Di sisi lain, pemerintah sudah membeli 49 hak cipta buku SD, SMP, SMA/SMK dan mengunggah (upload) di http://bse.depdiknas.go.id, www.depdiknas.go. id, www.pusbuk.or.id, dan www. sibi.or.id. Ada sekitar 200 buku lagi yang disiapkan pemerintah untuk semua mata pelajaran yang dapat dimanfaatkan tahun ini.
Turman, Kepala SD Negeri Nanggung 01, Serang, Banten, Jumat (4/7), mengatakan, sekolahnya tidak memiliki fasilitas internet agar bisa leluasa mengakses buku pelajaran digital tersebut. Sementara itu, soal buku digital versi cetak dengan harga eceran tertinggi (HET), belum ada informasinya.
"Jika memang ada buku cetak yang harganya lebih murah dari buku yang ada di pasaran, tentu akan sangat membantu sekolah dan siswa. Sekolah kami menyediakan buku yang dipakai siswa secara gratis. Tetapi, dengan hanya mengandalkan BOS buku, hanya buku IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia yang bisa disediakan. Itu pun hanya cukup untuk 30 persen siswa," katanya.
Menurut dia, jika pemerintah punya program untuk menyediakan buku pelajaran yang murah, sekolah-sekolah seharusnya sudah diberi informasi tentang bagaimana mendapatkannya. Jika demikian, sekolah akan memiliki pilihan hendak memakai buku digital atau buku cetak biasa.
Sri Wahyuni, Kepala SDN Gunung 02 Petang, Jakarta, mengatakan, pada tahun pelajaran ini, semua buku pelajaran kelas I hingga kelas VI sudah disediakan sekolah secara gratis dari dana bantuan operasional sekolah (BOS) dan biaya operasional provinsi (BOP) secara bertahap. "Saya belum tahu soal adanya buku sekolah elektronik itu," kata dia.
Menurut Sri, meski sekolahnya sudah bisa menyediakan buku gratis, buku elektronik yang bisa digandakan cuma-cuma tentu bisa menambah pilihan buku.
"Jika ada yang lebih murah lagi dan kualitasnya sama, sekolah tentu akan sangat terbantu. Nanti saya akan coba cari informasinya," kata Sri.
Kepala SMAN 10 Malang Niken Asih S mengatakan, buku teks elektronik bisa menjadi alternatif sumber belajar di sekolah. Pasalnya, di sekolah ini, para guru dibiasakan bisa menyiapkan bahan ajar sendiri yang diperkaya dari berbagai sumber ajar.
"Untuk tahun ajaran nanti, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah akan ditingkatkan. Terutama para guru, mereka dibantu untuk bisa memiliki laptop. Di sekolah juga hendak disediakan hotspot," ujar Niken.
Menurut Niken, sekolah tidak mewajibkan siswa membeli buku teks pelajaran. Sebab, siswa punya pilihan untuk memanfaatkan koleksi perpustakaan. "Dengan adanya buku teks online, guru semakin kaya bahan ajarnya. Siswa juga semakin mudah mendapat buku," tutur dia.
Fitriani Sunarto, Koordinator Kelompok Independen untuk Advokasi Buku (KITAB), mengatakan, kebijakan pemerintah soal e-book ini jangan justru membuka celah penjualan buku-buku di sekolah. "Terutama untuk pendidikan dasar, pemerintah justru harus bisa menyediakan buku- buku pelajaran secara gratis yang bisa diakses semua siswa. Bagaimana yang di pedalaman, apakah mereka bisa mendapat buku versi cetak secara gratis?" ucap Fitriani. (ELN)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/05/00411050/sekolah.tetap.pakai.buku.lama

Tidak ada komentar:
Posting Komentar