|
| KOMPAS/LASTI KURNIA / Kompas Images Kepala SD berdedikasi dari daerah terpencil se-Indonesia mengunjungi Reaktor Serba Guna GA Siwabessy di Pusat Reaktor Serba Guna Badan Tenaga Nuklir Nasional di Pusat Pengembangan Ilmu dan Pengetahuan dan Teknologi, Serpong, Tangerang, Banten, Kamis (21/8). |
Jakarta, Kompas - Sebanyak 70 kepala sekolah dasar dari berbagai daerah terpencil mengunjungi Reaktor Serba Guna GA Siwabessy dan Pusat Teknologi Pengolahan Limbah Radio Aktif, Serpong, Banten, Kamis (21/8).
Kepala sekolah yang sebagian daerahnya tidak teraliri listrik tersebut terpukau melihat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang tersaji di depan mereka.
"Setelah masuk ke reaktor tadi, saya heran. Tidak terpikir teknologi yang ada sudah luar biasa majunya," ujar Ahmad Zakaria dari Desa Padang Karimata, Kepulauan Karimata, Kalimantan Barat. Untuk menuju kota kecamatan dari desa tempatnya mengajar harus melalui perjalanan kapal bermotor selama 12-13 jam. Di desa itu tidak ada listrik.
Rasa heran juga dialami Sukirdi, peserta dari Sumur, Lampung. "Buat saya sangat berkesan. Tidak terbayangkan penelitian yang sudah dilakukan dengan teknologi nuklir," ujarnya yang juga berasal dari desa tanpa listrik dan baru pertama kali naik pesawat dan berkunjung ke Jakarta. Dia berjanji akan mentransfer pengetahuan yang didapatnya kepada peserta didiknya.
Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Hudi Hastowo mengatakan, citra yang melekat pada pengembangan iptek nuklir terkait erat dengan peristiwa mengerikan bom atom di Nagasaki dan Hiroshima, Jepang. "Padahal, sebetulnya banyak aplikasi nuklir dalam skala tertentu yang berguna bagi masyarakat. Contoh kecil ialah foto rontgen thorax yang merupakan aplikasi iptek nuklir. Sebetulnya sudah berkembang penelitian tentang nuklir, tetapi tidak diketahui masyarakat. Kami berharap para guru juga dapat menyosialisasikan ini ke peserta didiknya," ujarnya.
Saat ini fokus Batan pada penelitian terkait penyelesaian masalah bangsa, yaitu pada tiga fokus—penyediaan pangan, pencukupan energi, dan pemenuhan kebutuhan akan air bersih.
Dalam bidang pangan, telah ada kerja sama dengan 23 provinsi untuk pengembangan bibit unggul. Juga tengah dikembangkan model pencarian air di kedalaman 100 meter di bawah tanah. Juga ada rencana membangun PLTN yang masih menuai kontroversi. (INE)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar