dimiliki  kaum miskin di Indonesia. Tanpa pendidikan, mereka terus tertindas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Saya  teringat doa saya ketika ingin membuka sekolah. Dalam bayangan saya,  sekolah adalah tempat berbagi ilmu dan pengetahuan antarmanusia, bukan  sekadar gedung," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sekolah hijau&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ningsih  lalu berkelana. Pengalaman pertamanya terjadi di Cibenda, Ciampel,  Karawang, tahun 2002. Desa itu terletak di tengah pabrik-pabrik besar.  Malam hari, saat cerobong asap tak berhenti membuat polusi, kampung  gelap dan sunyi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Idenya membuat sekolah muncul saat melihat petani  ditipu bandar dalam jual-beli jagung. Bandar mengklaim hasil timbangan  lebih ringan daripada seharusnya. Tak ada protes dari petani karena ia  tak bisa baca-tulis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, ia ditertawakan warga saat mengusulkan  membuat sekolah. Dia lalu mengajari anak-anak. "Tempatnya  berpindah-pindah, di tepi sungai atau di lapangan. Tadinya hanya seorang  anak yang mau belajar, baru diikuti belasan anak lain," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Usaha  Ningsih membuahkan hasil. Beberapa hari kemudian, saat ada lagi petani  ditipu, anak didiknya mengatakan bahwa timbangan itu salah. Untuk  pertama kali, sang bandar ketahuan "belangnya".&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tempat kedua  Ningsih adalah Desa Tapos, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, pada  2003. Di sini anak-anak hanya mendapatkan pendidikan agama. Mereka fasih  berbahasa Arab, tapi kurang paham bahasa Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat ia  bertanya siapa yang pernah ke Kota Bogor, hanya sedikit anak yang  mengacungkan tangan. Saat dia tanya siapa yang pernah ke Jawa Barat dan  Indonesia? Justru tak ada seorang pun yang mengangkat tangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Itu  artinya, pendidikan belum dinikmati semua anak Indonesia. Saya lalu  mengajar baca-tulis dan menyanyi, seperti di Sang Budi," ujar Ningsih  yang menolak beasiswa pendidikan tinggi di luar negeri dari salah satu  perusahaan karena perbedaan prinsip.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sempat pulang ke Solo untuk  merawat orangtuanya yang sakit, tahun 2007 Ningsih pergi ke Bandung. Ia  bergabung dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), menggarap  isu masyarakat dan lingkungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tinggal di kota besar membuatnya  akrab dengan sampah plastik. Ia membuat warung kepercayaan, di mana  masyarakat bebas mengambil, membayar, bahkan memasak sendiri. Cara itu  ternyata meringankan orang-orang di sekitarnya. Namun, sampah plastik  muncul menjadi masalah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berbekal keterampilan menganyam daun  kelapa saat kanak-kanak, ia mengolah sampah plastik menjadi kerajinan  pedang-pedangan hingga dompet. Ia lalu menularkan keterampilannya itu  kepada warga yang mau belajar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan pinjaman uang dari Suster  Irene OSU dari Santa Angela, ia menyewa rumah di daerah Cigending,  Ujungberung, Bandung. Di sini ia kembali memperkenalkan produk berbahan  baku sampah plastik. Hasilnya, banyak ibu rumah tangga yang mau belajar  membuat produk serupa. Di sinilah konsep sekolah hijau benar-benar ia  terapkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Sekolahnya tidak formal. Saya fokus pada pengolahan  sampah dan pemahaman pola hidup sehat, seperti tidak menggunakan  penyedap rasa buatan. Warga juga merintis taman kanak-kanak yang  pengajarnya pun warga yang bisa baca-tulis," kata Ningsih yang ikut  mendirikan organisasi Sarikat Hijau Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Zakat sampah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ningsih  kemudian membuat program zakat sampah. Di sini sampah plastik rumah  tangga dikumpulkan, lalu dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga ramah  lingkungan. Cara ini berhasil membesarkan sekolah hijau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Awal 2010  Ningsih meninggalkan Cigending karena ingin warga bisa mengelola secara  mandiri program sekolah hijau yang telah dirintisnya. Ia ingin  mengembangkan sekolah hijau di banyak tempat lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Saya sempat  sedih karena dianggap tak bertanggung jawab. Namun, saya juga bahagia  karena warga mau meneruskan konsep sekolah hijau itu. Ini berarti  semangat sekolah hijau sudah tertanam," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka, sejak Maret  2010, Ningsih berada di Kampung Cikasimukan, Desa Mandala Mekar,  Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Ia melakukan pendekatan yang  sama, yakni lewat zakat sampah. Di sini pun upayanya relatif berhasil,  warga secara mandiri mendirikan taman kanak-kanak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Berbagi itu  rupanya sudah menjadi hal langka," kata Ningsih yang mengaku hidup dari  bantuan masyarakat. Buktinya, apa pun yang ia tawarkan kepada warga  relatif mendapat sambutan hangat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah usahanya membuat semakin  banyak orang bisa baca-tulis relatif berhasil, Ningsih sering diminta  oleh berbagai pihak untuk berbagi ilmu. Ia pernah didaulat menjadi guru  tamu yang mengajarkan tentang wirausaha dan lingkungan di hampir semua  kota dan kabupaten se-Jawa Barat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada peringatan Hari Kartini, 21  April lalu, Ningsih menjadi salah satu penerima penghargaan A Tribute  to Woman 2010 dari Plaza Semanggi, Village Mall, dan Lembaga Kantor  Berita Nasional Antara. Ia dianggap mampu mengubah hal kecil menjadi  bermakna bagi masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/08/19/03232731/ningsih.dan.pendidikan.baca-tulis"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/08/19/03232731/ningsih.dan.pendidikan.baca-tulis&lt;/a&gt;.&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-4251077950454389432?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/4251077950454389432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=4251077950454389432' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4251077950454389432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4251077950454389432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/08/ningsih-dan-pendidikan-baca-tulis.html' title='Ningsih dan Pendidikan Baca-Tulis'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-7179953874543455279</id><published>2010-08-19T07:23:00.001+07:00</published><updated>2010-08-19T07:23:27.467+07:00</updated><title type='text'>Pengelolaan BOS Dilimpahkan ke Daerah</title><content type='html'>&lt;p&gt;Jakarta, Kompas - Anggaran dan  pengelolaan bantuan operasional sekolah atau BOS akan langsung  diserahkan ke setiap daerah mulai tahun 2011. Berdasarkan hasil evaluasi  pelaksanaan BOS selama sekitar empat tahun, mekanisme pengelolaan BOS  di daerah dinilai sudah relatif mapan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pelimpahan anggaran dan  pengelolaan BOS dilakukan untuk memotong mata rantai birokrasi sehingga  BOS tidak lagi terlambat diterima oleh sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian  dikemukakan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh seusai memberikan  penghargaan kepada Peraih Prestasi di Lingkungan Kementerian Pendidikan  Nasional, Rabu (18/8) di Jakarta. "Lebih baik sejak awal anggaran sudah  langsung dialokasikan ke daerah sehingga tidak ada lagi alasan  keterlambatan pencairan dana akibat penyaluran pusat ke daerah," kata  Nuh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meski dilimpahkan, Kementerian Pendidikan Nasional tidak akan  melepaskan tanggung jawab dan tetap mengawasi pengelolaan anggaran BOS  secara berkala. Pasalnya, Nuh mengaku menemukan penggunaan anggaran BOS  yang tidak sesuai peruntukan sebesar 2-3 persen, tetapi masih terkait  dengan urusan sekolah. Kasus-kasus penggunaan anggaran tidak sesuai  peruntukan antara lain pembelian sepatu untuk siswa kurang mampu.  "Variasi kebutuhan di lapangan beragam. Ini bukan korupsi. Bukan tindak  pidana karena tidak dipakai untuk kepentingan pribadi," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nuh  juga mengimbau agar pencairan BOS tak ditunda-tunda karena alokasi  penggunaan BOS sudah jelas dan sudah ada petunjuk pengelolaan yang  rinci. Selain BOS, Nuh juga berharap daerah bisa cepat mencairkan  tunjangan profesi guru, apalagi karena anggarannya sudah ada dan  peruntukannya sudah jelas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Langsung ditransfer&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di  dalam RAPBN 2011 yang akan disahkan Oktober mendatang disebutkan,  anggaran BOS sekitar Rp 16 triliun akan langsung ditransfer ke daerah.  Oleh karena itu, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan  (APBN-P) Kemdiknas sebesar Rp 63 triliun turun menjadi Rp 50,3 triliun  di RAPBN 2011.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Direktur Profesi Pendidik Kemdiknas Achmad Dasuki  mengatakan, kenaikan alokasi tunjangan profesi guru tidak akan menambah  jumlah atau nilai tunjangan, tetapi untuk menambah kuota guru yang  berhak mendapat tunjangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Secara terpisah perwakilan 250 guru  bantu Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, kembali  mempertanyakan nasib tunjangan insentif semester dua tahun 2009 yang  diselewengkan oknum petugas dinas pendidikan. Mereka mendesak Pemerintah  Kabupaten Semarang menepati janji menganggarkan dana pengganti pada  APBD Perubahan 2010.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(LUK/GAL)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/2010/08/19/03130443/pengelolaan.bos.dilimpahkan.ke.daerah"&gt;http://cetak.kompas.com/read/2010/08/19/03130443/pengelolaan.bos.dilimpahkan.ke.daerah&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-7179953874543455279?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/7179953874543455279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=7179953874543455279' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/7179953874543455279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/7179953874543455279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/08/pengelolaan-bos-dilimpahkan-ke-daerah.html' title='Pengelolaan BOS Dilimpahkan ke Daerah'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-436303144340892211</id><published>2010-08-15T09:45:00.001+07:00</published><updated>2010-08-15T09:45:14.133+07:00</updated><title type='text'>BOS Belum Jamin Siswa Terbebas Pungutan</title><content type='html'>&lt;div class="judul_kecil"&gt;&lt;strong&gt;Dana BOS Daerah&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="c_blue_kompas font11 pb_10 pt_3"&gt;&lt;/div&gt;             &lt;div class="img620 pt_10"&gt; 				  &lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/02/12/1431528620X310.jpg" width="364" height="227"&gt; 				&lt;/div&gt; 				&lt;div class="font10 c_abu " align="right"&gt;M.LATIEF/KOMPAS IMAGES&lt;/div&gt;&lt;div class="c_abu font11 pt_5"&gt;               Ilustrasi: Para orang tua murid sekolah dasar negeri (SD)  tetap akan mengeluarkan biaya bagi pendidikan untuk anak-anaknya,  terutama untuk membeli seragam dan buku.             &lt;/div&gt;                                          &lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_5"&gt;                              &lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/11/09530331/Transparansi.Dana.BOS.Rendah"&gt;Transparansi Dana BOS Rendah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/10/17203926/Adukan.Penyimpangan.BOS.ke.177..Gratis."&gt;Adukan Penyimpangan BOS ke 177, Gratis!&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/10/13324614/Inilah.Lima.Dosa.Kemdiknas..."&gt;Inilah Lima Dosa Kemdiknas...&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/10/12343017/Kemendiknas.dan.Dinas.Juga.Punya.Dosa..."&gt;Kemendiknas dan Dinas Juga Punya Dosa...&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt;                            &lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;MALANG, KOMPAS.com&lt;/strong&gt;  — Bantuan operasional sekolah daerah (Bosda) dinilai masih belum bisa  menjamin siswa sekolah dasar negeri (SDN) di daerah-daerah bebas dari  segala biaya dan pungutan. Sangat mengherankan, siswa SD negeri sampai  saat ini masih saja bisa sepenuhnya bebas pungutan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt;                 &lt;div&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_1.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div class="font20 c_abu pd_10"&gt;                   &lt;strong&gt;Kenyataannya siswa masih dikenakan biaya ini  dan itu, baik berbentuk untuk pembelian buku paket dan LKS maupun  membayar honor guru ekstrakurikuler. &lt;/strong&gt;                 &lt;/div&gt;&lt;div class="font12 pl_10 c_abu"&gt;--  Amrullah&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_2.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;               &lt;/div&gt;&lt;p&gt;Ketua Aliansi Masyarakat Miskin Kota Malang  Amrullah, Jumat (13/8/2010), mengatakan, seharusnya Bosda yang  dikucurkan pemerintah daerah (APBD) dan bantuan operasional sekolah  (BOS) dari pemerintah pusat (APBN) itu bisa menghapus segala bentuk  tarikan di SD.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Namun, kenyataannya siswa SD masih saja dikenakan  biaya ini dan itu, baik yang berbentuk untuk pembelian buku paket dan  lembar kerja siswa (LKS) maupun membayar honor guru ekstrakurikuler,"  katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bentuk tarikan yang lazim dan dilakukan selama ini adalah  melalui paguyuban orangtua siswa. Nominal tarikan itu bervariasi,  tergantung sekolah masing-masing, tetapi rata-rata Rp 20.000-Rp 25.000  per bulan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau di jenjang SD saja masih melakukan pungutan  melalui paguyuban orangtua siswa, tegasnya, lalu dana BOS dan Bosda yang  dikucurkan ke masing-masing SD itu digunakan untuk apa.  Sebab,  lanjutnya, siswa selama ini juga dibebani untuk pembelian buku paket dan  LKS.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Memang ada sebagian buku paket yang dipinjami dari sekolah, tapi buku itu langsung &lt;em&gt;dropping&lt;/em&gt; dari Diknas," paparnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain  itu, untuk biaya pemeliharaan dan renovasi gedung juga dianggarkan dari  Diknas (APBD)."Saya heran kenapa sampai sekarang siswa SD negeri masih  belum bisa sepenuhnya bebas dari biaya (pungutan)," ucap Amrullah  mempertanyakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, Kabid Pendidikan Menengah (Dikmen)  Diknas Kota Malang Sugiharto mengatakan, Bosda untuk SMP sudah cair dan  untuk SD masih belum karena jumlah lembaga SD dan MI di daerah itu cukup  banyak.  Penambahan Bosda sebagai pendamping BOS dari APBN Kota Malang  sebesar Rp 5.000 untuk setiap siswa SD dan Rp 10.000 untuk siswa SMP.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Total  anggaran Bosda di Kota Malang mencapai Rp 9,944 miliar dengan perincian  untuk 85.683 siswa SD/MI dengan anggaran sebesar Rp 5,140 dan Rp 4,804  miliar untuk 39.807 siswa SMP/MTs.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kami berharap dana Bosda ini  bisa membantu meringankan beban orangtua siswa, terutama ketika  menjelang ujian nasional yang biasanya membutuhkan anggaran cukup  banyak," kata Sugiharto.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/14/10344773/BOS.Belum.Jamin.Siswa.Terbebas.Pungutan"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/14/10344773/BOS.Belum.Jamin.Siswa.Terbebas.Pungutan&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-436303144340892211?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/436303144340892211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=436303144340892211' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/436303144340892211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/436303144340892211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/08/bos-belum-jamin-siswa-terbebas-pungutan.html' title='BOS Belum Jamin Siswa Terbebas Pungutan'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-9067455871624999974</id><published>2010-08-07T08:52:00.001+07:00</published><updated>2010-08-07T08:52:08.703+07:00</updated><title type='text'>Waduh, Kadisdik DKI Tak Paham UU KIP...</title><content type='html'>&lt;div class="judul_kecil"&gt;&lt;strong&gt;KORUPSI DANA PENDIDIKAN&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_10"&gt;   				  &lt;div class="img310"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/04/08/1610456p.jpg" width="307" height="192"&gt;&lt;/div&gt;   				  &lt;div class="font10 c_abu " align="right"&gt;shutterstock&lt;/div&gt;   				     				  &lt;div class="c_abu font11 pt_5"&gt;   					Ilustrasi: Alasan Kadisdik yang mengaku masih mempelajari  keterbukaan informasi, adalah bukti tidak seriusnya Dinas Pendidikan DKI  dalam menjalankan UU Keterbukaan Informasi Publik   				  &lt;/div&gt;   				                       				&lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/07/09413191/ICW.Ajukan.Sengketa.Informasi.Dana.BOS.."&gt;ICW Ajukan Sengketa Informasi Dana BOS  &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/03/10464269/Wah....ICW.Laporkan.Dugaan.Korupsi.RSBI."&gt;Wah... ICW Laporkan Dugaan Korupsi RSBI!&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/03/01/18000211/ICW:.Banyak.Kepsek.Punya.Stempel.Rumah.Makan.dan.Alat.Tulis."&gt;ICW: Banyak Kepsek Punya Stempel Rumah Makan dan Alat Tulis &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt;             				&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com&lt;/strong&gt;  — Indonesia Corruption Watch atau ICW dan Koalisi Anti Korupsi  Pendidikan atau KAKP kecewa dan tidak puas atas klarifikasi Kepala Dinas  Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto. Kepala Dinas ini mengaku  masih belum yakin bahwa informasi yang diminta oleh ICW dan KAKP adalah  informasi publik.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Peneliti senior ICW, Febri Hendry, menyesalkan  hal tersebut. Pasalnya, menurut Febry, pejabat publik setingkat kepala  dinas seharusnya paham terhadap Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008  tentang Keterbukaan Informasi Publik. Hal itu terasa lebih karena UU  tersebut sudah disosialisasikan sejak dua tahun lalu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&amp;quot;Kami tidak  puas atas klarifikasi Kadis Pendidikan DKI yang masih akan mempelajari  UU KIP,&amp;quot; kata Febri seusai mediasi sengketa informasi di Kantor Komisi  Informasi Pusat, Jl Meruya Selatan, Jakarta Barat, Jumat (6/8/2010),  atas dugaan terjadinya tindak pidana korupsi terhadap lima SMP, yaitu  SMP 190, SMP 95, SMP 84, SMP 67, dan SMP 28.&lt;br&gt;&lt;br&gt;ICW dan KAKP sempat  melayangkan permohonan data mengenai SPJ BOS dan BOP 2007-2009 terhadap  lima sekolah tersebut.  Tak kunjung mendapatkan respons, akhirnya  mediasi digelar Jumat pagi ini di kantor Komisi Informasi Pusat di Jalan  Meruya Selatan, Jakarta Barat.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Menurut Febri, alasan Kadisdik  yang mengaku masih mempelajari keterbukaan informasi adalah bukti tidak  seriusnya Dinas Pendidikan DKI dalam menjalankan UU Keterbukaan  Informasi Publik.  &amp;quot;Pejabat negara atau publik seharusnya sudah paham  dan bisa melaksanakan UU dengan baik. Kami berpandangan, dokumen SPJ  sepanjang diaudit itu wajib dipublikasikan. Kami menduga, ada manipulasi  SPJ. Oleh karena itu, SPJ diberikan untuk publik,&amp;quot; kata Febri.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sementara  itu, Taufik Yudi sendiri mengakui, ketidak siapannya hari ini  disebabkan oleh kurangnya informasi yang ia terima mengenai mediasi  tersebut. Oleh sebab itu, pihaknya meminta penundaan untuk mempelajari  lebih lanjut mengenai data-data yang diminta ICW dan KAKP.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&amp;quot;Saya  baru tahu tadi (saat mediasi). Sebelumnya saya tidak tahu informasi yang  diminta dari saya,&amp;quot; tutur Taufik seusai menghadiri mediasi tersebut.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Atas  penundaan tersebut, mediasi berikutnya akan kembali digelar 14 hari  lagi. Pada mediasi berikutnya, pihak Dinas Pendidikan DKI memiliki  kesempatan untuk melakukan klarifikasi.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Menurut Usman Abdhali  Watik selaku Komisioner KI yang memediatori pertemuan tersebut, jika  ternyata salah satu pihak pada mediasi berikutnya masih juga belum bisa  memenuhi tuntutan, maka pihaknya akan menggelar ajukasi. Ini merupakan  sidang yang digelar oleh KI sehingga KI dapat memutuskan sesuatu atas  mediasi tersebut. &lt;strong&gt;(Nurmulia Rekso P)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/06/15461532/Waduh..Kadisdik.DKI.Tak.Paham.UU.KIP."&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/06/15461532/Waduh..Kadisdik.DKI.Tak.Paham.UU.KIP.&lt;/a&gt;..&lt;br&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-9067455871624999974?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/9067455871624999974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=9067455871624999974' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/9067455871624999974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/9067455871624999974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/08/waduh-kadisdik-dki-tak-paham-uu-kip.html' title='Waduh, Kadisdik DKI Tak Paham UU KIP...'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-1652871701832745020</id><published>2010-07-24T03:35:00.001+07:00</published><updated>2010-07-24T03:35:57.262+07:00</updated><title type='text'>Inilah Instruksi "Pemecatan" Siswa Itu!</title><content type='html'>&lt;div class="judul_kecil"&gt;&lt;strong&gt;SDN RSBI Rawamangun 12 &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="c_blue_kompas font11 pb_10 pt_3"&gt;&lt;/div&gt;             &lt;div class="img620 pt_10"&gt; 				  &lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/07/23/1436576620X310.jpg"&gt; 				&lt;/div&gt; 				&lt;div class="font10 c_abu " align="right"&gt;M.LATIEF/&lt;a href="http://KOMPAS.COM"&gt;KOMPAS.COM&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="c_abu font11 pt_5"&gt;               Surat instruksi ini dikeluarkan untuk mengimbangi sikap  perilaku para orang tua murid yang gemar memusuhi pendidik dan ngotot  memenjarakan Kepala SD, guru-guru, serta tiga mantan Kepala SD  sebelumnya.             &lt;/div&gt;                                          &lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_5"&gt;                              &lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/23/13204515/Mau.Sampai.Kapan.Mereka.Diintimidasi."&gt;Mau Sampai Kapan Mereka Diintimidasi?&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/23/11452626/Kenapa.Komite.Sekolah.Tak.Berdaya.."&gt;Kenapa Komite Sekolah Tak Berdaya? &lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/04/15503827/Bahkan..Guru.guru.itu.Menyandera.Siswa"&gt;Bahkan, Guru-guru itu Menyandera Siswa&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt;                            &lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;—  Dua bulan sebelum melayangkan surat permohonan bantuan kepada Gubernur  DKI Jakarta Fauzi Bowo agar menghentikan status dua dari lima orangtua  murid—Dr Okky Sofyan dan Tayasman Kaka—sebagai warga DKI Jakarta, Kepala  Seksi Dinas Pendidikan Dasar 02 Drs H Usman bahkan sudah  menginstruksikan Kepala SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi untuk mengeluarkan  putra-putri mereka terlebih dulu dari sekolah itu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Surat  tertanggal 14 Mei 2010 yang dibuat dan ditandatangani oleh Usman  tersebut ditujukan kepada Yitno Suyoko selaku Kepala SDN RSBI Rawamangun  12 Pagi. Dalam surat instruksi itu tertulis, pengeluaran siswa  dilakukan untuk mengimbangi sikap perilaku para orangtua murid yang  gemar memusuhi pendidik dan &lt;em&gt;ngotot &lt;/em&gt;memenjarakan kepala SD, guru-guru, dan tiga mantan kepala SD sebelumnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Belum  juga puas, intimidasi terhadap orangtua murid SDN RSBI Rawamangun 12  Pagi yang kritis itu kembali terjadi pada 12 Juli 2010. Anehnya, Usman  selaku Kepala Seksi Dinas Pendidikan Dasar 02, Kecamatan Pulogadung,  Jakarta Timur, itu lagi-lagi turut campur tangan dengan melayangkan  surat permohonan bantuan kepada Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo agar  menghentikan status dua dari lima orangtua murid, yaitu Dr Okky Sofyan  dan Tayasman Kaka, sebagai warga DKI Jakarta.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pada poin kedua surat permohonan bernomor 299/073.526.6 tertanggal 12 Juli 2010 itu disebutkan sebagai berikut: &lt;em&gt;Menghentikan  Dr Okky Sofyan dan Tayasman Kaka Cs sebagai warga DKI Jakarta yang  sudah kurang lebih tujuh (7) tahun terakhir mengacau di SDN RSBI  Rawamangun 12 Pagi.&lt;/em&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Eva Rais, mantan orangtua murid yang mengirimkan surat tembusan ini kepada &lt;em&gt;Kompas.com, &lt;/em&gt;Kamis  (15/7/2010), mengungkapkan, surat tersebut kian memperkuat bukti bahwa  bukan hanya pihak SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi yang &amp;quot;kelabakan&amp;quot; dengan  kritisnya para orangtua murid, melainkan juga pejabat setingkat Kepala  Seksi Dinas Pendidikan, yang turun tangan untuk mengintimidasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/23/14372846/Inilah.Instruksi..quot.Pemecatan.quot..Siswa.Itu"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/23/14372846/Inilah.Instruksi..quot.Pemecatan.quot..Siswa.Itu&lt;/a&gt;.&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-1652871701832745020?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/1652871701832745020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=1652871701832745020' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/1652871701832745020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/1652871701832745020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/07/inilah-instruksi-pemecatan-siswa-itu.html' title='Inilah Instruksi &quot;Pemecatan&quot; Siswa Itu!'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-4489068133711707485</id><published>2010-07-23T09:30:00.001+07:00</published><updated>2010-07-23T09:30:31.961+07:00</updated><title type='text'>Kendalikan Pungutan di Sekolah</title><content type='html'>&lt;div class="judul_kecil"&gt;&lt;font size="4"&gt;&lt;strong&gt;Uang Sekolah &lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_10"&gt;   				  &lt;div class="img310"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/04/29/1042269p.jpg" width="186" height="95"&gt;&lt;/div&gt;   				     				     				  &lt;div class="c_abu font11 pt_5"&gt;   					Ilustrasi: Kewajiban membayar IPDB di RSBI SMAN 68 di Salemba  Jakarta Pusat tahun pelajaran 20102011 misalnya, telah ditetapkan Rp 9  juta per siswa.   				  &lt;/div&gt;   				                       				&lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/12/22010246/Sekolah.Jangan.Lakukan.Pungutan"&gt;Sekolah Jangan Lakukan Pungutan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/23/11182649/Alamaak....Pungutan.Itu.Dibolehkan."&gt;Alamaak... Pungutan Itu Dibolehkan!&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/20/16283095/ICW:.RSBI.Rawan.Korupsi"&gt;ICW: RSBI Rawan Korupsi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/09/13175322/Pungutan.RSBI.Dinilai.Masih.Wajar"&gt;Pungutan RSBI Dinilai Masih Wajar&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt;             				&lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;—  Dinas Pendidikan DKI didesak agar mengendalikan pungutan atau iuran  peserta didik baru (IPDB) di sekolah-sekolah. Di sekolah negeri,  pungutan itu seharusnya ditiadakan karena sekolah itu sudah didanai  Pemprov DKI.&lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt;                 &lt;div&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_1.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div class="font20 c_abu pd_10"&gt;                   &lt;strong&gt;Dinas pendidikan harus bisa kendalikan pungutan IPDB siswa baru, terutama di sekolah negeri. &lt;/strong&gt;                 &lt;/div&gt;&lt;div class="font12 pl_10 c_abu"&gt;-- Jhony Simanjuntak&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_2.gif" width="43" height="38"&gt;&lt;/div&gt;               &lt;/div&gt;&lt;p&gt;Dalam pertemuan dengan Komisi E DPRD DKI, Rabu  (21/7/2010), sejumlah orangtua siswa mengeluh dengan besarnya pungutan  yang harus ditanggung oleh mereka di sekolah baru. Kewajiban membayar  IPDB di rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) SMAN 68 di  Salemba, Jakarta Pusat, tahun pelajaran 2010/2011, misalnya, telah  ditetapkan Rp 9 juta per siswa, sedangkan di sekolah pinggiran, seperti  SMAN 58 Ciracas, Jakarta Timur, kemungkinan nilainya tetap seperti tahun  2009, yaitu sebesar Rp 4 juta, sesuai surat edaran Disdik DKI.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Dinas  pendidikan harus bisa mengendalikan pungutan IPDB siswa baru, terutama  di sekolah negeri yang biasanya ditetapkan pada bulan Agustus. Kalau tak  bisa dihapus, dinas harus menurunkan nilai nominalnya karena tak hanya  IPDB, iuran rutin bulanan (IRB) juga wajib dibayar orangtua,&amp;quot; papar  anggota Komisi E Jhony Simanjuntak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala Dinas Pendidikan DKI  Taufik Yudi Mulyanto mengingatkan agar RSBI tidak hanya diisi siswa dari  keluarga mampu. Siswa berprestasi dari keluarga tak mampu juga berhak  sekolah di RSBI. Hal itu disampaikannya saat membuka Jakarta Cluster  Connecting Classion School Festival di SMPN 255 Jakarta Timur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut  Taufik, sekolah menerapkan subsidi silang bagi siswa berprestasi dari  keluarga tak mampu. Selain itu, dia berharap agar RSBI menjadi contoh  bagi sekolah-sekolah lain dalam meraih prestasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala SMPN 255  Parmudi menambahkan, siswa dari kelurga miskin yang sekolah di RSBI  mencapai 2 - 5 persen. Selain itu, siswa yatim piatu dibebaskan dari  biaya. &lt;strong&gt;(moe/tos)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/22/10183688/Kendalikan.Pungutan.di.Sekolah"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/22/10183688/Kendalikan.Pungutan.di.Sekolah&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-4489068133711707485?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/4489068133711707485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=4489068133711707485' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4489068133711707485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4489068133711707485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/07/kendalikan-pungutan-di-sekolah.html' title='Kendalikan Pungutan di Sekolah'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-4415439923427164823</id><published>2010-07-19T09:16:00.001+07:00</published><updated>2010-07-19T09:16:51.486+07:00</updated><title type='text'>Anak Ikut MOS, Ortu Deg-degan</title><content type='html'>&lt;div class="font12 c_abu pt_5"&gt;Laporan wartawan &lt;strong class="c_abu5"&gt;KOMPAS.com Hindra Liauw&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;            &lt;div class="c_blue_kompas font11 pb_10 pt_3"&gt;Senin, 19 Juli 2010 | 08:20 WIB&lt;/div&gt;             &lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_10"&gt;   				  &lt;div class="img310"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/07/19/0810587p.jpg" width="362" height="273"&gt;&lt;/div&gt;   				  &lt;div style="text-align: left;" class="font10 c_abu "&gt;Hindra Liauw&lt;/div&gt;   				     				  &lt;div class="c_abu font11 pt_5"&gt;   					Yety (50), orangtua Rias Diana Adipuspita, siswa baru SMAN 70  Jakarta.   				  &lt;/div&gt;   				                       				             				&lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA,  KOMPAS.com &lt;/strong&gt;— Istilah masa orientasi sekolah yang dulu sarat  kekerasan dari siswa senior kepada siswa baru membuat sejumlah orangtua  murid khawatir. &amp;quot;Kaki saya sampai &lt;em&gt;gemeter&lt;/em&gt;,&amp;quot; ujar Ibu Yety (50),  orangtua Rias Diana Adipuspita, siswa baru SMAN 70 Jakarta, kepada &lt;em&gt;Kompas.com&lt;/em&gt;,  Senin (18/7/2010) di halaman sekolah unggulan tersebut.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Namun,  Yety mengaku tenang setelah melihat hari pertama masa orientasi peserta  didik baru yang digelar SMAN 70 di halaman sekolah. Yety mengatakan,  pada Senin ini, ia akan menemani putrinya melewati masa orientasi hingga  selesai.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Apakah ada persiapan khusus? &amp;quot;Tidak ada. Biasa saja.  Tadi kami berangkat setelah shalat subuh pukul 05.15 biar enggak  terlambat. Pukul 06.30, pintu gerbang sekolah sudah dikunci,&amp;quot; kata Yety.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Lain  Yety, lain pula Yenny Subagio, orangtua siswa baru, Amarafat. Yenny  mengaku tak khawatir melepas putrinya mengikuti masa orientasi di SMAN  70. Pasalnya, tak kali ini saja Yenny menyekolahkan anaknya di sekolah  tersebut. &amp;quot;Anak pertama saya juga sekolah di sini, dan tidak ada  apa-apa,&amp;quot; katanya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Yenny mengaku selalu mewanti-wanti anaknya  agar tak berperilaku berlebihan yang dapat memicu gesekan antarsiswa.  &amp;quot;Saya menekankan agar anak saya memang benar-benar berpenampilan sebagai  pelajar, apa adanya,&amp;quot; ucapnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/19/08204442/Anak.Ikut.MOS..Ortu.Deg.degan"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/19/08204442/Anak.Ikut.MOS..Ortu.Deg.degan&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul class="font11 cc_blue_kompas arial"&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/19/0740550/Masa.Orientasi.SMA.70.Diawali.Upacara" rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Masa Orientasi SMA 70 Diawali  Upacara&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Ratusan siswa baru di Sekolah Menengah Atas  Negeri 70 mengawali Masa Orientasi Peserta Didik Baru, Senin 19/7/2010  dengan upacara bendera.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Masa  Orientasi SMA 70 Diawali Upacara                       &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/18/21463330/Indonesia.Kekurangan.300.Ribu.Bangku" rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Indonesia Kekurangan 300 Ribu  Bangku&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Pemerintah Indonesia saat ini hanya bisa  menyediakan 100 ribu bangku kuliah baru setiap tahunnya. Padahal,  Indonesua secara keseluruhan butuh 400 ribu bangku kuliah baru setiap  tahunnya.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Indonesia  Kekurangan 300 Ribu Bangku                       &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/18/20250045/Mendiknas:.RSBI.Akan.Dievaluasi." rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Mendiknas: RSBI Akan Dievaluasi  &amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Kementerian Pendidikan Nasional akan melakukan  evaluasi secara menyeluruh terhadap kebijakan dan pelaksanaan rintisan  sekolah bertaraf internasional yang berjalan sejak tahun  2006.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Mendiknas:  RSBI Akan Dievaluasi                        &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/17/20203911/Kisah.Perjuangan.dari.Pirikan." rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Kisah Perjuangan dari Pirikan  &amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Sekolah Menengah Atas Taruna Nusantara Magelang yang  kini berusia 20 tahun, Sabtu 17/7/2010, menyelenggarakan reuni  akbar&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Kisah  Perjuangan dari Pirikan                        &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/17/13243852/Gelar.Inaugurasi.Penerima.Beasiswa.PSF" rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Gelar Inaugurasi Penerima Beasiswa  PSF&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;SMAN 10 Malang Sampoerna Academy menggelar  inaugurasi bagi 150 siswa penerima beasiswa Putra Sampoerna Foundation  PSF.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Gelar  Inaugurasi Penerima Beasiswa PSF                       &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/16/21120699/Kaka:.Mau.Dicabut.kok.Bilang.Dibina" rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Kaka: Mau Dicabut kok Bilang  Dibina&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Kaka:  Mau Dicabut kok Bilang Dibina                       &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/16/19491268/ICW:.Proses.Hukum.Terus.Berlanjut." rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;ICW: Proses Hukum Terus Berlanjut  &amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Indonesia Corruption Watch ICW terus melakukan upaya  dan proses hukum terhadap kasus dugaan korupsi di rintisan sekolah  bertaraf internasional.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;ICW:  Proses Hukum Terus Berlanjut                        &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/16/15181115/Usman:.Saya.Tidak.Minta.Pencabutan.Status." rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Usman: Saya Tidak Minta Pencabutan  Status &amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Kepala Seksi Dinas Pendidikan Dasar 02,  Kecamatan Pulogadung,  membantah melayangkan surat pencabutan status  kependudukan dua orangtua siswa SDN RSBI Rawamangun 12.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Usman:  Saya Tidak Minta Pencabutan Status                        &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/16/13474388/Dompu.Bakal.Punya.SMK.Pariwisata" rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Dompu Bakal Punya SMK  Pariwisata&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Pembangunan SMK pariwisata di kawasan  Pantai Lakey, Dompu diharapkan hasilkan tenaga siap kerja majukan  pariwisata lokal.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Dompu  Bakal Punya SMK Pariwisata                       &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/16/11480920/Anak.Jangan.Menjadi.Korban" rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Anak Jangan Menjadi  Korban&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Kisruh yang terjadi antara orangtua murid dan  SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi Jakarta Timur mengakibatkan anak menjadi  pihak yang dirugikan.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Anak  Jangan Menjadi Korban                       &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/16/11034320/Berkat.Daun..Dosen.IPB.Raih.Penghargaan" rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Berkat Daun, Dosen IPB Raih  Penghargaan&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Dosen IPB Dr Rizal Damanik mendapat  perhargaan terbaik kedua dari Kementerian Diknas berkat penelitiannya  mengenai manfaat daun torbangun.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Berkat  Daun, Dosen IPB Raih Penghargaan                       &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/15/22324816/15.Siswa.Ditangkap.karena.Tawuran" rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;15 Siswa Ditangkap karena  Tawuran&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Sebanyak 15 siswa SMK Karya Nusantara dan SMK  Bina Karya Kabupaten Bekasi diamankan warga dan selanjutnya dibawa  aparat kepolisian.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;15  Siswa Ditangkap karena Tawuran                       &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/15/20455614/Pelajar.Tawuran..Satu.Tewas.Dibacok" rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Pelajar Tawuran, Satu Tewas  Dibacok&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Tawuran pelajar di Sukabumi, menyebabkan satu  siswa sekolah menengah kejuruan tewas dengan luka bacok. Korban tewas  dianiaya puluhan siswa SMK.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Pelajar  Tawuran, Satu Tewas Dibacok                       &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/15/18424326/Sekolah.Mau.Rubuh..Murid.murid.Ini.Resah" rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Sekolah Mau Rubuh, Murid-murid Ini  Resah&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Sebanyak 498 murid SD Negeri Malangnengah I,  Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten, resah karena sekolah  mereka terancam rubuh.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Sekolah  Mau Rubuh, Murid-murid Ini Resah                       &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/15/18232958/Ah..RSBI.Hanya.Mengubah.Budaya.Belajar.." rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Ah, RSBI Hanya Mengubah Budaya  Belajar! &amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;IGI mendesak Menteri Mendiknas untuk  menghentikan program RSBI yang hanya mengubah sistem belajar reguler  menjadi belajar dengan kurikulum.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Ah,  RSBI Hanya Mengubah Budaya Belajar!                        &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/15/1703484/KTP.Dicopot..Orangtua.Siswa.Santai..." rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;KTP Dicopot, Orangtua Siswa  Santai...&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Dua orangtua murid SDN RSBI Rawamangun 12  Pagi yang jadi sasaran tembak penghentian status sebagai warga DKI  Jakarta mengaku santai-santai saja.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;KTP  Dicopot, Orangtua Siswa Santai...                       &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/15/1514186/Kini..Status.Orangtua.Siswa.Terancam." rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Kini, Status Orangtua Siswa  Terancam!&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Kisruhnya persoalan orangtua murid dan  pihak SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi Jakarta Timur belum usai. Status  mereka sebagai warga DKI kini terancam.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Kini,  Status Orangtua Siswa Terancam!                       &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/15/12543214/Duh..Siswa.yang.Nakal.Didenda.Rp.50.000" rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Duh, Siswa yang Nakal Didenda Rp  50.000&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;SDN Sidokumpul 2 Kecamatan Gresik membuat  aturan berupa denda bagi siswa nakal. Belasan item pelanggaran dibuat  dengan maksimal Rp 50.000.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Duh,  Siswa yang Nakal Didenda Rp 50.000                       &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;li&gt;                       &lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/15/12282617/Disdik:.Jual.Beli.Kursi.Sulit.Dibuktikan" rel="&amp;lt;div id=tooltip&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Disdik: Jual Beli Kursi Sulit  Dibuktikan&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Dinas Pendidikan Kota Jambi menyatakan,  jual beli bangku saat PSB sangat sulit dibuktikan. Banyak masyarakat  justru enggan melaporkannya.&amp;lt;/div&amp;gt;"&gt;                         &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Disdik:  Jual Beli Kursi Sulit Dibuktikan                       &lt;/a&gt;                     &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-4415439923427164823?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/4415439923427164823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=4415439923427164823' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4415439923427164823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4415439923427164823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/07/anak-ikut-mos-ortu-deg-degan.html' title='Anak Ikut MOS, Ortu Deg-degan'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-4562100207851793267</id><published>2010-07-13T08:57:00.001+07:00</published><updated>2010-07-13T08:57:32.687+07:00</updated><title type='text'>Siswa Baru di Bondowoso Bayar Rp 2 Juta</title><content type='html'>&lt;div class="judul_kecil"&gt;&lt;strong&gt;Pungutan Sekolah&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_10"&gt;   				  &lt;div class="img310"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/04/29/1042269p.jpg" height="170" width="332"&gt;&lt;/div&gt;   				     				     				  &lt;div class="c_abu font11 pt_5"&gt;   					Ilustrasi&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;   				                       				&lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2009/07/08/06420426/Pungutan.Siswa.Baru.Harus.Dikembalikan"&gt;Pungutan Siswa Baru Harus Dikembalikan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2008/12/20/17180777/Ditarik.Pungutan..Siswa.SMPN.6.Padang.Demo"&gt;Ditarik Pungutan, Siswa SMPN 6 Padang Demo&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2008/12/14/18545565/Pungutan.Sekolah.Ilegal.Masih.Terjadi"&gt;Pungutan Sekolah Ilegal Masih Terjadi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt;             				&lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;BONDOWOSO, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;- Sejumlah wali murid baru SMA Negeri 2 Bondowoso, Jawa Timur, mengeluhkan mahalnya biaya dana bantuan insidental yang dibebankan kepada siswa baru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nilainya bervariasi, mulai Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta per siswa. Di SMA itu, tercatat sebanyak 207 siswa baru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mereka terpaksa membayar agar anaknya tetap bisa masuk SMA yang dirancang sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Ya terkejut, karena nilainya terlalu besar," ujar seorang wali murid yang tidak mau disebut namanya, Senin (12/7/2010).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain diwajibkan membayar Rp 2 juta, wali murid  juga diwajibkan membayar uang seragam sekolah sebesar Rp 700.000, uang kesiswaan Rp 450.000, dan uang SPP Rp 200.000.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kalau ditotal semua, biayanya bisa mencapai Rp 3,5 juta hingga Rp 4 juta," jelas pegawai di lingkungan Pemkab Bondowoso ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala SMA Negeri 2 Bondowoso, Sutikno, mengakui adanya pungutan dana bantuan insindental untuk siswa barunya itu. Namun, katanya, penarikan dana itu berdasarkan keputusan rapat antara wali murid, komite dan pihak sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain itu juga diperkuat surat rekomendasi Dinas Pendidikan Bondowoso tertanggal 19 Mei nomor 900/1484/430.81/2010. "Ada empat pilihan dana bantuan yang kami tawarkan, mulai minimal Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta," kata Sutikno.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Husni Syam, saat akan dikonfirmasi sedang tidak di kantornya. Handphonenya saat dihubungi sedang tidak aktif atau berada di luar area. &lt;strong&gt;(Izi Hartono) &lt;/strong&gt;Editor: yuli                                    |                                    Sumber :&lt;a href="http://www.surya.co.id/" target="_blank"&gt;Surya&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="left"&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/13/0628572/Siswa.Baru.di.Bondowoso.Bayar.Rp.2.Juta"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/13/0628572/Siswa.Baru.di.Bondowoso.Bayar.Rp.2.Juta&lt;/a&gt;&lt;br&gt;               &lt;/span&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-4562100207851793267?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/4562100207851793267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=4562100207851793267' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4562100207851793267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4562100207851793267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/07/siswa-baru-di-bondowoso-bayar-rp-2-juta.html' title='Siswa Baru di Bondowoso Bayar Rp 2 Juta'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-5255045765357247471</id><published>2010-07-13T08:55:00.001+07:00</published><updated>2010-07-13T08:55:36.321+07:00</updated><title type='text'>Disdik DKI akan Evaluasi RSBI</title><content type='html'>&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_10"&gt;   				  &lt;div class="img310"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2009/11/03/1347503p.jpg" height="104" width="137"&gt;&lt;/div&gt;   				  &lt;div style="text-align: left;" class="font10 c_abu "&gt;&lt;font size="1"&gt;shutterstock&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;   				     				  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;" class="c_abu font11 pt_5"&gt;&lt;font size="1"&gt; Ilustrasi: Evaluasi tersebut akan meliputi penerimaan siswa baru, pembiayaan, pengelolaan, serta hasil akademis dan akan membuat sejumlah perbandingan, antara RSBI dengan sekolah regular. &lt;/font&gt;&lt;/div&gt;   				                       				&lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/24/17360140/Wajib..Kuota.5.Persen.untuk.Siswa.Miskin"&gt;Wajib, Kuota 5 Persen untuk Siswa Miskin&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/21/16402997/Tahu..Kenapa.RSBI.Perlu.Diaudit.BPK."&gt;Tahu, Kenapa RSBI Perlu Diaudit BPK?&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/21/14481735/RSBI.Harus.Diaudit..juga.Dihapuskan"&gt;RSBI Harus Diaudit, juga Dihapuskan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/07/17161241/Diakui..Ada.Instruksi.Keluarkan.Siswa..."&gt;Diakui, Ada Instruksi Keluarkan Siswa...&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/05/26/10010157/RSBI.akan.Dievaluasi"&gt;RSBI akan Dievaluasi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt;             				&lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;- Dinas Pendidikan DKI Jakarta akan mengevaluasi Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) di DKI Jakarta. Evaluasi terutama dalam pelaksanaan program pendidikan gratis melalui bantuan operasional sekolah (BOS) dan bantuan operasional pendidikan (BOP).&lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt;                 &lt;div&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_1.gif" height="38" width="43"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div class="font20 c_abu pd_10"&gt;                   &lt;strong&gt;Evaluasi tersebut akan meliputi penerimaan siswa baru, pembiayaan, pengelolaan, serta hasil akademis. &lt;/strong&gt;                 &lt;/div&gt;&lt;div class="font12 pl_10 c_abu"&gt;-- Taufik Yudi Mulyanto &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/images/quote_2.gif" height="38" width="43"&gt;&lt;/div&gt;               &lt;/div&gt;&lt;p&gt;Demikian diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto di Jakarta, Senin (12/7/2010). Taufik mengatakan, evaluasi akan dilakukan setelah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2010/2011 ini selesai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Taufik mengatakan, evaluasi RSBI merupakan tuntutan masyarakat yang disampaikan pada saat PPDB. Evaluasi tersebut akan meliputi penerimaan siswa baru, pembiayaan, pengelolaan, serta hasil akademis. Untuk itu, Dinas Pendidikan akan membuat sejumlah perbandingan, antara RSBI dengan sekolah regular.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berdasarkan data Dinas Pendidikan DKI Jakarta, RSBI sudah menyebar di seluruh tingkatan pendidikan. Sebanyak 7 RSBI ada di tingkat SD, 9 untuk tingkat SMP, 10 untuk tingkat SMA, serta 14 RSBI untuk tingkat SMK.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Evaluasi juga untuk menyesuaikan sumber daya yang ada. Jika ternyata kondisi di lapangan menyatakan banyak di antara guru belum siap, program RSBI tidak akan dipaksakan, seperti kemampuan guru dalam berbahasa asing,&amp;quot; ujarnya. Penulis: LTF                                    |                                    Editor: latief                                    |                                    Sumber : ANT&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="left"&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/12/14170322/Disdik.DKI.akan.Evaluasi.RSBI"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/12/14170322/Disdik.DKI.akan.Evaluasi.RSBI&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/span&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-5255045765357247471?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/5255045765357247471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=5255045765357247471' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5255045765357247471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5255045765357247471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/07/disdik-dki-akan-evaluasi-rsbi.html' title='Disdik DKI akan Evaluasi RSBI'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-2287202246438918991</id><published>2010-07-12T09:20:00.001+07:00</published><updated>2010-07-12T09:20:15.940+07:00</updated><title type='text'>Hari Pertama Sekolah, Macet!</title><content type='html'>&lt;div class="judul_artikel"&gt;&lt;/div&gt;                         &lt;div class="c_blue_kompas font11 pb_10 pt_3"&gt;&lt;/div&gt;             &lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_10"&gt;   				  &lt;div class="img310"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/06/24/1844099p.jpg"&gt;&lt;/div&gt;   				  &lt;div style="text-align: left;" class="font10 c_abu "&gt;&lt;font size="1"&gt;KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;   				     				  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;" class="c_abu font11 pt_5"&gt;&lt;font size="1"&gt;   					Ilustrasi: Kepadatan lalu lintas kendaraan bermotor di ruas Jalan Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (24/6/2010).   				  &lt;/font&gt;&lt;/div&gt;   				                       				&lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/12/04422656/Warga.Berbelanja.Seragam.Sekolah"&gt;Warga Berbelanja Seragam Sekolah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/12/03032895/.Jadwal.Pendaftaran.Sekolah.dan.Kuliah.Bikin.Bingung."&gt; Jadwal Pendaftaran Sekolah dan Kuliah Bikin Bingung &lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/11/12385810/Omzet.Pedagang.Seragam.Meningkat"&gt;Omzet Pedagang Seragam Meningkat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/11/12194428/Tas.dan.Sepatu.Sekolah.Juga.Diserbu"&gt;Tas dan Sepatu Sekolah Juga Diserbu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/11/11481420/Toko.Seragam.Diserbu"&gt;Toko Seragam Diserbu&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt;             				&lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com&lt;/strong&gt; — Kemacetan lalu lintas mewarnai Jakarta pada hari pertama para murid masuk sekolah pada tahun ajaran baru 2010/2011 sehingga tidak sedikit yang terpaksa terlambat masuk. &amp;quot;Saya sudah berangkat dari rumah sekitar 45 menit sebelum jam masuk, tapi masih terlambat juga karena macet di mana-mana,&amp;quot; kata seorang siswa SMAN  yang sekolahnya terletak di kawasan Kemanggisan, Muhammad Rizal, Senin (12/7/2010).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di kawasan sekolahnya yang terletak di Kompleks Pajak memang terdapat tiga sekolah yang saling berdampingan dan ketiganya merupakan sekolah favorit di Jakarta Barat. Ketiga sekolah itu adalah SD Bhakti, SMPN 111, serta SMAN 78. Akibat berdampingannya ketiga sekolah itu, maka sepeda motor dan mobil menumpuk di sekitar sekolah yang membawa murid-murid sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kondisi tersebut bertambah parah mengingat trotoar yang seharusnya berfungsi untuk pejalan kaki, justru diisi oleh para pedagang makanan dan minuman. Belum lagi banyak mobil dan motor yang parkir di tepi jalan sehingga membuat jalan yang sudah sempit menjadi sempit lagi karena hanya mampu dilalui satu kendaraan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padahal, puluhan petugas keamanan sudah mengatur jalan raya sekitar tiga sekolah tersebut menjadi satu jalur. Namun, pengaturan arus lalu lintas menjadi satu arah tersebut tidak mampu menampung arus kendaraan yang melalui jalan sekitar sekolah tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Biasanya memang begini, Pak, kalau tahun ajaran baru dimulai karena banyak orangtua yang ingin mengantarkan anak sekolahnya pada hari pertama. Memasuki hari ketiga atau keempat biasanya kepadatan tidak terjadi lagi seperti sekarang ini,&amp;quot; kata seorang petugas keamanan, Farid, yang ikut sibuk mengatur arus lalu lintas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Farid, pada pagi hari saat sekolah, ruas jalan yang ada di sekitar tiga sekolah tersebut memang diatur menjadi satu arah karena memang jalan yang ada sempit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seorang ibu yang putrinya masuk kelas 1 di SD Bhakti, Ratna Sari, mengatakan, dirinya akan mengantar putrinya sekolah pada hari pertama dan diharapkan pada hari selanjutnya sudah tidak lagi. &amp;quot;Anak saya perlu penyesuaian dan belum tahu kelasnya di mana sehingga saya harus ikut mencari. Nanti kalau sudah tahu kelasnya, anak saya akan pergi menggunakan ojek saja,&amp;quot; kata Ratna Sari.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;	                                        &lt;div&gt;                              &lt;div class="left c_abu w125 font11"&gt;                                                &lt;/div&gt;                                             &lt;div class="font12 left w320" align="center"&gt;                               &lt;/div&gt;                                               &lt;div class="right c_abu w125 font11" align="right"&gt;                                                &lt;/div&gt;                                           &lt;/div&gt;                                                   &lt;span class="left"&gt;                                                   Editor: made                                    |                                    Sumber :&lt;a href="http://www.antaranews.com/" target="_blank"&gt;ANTARA&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/12/08063048/Hari.Pertama.Sekolah..Macet"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/12/08063048/Hari.Pertama.Sekolah..Macet&lt;/a&gt;&lt;br&gt;               &lt;/span&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-2287202246438918991?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/2287202246438918991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=2287202246438918991' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2287202246438918991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2287202246438918991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/07/hari-pertama-sekolah-macet.html' title='Hari Pertama Sekolah, Macet!'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-5560003493304706696</id><published>2010-07-09T08:04:00.001+07:00</published><updated>2010-07-09T08:04:50.153+07:00</updated><title type='text'>Sekolah, Lebih Siang Lebih Bermanfaat?</title><content type='html'>&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_10"&gt;   				  &lt;div class="img310"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/07/08/1818434p.jpg" height="186" width="361"&gt;&lt;/div&gt;   				  &lt;div style="text-align: left;" class="font10 c_abu "&gt;&lt;font size="1"&gt;M.LATIEF/&lt;a href="http://KOMPAS.COM"&gt;KOMPAS.COM&lt;/a&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;   				     				  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;" class="c_abu font11 pt_5"&gt;&lt;font size="1"&gt; Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Pediatrics &amp;amp; Adolescent Medicine pada Juli ini mengindikasikan, memundurkan jam sekolah memberikan manfaat besar bagi para siswa. &lt;/font&gt;&lt;/div&gt;   				                       				&lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2009/11/25/11201994/Persiapan.UN.Harus.Lebih.Awal..Jam.Belajar.juga.Ditambah"&gt;Persiapan UN Harus Lebih Awal, Jam Belajar juga Ditambah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2008/11/27/17485981/Jam.Masuk.Sekolah.Maju..Siswa.Pasti.Kurang.Tidur"&gt;Jam Masuk Sekolah Maju, Siswa Pasti Kurang Tidur&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt;             				&lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com &lt;/strong&gt;- Sebuah penelitian terbaru di Amerika Serikat (AS) ini memberikan gambaran, betapa anak-anak sekolah membutuhkan istirahat dan tidur yang cukup guna menyerap pelajaran dengan lebih baik. Penelitian dilakukan dengan memundurkan jam masuk sekolah 30 menit lebih telat dari jadwal sekolah pada umumnya.&lt;/p&gt;&lt;div class="quote"&gt;               &lt;/div&gt;&lt;p&gt;Penelitian kecil itu dilakukan di sebuah sekolah di Rhode Island. Pihak sekolah memundurkan jam masuk 30 menit lebih telat dari jadwal sekolah pada umumnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, penelitian dirancang untuk melihat perubahan kebiasaan tidur serta perilaku, tidak bertujuan untuk memonitor kinerja akademis para siswa. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Pediatrics &amp;amp; Adolescent Medicine pada Juli ini mengindikasikan, memundurkan jam sekolah memberikan manfaat besar bagi para siswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Hasilnya menakjubkan. Kami sama sekali tak menyangka,&amp;quot; kata Patricia Moss, dekan akademis St. George&amp;#39;s School di Middletown Rhode Island.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Banyak tantangan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menerapkan jam masuk sekolah lebih siang 30 menit dari jam sekolah pada umumnya membuat para siswa lebih konsentrasi terhadap pelajaran di kelas. Suasana hati siswa pun cenderung baik, selain juga dapat mengurangi kasus keterlambatan dan membuat para murid menyempatkan diri untuk sarapan sehat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para peneliti mengatakan, banyak alasan yang membuat pemunduran 30 menit itu dapat membuat perbedaan besar. Dikatakan para peneliti itu, remaja cenderung tengah berada dalam kondisi tidur lelap ketika mereka harus bangun untuk pergi sekolah di pagi hari. Kekurangan tidur ini dapat membuat mereka linglung, terutama yang sulit tidur sebelum pukul 11.00 malam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dr Judith Owens, peneliti sekaligus dokter anak di Hasbro Children&amp;#39;s Hospital di Providence mengatakan, temuan ini adalah sesuatu yang ilmiah dan menguatkan bukti, bahwa mengubah jam masuk sekolah memberikan manfaat bagi anak remaja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Owens bilang, adalah sebuah fakta, bahwa studi eksklusif yang hanya dilakukan di St. George&amp;#39;s School, Middletown, ini tidak melemahkan hasil penelitian. Namun dia mengakui, akan ada banyak tantangan bagi sekolah-sekolah umum untuk menerapkan usulan ini, seperti padatnya jadwal angkutan dan kesibukan orang tua.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kendati begitu, beberapa sekolah di Minneapolis dan West Des Moines telah menerapkan usulan ini. Dalam risetnya, para peneliti melakukan survei terhadap kebiasaan tidur pada 201 siswa SMA selama 9 minggu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hasil survei tersebut ternyata mengesankan. Sekolah-sekolah pun lantas membuat perubahan permanen terhadap jam masuk sekolah. Jam masuk yang biasanya pukul 08.00, dibuat mundur menjadi 08.30.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian, setiap jam pelajaran dipotong 5 hingga 10 menit. Ini dilakukan agar jam pulang sekolah tetap pada jam normal dan mencegah jam pulang lebih siang sehingga akan mengganggu aktivitas anak di luar sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hasilnya, terdapat peningkatan laporan pada siswa yang tidur sedikitnya selama delapan jam dari 16 persen menjadi hampir 55 persen. Laporan siswa yang mengantuk di siang hari pun turun dari 49 persen menjadi 20 persen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Laporan siswa yang kesiangan juga dilaporkan menurun hingga setengah. Para siswa juga mengaku tak lagi merasa terlalu tertekan atau kesal. Plus, kunjungan pada bagian kesehatan yang kini menurun drastis. Sementara permintaan sarapan pagi yang disiapkan bagi siswa meningkat dua kali lipat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Moss mengatakan, siswa yang menyempatkan sarapan sehat dapat membantu konsentrasinya saat pelajaran. Penelitian mengatakan, jika sekolah masuk siang murid akan mudah konstresi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tidak cocok &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuat keputusan memajukan jam masuk sekolah menjadi pukul 06.30 WIB, banyak pelajar harus bangun lebih pagi sehingga waktu tidur mereka berkurang. Dan memang, sampai saat ini belum ada studi khusus tentang dampak dimajukannya jam masuk sekolah di Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Tidak usah dilakukan penelitian juga memang akan begitu", ujar pakar pendidikan Dr Anita Lie kepada &lt;em&gt;Kompas.com&lt;/em&gt; di Jakarta, Kamis (8/7/2010), menanggapi hasil penelitian tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anita mengatakan, hal tersebut dikarenakan stamina siswa telah meningkat sehingga mereka menjadi lebih konsentrasi. Di luar negeri, sekolah siang diterapkan karena mereka hanya bersekolah saat musim gugur dan semi, sedangkan pada musim panas siswa diliburkan selama dua bulan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurutnya, di Indonesia pengaturan waktu seperti itu tidak cocok. Indonesia merupakan negara tropis, sehingga kelembaban udaranya tinggi dan membuat tubuh mudah letih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Di Indonesia masuk siang tidak cocok, sekolah cukup satu &lt;em&gt;shift &lt;/em&gt;saja, sedangkan untuk siang hari seharusnya kegiatan ekstrakulikuler," ujar dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika Widya Mandala Surabaya ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia melanjutkan, sekolah &lt;em&gt;full day &lt;/em&gt;pun tidak cocok diterapkan di Indonesia. Hal itu karena sekolah di Indonesia rata-rata sudah menggunakan AC, sehingga akan berdampak pada pemanasan global yang semakin parah. Apalagi, kata dia, sekarang sekolah tidak punya pilihan lain selain menggunakan AC.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Contoh saja Singapura, yang merupakan negara maju, sekolah tidak menggunakan AC,&amp;quot; ujar peraih gelar Doktor Bidang Kurikulum dan Pengajaran dari Baylor University, Texas, AS, ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/08/18201832/Sekolah..Lebih.Siang.Lebih.Bermanfaat"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/08/18201832/Sekolah..Lebih.Siang.Lebih.Bermanfaat&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-5560003493304706696?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/5560003493304706696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=5560003493304706696' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5560003493304706696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5560003493304706696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/07/sekolah-lebih-siang-lebih-bermanfaat.html' title='Sekolah, Lebih Siang Lebih Bermanfaat?'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-5015179512840062215</id><published>2010-07-08T16:24:00.001+07:00</published><updated>2010-07-08T16:24:18.663+07:00</updated><title type='text'>PPDB Selesai, Total Pendaftar 68.162</title><content type='html'>Pendaftaran ulang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) hari ketiga atau hari terakhir telah selesai pada Kamis (8/7/2010) pukul 11.59 WIB tadi. Total pendaftar mencapai 68.162, dengan perincian, pendaftar asal DKI Jakarta yang terlayani mencapai 64.088 peserta, sedangkan dari luar DKI sebanyak 4.074 calon siswa.&lt;p&gt;Demikian laporan terakhir disampaikan Kepala Sub Bagian Humas Dinas Pendidikan DKI Jakarta Bowo Irianto kepada &lt;em&gt;Kompas.com, &lt;/em&gt;Kamis (8/7/2010). Adapun rincian masing-masing per satuan pendidikan, yaitu SMAN: 39.762 (DKI: 37.181/Luar DKI: 2.581) dan SMKN: 28.400 Peserta (DKI: 26.907/Luar DKI:1.493).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, kondisi daya tampung SMA dan SMK Negeri yang akan diisi melalui PPDB &lt;em&gt;online &lt;/em&gt;sejak 6 sampai 8 Juli 2010 ini, yaitu SMAN: 29.332 (DKI: 27.866/Luar DKI: 1.466), sedangkan untuk SMKN sebanyak 14.680 (DKI:13.931/Luar DKI; 749).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dikatakannya, berdasarkan data di Posko PPDB DKI Jakarta, jumlah total daya tampung SMAN/SMKN yang akan diisi melalui kegiatan PPDB &lt;em&gt;online &lt;/em&gt;tersebut sebanyak 44.012 tempat atau sudah terlayani 155 persen dari daya tampung yang ada. &lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;  					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/08/03434584/Pendaftaran..Lancar."&gt;Pendaftaran  Lancar &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/07/10284448/PPDB.Online.Lancar..Tapi.Sepi...."&gt;PPDB Online Lancar, Tapi Sepi....&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/07/03385899/Pendaftaran.Ulang.Dimulai"&gt;Pendaftaran Ulang Dimulai&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/06/10003419/Akhirnya..PPDB.Dibuka.Lagi..."&gt;Akhirnya, PPDB Dibuka Lagi...&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/05/03404495/Pendaftaran..Diulang."&gt;Pendaftaran  Diulang &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/08/14475427/PPDB.Selesai..Total.Pendaftar.68.162"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/08/14475427/PPDB.Selesai..Total.Pendaftar.68.162&lt;/a&gt;&lt;br&gt;  					&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-5015179512840062215?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/5015179512840062215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=5015179512840062215' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5015179512840062215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5015179512840062215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/07/ppdb-selesai-total-pendaftar-68162.html' title='PPDB Selesai, Total Pendaftar 68.162'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-6124357977640759643</id><published>2010-07-07T11:07:00.001+07:00</published><updated>2010-07-07T11:07:13.778+07:00</updated><title type='text'>ICW Ajukan Sengketa Informasi Dana BOS</title><content type='html'>&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;- Indonesia Corruption Watch (ICW) mengajukan sengketa informasi terkait dengan pengelolaan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Pihak yang diajukan adalah Gubernur DKI Jakarta, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, dan lima kepala sekolah menengah pertama induk.&lt;br&gt;&lt;p&gt;Pengajuan sengketa informasi disampaikan ke Komisi Informasi Pusat, Selasa (6/7/2010) kemarin. Peneliti Senior ICW Febri Hendri mengatakan, terdapat dugaan korupsi terhadap lima SMP yang menginduki Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) di Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Tidak seluruh dana BOS yang diperuntukkan bagi para peserta TKBM dipergunakan bagi para peserta dan ada dugaan penyelewengan sekolah-sekolah induk itu pada 2007-2009. Kami berkali-kali meminta informasi terkait dengan dana itu, tetapi diabaikan," ujar Febri.&lt;/p&gt;Pelaporan sengketa informasi itu dilatarbelakangi pengabaian dan penolakan atas permintaan dokumen laporan pemeriksaan inspektorat dan surat pertanggungjawaban (SPJ) dana BOS dan BOP TKBM SMP induk se-Jakarta. Pihak ICW dan Koalisi Anti Korupsi Pendidikan (KAKP) sudah melayangkan surat permintaan informasi ke Gubernur dan lima kepala SMP pada 6 Mei 2010, tetapi diabaikan.&lt;p&gt;"Pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak menaati Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 2008 tentang KIP (Keterbukaan Informasi Publik), yang terbukti dengan pengabaian atas permintaan informasi publik. Dinas Pendidikan DKI Jakarta menyatakan, dokumen SPJ yang diminta KAKP adalah 'dokumen negara' alias rahasia negara," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak UU No 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik diberlakukan resmi, publik berhak mengakses informasi di badan publik. UU No 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik diundangkan pada 30 April 2008, tetapi baru diterapkan pada 30 April 2010. Salah satu tujuan UU itu adalah perlunya pengawasan publik terhadap penyelenggaraan negara dan badan publik-lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan lembaga yang mendapat dana dari APBN/APBD, sumbangan masyarakat, dan dana luar negeri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sengketa antara pemohon informasi dan badan publik ditengahi Komisi Informasi Pusat. Febri berharap Komisi Informasi Pusat memanggil Gubernur, kepala dinas, dan pemimpin sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Ini pembelajaran bagi publik bahwa mereka punya hak atas informasi publik dan kini ada mekanismenya. Keterbukaan informasi publik sangat penting karena terkait dengan transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan kebijakan dan pemerintahan," ujarnya. &lt;strong&gt;(INE)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/07/09413191/ICW.Ajukan.Sengketa.Informasi.Dana.BOS"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/07/09413191/ICW.Ajukan.Sengketa.Informasi.Dana.BOS&lt;/a&gt;..&lt;br&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-6124357977640759643?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/6124357977640759643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=6124357977640759643' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6124357977640759643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6124357977640759643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/07/icw-ajukan-sengketa-informasi-dana-bos.html' title='ICW Ajukan Sengketa Informasi Dana BOS'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-3988453519549707524</id><published>2010-07-06T16:12:00.001+07:00</published><updated>2010-07-06T16:12:06.496+07:00</updated><title type='text'>Selain Maaf, Ada Janji dari Kadisdik....</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="img310"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/07/02/1138364p.JPG"&gt;&lt;/div&gt;   				  &lt;div style="text-align: left; font-family: arial narrow,sans-serif;" class="font10 c_abu "&gt;&lt;font size="1"&gt;&lt;a href="http://KOMPAS.COM/KRISTIANTO"&gt;KOMPAS.COM/KRISTIANTO&lt;/a&gt; PURNOMO&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: arial narrow,sans-serif;"&gt;    				     				  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left; font-family: arial narrow,sans-serif;" class="c_abu font11 pt_5"&gt;&lt;font size="1"&gt; Kadisdik berjanji, kesalahan ini semoga tidak terjadi lagi. Foto petugas memasukkan data calon siswa baru SMA secara online saat pendaftaran peserta didik baru (PPDB) di SMA 70, Jakarta Selatan, Jumat (2/7/2010). &lt;/font&gt;&lt;/div&gt;   				                       				&lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto meminta maaf atas terjadinya kerusakan server komputer pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online sehingga proses pendaftaran harus diulang pada 6-8 Juli. Taufik berjanji, kesalahan ini tidak terjadi lagi.&lt;br&gt; &lt;p&gt;"Kami minta maaf dengan kejadian yang meresahkan calon siswa dan orang tua. Ini memang kejadian yang tidak terhindarkan," ujar Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto kepada &lt;em&gt;Kompas.com &lt;/em&gt;di Jakarta, Selasa (06/7/2010).&lt;/p&gt; Namun, Taufik menegaskan kepada calon siswa dan orang tua, tidak diterimanya siswa di sekolah yang diharapkan bukan lantaran jaringan yang eror. Masuk atau tidaknya siswa di sekolah yang diharapkan berdasarkan pada 3 komponen yaitu pada keingininan siswa, kemampuan atau nilai siswa, dan keadaan persaingan sekolah yang dituju. &lt;p&gt;"Kami akan berusaha keras dan seoptimal mungkin, berdoa bersama agar  tidak terjadi kesalahan lagi," kata Taufik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dia menambahkan, kesalahan ini semoga tidak terjadi lagi. Terbukti, kata Taufik, jaringan tidak lagi eror sejak Selasa (6/7/2010) pagi hingga siang harinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Saya  berharap kekhawatiran dan keraguan orang tua menjadi lebih baik," harap Taufik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/06/14454967/Selain.Maaf..Ada.Janji.dari.Kadisdik.."&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/06/14454967/Selain.Maaf..Ada.Janji.dari.Kadisdik..&lt;/a&gt;..&lt;br&gt; &lt;/p&gt; &lt;strong&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/06/09493399/Kepala.Dinas.Pendidikan.DKI.Minta.Maaf."&gt;Kepala Dinas Pendidikan DKI Minta Maaf &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/05/15343354/PPDB.Kacau..Disdik.Harus.Minta.Maaf"&gt;PPDB Kacau, Disdik Harus Minta Maaf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/05/15343016/Pemprov.Harus.Minta.Maaf.Secara.Terbuka"&gt;Pemprov Harus Minta Maaf Secara Terbuka&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-3988453519549707524?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/3988453519549707524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=3988453519549707524' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3988453519549707524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3988453519549707524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/07/selain-maaf-ada-janji-dari-kadisdik.html' title='Selain Maaf, Ada Janji dari Kadisdik....'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-3438362147950306769</id><published>2010-07-05T09:31:00.001+07:00</published><updated>2010-07-05T09:31:30.709+07:00</updated><title type='text'>Data PPDB yang Masuk Dianulir</title><content type='html'>&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="font14 c_blue_kompas pb_5"&gt;&lt;a href="http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/07/04/12471647/Data.PPDB.yang.Masuk.Dianulir"&gt;&lt;strong&gt;Data PPDB yang Masuk Dianulir&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; Dengan keputusan mengulang seluruh proses PPDB DKI 2010 untuk tingkat SMA/SMK, maka semua data PPDByang sudah masuk ke database dianggap tidak berlaku. &lt;/div&gt; 						  &lt;div class="c_abu9 font11 pt_5"&gt;Minggu, 4 Juli 2010 | 12:47 WIB&lt;span id="text_476519"&gt;| Dibaca 7830 kali | 39 Komentar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; 						   						&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;img alt="" src="http://www.kompas.com/data/photo/2010/07/04/1218148t.jpg"&gt;&lt;div&gt;                            							&lt;div class="font11 c_red"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 							&lt;div class="font14 c_blue_kompas pb_5"&gt;&lt;a href="http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/07/04/12190641/Calon.Siswa.Harus.Daftar.Kembali.6.Juli"&gt;&lt;strong&gt;Calon Siswa Harus Daftar Kembali 6 Juli&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;  Menyusul kekacauan sistem komputerisasi jaringan online, Dinas Pendidikan DKI Jakarta akhirnya memutuskan untuk mengulang seluruh proses pendaftaran peserta didik baru tingkat SMA/SMK. &lt;/div&gt; 						  &lt;div class="c_abu9 font11 pt_5"&gt;Minggu, 4 Juli 2010 | 12:19 WIB&lt;span id="text_476516"&gt;| Dibaca 12150 kali | 77 Komentar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; 						   						&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;img alt="" src="http://www.kompas.com/data/photo/2010/07/02/1449506t.jpg"&gt;&lt;div&gt;                            							&lt;div class="font11 c_red"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 							&lt;div class="font14 c_blue_kompas pb_5"&gt;&lt;a href="http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/07/03/13220396/Situs.PPDB.Sudah.Bisa.Dibuka"&gt;&lt;strong&gt;Situs PPDB Sudah Bisa Dibuka&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;  							 Situs &lt;a href="http://sma.ppdbdki.org"&gt;http://sma.ppdbdki.org&lt;/a&gt; saat ini sudah bisa dibuka. Hasil seleksi sementara sudah bisa terlihat. 						  &lt;/div&gt; 						  &lt;div class="c_abu9 font11 pt_5"&gt;Sabtu, 3 Juli 2010 | 13:22 WIB&lt;span id="text_476230"&gt;| Dibaca 7852 kali | 41 Komentar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; 						   						&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;img alt="" src="http://www.kompas.com/data/photo/2010/07/03/1152113t.jpg"&gt;&lt;div&gt;                            							&lt;div class="font11 c_red"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 							&lt;div class="font14 c_blue_kompas pb_5"&gt;&lt;a href="http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/07/03/13184495/Nunggu.dari.Pagi..Eh.Disarankan.Pulang"&gt;&lt;strong&gt;Nunggu dari Pagi, Eh Disarankan Pulang&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;  Proses pencetakan bukti tanda terima pendaftaran tahap I calon peserta didik baru SMK Negeri di SMKN 20 belum bisa diteruskan. &lt;/div&gt; 						  &lt;div class="c_abu9 font11 pt_5"&gt;Sabtu, 3 Juli 2010 | 13:18 WIB&lt;span id="text_476226"&gt;| Dibaca 1389 kali | 0 Komentar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;a href="http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/802/PENDAFTARAN.SMA"&gt;http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/802/PENDAFTARAN.SMA&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-3438362147950306769?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/3438362147950306769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=3438362147950306769' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3438362147950306769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3438362147950306769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/07/data-ppdb-yang-masuk-dianulir.html' title='Data PPDB yang Masuk Dianulir'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-7548447211554296021</id><published>2010-06-28T12:23:00.000+07:00</published><updated>2010-06-28T12:24:01.375+07:00</updated><title type='text'>Jadwal PPDB DKI; Ini Lho, Jadwal PPDB Online SMA dan SMK!</title><content type='html'>&lt;div class="right w310 pl_10 pb_10 pt_10"&gt;   				  &lt;div class="img310"&gt;&lt;img alt="" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2008/03/05/210206p.JPG"&gt;&lt;/div&gt;   				  &lt;div style="text-align: left;" class="font10 c_abu"&gt;IMAN SURYANTO/KOMPAS IMAGES &lt;/div&gt;&lt;div&gt;   				     				  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;" class="c_abu font11 pt_5"&gt;   					Ilustrasi: Seperti diberitakan sebelumnya, calon siswa SMA negeri di DKI Jakarta memiliki lima pilihan sekolah tujuan.     				  &lt;/div&gt;   				                       				&lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="isi_berita pt_5"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;- Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto, Minggu (27/6/2010), mengatakan, seperti tahun lalu semua proses PPDB tahun ajaran 2010/2011 akan dilakukan secara online.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti diberitakan sebelumnya, calon siswa SMA negeri memiliki lima pilihan sekolah tujuan. Namun, agar tidak ketinggalan informasi, selain syarat dan tahapan yang perlu diketahui adalah Jadwal Pelaksanaan PPDB pada SMA dan SMK Real Time Online di DKI Jakarta ini;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 		&lt;!--  		BODY,DIV,TABLE,THEAD,TBODY,TFOOT,TR,TH,TD,P {"Arial"; font-size:x-small } 		 --&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;/p&gt;&lt;table border="0" cellspacing="0" cols="5" rules="none" width="509" frame="void" height="394"&gt; 	&lt;colgroup&gt;&lt;col width="50"&gt;&lt;col width="138"&gt;&lt;col width="101"&gt;&lt;col width="87"&gt;&lt;col width="118"&gt;&lt;/colgroup&gt; 	&lt;tbody&gt; 		&lt;tr&gt;  			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left" width="50" height="17"&gt;&lt;strong&gt;No.&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left" width="138"&gt;&lt;strong&gt;Kegiatan&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left" width="101"&gt; &lt;strong&gt;Waktu&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left" width="87"&gt;&lt;strong&gt;Jam&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left" width="118"&gt;&lt;strong&gt;Keterangan&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;  		&lt;/tr&gt; 		&lt;tr&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="right" height="17"&gt;1&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt;Pra Pendaftaran PPDB&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt; 28 - 30 Juni&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt;08.00 - 15.00&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" rowspan="3" align="left" bgcolor="#ffffff"&gt; &lt;/td&gt; 		&lt;/tr&gt; 		&lt;tr&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="right" height="32"&gt; 2&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt;Pendaftaran PPDB Tahap I&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt;1 - 3 Juli&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt; 08.00 - 15.00&lt;/td&gt; 			&lt;/tr&gt; 		&lt;tr&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="right" height="32"&gt;3&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt;Pengumuman PPDB Tahap I&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt; 3 Juli&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="right"&gt;16&lt;/td&gt; 			&lt;/tr&gt; 		&lt;tr&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="right" height="17"&gt;4&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt; Lapor Diri Tahap I&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt;5- 6 Juli&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt;08.00 - 15.00&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt; Di Sekolah Tujuan&lt;/td&gt; 		&lt;/tr&gt; 		&lt;tr&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="right" height="32"&gt;5&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt;Pengumuman Tempat Kosong&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt; 6 Juli&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="right"&gt;16&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" rowspan="3" align="left" bgcolor="#ffffff"&gt; &lt;/td&gt; 		&lt;/tr&gt; 		&lt;tr&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="right" height="32"&gt; 6&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt;Pendaftaran PPDB Tahap II&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt;7 - 8 Juli&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt; 08.00 - 15.00&lt;/td&gt; 			&lt;/tr&gt; 		&lt;tr&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="right" height="32"&gt;7&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt;Pengumuman PPDB Tahap II&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt; 8 Juli&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="right"&gt;16&lt;/td&gt; 			&lt;/tr&gt; 		&lt;tr&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="right" height="17"&gt;8&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt; Lapor Diri Tahap II&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt;9 Juli&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt;08.00 - 15.00&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" rowspan="3" align="left" bgcolor="#ffffff"&gt; Di Sekolah Tujuan&lt;/td&gt; 		&lt;/tr&gt; 		&lt;tr&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="right" height="32"&gt;9&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt;Hari Pertama Masuk Sekolah&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt; 12 Juli&lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt; &lt;/td&gt; 			&lt;/tr&gt; 		&lt;tr&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left" height="17"&gt; &lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt;  &lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt; &lt;/td&gt; 			&lt;td style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0);" align="left"&gt; &lt;/td&gt; 			&lt;/tr&gt; 	&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;&lt;/div&gt;	                                        &lt;div&gt;                              &lt;div class="left c_abu w125 font11"&gt;                                                &lt;/div&gt;                                             &lt;div class="font12 left w320" align="center"&gt;                               &lt;/div&gt;                                               &lt;div class="right c_abu w125 font11" align="right"&gt;                                                &lt;/div&gt;                                           &lt;/div&gt;                                    &lt;br&gt;&lt;strong&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/28/1101293/Tata.Cara.Mendaftar.Online.Ada.di.Sini.."&gt;Tata Cara Mendaftar Online Ada di Sini! &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/28/09345546/Hari.Ini..Prapendaftaran.SMA/SMK"&gt;Hari Ini, Prapendaftaran SMA/SMK&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/21/17361686/Sudah.Tahu.3.Tahap.Pendaftaran.ini."&gt;Sudah Tahu 3 Tahap Pendaftaran ini?&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/05/19372854/Inilah.Jadwal.PPDB.Online"&gt;Inilah Jadwal PPDB Online&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ul&gt; 					&lt;/div&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/28/11173845/Ini.Lho..Jadwal.PPDB.Online.SMA.dan.SMK"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/28/11173845/Ini.Lho..Jadwal.PPDB.Online.SMA.dan.SMK&lt;/a&gt;.&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-7548447211554296021?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/7548447211554296021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=7548447211554296021' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/7548447211554296021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/7548447211554296021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/06/jadwal-ppdb-dki-ini-lho-jadwal-ppdb.html' title='Jadwal PPDB DKI; Ini Lho, Jadwal PPDB Online SMA dan SMK!'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-343191502885191208</id><published>2010-06-27T09:36:00.001+07:00</published><updated>2010-06-27T09:36:32.015+07:00</updated><title type='text'>Terapkan Komunikasi Bersahabat kepada Anak</title><content type='html'>&lt;div class="font14n pl_25 pr_24" style="line-height: 18px;"&gt;Teknologi, dengan segala variasi medianya, pada saat ini sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kepada anak-anak. Jika tak berhati-hati dalam menggunakannya, bisa-bisa yang didapat justru dampak negatif dari teknologi tersebut, seperti tayangan/gambar yang tidak pantas yang dilihat anak-anak.&lt;span id="article_body"&gt;&lt;p&gt;Berdasarkan kondisi ini, psikolog perkembangan anak, Seto Mulyadi, berpendapat, membentengi hati anak lebih penting dibandingkan dengan menjauhkan mereka dari teknologi. "Teknologi tidak bisa dicegah keberadaannya. Jadi, yang bisa dilakukan adalah membentengi hati melalui komunikasi yang efektif," kata Seto.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Komunikasi yang efektif, dikatakan Seto, tidak tergantung dari kuantitas pertemuan orangtua dengan anak, tetapi lebih menekankan pada kualitas komunikasi. Komunikasi berkualitas yang dimaksud Seto adalah komunikasi yang bersahabat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Anak jangan diberi pernyataan yang bersifat instruktif karena mereka biasanya justru akan penasaran bila dilarang. Jangan pula dilakukan pengawasan berlebihan karena akan membuat mereka frustrasi, yang justru akan membuat menjauh dari keluarga," ujar Seto.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam komunikasi bersahabat, yang perlu ditekankan adalah pendekatan afeksi, apalagi jika si anak sudah pernah terakses dengan hal yang berbau pornografi. Salah satu caranya adalah dengan bertanya tentang perasaan anak saat mereka melihat gambar porno.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Dari komunikasi ini, orangtua dapat mengarahkan kalau si anak sendiri yang akhirnya nanti punya pendapat bahwa pornografi harus mereka hindari," tutur Seto.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seto mengatakan, sesibuk apa pun orangtua bekerja, mereka harus memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan anak. Seto menjelaskan, anak dengan usia sekolah dasar bisa mengalami keguncangan jika sering melihat tayangan pornografi. Ciri-cirinya di antaranya sering terlihat bingung, tertekan, dan kehilangan konsentrasi terhadap pelajaran di sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kalau ini terjadi, mereka pun akan kehilangan masa kanak-kanak karena kedewasaan yang muncul pada diri mereka adalah karbitan. Jadi, bagi orangtua yang punya anak, luangkanlah waktu untuk mereka. Akan lebih baik jika anak perempuan berkomunikasi dengan sang ibu dan anak laki-laki dengan ayah mereka supaya komunikasi yang berlangsung lebih terbuka," kata Seto. (IYA)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/27/04054873/terapkan.komunikasi.bersahabat.kepada.anak"&gt;http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/27/04054873/terapkan.komunikasi.bersahabat.kepada.anak&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-343191502885191208?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/343191502885191208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=343191502885191208' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/343191502885191208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/343191502885191208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/06/terapkan-komunikasi-bersahabat-kepada.html' title='Terapkan Komunikasi Bersahabat kepada Anak'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-8421862957953969439</id><published>2010-06-22T07:43:00.001+07:00</published><updated>2010-06-22T07:43:46.527+07:00</updated><title type='text'>Banyaknya "Waktu Kosong" Rugikan Siswa</title><content type='html'>&lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div style="font-family: tahoma,sans-serif;" class="font10a c_orange"&gt;&lt;font size="4"&gt;&lt;b&gt;Kalender Pendidikan Kacau karena UN Dipercepat&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;         	         	                            		                     		                  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;Jakarta, kompas - Kalender pendidikan belajar-mengajar sekolah sebaiknya disusun ulang karena banyak "waktu kosong" atau tak efektif bagi siswa, terutama siswa kelas IX dan XII. Waktu tak efektif terutama antara pelaksanaan ujian nasional dan pengumumannya yang terlalu lama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitu pula antara ujian nasional (UN) ulangan dan pengumumannya serta jarak dengan pendaftaran siswa/mahasiswa baru terlalu lama. Waktu tak efektif tersebut hampir dua bulan sehingga kurang baik bagi siswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejumlah guru di berbagai daerah, Senin (21/6), mengatakan, menjelang pelaksanaan UN, siswa disibukkan dengan latihan-latihan soal sejak bulan Februari-Maret. Materi pelajaran semester genap pun dipadatkan sehingga materi detail tak bisa disampaikan. Sebaliknya, setelah UN, justru banyak waktu kosong siswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala SMP Negeri 4 Bogor Hasanuddin mengatakan, waktu tidak efektif siswa tahun ini lebih panjang karena jadwal UN dimajukan untuk mengakomodasi UN ulangan. Jika jadwal UN tidak dimajukan, waktu kosong siswa hanya 2-3 minggu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Selain UN dipercepat, UN ulangan juga tidak ada di dalam kalender pendidikan. Sekolah memang jadi agak repot karena materi semester genap harus selesai lebih cepat," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fadiloes Bahar dari Serikat Guru Kota Tangerang mengatakan, baik siswa maupun sekolah kerap menganggap, jika UN berakhir, berarti berakhir pula proses belajar-mengajar. Padahal, siswa masih harus menjalani ujian sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Ujian sekolah menjadi nomor dua. Itu sebabnya banyak siswa yang nilai ujian nasionalnya lebih tinggi daripada nilai ujian sekolah," kata Fadiloes.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Evaluasi kembali&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fadiloes khawatir, kalender kegiatan belajar-mengajar yang kacau akan kembali terjadi pada tahun ajaran mendatang. Untuk itu, ia meminta pemerintah agar mengkaji secara cermat kalender pendidikan untuk tahun mendatang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua Umum Federasi Guru Independen Indonesia Suparman menyatakan, banyaknya waktu tak efektif kurang bagus bagi siswa. Karena itu, ia mengusulkan agar setelah UN proses belajar tetap berlanjut dengan penekanan pada pembelajaran karakter.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"UN mereduksi atau mempersempit pembelajaran siswa karena siswa hanya disiapkan untuk menghadapi UN, tidak untuk belajar," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ahli evaluasi pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Said Hamid Hasan, mengusulkan, perlu ada mekanisme atau pengaturan jadwal ujian, pengumuman, dan proses seleksi masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya yang lebih jelas dan teratur. "Perlu ada pemikiran tentang kualitas pendidikan yang lebih jelas," ujarnya. (LUK)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/22/03131815/banyaknya.waktu.kosong.rugikan.siswa"&gt;http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/22/03131815/banyaknya.waktu.kosong.rugikan.siswa&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-8421862957953969439?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/8421862957953969439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=8421862957953969439' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8421862957953969439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/8421862957953969439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/06/banyaknya-waktu-kosong-rugikan-siswa.html' title='Banyaknya &quot;Waktu Kosong&quot; Rugikan Siswa'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-3423910127898548057</id><published>2010-06-20T17:23:00.001+07:00</published><updated>2010-06-20T17:23:10.470+07:00</updated><title type='text'>ICW: RSBI Rawan Korupsi</title><content type='html'>&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;— Di sekolah yang sudah mendapat status rintisan sekolah bertaraf internasional atau RSBI justru rawan terjadi tindak pidana korupsi. Pasalnya, kepala sekolah memiliki peran yang dominan dalam menentukan pungutan walau sekolah sudah mendapat subsidi dari pemerintah.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Hal itu diperparah dengan tidak adanya aturan jelas terhadap mekanisme penggunaan anggaran. &amp;quot;Sekolah ini sudah mendapat subsidi dari pemerintah, tapi masih melakukan pungutan terhadap orangtua calon murid, seperti pembayaran syarat administratif, biaya tes, dana sumbangan pembangunan, dan SPP,&amp;quot; ucap koordinator divisi pelayanan publik ICW, Ade Irawan, Minggu (20/6/2010).&lt;br&gt;&lt;br&gt;Di dalam petunjuk pelaksanaan RSBI, tidak diatur dengan jelas mengenai mekanisme pengganggaran dan penggunaan anggaran sehingga pihak kepala sekolah cenderung rajin melakukan pungutan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;RSBI adalah status yang diberikan setelah sebuah sekolah memenuhi standar nasional pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing lulusan di tingkat regional dan internasional.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sementara itu, informasi dari Kemendiknas ke sekolah cenderung tertutup sehingga potensi korupsi sangat besar terjadi pada pengadaan, sosialisasi, pelatihan-pelatihan, pengawasan, dan evaluasi.&lt;strong&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;JUMLAH RSBI 2009&lt;br&gt;&lt;/strong&gt;Sekolah Dasar 136&lt;br&gt;Sekolah Menengah Pertama 300&lt;br&gt;Sekolah Menengah Lanjutan 118&lt;br&gt;Sekolah Menengah Atas 320&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Pendidikan Pekerja Indonesia&lt;br&gt; &lt;/strong&gt;Pendidikan SD&lt;br&gt;55,31 juta  (51,50%)&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pendidikan Diploma &lt;br&gt;2,89 juta  (2,69%)&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pendidikan Sarjana &lt;br&gt;4,94 juta (4,60%)&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/2010/06/17/13512194/Status.RSBI..Bangunannya.Kok.Mau.Roboh."&gt;Status RSBI, Bangunannya Kok Mau Roboh!&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/2010/06/16/10353868/Awas..Bangunan.SMKN.29.Hampir.Roboh"&gt;Awas, Bangunan SMKN 29 Hampir Roboh&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/2010/06/15/13045861/Anak.Miskin.Pun.Bisa.Sekolah.di.RSBI"&gt;Anak Miskin Pun Bisa Sekolah di RSBI&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/2010/06/11/20260748/DPRD.Bekasi.Panggil.Kepsek.RSBI"&gt;DPRD Bekasi Panggil Kepsek RSBI&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/2010/06/11/09155973/Ditangani.Provinsi.untuk.Bantu.Pendanaan"&gt;Ditangani Provinsi untuk Bantu Pendanaan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/2010/06/20/16283095/ICW.RSBI.Rawan.Korupsi-5"&gt;http://nasional.kompas.com/read/2010/06/20/16283095/ICW.RSBI.Rawan.Korupsi-5&lt;/a&gt;&lt;br&gt;  					&lt;/div&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-3423910127898548057?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/3423910127898548057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=3423910127898548057' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3423910127898548057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3423910127898548057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/06/icw-rsbi-rawan-korupsi.html' title='ICW: RSBI Rawan Korupsi'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-3741647677777042629</id><published>2010-06-16T15:53:00.001+07:00</published><updated>2010-06-16T15:53:28.654+07:00</updated><title type='text'>Tanpa Akta Ditolak Sekolah</title><content type='html'>&lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div style="font-family: arial narrow,sans-serif;" class="font10a c_orange"&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="4"&gt;&lt;i&gt;Setiap Hari 200 Warga Serbu Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;         	         	                            		                     		                  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;Jakarta, Kompas - Ratusan orangtua calon murid sekolah dasar bingung dan kesal karena tidak mendapatkan informasi yang tepat untuk mendaftar sekolah. Sekolah menolak menerima anak mereka karena tidak mempunyai akta kelahiran atau surat kenal lahir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karmini (45), warga Jalan Bendungan Melayu RT 07 RW 01 Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta Utara, mengaku kesal. Dia sudah dua kali bolak-balik mengurus pendaftaran anaknya ke SDN 09 Rawa Badak Selatan, tetapi ditolak terus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Alasan sekolah karena anak saya tidak punya akta kelahiran. Supaya bisa diterima, saya disuruh mengurus surat keterangan dari kelurahan. Ternyata setelah saya beri surat keterangan dari lurah, juga masih ditolak," kata Karmini dengan nada yang masih kesal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain Karmini, Malik Ibrahim (42) dan Akbar (40) juga mengeluhkan hal yang sama. "Anak saya usianya sudah delapan tahun, tetapi masih belum bisa sekolah juga karena tidak punya akta kelahiran," kata Akbar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karmini mengakui, anaknya tidak mempunyai akta kelahiran karena kesalahan dirinya. "Seharusnya memang saya mengurus akta itu sejak dia lahir. Tetapi, saya takut dengan biayanya. Selain itu, saya juga tak tahu caranya. Saya ini buta huruf," kata Karmini yang sehari-hari bekerja sebagai tukang cuci gosok lepas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ibu delapan anak ini juga merasa kesal karena tidak mendapatkan penjelasan yang lengkap dari sekolah mengenai syarat-syarat yang harus dipenuhi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Mereka hanya bilang, saya harus bikin surat keterangan dari lurah. Saya minta contohnya saja tidak diberi. Setelah saya bikin dari lurah, katanya salah. Saya harus menyerahkan bukti dari catatan sipil kalau saya sedang mengurus akta kelahiran. Pusing saya," kata Karmini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, sekitar 200 warga Jakarta Utara setiap hari menyerbu kantor suku dinas kependudukan dan catatan sipil sejak seminggu terakhir. Mereka datang untuk mengurus akta kelahiran anak mereka karena tanpa akta kelahiran anak mereka ditolak masuk sekolah dasar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span id="article_body"&gt;&lt;p&gt;Kepala Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jakarta Utara Edison Sianturi mengatakan, selama satu minggu terakhir, telah dikeluarkan akta kelahiran gratis bagi warga tidak mampu sebanyak 161 lembar. Adapun untuk dispensasi dan umum, telah dikeluarkan 1.154 lembar. "Jadi, total, selama seminggu ini telah dikeluarkan 1.315 lembar. Semuanya untuk kepentingan pendaftaran sekolah," kata Edison.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut dia, setiap hari rata-rata ada 220 warga yang memohon pembuatan akta kelahiran untuk sekolah. "Petugas yang membuat akta ini sampai harus lembur hingga pukul 11 malam," kata Edison.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pendidikan Dasar Jakarta Utara Istaryatiningtias menjelaskan, syarat utama diterimanya seorang anak sebagai murid kelas I sekolah dasar negeri adalah harus berusia enam tahun pada 12 Juli 2010.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Jika kurang dari enam tahun pada tanggal itu, tidak bisa diterima. Komputer secara otomatis menyeleksi usia calon murid," kata Istaryatiningtias.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut dia, sekolah tidak bisa menerima anak berusia kurang dari enam tahun karena berdasarkan penelitian, anak yang berusia kurang dari enam tahun secara emosional belum matang. "Nanti muridnya sendiri yang akan kesulitan menerima pelajaran," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan pertimbangan inilah, akta kelahiran calon siswa sangat dibutuhkan. "Jika tidak mempunyai akta kelahiran, calon siswa juga bisa memakai surat kenal lahir. Jika tidak punya juga, memakai surat keterangan dari kelurahan," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di dalam surat kelahiran ini, lurah harus menjelaskan kapan tepatnya calon siswa tersebut lahir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span id="article_body"&gt;&lt;p&gt;Dari data online Penerimaan Peserta Didik Baru DKI Jakarta diketahui, jumlah SD di Jakarta Utara saat ini ada 269 sekolah. Jumlah total daya tampung dari semua sekolah 17.480 murid. Dari jumlah itu, sebanyak 913 diperuntukkan bagi calon siswa dari luar Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengumuman penerimaan siswa akan keluar hari ini (Rabu) pukul 15.00. Siswa yang diterima harus segera melapor. (ARN)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/16/04435081/tanpa.akta.ditolak.sekolah"&gt;http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/16/04435081/tanpa.akta.ditolak.sekolah&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-3741647677777042629?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/3741647677777042629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=3741647677777042629' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3741647677777042629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3741647677777042629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/06/tanpa-akta-ditolak-sekolah.html' title='Tanpa Akta Ditolak Sekolah'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-3923568960019597087</id><published>2010-06-14T08:15:00.001+07:00</published><updated>2010-06-14T08:15:04.030+07:00</updated><title type='text'>Razia Telepon Seluler Tindakan Tidak Bijak</title><content type='html'>                 &lt;div style="font-family: arial black,sans-serif;" class="font10a c_orange"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Pemerintah Selalu Reaktif dalam Menghadapi Persoalan&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;         	         	                            		                     		                  &lt;p&gt;Ahli pendidikan Arief Rachman berpendapat, razia telepon seluler milik pelajar terkait peredaran video porno tak akan efektif. Cara itu tak sesuai dengan pendekatan untuk pendidikan moral yang terdiri dari lima jenjang. Razia adalah cara terakhir apabila ingin dilakukan.&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;Pendapat hampir senada datang dari psikolog Tika Bisono. Tika menyatakan, pemerintah selalu bersikap reaktif dan tak memiliki sifat antisipatif terhadap persoalan yang sebenarnya bukan hal baru itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Arief Rachman dan Tika Bisono dihubungi Minggu (13/6) untuk menanggapi peredaran video porno mirip artis Ariel-Luna- Cut Tary di tengah masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan nada keras, Tika bahkan mempertanyakan, mengapa pihak yang mengunduh (downloader) justru yang menjadi sasaran razia. Bagaimana dengan pihak yang menyebarluaskannya lewat jaringan internet, dan perilaku kalangan artis yang acap kali memunculkan masalah seperti itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Arief menyatakan, ada lima cara atau pendekatan yang harus dilakukan dalam pendidikan moral. Informasi mengenai hal baik dan buruk, edukasi sehingga anak bisa berpikir untuk melakukan hal baik, penanaman nilai lewat cara alternatif, seperti olahraga, permainan, rehabilitasi, serta langkah terakhir represif (hukuman), misalnya, merazia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berkaitan dengan video porno tersebut, Dinas Pendidikan DKI Jakarta mulai melancarkan razia telepon seluler di sekolah menengah. Sekolah tempat Arief sekarang menjadi penasihat (Yayasan Pendidikan Diponegoro) pun melakukannya, tetapi ia memilih cara berbeda bagi siswa berlainan jenjang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk siswa SMP, pihak sekolah perlu berbicara dari anak ke orangtua, sedangkan untuk jenjang SMA, sekolah hanya mengingatkan bahwa mereka tak perlu memiliki rekaman video itu. "Saya berbicara kepada siswa SMA dan SMK bahwa akan ada razia HP, tetapi jika memang memiliki rekaman tersebut, lebih baik mereka hapus sendiri," ujar Arief Rachman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Upaya merazia menjadi terapi kejut bagi siswa SMP, tetapi jika pendidikan karakter dan moral tak dimulai dari awal (informasi, edukasi, dan lainnya), razia itu tak akan efektif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Anak-anak kan masih mencari jati diri pada zaman teknologi serba maju dan cepat berkembang. Sebaiknya lakukan intervensi yang tepat agar mereka sendiri memiliki kesadaran untuk tidak memiliki rekaman itu. Bukan karena takut atau dipaksa," lanjutnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, Tika justru mempertanyakan langkah pemerintah yang tak segera memblokir akses masyarakat umum, terutama usia pelajar ke situs berbau porno dan kelompok yang sengaja menyebarkan video porno. "Kementerian Kominfo sudah seberapa jauh sidak ke pengelola warnet, misalnya."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemerintah memakai logika terbalik dalam menyikapi video porno dan tak mencerminkan kepemimpinan yang baik. Ia mengungkapkan rasa heran atas tindakan pihak berwenang di Indonesia yang berdiam diri menghadapi peredaran video porno untuk yang kesekian kalinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Di negara liberal seperti Amerika Serikat saja, aturan tentang akses terhadap situs porno, dan minuman keras, amat keras karena itu soal amat serius. Namun, bagaimana dengan negara kita?" ujar Tika. (TRI)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/14/05200284/razia.telepon.seluler.tindakan.tidak.bijak"&gt;http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/14/05200284/razia.telepon.seluler.tindakan.tidak.bijak&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;/span&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-3923568960019597087?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/3923568960019597087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=3923568960019597087' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3923568960019597087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/3923568960019597087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/06/razia-telepon-seluler-tindakan-tidak.html' title='Razia Telepon Seluler Tindakan Tidak Bijak'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-1861725851450678631</id><published>2010-06-13T11:48:00.001+07:00</published><updated>2010-06-13T11:48:13.301+07:00</updated><title type='text'>DPRD Bekasi Panggil Kepsek RSBI</title><content type='html'>&lt;strong&gt;BEKASI, KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - Anggota DPRD Kota Bekasi memanggil kepala sekolah rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) mulai dari SMP1, SMP5, SMK1, SMA1 dan SMA5 untuk mempertanyakan mahalnya pungutan yang dibebankan kepada siswa, pemanfaatan dan pertanggungjawaban penggunaan dana tersebut.&lt;br&gt;&lt;p&gt;Anggota Komisi D DPRD Kota Bekasi, Sardi Effendi di Bekasi, Jumat (11/6/2010), mengatakan dari pemanggilan kepala sekolah tersebut terungkap mereka memungut biaya Rp 3-5 juta kepada setiap siswa baru yang ditujukan untuk mendukung kurikulum bertaraf internasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Dana itu digunakan untuk pembelian perangkat audio visual, komputer, peralatan teknologi komunikasi dan informasi lain termasuk memberikan kenyamanan dengan adanya pendingin ruangan,&amp;quot; ujar Sardi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Sardi, pungutan itu harusnya tidak dikenakan kepada seluruh siswa baru. Bagi siswa yang memiliki nilai sangat bagus namun berasal dari keluarga kurang mampu harus tetap diakomodir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia meminta sekolah mempunyai kebijakan menyisakan sebagian kursi di RSBI dan bahkan SBI seperti SMA 1 untuk siswa tidak mampu tanpa dikenai pungutan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adanya pungutan untuk RSBI tersebut tidak menyalahi aturan, karena sebelumnya sudah dibicarakan antara orangtua siswa dengan komite sekolah. Namun yang perlu dilakukan adalah menetapkan batasan nilai maksimal dan minimalnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemerintah sendiri, menurut anggota dewan dari PKS itu, belum mampu menanggung 100 persen kebutuhan untuk pembelajaran siswa terutama di sekolah bertaraf internasional. Meski bantuan pemerintah per siswa untuk RSBI dan SBI nilainya jauh lebih besar dibanding sekolah konvensional, tapi tetap saja belum mencukupi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk SMK 1 Kota Bekasi, setiap sumbangan siswa itu akan digunakan untuk membeli komputer jinjing dalam menujang kegiatan belajar, sarana praktik serta membuat program-program yang dibutuhkan di pasar kerja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Kalau itu dibebankan kepada pemerintah sulit terlaksana. Kita ingin agar sumbangan terjangkau dan pertanggungjawaban pemanfaatannya bisa diberikan termasuk kepada orang tua,&amp;quot; ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad mengingatkan pengelola RSBI untuk tidak melakukan pungutan berlebihan yang berakibat adanya siswa berpotensi secara akademik gagal sekolah di tempat tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menyatakan, pemerintah kota telah mengalokasikan anggaran untuk pendidikan sebesar 38,9 persen dari total APBD Rp 1,8 triliun, sehingga dana yang dikelola sekolah cukup besar termasuk untuk menunjang kegiatan di sekolah unggulan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekolah bertaraf internasional diakuinya membutuhkan biaya yang lebih besar, tapi pengelola sekolah jangan sampai terkesan membisniskan sekolah tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Kalau ada orangtua siswa yang merasa hak menyekolahkan anaknya terkendala akibat mahalnya biaya RSBI, silahkan laporkan ke saya. Prinsipnya RSBI terbuka untuk siapa saja termasuk warga kurang mampu,&amp;quot; kata Ketua DPD PDI-P Kota Bekasi itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/11/20260748/DPRD.Bekasi.Panggil.Kepsek.RSBI"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/11/20260748/DPRD.Bekasi.Panggil.Kepsek.RSBI&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-1861725851450678631?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/1861725851450678631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=1861725851450678631' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/1861725851450678631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/1861725851450678631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/06/dprd-bekasi-panggil-kepsek-rsbi.html' title='DPRD Bekasi Panggil Kepsek RSBI'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-2801004884216128825</id><published>2010-06-11T20:35:00.001+07:00</published><updated>2010-06-11T20:35:24.330+07:00</updated><title type='text'>RSBI Ditangani Provinsi</title><content type='html'>&lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div class="font10a c_orange"&gt;&lt;font size="4"&gt;&lt;b&gt;Pemerintah Kota/Kabupaten Tetap Bisa Mengucurkan Dana&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;         	         	                            		                     		                  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;jakarta, kompas - Kewenangan pengelolaan sekolah-sekolah berlabel rintisan sekolah bertaraf internasional atau RSBI diserahkan kepada pemerintah provinsi. Kebijakan ini menggunakan payung hukum Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Peraturan Pemerintah tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota tersebut merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun kewenangan pengelolaan sekolah non-RSBI dari tingkat SD hingga SMA tetap berada di tangan pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian dikemukakan Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, Kamis (10/6) di Jakarta. "Dengan PP Nomor 38 itu, semakin jelas peran provinsi yang akan melakukan pengawasan dan antisipasi penyimpangan, memastikan transparansi, dan perencanaan yang lebih jelas soal RSBI. Supaya tidak ada lagi keraguan provinsi, kami meminta pengertian dari semua kabupaten/kota," kata Fasli.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pengalihan tanggung jawab dan wewenang dari kabupaten/kota ke provinsi ini, kata Fasli, dilakukan agar provinsi bisa ikut memberikan bantuan pendanaan yang besar kepada  RSBI. Meskipun demikian, kabupaten/kota tetap bisa ikut memberikan bantuan anggaran pada RSBI.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Payung hukumnya sudah berlapis. Yang penting sekarang, bagaimana implementasinya di setiap sekolah. Kami berharap pengelolaan RSBI bisa dilakukan lebih baik oleh provinsi," kata Fasli.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Fasli berharap, dengan PP 38 Tahun 2007 itu pemerintah provinsi bisa memulai proses transisi kewenangan pengelolaan RSBI dari pemerintah kabupaten/kota ke provinsi. "Saat ini sudah mulai ada pembicaraan antara provinsi dan kabupaten/kota bagaimana melakukan transformasi itu," ujarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Merek dagang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Praktisi pendidikan Arief Rachman mengingatkan untuk tidak menjadikan RSBI sebagai sarana menjual dan memopulerkan sekolah dan harus betul-betul konsisten dengan standar internasional. RSBI juga harus bisa menjamin keadilan sehingga tidak terjadi kesenjangan di antara sekolah standar biasa dan standar internasional.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;"Dari dulu kita punya sekolah unggulan, kelas akselerasi, sekarang RSBI. Ini semua tidak boleh menghilangkan asas keadilan. Pelayanannya tidak boleh memberi kesan diskriminasi. Idealnya memang semua sekolah mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi semua variasi kecerdasan intelektual, emosional, dan sosial. Ini yang seharusnya jadi fokus pemerintah," kata Arief.  (LUK)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/11/03594246/rsbi.ditangani.provinsi"&gt;http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/11/03594246/rsbi.ditangani.provinsi&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;/span&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-2801004884216128825?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/2801004884216128825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=2801004884216128825' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2801004884216128825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/2801004884216128825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/06/rsbi-ditangani-provinsi.html' title='RSBI Ditangani Provinsi'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-5081819029303067296</id><published>2010-06-08T07:53:00.001+07:00</published><updated>2010-06-08T07:53:13.803+07:00</updated><title type='text'>Komnas PA: Hak Anak Jangan Dilanggar</title><content type='html'>&lt;div class="pl_24 pr_0 pb_15"&gt;         	    &lt;div class="font10a c_orange"&gt;&lt;font size="4"&gt;DUGAAN KORUPSI &lt;br&gt;&lt;span id="article_body"&gt;SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;         	    &lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;/div&gt;                          	&lt;/div&gt;         	                            		                     		                  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;Jakarta, Kompas - Hak anak untuk mendapatkan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional atau SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi, Jakarta Timur, tidak boleh diganggu dan dilanggar walau terjadi konflik antara sejumlah orangtua murid dan guru sekolah dasar tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Orangtua murid dan guru diimbau turut menjaga dan menjamin kenyamanan anak untuk belajar di sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kenyamanan proses belajar mengajar di sekolah harus segera dipulihkan," kata Sekretaris Jendral Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait seusai pertemuan antara Komnas PA, guru-guru, dan Kepala SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi di Kantor Komnas Perlindungan Anak, Jakarta Timur, Senin (7/6).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Arist meminta Gubernur DKI Jakarta menyelesaikan konflik di SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi. Persoalan di SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi berlarut karena tak ada ketegasan dari pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kami meminta aparat hukum, baik polisi maupun jaksa, segera memberi kepastian hukum atas kasus dugaan korupsi yang dilaporkan orangtua murid. Jangan dibiarkan berlarut-larut seperti sekarang," kata Arist.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelumnya, sejumlah orangtua murid SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi cemas akan keberlangsungan anak mereka di sekolah dasar itu. Kecemasan itu timbul karena belum ada penyelesaian konflik antara orangtua murid dan guru serta komite sekolah di SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi yang terjadi sejak beberapa tahun terakhir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mereka juga khawatir anak mereka tak dapat mengikuti ujian kenaikan kelas, yang dimulai Senin. Kekhawatiran itu muncul menyusul adanya surat instruksi Kepala Seksi Dinas Pendidikan Dasar Kecamatan Pulogadung tertanggal 14 Mei 2010 dan Surat Pemberitahuan Kepala SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi tertanggal 17 Mei 2010 kepada salah satu orangtua murid.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam surat instruksi Kepala Seksi Dinas Pendidikan Dasar Kecamatan Pulogadung, Kepala SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi diinstruksikan agar mengeluarkan murid yang orangtuanya dinilai bersikap memusuhi guru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam surat pemberitahuan Kepala SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi kepada salah satu orangtua murid disebutkan, anak orangtua itu tidak diperbolehkan ikut ujian sekolah karena ada pernyataan keberatan dari guru- guru dan karyawan SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, dari pantauan dan keterangan sejumlah orangtua murid, anak-anak mereka dapat mengikuti ujian kenaikan kelas pada hari pertama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi Yitno Suyoko menyatakan menjamin seluruh murid di SD itu akan terlayani hak pendidikannya. "Buktinya, Senin ini semua anak dapat mengikuti ujian kenaikan kelas tanpa ada pelarangan dari kami," kata Yitno. (COK)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/08/05322824/komnas.pa.hak.anak.jangan.dilanggar"&gt;http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/08/05322824/komnas.pa.hak.anak.jangan.dilanggar&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-5081819029303067296?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/5081819029303067296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=5081819029303067296' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5081819029303067296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/5081819029303067296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/06/komnas-pa-hak-anak-jangan-dilanggar.html' title='Komnas PA: Hak Anak Jangan Dilanggar'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-6834312648419777188</id><published>2010-06-08T07:44:00.001+07:00</published><updated>2010-06-08T07:44:06.006+07:00</updated><title type='text'>12 RSBI Turun Status</title><content type='html'>&lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;div class="font10a c_orange"&gt;&lt;font size="4"&gt;&lt;b&gt;Jabatan Kepala Sekolah Imbal Jasa dalam Pilkada&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;         	         	                            		                     		                  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;Sebanyak 12 SMP/SMA/ SMK berlabel rintisan sekolah bertaraf internasional di beberapa daerah turun status menjadi sekolah standar nasional atau SSN. Sekolah yang statusnya turun tersebut bisa mengikuti program RSBI kembali dari awal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional Suyanto, Senin (7/6), mengatakan, hasil evaluasi tahunan terhadap rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) menunjukkan ke-12 RSBI itu tidak memenuhi persyaratan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kami masih memberikan kesempatan bagi SMK untuk memperbaiki diri. Namun, untuk SMA dan SMP langsung drop karena tidak sesuai standar," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Suyanto, untuk sekolah berstatus RSBI tidak ada kompromi. "Penilaiannya go atau no go. Kami ingin membangun sekolah berkualitas sehingga tidak boleh sembarangan," kata Suyanto.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Proses evaluasi sudah dilakukan sejak tahun kedua sekolah itu menjadi RSBI. Poin-poin yang dinilai, antara lain, adalah kepemimpinan kepala sekolah, proses pembelajaran, dan penggunaan dua bahasa dalam kegiatan belajar-mengajar. Hasil evaluasi terhadap ke-12 sekolah berstatus RSBI itu menunjukkan, faktor kegagalan paling utama ada pada kepemimpinan kepala sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Banyak sekolah di daerah yang tercampuri urusan politik daerah," kata Suyanto.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia memberikan gambaran, sejumlah kepala sekolah diganti oleh orang-orang yang termasuk tim sukses bupati atau wali kota dalam pemilihan kepala daerah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Jabatan kepala sekolah sebagai balas jasa keberhasilan dalam pemilihan kepala daerah," kata Suyanto.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekarang, lanjut Suyanto, sudah ada perjanjian antara pemerintah pusat dan daerah. Jika ada kepala sekolah berstatus RSBI yang akan diganti, daerah harus memberi tahu terlebih dahulu. "Langkah ini untuk menghindari muatan politik," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bukan di Jakarta&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suyanto tidak menjelaskan nama ke-12 RSBI yang turun status tersebut. Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto mengatakan, tidak ada satu sekolah RSBI pun di DKI Jakarta yang turun status.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut dia, evaluasi dilakukan terhadap RSBI yang sudah berjalan enam tahun. "Program RSBI di DKI Jakarta baru berjalan empat tahun. Jadi, kami baru melakukan evaluasi dua tahun mendatang," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Suyanto, perlakuan berbeda yang diberikan kepada SMK karena pemerintah kesulitan untuk mencari sekolah pengganti yang bisa dijadikan sebagai RSBI.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Direktur Pembinaan SMK Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendiknas Joko Sutrisno mengatakan, dari hasil evaluasi terhadap SMK berstatus RSBI ternyata masih ada sekolah yang belum menerapkan penggunaan dwibahasa di dalam kegiatan belajar-mengajar. Padahal, penggunaan dwibahasa di sekolah ini yang menjadi faktor utama di RSBI.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Evaluasi masih berjalan. Sudah ketahuan ada 6-7 SMK, sebagian ada di Jakarta. Mereka sudah diberi peringatan yang keras," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain penggunaan dwibahasa, di beberapa SMK juga ditemukan persoalan penggunaan teknologi informasi komunikasi sebagai sarana pembelajaran. Persoalan ini terkait dengan ketersediaan perangkat-perangkat yang masih minim. "Kami masih memberikan kesempatan memperbaiki karena RSBI ini masih harus dituntun," kata Joko.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Secara terpisah, anggota Komisi X DPR, Ferdiansyah (Partai Golkar), menilai RSBI sebenarnya masih menghadapi persoalan pada aspek legal, konsep, dan faktual, antara lain, seperti pemenuhan kualifikasi guru dan sarana-prasarana. Akibatnya, definisi RSBI tidak jelas dan menciptakan pemahaman yang beragam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padahal, idealnya, RSBI adalah upaya menyamakan kualitas sekolah di dalam negeri dengan di negara lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ferdiansyah menambahkan, sampai saat ini belum ada peraturan pemerintah turunan dari UU Sistem Pendidikan Nasional yang bisa memperjelas soal pungutan dari orangtua siswa. "KeMendiknas terlalu banyak janji untuk mengevaluasi kebijakan-kebijakan yang menyangkut peserta didik," ujarnya. (LUK)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/08/04275227/12..rsbi.turun.status"&gt;http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/08/04275227/12..rsbi.turun.status&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-6834312648419777188?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/6834312648419777188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=6834312648419777188' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6834312648419777188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/6834312648419777188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/06/12-rsbi-turun-status.html' title='12 RSBI Turun Status'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-919652183318441790</id><published>2010-06-08T07:37:00.001+07:00</published><updated>2010-06-08T07:37:23.439+07:00</updated><title type='text'>SDN RSBI 12 RAWAMANGUN; Kasie: Mereka Didalangi Mafia Pendidikan</title><content type='html'>&lt;div class="c_blue_kompas font11 pb_10 pt_3"&gt;&lt;strong&gt;JAKATA, KOMPAS.com &lt;/strong&gt;— Kepala Seksi Dinas Pendidikan Dasar Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur, H Usman bertekad akan melawan perjuangan enam orangtua murid SDN RSBI 12 Rawamangun, khususnya terhadap otak dari semua persoalan ini mencuat sejak 2005 lalu.&lt;br&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Saya akan ambil langkah-langkah, apa pun risikonya. Saya tak rela guru-guru saya diperlakukan seperti itu. Mereka didalangi mafia, yaitu mafia pendidikan dan saya akan membongkar ini semua,&amp;quot; ujar Usman kepada &lt;em&gt;Kompas.com &lt;/em&gt;di Jakarta, Senin (7/6/2010).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk itu, kata Usman, jika pun akhirnya terjadi persidangan, dia dan pihaknya akan tetap melawan siapa pun yang menyudutkan guru-guru di SDN RSBI 12 Rawamangun.&lt;/p&gt;&amp;quot;Saya berani menguji letak kesalahan saya di mana karena sikap saya semata tidak sanggup melihat guru-guru diperlakukan seperti itu oleh orangtua murid, apalagi saya sendiri pun dituding seperti itu pada Desember lalu ketika mereka berdemo,&amp;quot; ucap Usman.&lt;p&gt;Menurut Usman, pelaporan korupsi bukanlah masalah jika hanya dilaporkan kepada pihak yang berwenang. Hanya saja, dirinya tidak bisa menerima jika semua persoalan membuat sejumlah orangtua murid malah seenaknya menghina guru sekolah itu sebagai koruptor di depan publik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diberitakan sebelumnya di &lt;em&gt;Kompas.com, &lt;/em&gt;pada Senin (31/5/2010), Aria Bismark Adhe, seorang siswa kelas VI SDN RSBI 12 Rawamangun Pagi, tidak diperbolehkan mengikuti ujian akhir sekolah (UAS). Adhe diminta keluar dari ruang ujian oleh pihak sekolah setelah sebelumnya diberikan sebuah surat pemberitahuan untuk diberikan kepada orangtuanya, Drs Handaru Widjatmoko. Namun, pada hari ketiga UAS, Adhe akhirnya diperbolehkan mengikuti ujian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain Adhe, lima siswa lainnya juga diancam tidak mengikuti ulangan umum yang berlangsung mulai Senin (7/6/2010) pagi tadi, dan bahkan diancam akan dikeluarkan dari sekolah. Namun, sejak ditengahi oleh Komnas PA, kelima anak tersebut bisa kembali mengikuti ulangan umum. Kelima anak tersebut adalah putra-putri dari Ny Ida (dua anak), dr Oki (satu anak), Heru Narsono (satu anak), dan Kaka Tayasmen (satu anak).&lt;/p&gt;&lt;div class="pd_5 hl_1 c_orange"&gt;&lt;strong&gt;TERKAIT:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt; 					&lt;div class="list_4 hl_1 c_blue_kompas pb_10 bl_1"&gt; 					&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/07/21074670/Keluarkan.Siswa.agar.Orangtua.Jera."&gt;Keluarkan Siswa agar Orangtua Jera?&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/07/17161241/Diakui..Ada.Instruksi.Keluarkan.Siswa..."&gt;Diakui, Ada Instruksi Keluarkan Siswa...&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/07/14464338/RSBI.Jakarta.Timur..quot.Alergi.quot..Wartawan..."&gt;RSBI Jakarta Timur &amp;quot;Alergi&amp;quot; Wartawan...&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/04/12161362/Inilah.Surat.yang.Melarang.Adhe.Ujian..."&gt;Inilah Surat yang Melarang Adhe Ujian...&lt;/a&gt;&lt;/li&gt; &lt;li&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/04/11552542/Orangtua.Kritis..Anaknya.Dilarang.Ujian"&gt;Orangtua Kritis, Anaknya Dilarang Ujian&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/07/21255536/Kasie.Mereka.Didalangi.Mafia.Pendidikan"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/07/21255536/Kasie.Mereka.Didalangi.Mafia.Pendidikan&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-919652183318441790?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/919652183318441790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=919652183318441790' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/919652183318441790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/919652183318441790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/06/sdn-rsbi-12-rawamangun-kasie-mereka.html' title='SDN RSBI 12 RAWAMANGUN; Kasie: Mereka Didalangi Mafia Pendidikan'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-4820165288807642319</id><published>2010-06-05T14:42:00.001+07:00</published><updated>2010-06-05T14:42:41.307+07:00</updated><title type='text'>Kuota Siswa Bukan Solusi RSBI, Mengganggu Psikologi Siswa</title><content type='html'>Jakarta, Kompas - Memberikan kuota 20 persen bagi siswa miskin untuk masuk rintisan sekolah berstandar internasional atau RSBI bukanlah solusi yang tepat. Sebab, akar masalahnya bukan kuota, melainkan diperbolehkannya RSBI memungut dana dari orangtua siswa tanpa batas.&lt;span id="article_body"&gt;&lt;p&gt;Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia M Dimyati mengingatkan, sekolah yang membuka kelas reguler dan kelas rintisan internasional bersamaan dalam satu sekolah harus mempertimbangkan dampak psikologis pada anak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Coba bayangkan bagaimana perasaan anak-anak 20 persen itu yang tidak punya laptop atau handphone canggih, sementara mayoritas anak membawa. Ini kan memunculkan kasta baru," kata Dimyati, Jumat (4/6).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika situasi ini terus berlanjut, lama-kelamaan siswa bisa minder dan akan menemui kesulitan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Pemerintah seharusnya menciptakan pendidikan yang egaliter dan tidak kapitalis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akan lebih baik apabila pemerintah membuat satu sekolah unggulan saja dengan biaya penuh dari pemerintah dan pemerintah daerah sehingga tidak akan mencolok diskriminasi antara siswa kaya dan miskin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekretaris Jenderal Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Iwan Hermawan di Bandung mengatakan, kesempatan mendapatkan pendidikan bermutu seharusnya tidak dikaitkan dengan masalah pembiayaan, tetapi kemampuan siswa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Seharusnya, seluruh biaya ditanggung pemerintah pusat dan daerah. Sekolah tidak perlu lagi memungut dana dari masyarakat karena kucuran dana yang diperoleh sudah sangat besar," kata Iwan. Jika sekolah menganggap dana yang diperoleh belum mencukupi, mestinya menyusun prioritas kebutuhan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tidak memungut&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di Papua, dana RSBI didukung penuh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sekolah tidak boleh lagi memungut dana dari masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Meski terasa berat bagi daerah, Papua membutuhkan terobosan untuk memajukan pendidikan," kata Ketua Komisi E DPRD Papua Max Mirino.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain memberikan kesempatan luas bagi siswa miskin berpotensi, guru-guru juga ditingkatkan kualitasnya, antara lain, dengan diwajibkan kursus Bahasa Inggris.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Seluruh biayanya ditanggung pemerintah provinsi," kata Max Mirino.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional Suyanto mengatakan, RSBI diperbolehkan memungut biaya dari orangtua meski telah menerima dana dari APBN dan APBD. Pungutan itu digunakan untuk biaya operasional pengembangan kapasitas menuju standar kualitas sekolah berstandar internasional (SBI). (LUK/CHE)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/05/03020150/..kuota.siswa.bukan..solusi.rsbi"&gt;http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/05/03020150/..kuota.siswa.bukan..solusi.rsbi&lt;/a&gt;&lt;br&gt; &lt;/p&gt;&lt;/span&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-4820165288807642319?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/4820165288807642319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;postID=4820165288807642319' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4820165288807642319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997857779989343515/posts/default/4820165288807642319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/2010/06/kuota-siswa-bukan-solusi-rsbi.html' title='Kuota Siswa Bukan Solusi RSBI, Mengganggu Psikologi Siswa'/><author><name>TEGUH IMAWAN</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/Sdlc9a_C8NI/AAAAAAAAB6g/6rQjEfCaZjc/S220/egu+sheraton+media+resto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997857779989343515.post-8216411199063351771</id><published>2010-06-05T14:24:00.001+07:00</published><updated>2010-06-05T14:24:46.574+07:00</updated><title type='text'>Fwd: anak akan dikeluarkan dari sekolah karena ayahnya pelapor dugaan  korupsi</title><content type='html'>&lt;p class="mobile-photo"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/TAn7vqZclaI/AAAAAAAAB7o/DBaRqe09D1s/s1600/image001-786575.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_WKONIln4Lpc/TAn7vqZclaI/AAAAAAAAB7o/DBaRqe09D1s/s320/image001-786575.jpg"  border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5479187217926362530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;&lt;div class="gmail_quote"&gt;Dari: &lt;b class="gmail_sendername"&gt;Tayasmen, Kaka&lt;/b&gt; &lt;span dir="ltr"&gt;&amp;lt;&lt;a href="mailto:tayasmen@jakarta.goethe.org" target="_blank"&gt;tayasmen@jakarta.goethe.org&lt;/a&gt;&amp;gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;  Tanggal: 5 Juni 2010 14:14&lt;br&gt;Subjek: anak akan dikeluarkan dari sekolah karena ayahnya pelapor dugaan korupsi&lt;br&gt;Ke: &lt;a href="mailto:teguhimawan@gmail.com" target="_blank"&gt;teguhimawan@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="h5"&gt; &lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;          &lt;div link="blue" vlink="purple" lang="DE"&gt;  &lt;div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="2" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="2" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Mohon berita ini di sebarkan melalui facebook atau mailist.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="2" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="2" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Kasusnya:&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="2" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="2" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Di sekolah ada dugaan korupsi,&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="2" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;saya melapor ke kejaksaan.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="2" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pihak-pihak di sekolah dan dinas pendidikan marah, mengancam mengeluarkan anak dari sekolah dan mengancam untuk tidak diperbolehkan ujian.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="2" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="2" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Lebih lengkap beritanya:&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="2" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;font size="1" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;a href="http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/04/15503827/Bahkan..Guru.guru.itu.Menyandera.Siswa" target="_blank"&gt;http://edukasi.kompas.com/read/2010/06/04/15503827/Bahkan..Guru.guru.itu.Menyandera.Siswa&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;font color="navy" size="2" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: navy;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="2" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="2" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;font color="#990000" size="3" face="Times New Roman"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; color: rgb(153, 0, 0); text-transform: uppercase;"&gt;SDN RSBI 12 Rawamangun&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;font color="#990000" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; color: rgb(153, 0, 0); text-transform: uppercase; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;font color="black" size="6" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 22pt; font-family: Arial; color: black; letter-spacing: -0.75pt; font-weight: bold;"&gt;Bahkan, Guru-guru itu Menyandera Siswa&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;font size="1" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"&gt;Jumat, 4 Juni 2010 | 15:50 WIB&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;font size="1" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;img src="" border="0" width="298" height="225"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;font size="1" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"&gt;Ilustrasi anak SD &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="1" face="Times New Roman"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;TERKAIT:&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;font size="1" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;font size="1" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p style="background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="3" face="Times New Roman"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;JAKARTA, KOMPAS.com &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;font face="Arial"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;– &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;font size="4" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Arial;"&gt;Kepala sekolah dan para guru SDN Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) 12 Rawamangun, Jakarta Timur, rupanya &amp;quot;gerah&amp;quot; dengan sikap dan tindakan kritis para guru. &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;font size="4" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Arial;" lang="EN-GB"&gt;Intimidasi dan ancaman psikologis terhadap siswa dan orang tua murid seolah menjadi cara mereka untuk membalas.&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 18pt;"&gt;&lt;font size="1" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="background: white none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Times New Roman"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;„ Bahkan, ada guru kelas 5 , namanya Pak Rosim, yang menyatakan dengan tegas dirinya tidak rela jika soal matematikanya dikerjakan oleh Safa. „&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;font size="4" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font size="2" face="Arial"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt; &lt;/div&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997857779989343515-8216411199063351771?l=transparansipendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://transparansipendidikan.blogspot.com/feeds/8216411199063351771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2997857779989343515&amp;po
