Kebijakan yang menggembirakan bagi orangtua yang anaknya bersekolah di sekolah reguler biasa. Namun, bagaimana dengan yang punya anak sekolah di SBI (sekolah bertaraf internasional)? Kenapa di anak tirikan? Kenapa kebijaksanaan BOS tidak berlaku bagi anak-anak di SBI?
Sungguh naif negara ini memperlakukan anak-anak yang pintar. Tidak mudah bagi anak saya untuk bisa masuk kelas SBI karena harus mampu membuktikan kalau memang layak untuk duduk di kelas itu. Ada tahapan seleksi yang harus dilalui agar bisa duduk di kelas itu, mulai dari seleksi rapor dari kelas III SD dengan nilai harus di atas rata-rata, tes lisan dan tulisan, tes praktik komputer, tes psikotes, IQ dan EQ serta tes wawancara.
Menyekolahkan anak di kelas ini bukan untuk gaya-gayaan, tetapi karena ingin agar kemampuan dan kecerdasan anak lebih terasah karena metode belajar yang ditawarkan mengikuti standar internasional yang berbeda dengan kelas reguler.
Anak saya sudah terbiasa masuk kelas pukul 06.00 pagi dan pulang lebih siang pukul 14.00, bahkan kalau ada tugas pulang lebih sore lagi. Tidak ada waktu untuk memikirkan tawuran. Bukankah mereka anak-anak pilihan? Kenapa tidak dihargai?
Seharusnya negara juga mendukung anak-anak ini. Kenapa siswa reguler bisa gratis sementara SBI tidak? Kalau mau pintar harus bayar mahal, tapi kalau mau biasa-biasa saja malah gratis. Kapan mau majunya negeri ini kalau anak-anak yang pintar dan cerdas diabaikan begitu saja? - Nita Permata Duta, Sukmajaya, Depok

Tidak ada komentar:
Posting Komentar