19 Agustus 2008

63 Tahun Merdeka, Sekolah Masih Susah

Muryati Djafar, Srikandi Batalyon Damarwulan

SP/M Kiblat Said - Muryati Djafar

Pemuda patriot giat berjuang, maju berjuang menentang penjajah Wanita satria ta'mau di belakang, menyusun barisan Srikandi Jaya.

Sebait puisi itu masih membekas di hati Muryati Djafar (87), wanita veteran pejuang kemerdekaan. Puisi yang diciptakan oleh Kapten Rivai, Komandan Batalyon C di Gunung Kawi, Jawa Timur (Jatim), itu dimaksudkan sebagai pengobar semangat para srikandi, di saat perjuangan masih bergolak. Puisi itu tinggal kenangan.

Mantan srikandi dari Kesatuan Damarwulan, kelahiran Kediri 26 Oktober 1921 tersebut, kini menghabiskan sisa hidupnya di atas kursi roda, sambil sesekali melafalkan zikir, pertanda syukur kepada Tuhan yang masih memberinya usia panjang untuk menikmati 63 tahun Kemerdekaan RI tahun ini.

"Dahulu, kemerdekaan kami perjuangkan dengan bersatu padu, mengorbankan nyawa dan harta benda yang tak terbilang nilainya. Sekarang, kemerdekaan ini dinikmati dengan terpecah belah dan kurang rasa peduli terhadap rakyat miskin," ujarnya saat ditemui di rumah tua peninggalan mendiang suaminya Mayor Djafar, di Lorong 299 Jalan Rajawali, Makassar, Jumat (15/8).

Jejak perjuangan Muryati sendiri terekam dalam buku Seribu Wajah Wanita Pejuang dalam Kancah Revolusi 1945, suntingan Irna HN Hadi Soewito. Namun, meskipun dengan napas tersengal-sengal, Muryati masih bersemangat mengisahkan kembali masa-masa perjuangannya di Jawa Timur, hingga kini mengarungi usia senja di tanah rantau, di Makassar, bersama putra-putrinya.

Sejak berstatus siswa Taman Madya (setingkat SMP) Perguruan Taman Siswa di Sumber Pucung, dia memulai perjuangan lewat gerakan bawah tanah, membantu para pejuang di garis depan. Pengorbanan terbesar dialami, tatkala harus kehilangan suaminya, Sutopo, yang diculik pasukan Jepang.

Tahun 1944, sulung dari 11 bersaudara dari keluarga Raden Sukarpin Reksowinoto ini bergabung sebagai pengurus Badan Pembantu Per- juangan. Dengan pangkat sersan mayor, dia bertugas menjadi penghubung dengan prajurit Pembela Tanah Air (PETA) di Blambangan, Banyuwangi, Jatim. Di kancah perjuangan itu, Muryati kembali menemukan tambatan hati, Lettu M Djafar, putra Makassar yang aktif mengikuti perang gerilya di Jatim. Keduanya lantas menikah.

Keadaan darurat perang atau Staat van Oorlog en Beleg (SOB) diumumkan akhir Desember 1946 di Sulsel. Muryati pun harus rela berpisah dengan sang suami, yang ditugaskan ke Sulawesi pada Januari 1947.

Semangat Muryati tak kendur. Ia bahkan aktif di Kesatuan Damarwulan pimpinan Letnan Blegoh Sumarto hingga 1948, dan selanjutnya menjadi staf penerangan batalyon di Madiun yang dipimpin Atmosayono. Ketika meletus pemberontakan Partai Komunis Indonesia pimpinan Muso di Madiun, Muryati ditugasi menyadarkan rakyat.
Selepas itu, batalyon kembali ke Blambangan, melintasi hutan selama berminggu-minggu tanpa bekal. Saat memasuki daerah Blambangan, Muryati tak menyangka seorang polisi dan petugas pemerintah setempat mengenali wajahnya sebagai pejuang. Dia pun ditangkap di Genteng, dan mendekam di penjara selama dua tahun. "Saya empat kali ditangkap Belanda. Dan yang paling menderita ketika ditahan dua tahun dan mendapat penyiksaan," ungkapnya.

Bebas dari penjara, Muryati kembali ke Malang, bergabung dengan Batalyon C Brigade XVI pimpinan Kapten Rivai, yang bermarkas di Gunung Kawi. Di situ, dia menjadi penghubung dari Malang ke Wonogiri. "Tugas saya yang paling berat adalah menyelamatkan dokumen penting dan stempel perjuangan yang digunakan dalam gerakan di Malang," imbuhnya.

Saat peralihan dari Pemerintahan Hindia Belanda ke Republik Indonesia Serikat tahun 1949, Batalyon C diistirahatkan di Gombong, Jateng. Muryati akhirnya bertemu kembali dengan suaminya, selanjutnya pindah ke Sulsel. Tahun 1951, dia mengakhiri karier militer dan diberhentikan dengan hormat serta diberi surat penghargaan.

Prihatin Pendidikan

Didampingi putranya, Arief Bahagiawan, dan putri bungsunya Hetty Murfarida, peraih Bintang Gerilya dan Veteran Golongan A ini mengaku gelisah melihat keadaan bangsa. Sudah 63 tahun merdeka, ternyata masih banyak anak yang susah bersekolah, karena biaya yang mahal.

"Republik ini semakin tua, tetapi kalian (maksudnya rakyat Indonesia) masih saja selalu bertolak belakang pemikiran dan saling menghujat. Mengapa kalian tidak bisa menghentikan silang sengketa dan bersatu memakmurkan negara dan bangsa ini," tandasnya.

Di balik jasa perjuangannya terhadap bangsa dan negara, Muryati mengaku pantang berharap iba atau perlakuan khusus dari pemerintah. Dia mengaku sudah cukup dengan jaminan pensiun veteran. "Saya hanya meminta kepada semua petinggi di negeri ini agar mereka lebih peduli pada nasib anak-anak bangsa. Sekolahkan mereka dengan baik, agar bangsa ini lebih cerdas dan makmur," pesan ibu sembilan anak, serta nenek dari 42 cucu dan 26 cicit itu. [SP/M Kiblat Said]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/08/16/Utama/ut04.htm

Tidak ada komentar: