22 Desember 2008

PENDIDIKAN Banyak Cara untuk Saling Mengerti...

Kompas/Agus Hermawan / Kompas Images
Harry Jundrio, salah seorang peserta Program Pertukaran Pemuda Australia- Indonesia (AIYEP), menikmati santap malam bersama keluarga Geoff dan Jenny Mulherin di pinggiran Sydney, Jumat (7/11) malam.

Senin, 22 Desember 2008 

Harry terlihat cekatan mengolah bumbu untuk sayap bakar di dapur sebuah rumah asri di bilangan Hunters Hill, pinggiran Sydney.

Hari Jumat (7/11) malam itu kami diundang untuk barbecue di rumah keluarga Geoff dan Jenny Mulherin, yang menampung Harry Jundrio selama sepekan. Dua anaknya, Tim dan David, asyik bermain game didampingi dua anjingnya yang lucu. Sore tadi dua anak itu juga menemani Harry bermain cricket di lapangan yang tak jauh dari rumahnya. Harry tak terlihat canggung berada di keluarga itu walaupun baru sepekan tinggal bersama. Mereka bahkan saling melucu dan bercanda seperti layaknya sebuah keluarga.

Harry yang baru lulus dari Universitas Andalas itu memang sedang mengikuti Program Pertukaran Pemuda Australia Indonesia (Australia-Indonesia Youth Program/AIYEP) yang diselanggaran Lembaga Australia-Indonesia (AII). Lembaga itu didirikan untuk mengembangkan hubungan dan membangun saling pengertian di antara masyarakat kedua negara.

Program itu merupakan salah satu program untuk saling mengenal dan mengetahui gaya hidup masing-masing. AII bekerja sama dengan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga untuk menyelenggarakan program itu. Sejak AIYEP diadakan, sudah ratusan pemuda Indonesia dan Australia mengikuti program tersebut. Pada musim ini, selain Harry, masih ada 18 anak muda (berumur 21-25 tahun)—9 perempuan dan 9 lainnya lelaki—Indonesia lainnya yang juga ditempatkan di keluarga keluarga Australia (homestay). Mereka menjalani hidup seperti halnya "orang Australia", termasuk bekerja atau magang di lembaga-lembaga tertentu.

"Jumlah anak muda yang sama juga dikirim dari Australia ke Indonesia untuk ditempatkan di keluarga-keluarga Indonesia," kata Sue Paper, koordinator Program Pertukaran Pemuda Australia-Indonesia.

Untuk tahun ini, mereka ditempatkan di kawasan pedesaan Lamongan, Jawa Timur. Selain tinggal bersama keluarga Indonesia, mereka juga membuat semacam proyek pengembangan komunitas di tempat mereka tinggal.

Program ini lumayan unik. Dalam pelaksanaannya selama tiga bulan (Desember 2008-Februari 2009), mereka tinggal berpindah-pindah. Mereka yang berkesempatan homestay di Australia, misalnya, setiap bulan mereka berpindah keluarga dan tempat tinggal. Tidak hanya di kawasan kota, seperti Sydney, mereka akan menghabiskan bulan lainnya di kawasan pedesaan, seperti Macksville, dekat Cofft Harbour, kawasan utara New South Wales.

Pada saatnya, selama sepekan penuh semua peserta AIYEP itu akan dipertemukan dan berbagi pengalaman di Sydney. Dengan begitu, diharapkan akan tumbuh saling pengertian bagaimana sesungguhnya keluarga-keluarga kedua negara bersikap, berpandangan hidup, dan respons terhadap sebuah persoalan. Dengan demikian pula diharapkan, perbedaan persepsi yang muncul di masyarakat kedua negara dapat ditanggapi dengan lebih arif. Bagaimanapun, kedua negara memiliki sejarah dan kebudayaan yang berbeda.

Upaya untuk mempererat hubungan people to people itu banyak dilakukan Pemerintah Australia dalam berbagai program. Beasiswa, pertukaran pelajar, kunjungan kebudayaan, dan berbagai proyek-proyek kemitraan lainnya. Di bawah pemerintahan Perdana Menteri Kevin Ruud yang kian menguatkan program "Engaging Young Australian with Asia", tampaknya ada keinginan kuat untuk saling mempererat hubungan bertetangga yang lebih baik.

Sudah menjadi kebiasaan lama, sejumlah sekolah juga mengirim para pelajarnya ke Indonesia melalui program ekskursi (pembelajaran ke luar). Biasanya sejumlah sekolah mengirim pelajarnya ke Indonesia sebagai program tahunan. Sayang, program itu kini agak terganggu. Banyak orangtua mengurungkan atau melarang anaknya berkunjung ke Indonesia dengan alasan keamanan. Perusahaan-perusahaan asuransi pun emoh memberikan jaminan kepada mereka yang akan bepergian ke Indonesia.

Penyebabnya, apalagi jika bukan travel advisory level 4 yang dikeluarkan Pemerintah Australia yang menyarankan warga negaranya tidak berkunjung ke Indonesia dengan alasan keamanan. (Agus Hermawan)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/22/02192018/banyak.cara.untuk.saling.mengerti...

Tidak ada komentar: