|
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO / Kompas Images Salah satu stan pagelaran 80 kuliner Indonesia dalam rangka Roh Soempah Pemoeda dalam Lirik Selera Batik yang digelar di Universitas Katolik Atmajaya, Universitas Al-Azhar Indonesia, dan Universitas Indonesia Jakarta, Jumat (24/10). Selain pagelaran kuliner, acara itu juga diisi dengan pameran batik dan pergelaran musik 80 jam nonstop . |
SOELASTRI SOEKIRNO/M CLARA W /SARIE FEBRIANE
Tak mudah mengajak kaum muda lebih cinta kepada bangsa dan negara Indonesia ketimbang segala hal yang berbau buatan mancanegara. Lewat "Reborn Indonesiaku", Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Universitas Indonesia, dan Universitas Al Azhar Indonesia mengajak kita lebih menghargai kekayaan bumi dan budaya bangsa.
Tak seperti biasa, peringatan Kebangkitan Nasional diperingati secara gegap gempita. Jangan salah paham, pengertian gegap gempita dalam hal ini bukanlah sekadar berhura-hura.
Benar ada pergelaran 80 kuliner Indonesia, 80 Jam Musik Indonesia, 80 Desain Batik secara nonstop di Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya Jalan Jenderal Sudirman Jakarta. Namun panitia acara "Roh Soempah Pemoeda dalam Lirik Batik" ingin menyuguhkan pergelaran yang mampu menggugah perasaan penonton untuk mengingat betapa Indonesia adalah negara yang luar biasa kaya dengan keberagaman.
"Keragaman itu harus kita jaga karena itu kekuatan kita. Inilah yang ingin kami capai dari peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional," harap Rektor Unika Atmajaya Prof Dr FG Winarno.
Menjahit bendera merah putih pada Rabu (22/10), mengawali rangkaian acara Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Pergelaran musik selama 80 jam nonstop dan 80 kuliner akan menjadi rangkaian acara berikutnya. Sasarannya tak hanya anak muda, tetapi siapapun agar mereka lebih peduli kepada masa depan bangsa.
Ide peringatan hari bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia ini memang datang dari Winarno, tetapi ia kemudian mengajak Rektor Universitas Al Azhar Zuhal dan Rektor Universitas Indonesia Gumilar Sumantri ikut mewujudkan keinginan besar itu.
Acara menjahit bendera yangmerupakan simbol menanamkan nasionalisme kepada para siswa, datang dari Ibu Sri, guru SD Winarno saat sekolah di Klaten, Jawa Tengah, tahun 1949.
Kala itu, Ibu Sri mengajak siswanya menjahit sendiri bendera Merah Putih lalu disematkan di dada. Tugas itu begitu kuat tertanam dalam ingatan Winarno dan ingin ia bagikan kepada orang lain.
"Saya kirim pesan lewat SMS kepada dua rektor tersebut lalu keduanya menyambut baik. Kami bertemu dan sepakat mengadakan acara ini bersama-sama," lanjut Winarno.
Pimpinan tiga unversitas tersebut kemudian berbagi tugas. Devie Rahmawati, Deputy Director of Corporate Communication Univeristas Indonesia menjelaskan, pada acara tersebut UI berperan dalam penyelenggaraan acara pada ranah software.
Eksekusinya, UI menyelenggarakan serangkaian seminar yang mengangkat kiprah anak bangsa, serta hal-hal yang penting bagi bangsa ini untuk lebih diperhatikan.
"Dari penyelenggaraan acara ini, kami ingin mengatakan bahwa nasionalisme tidaklah melulu hadir dari medan pertempuran. Namun, juga bisa dari laboratorium, dari kebun, dari manapun. Prinsipnya hal yang dilakukan adalah dapat memberi manfaat luas bagi masyarakat atau bangsa ini," papar Devie.
Sementara, acara yang digelar di Unika Atmajaya merupakan eksekusi konsep pada tataran hardware, yaitu menampilkan model-model kebudayaan massa yang menjadi kekayaan bangsa. Misalnya, musik, fesyen batik, sampai kekayaan kuliner.
"Konsep kami adalah reborn Indonesia. Istilah asing disitu memang sengaja untuk menyadarkan bahwa Indonesia adalah bagian dari komunitas Internasional, sehingga kita pun pakai kode-kode internasional. Dengan kesadaran, sesuatu yang asing diserap dalam konteks keindonesiaan, tanpa kehilangan jati diri. Inilah nasionalisme versi baru yang ingin digagas," papar Devie.
Di lain pihak, Universitas Al Azhar kebagian menyelenggarakan acara menjahit bendera Merah Putih. Sebuah acara yang diikuti 63 mahasiswa dan rektor tiga universitas itu secara untuk bersama-sama menjahit Sang Saka. Keseluruhan rangkaian acara berlangsung sejak pekan ini sampai 28 Oktober nanti, persis pada puncak Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Pergelaran batik, musik dan kuliner yang digelar mulai Jumat (24/10) malam.
Parade makanan
Jenis kuliner yang ditampilkan mulai dari Sumatera Utara, misalnya sangsang. Masakan daging yang diolah dengan bumbu darah. Kedengarannya ekstrem namun perlu dipahami bahwa sebagian orang terutama yang berasal dari suku Batak tak asing dengan sangsang. Saus kental berbahan dasar darah nampak seperti saus gulai biasa. Rasanya leazat dan gurih karena ada campuran rempah khusus yaitu andaliman yang bercita rasa khas pedas yang menyengat di lidah.
Sementara dari Kalimantan akan hadir Soto Banjar, masakan khas suku Banjar Kalimantan Selatan. Bahan utamanya, ayam dan rempah-rempah seperti kayu manis, biji pala dan cengkih. Soto ini berisi daging ayam yang sudah disuwir-suiwr dengan tamabhan perkedel atau kentang rebus, rebusan telur, dan ketupat. Bumbu lain soto banjar berupa bawang merah, nawang putih, merica dan tak memakai kunyit dan ditumis dengan minyak samin.
Jangan lupa mampir ke stand Sulawesi Utara. Disini kita akan menemui makanan khas yang unik. Salah satunya, gohu, asinan khas Manado. Berbeda dengan rujak atau asinan yang menggunakan asinan buah, nbahan dasar gohu hanyalah buah pepaya setengah masak yang dipotonmg kecil-kecil setengah memanjang.
Potongan pepaya itu direndam dalam air matang yang telah diberi bumbu jahe merah, bawang merah, cabai dan cuka yang sudah ditumbuk halus bersama bekasang. Bumbu terakhir adalah semacam terasi tapi belum diproses hingga matang.
Pergelaran ini memang memfokuskan pada tiga hal, band, batik, dan kuliner nusantara. Maka, jangan heran bila suasana Kampus Unika Atmajaya sejak Jumat siang kemarin sudah hingar bingar. Di panggung terdapat seperangkat alat musik yang akan menampilkan band dari Jakarta, Bandung dan Kalimantan.
Tentu saja penampilan band oleh para kawula muda ini disesuaikan dengan tema pergelaran. "Seluruh band menyuguhkan lagu berbahasa Indonesia atau daerah. Tak ada lagu berbahasa inggris di sana," kata Anton Wuisan, Kabag Pergelaran 80 Jam Musik Indonesia-Lirik.
Nah, kali ini tak ada salahnya menghabiskan akhir pekan di kampus sembari menambah wawasan dan kecintaan kepada budaya negeri sendiri...
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/25/01115712/pergelaran.untuk.nasionalisme

Tidak ada komentar:
Posting Komentar