18 April 2011

Menjelang UN, Siswa Dikarantina

Jakarta, Kompas - Menjelang pelaksanaan ujian nasional SMA/SMK sederajat yang dimulai Senin (18/4) ini, sejumlah sekolah melakukan persiapan khusus. Di SMK 3 Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, misalnya, 79 siswa harus menjalani karantina di sekolah.

Para siswa mulai dikarantina sejak Minggu (17/4) sore hingga Rabu (20/4) mendatang.

"Dengan dikarantina, mereka tidak akan keluyuran saat malam menjelang ujian," kata Kepala SMK 3 Rosihan Anwar.

Orangtua siswa sebelumnya juga sudah diberi tahu agar mereka menyiapkan peralatan tidur dan kebutuhan sehari-hari untuk anaknya selama dikarantina. Selama karantina, siswa akan menjalani bimbingan dan latihan soal oleh guru mereka. "Karantina juga untuk menghindari siswa terlambat datang ke sekolah karena cuaca akhir-akhir tidak menentu," kata Rosihan Anwar.

Pengamanan diperketat

Sementara itu pengamanan naskah soal ujian diperketat. Untuk wilayah DKI Jakarta, selain dijaga aparat kepolisian dan panitia rayon, juga dijaga satuan polisi pamong praja dan satuan pengamanan sekolah.

Pengamanan ketat mulai dilakukan sejak naskah soal UN diberangkatkan dari percetakan Balai Pustaka, Minggu (17/4) pukul 05.00. Sebanyak 75 kendaraan PT Pos Indonesia dikerahkan untuk mendistribusikan naskah soal ke 27 rayon.

"Kami percayakan pada PT Pos Indonesia karena sudah berpengalaman mendistribusikan berkas atau dokumen penting," kata Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto.

Di Merauke, Provinsi Papua, karena beratnya medan, distribusi lembar soal sudah dilakukan sejak Rabu (13/4) lalu. Pendistribusian pun harus menggunakan pesawat kecil dan speed boat. "Jika menggunakan jalur darat, tidak mungkin karena medannya sangat berat," kata Marlan Maulud, Ketua Panitia Ujian Nasional SD, SMP, SMA sederajat Kabupaten Merauke. Di Merauke peserta UN SMA sebanyak 1.419 siswa dari 14 sekolah, sedangkan untuk SMK sebanyak 848 siswa dari 12 sekolah.

Secara terpisah, saat meninjau persiapan ujian nasional di Kabupaten Gresik dan Lamongan, Jawa Timur, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengingatkan agar siswa, guru, sekolah, dan semua pihak yang terlibat agar melaksanakan UN dengan jujur.

"Siswa yang tidak jujur akan dikenakan sanksi berupa penghapusan nilai UN. Sanksi dalam bentuk lain juga akan dijatuhkan pada guru dan pihak lain yang bersikap tidak jujur dalam pelaksanaan UN," kata Nuh.

Terlalu mendadak

Di Jakarta, guru-guru menilai penggunaan nilai rapor sebagai bagian untuk penentuan kelulusan siswa kelas 3 SMA sederajat dalam pelaksanaan ujian nasional tahun ini membuat repot para guru. Sebab, kebijakan ini dinilai terlalu mendadak.

Muncul kekhawatiran dari sejumlah sekolah yang tidak royal memberi nilai tinggi di rapor akan nasib siswa mereka yang sudah menjalani pendidikan tiga tahun di sekolah. Akibatnya, ada sekolah yang mengubah nilai rapor untuk menyelamatkan siswa. Ada kekhawatiran jika bertahan dengan nilai rapor apa adanya, siswa tidak bisa mencapai nilai kelulusan minimal.

Persoalan itu antara lain dikemukakan sejumlah pemimpin sekolah swasta di Jakarta dan sekitarnya yang hadir dalam sarasehan di Harian Kompas di Jakarta, Jumat (15/4). Mulai tahun ini nilai rapor semester 3-5 digunakan juga dalam pembobotan nilai sekolah yang menentukan kelulusan siswa.

"Ada guru yang sengaja memberi nilai rendah agar siswa terpacu untuk giat belajar. Ternyata malah sekarang rapor dijadikan pertimbangan kelulusan," kata seorang guru.

(LUK/ELN/ COK/KOR/ WER/ RWN/EGI/ BAY/ACI/TIF)
http://cetak.kompas.com/read/2011/04/18/05443913/menjelang.un.siswa.dikarantina

Tidak ada komentar: