"Masalah keamanan pangan masih banyak ditemukan di sekolah-sekolah," kata Deputi Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawas Obat dan Makanan Dedi Fardiaz, Selasa (19/8), dalam jumpa pers "Petualangan Pompi, Sosialisasi Lima Kunci Keamanan Pangan" di Jakarta.
Hasil survei oleh Badan POM tahun 2007 menunjukkan, 45 persen produk pangan olahan dan siap saji di lingkungan sekolah tercemar baik fisik, mikrobiologis, maupun kimia. Selain tercemar mikroba, banyak produk pangan mengandung formalin, boraks, dan zat pewarna tekstil.
Produk pangan yang tercemar, antara lain, mi, sirup, jelly, dan es, membahayakan kesehatan para siswa, bahkan bila dikonsumsi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker. "Padahal, hampir tiap hari siswa SD mengonsumsi jajanan di sekolah," kata Direktur Surveilans dan Penyuluhan Keamanan Pangan Badan POM Aziza Nuraini.
Sekolah atau kampus merupakan lokasi kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan tertinggi kedua, 15,64 persen.
Oleh karena itu, pengenalan keamanan pangan perlu dikenalkan sejak usia dini. Untuk itu, Badan POM mulai mengampanyekan keamanan pangan pada anak-anak lewat kegiatan "Petualangan Pompi", penyuluhan modern yang atraktif, inovatif, dan kreatif. Isu yang disosialisasikan adalah lima kunci keamanan pangan, seperti pisahkan pangan mentah dari pangan matang, masak dengan benar, serta isu bahan berbahaya yang dilarang dalam pangan.
Kegiatan ini difokuskan pada acara-acara interaksi langsung kepada siswa sekolah dasar di antaranya melalui panggung boneka Pompi dan lokakarya panggung boneka, koki cilik, pustaka Pompi, dan Klub Pompi.
Pada tahap awal, "Petualangan Pompi" diselenggarakan di 27 SD di tiga kota, yakni Jakarta, Semarang, dan Surabaya. (EVY)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/20/0055331/keamanan.pangan.di.sekolah.rendah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar