14 November 2008

Kalau Guru Lagi "Garing"

Udara panas, ngantuk, perut keroncongan, konsentrasi udah menguap. Eh, ketemu guru "garing".... Huh, capek deh!

Kalau ketemu guru 'garing' sih biasanya aku ketawa aja kalau dia lagi ngelucu. Mungkin itu udah jadi sifat dia, jadi mau gimana lagi?"

"Kadang aku jadi males ikut pelajaran kalau ketemu guru 'garing'. Tapi, aku betah-betahin aja walau tiap menit pasti ngeliatin jam."

"Yah, selain males ikut pelajaran, nilai kita juga bisa anjlok gara-gara kita enggak konsentrasi pas pelajaran yang diampu guru ('garing') itu."

Sering kali kita sebagai pelajar menemui guru yang jayus, bikin bete, ngantuk, dan yang pasti waktu terasa berjalan bak "Putri Solo". Kadang seorang guru pengin ngelucu waktu ngeliat muridnya bosan menyimak pelajaran yang dia berikan.

Tapi, kadang-kadang kita enggak nganggep lelucon guru kita itu lucu. Kita malah jadi enggak nyaman dalam kelas. Mau ketawa susah, mau enggak ketawa entar dikiranya kita enggak menghormati guru. Itulah guru "garing".

Bisa bertahan?

Sifat guru memang macem-macem dan terkadang kita sulit beradaptasi. Tapi, enggak berarti masalah ini enggak bisa diselesaikan. Pendapat tiap siswa memang berbeda-beda.

Mungkin enggak, sih, kita bakalan terus bisa bertahan menghadapi guru yang "garing"? Pasti lama-lama kita sebel sama guru itu. Tapi, bagaimanapun, guru adalah orangtua kedua kita. Mereka yang mendidik dan memberi bekal kepada kita buat masa depan.

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, walau kadang seorang guru bisa nyebelin, galak, jayus, 'n bikin pusing gara-gara tugas yang seabrek. Tapi, di balik semua itu, mereka kan ingin yang terbaik buat kita. Cuma, mungkin cara mereka yang enggak sesuai atau pas sama jalan pikiran kita.

Apa seorang guru bisa "garing" karena enggak memahami kita? Mungkin tanggapan ini kurang pas, coz mereka pasti udah berusaha nyesuain diri dengan pribadi kita masing-masing. Kita sebagai murid yang baik juga harus bisa memahami karakter guru. Emang enggak gampang nyesuain diri, tapi paling enggak kita bisa saling menghormati. Ini membuat relasi kita dengan guru tetap baik.

Bicara soal fakta, guru "garing" memang enggak bisa dihindari, tapi kita bisa menghadapinya dengan senyum manis. Cobalah menghargai guru, usahain ini tulus keluar dari dalam hati. Karena, dengan sedikit senyuman saja, mungkin guru itu sudah ngerasa seneng 'n lega.

Guru "garing" enggak mesti bikin bete, kok. Justru karena kejayusan 'n keunikan itulah yang menjadi ciri khas guru "garing", yang tanpa kita sadari pasti akan bikin kita kangen sama guru itu waktu kita udah lulus nanti.

Berusaha memahami

Kita harus usaha memahami guru kita. Kalau semua guru sifatnya sama, apa kata dunia? Pasti bakal ngebosenin banget. Jadi, perbedaan juga diperluin buat variasi. Seperti kata "pepatah", perbedaan ada untuk saling melengkapi, dan itulah realitas kehidupan.

Mungkin sekilas masalah guru "garing" ini kelihatan sepele, tetapi kenyataannya itu juga ngaruh pada perkembangan siswa. Cara guru mengajar, sifat guru, dan interaksi guru dengan murid juga menjadi salah satu faktor keberhasilan kegiatan belajar-mengajar.

"Kalo di Van Lith biasanya kita ngadain rapat guru paling enggak sebulan sekali. Kalau sharing sesama guru sih natural, tergantung kebutuhan masing–masing saja. Van Lith juga punya DA (Dewan Anggota) yang terdiri dari murid–murid pilihan untuk menyalurkan aspirasi murid tentang pendamping. Hal-hal itu sangat membantu kami buat ngembangin cara mengajar supaya sesuai dengan keinginan anak-anak," jelas Miss Eka, salah seorang guru di SMA Van Lith Muntilan, Jawa Tengah.

Yah, ternyata guru juga terus ngembangin kemampuan mengajarnya. So, jangan pesimistis dulu kalau ketemu guru "garing". Dia pasti bisa berubah, kok. Tunggu tanggal mainnya aja. Kita juga harus berani ngomongin apa yang ada di pikiran kita soal guru bersangkutan.

Masukan-masukan atau saran yang kita kasih kepada dia bisa membantu guru menjadi lebih baik. Tapi, inget! Jangan nyindir guru itu.

Finally, selamat berjuang menghadapi guru "garing", ya. Pastikan guru jadi sahabat, teman, dan orangtua kedua kita. Speak up your mind!

(Tim Jurnalistik SMA Van Lith Muntilan, Magelang, Jawa Tengah: Hyashinta Amadeus Onen Pratiwi, Bella Rosari, Maria Imaculata Adisti, Devina Nathania Sulistyo)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/14/04100699/kalau.guru.lagi.garing

Tidak ada komentar: