14 Juli 2008

Warga Berhemat, Penjualan Seragam Sekolah Turun

Seragam sekolah bagi sebagian warga Jakarta bukan lagi barang yang wajib beli menjelang tahun ajaran baru, Juli ini. Hal ini terlihat dari turunnya tingkat jual beli seragam sekolah hingga 30-40 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu di beberapa pasar di Ibu Kota, seperti di Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen, Jakarta Pusat.

"Biasanya saya bisa menjual minimal 3 kodi atau sekitar 350 setel seragam per hari setiap menjelang tahun ajaran baru. Namun, sejak dua pekan terakhir untuk menjual dua kodi saja per hari susah sekali," kata Nurlaela (40), pengelola kios pusat seragam sekolah di Lantai I Pasar Tanah Abang Blok A, Sabtu (12/7).

Nurlaela menjual seragam sekolah SD hingga SMA, baik berupa setelan celana pendek dan kemeja lengan pendek lengkap dengan emblem setiap tingkat sekolah maupun setelan celana panjang dan kemeja lengan panjang.

Harga grosir yang dipatok Nurlaela lebih murah Rp 5.000 hingga Rp 10.000 jika dibandingkan dengan harga eceran. Namun, setiap pembeli wajib membeli minimal satu lusin atau 12 lembar seragam atasan saja atau bawahan saja.

Lesunya penjualan seragam sekolah juga diakui Abah Rosaidi (53), pemilik konveksi, sekaligus melayani penjualan seragam eceran di Pasar Senen.

Menurut Abah, satu setel seragam SD, yaitu kemeja lengan pendek dan celana pendek, hanya dijual Rp 40.000-Rp 50.000. Namun, dengan harga miring itu, sebagian konsumen tetap merasa berat dan memutuskan tidak jadi membeli.

"Kami sudah berusaha memproduksi seragam semurah mungkin. Kemeja lengan pendek harganya Rp 20.000-Rp 35.000, yang lengan panjang Rp 35.000- Rp 45.000. Celana juga harganya hampir sama. Namun, tetap saja dalam sehari hanya 100-200 setel terjual, padahal biasanya bisa sampai 400-500 setel per hari," kata Abah.

Satriani Rumangkang (41), warga Jalan Alaydrus, Gunung Sahari, mengaku terpaksa mengurangi anggaran membeli seragam. Alasannya, Satriani lebih mementingkan membelanjakan uangnya untuk membeli buku tulis dan buku pelajaran bagi dua anaknya yang duduk di bangku kelas VI dan kelas II SD.

"Tidak jadi beli dua setel. Harus berhemat untuk membeli buku sekolah. Saya juga masih harus mengatur sisa uang agar cukup untuk belanja kebutuhan sehari-hari hingga akhir bulan," ujar Satriani. (NEL)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/14/00565366/warga.berhemat.penjualan.seragam.sekolah.turun

Tidak ada komentar: