20 November 2008

Atap Sekolah Runtuh, Tiga Pelajar Luka-luka

Kompas/Windoro Adi / Kompas Images
Ruang kelas di lantai tiga SMA Pluit Raya, Jalan Jembatan III Nomor 1, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (19/11) pukul 11.00, jebol diterpa angin kencang. Tiga siswa luka-luka, seorang di antaranya luka berat di kepala. Meski demikian, mereka sudah boleh pulang setelah dirawat di RS Atma Jaya, Pluit, Jakarta Utara
.


Jakarta, Kompas - Sebagian atap SMA/SMK Pluit Raya milik Yayasan Al-Muklisin di Jalan Raya Jembatan Tiga Nomor 1, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, runtuh akibat diterjang angin kencang selama tiga menit pada Rabu (19/11) sekitar pukul 11.30.

Tiga pelajar terluka terkena reruntuhan atap. Seorang siswa yang terluka mendapat lima jahitan di kepala. Meski demikian, ketiganya sudah diizinkan pulang setelah dirawat di Rumah Sakit Atma Jaya, Pluit, Jakarta Utara.

Menurut Wali Kelas III IPA/ IPS Masruhin (40), ketiga korban adalah Alfian (16), Azwar Firdaus (16), dan Anita (16). "Alfian luka di kepala dan mendapat lima jahitan, sedangkan Azwar dan Anita, masing-masing luka di punggung. Ketiganya kejatuhan hebel (batu bata putih), kayu-kayu, dan atap plafon," ungkap Masruhin di tempat kejadian, Rabu kemarin.

Ia menjelaskan, sejak pagi, tiupan angin di lantai tiga terasa kencang. Saat itu ada tiga ruang digunakan ujian tryout universitas negeri yang diikuti 20 siswa-siswi. Sebuah ruang lainnya untuk kegiatan rutin belajar siswa kelas III IPS. Sedangkan di ruang kelas II ada kelas Bahasa Inggris.

Di tengah angin kencang, tiba-tiba muncul pusaran angin mengangkat atap sekolah yang terbuat dari aluminium tebal. Tepatnya di dua ruang kelas paling ujung. Sebagian konstruksi kuda-kuda, tembok, dan tripleks plafon rontok. Tiga korban yang duduk di depan sisi kanan kejatuhan puing.

Tanpa komando, para siswa pun berhamburan lari dan turun ke luar gedung. Banyak di antara mereka yang menjerit ketakutan. "Awalnya, terdengar bunyi buk, buk, buk... dan... duoooorrrr! Sebagian rangka atap dan dinding tembok atas berjatuhan," ucap Masruhin.

"Tiga siswa yang duduk di depan kejatuhan benda-benda dari atas. Mereka kami bawa ke RS Atma Jaya. Alfian luka di kepala dan mendapat lima jahitan. Punggung Azwar dan Anita bengkak. Sekarang ketiganya sudah boleh pulang," tutur guru matematika tersebut.

Di lokasi tampak plafon dua ruang kelas yang berhadapan bolong di bagian depan kelas. Puing-puing hebel, kayu, dan batangan rangka atap aluminium patah berserakan. Kedua ruang ditutup garis polisi. Luas atap yang runtuh sepanjang 10 meter dengan lebar 3 meter berada di ruang kelas II dan kelas III.

Seorang saksi mata, penjaga kantin sekolah bernama Endang (50), mengungkapkan, dia mendengar suara gemuruh seperti ada helikopter hendak mendarat. Bersamaan dengan itu juga terdengar teriakan histeris ratusan siswa saat atap sekolah runtuh. Agus, guru olahraga, meminta anak didik untuk tenang.

Beberapa guru termasuk Rivai mengungkapkan, ambruknya atap dan dinding sekolah itu mengejutkan mereka. Gedung itu baru rampung pada tahun 2008 dan mulai dipakai kegiatan belajar Juli 2008. SMA dan SMK Pluit Raya memiliki 330 siswa. Ketua Yayasan sekolah itu adalah Harun Alrasyid, mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat.

Tanggung jawab yayasan

Kepala Suku Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Jakarta Utara Alpisahar Lewunusa mengaku sudah mendengar peristiwa itu. Karena kejadian menimpa sekolah swasta, hal itu menjadi kewenangan yayasan.

Sejumlah guru sekolah tersebut dimintai keterangan di Markas Polsek Metro Penjaringan.(CAL/WIN/ONG)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/20/01495423/atap.sekolah.runtuh

Tidak ada komentar: