14 Juni 2008

Tobi, Pembuat Soal Unik Matematika

ESTER LINCE NAPITUPULU

Tak cuma jago memecahkan soal-soal Matematika yang butuh kemampuan logika, Tobi Moektijono (14) juga piawai menciptakan soal Matematika. Pelajar kelas II SMP Kolese Kanisius, Jakarta, yang memenangi berbagai kompetisi Matematika tingkat nasional dan internasional ini menerbitkan dua buku kumpulan soal unik Matematika disertai solusi alternatif Tobi.

Tobi menganggap soal Matematika tak hanya menyelesaikan hitungan angka-angka. Dalam Matematika ia justru menemukan keasyikan untuk mengasah kreativitas dan kemampuan berlogika. Pasalnya, ada banyak solusi untuk memecahkan soal Matematika.

"Saya buat soal-soal Matematika karena senang membuat persoalan untuk dipecahkan sendiri. Proses membuatnya tergantung inspirasi, bisa di waktu senggang atau lagi makan. Saya enggak maksa," kata Tobi yang meraih prestasi bidang Matematika tingkat internasional sejak duduk di kelas V SD Santa Maria, Jakarta.

Ia menyebut kebiasaannya menciptakan soal logika Matematika itu sebagai hobi. Jika ide membuat soal muncul, Tobi baru berhenti saat solusi dapat dia temukan dengan memuaskan.

Soal Matematika yang dibuat Tobi banyak yang belum ada, alias kreasi sendiri. Karena itulah soal Matematika karyanya diklaim sebagai soal yang unik.

"Saya tidak bisa bilang soal ini untuk siswa SD atau SMP. Soalnya, ada juga yang sudah kuliah diminta ngerjain soal Matematika di buku saya, enggak bisa. Saya lebih suka menyebut buku ini untuk pencinta Matematika," ujarnya.

Kata Tobi, Matematika ditakuti banyak siswa lebih karena pengaruh orangtua atau orang lain yang mengatakan Matematika itu susah. Padahal, awalnya si anak santai saja belajar Matematika.

"Kalau dari TK, Matematika dibilang enak, ya seterusnya dia akan menyukai. Tapi, rata-rata orang bilang soal Matematika itu susah, atau gurunya galak, pekerjaan rumahnya banyak," katanya.

Meskipun memiliki kemampuan luar biasa di bidang Matematika, Tobi merasa amat kurang dalam menghafal teori Matematika. "Saya sering lupa rumus. Jadi, saya harus mendengarkan guru saat di kelas. Saya juga suka diskusi dengan guru Matematika," kata Tobi yang menjadi tutor Matematika di SD Santa Maria.

Menurut Tobi, untuk merangsang kemampuan logika Matematika, soal yang dikembangkan mestinya tak seperti lazimnya soal Matematika yang diajarkan di sekolah, seperti 2 + 3 = ... . "Kalau logika itu, soal Matematika misalnya dibuat ... + 3 = 5. Solusinya kan enggak cuma satu, bisa banyak. Selain logika, kreativitas pun muncul."

"Di sinilah Matematika itu jadi menarik, bukan cuma hitungan yang ribet. Matematika berguna untuk kehidupan sehari-hari," kata Tobi yang mengisi waktu luang dengan baca buku, renang, dan main piano.

Mengumpulkan soal

Ihwal terbitnya dua buku kumpulan soal unik Matematika yang dilengkapi solusi alternatif Tobi itu berawal dari koleksi soal buatannya yang makin banyak. Saat di kelas IV SD, Tobi sudah rajin membuat soal sebagai sarana belajarnya sendiri.

Ketika makan di restoran pun ia memanfaatkan kertas di meja untuk mengutak-atik soal. Dalam waktu 30 menit, sebuah soal bisa selesai dengan jawabannya.

Kertas-kertas berisi coretan soal Tobi itu dengan telaten dikumpulkan Grace, ibunya. Dari kelas IV-VI SD, ia menghasilkan 150 soal Matematika kreasi sendiri.

"Kesukaannya membuat soal ini kami ceritakan kepada Kepala SD Santa Maria, Suster Alexis. Dia menyarankan untuk diterbitkan dalam buku," kata Heruprajogo, ayah Tobi.

Dengan bantuan Ridwan Hasan Saputra, Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA, yang membimbing Tobi dalam kompetisi Matematika internasional, kumpulan soal Topi lalu diperiksa. Mengusung semangat orisinalitas dan unik ala Tobi, soal pun dipilih yang memang belum ada dengan beragam tingkat kesulitan.

"Untuk munculnya sebuah buku tak ada target, alamiah saja, meskipun tak menutup kemungkinan ada kemiripan dengan soal di buku lain karena samudra soal begitu banyak. Yang penting tidak mencontek. Kami bilang ke Tobi, buat apa nyontek atau cuma angka diganti, ini lebih memalukan," kata Heruprajogo.

Meski ada royalti dari penerbitan buku itu, tetapi yang lebih penting, lewat buku ini kreativitas dan kejujuran Tobi bisa dilatih. "Ia harus berani mempertanggungjawabkan, karena ada jawaban," kata ayah Tobi.

Buku pertama Kumpulan Soal-soal Unik Matematika berisi 100 soal dan solusi, diterbitkan Maret 2006 saat Tobi duduk di kelas VI SD. Penerbitan dan pemasaran buku perdana Tobi yang dicetak 3.000 eksemplar dilakukan keluarga secara mandiri. Sampul kedua buku Tobi yang bernuansa kartun dibuatkan oleh adik semata wayangnya, Isselin (11).

"Senang bisa punya buku," ujar Tobi yang buku PR Matematika-nya suka dipinjam teman-teman.

Sekitar 1,5 tahun kemudian terbit buku keduanya. Ia mengumpulkan soal yang berbeda dari buku pertama. Dari 130 soal, yang dinilai layak untuk buku kedua hanya 80 soal. Untuk buku kedua, Tobi mendapat masukan dari sekolah, terutama Kepala Sekolah Br Y Triyono, SJ.

"Setiap soal saya beri solusi alternatif, karena dari satu soal yang sama, cara menjawabnya bisa beda," kata Tobi yang ingin menjadi ahli genetika.

Sejak kecil

Minat Tobi terhadap Matematika terlihat sejak berumur 2,5 tahun. Ia menyukai angka dan huruf, bukan mainan seperti anak-anak umumnya. Saat itu ia juga mampu membaca kalimat sederhana.

Sejak kecil impiannya adalah menemukan rumus Matematika sendiri. Ia juga senang mengeksplorasi hal baru yang terkait Matematika. Saat di taman kanak-kanak, ia menemukan penjumlahan bilangan ganjil tanpa diajari siapa pun. Sambil bermain, ia bisa menjelaskan: 1 + 3 + 5 + 7 + 9 = 25.

Di kelas IV SD, Tobi diikutkan lomba Matematika dan dia unggul. Ia lalu digaet Departemen Pendidikan Nasional ikut berbagai kompetisi Matematika tingkat internasional. Tahun 2005 ia meraih medali emas dan penghargaan teori terbaik pada International Mathematics and Science Olympiad.

Saat mengajarkan Matematika untuk anak-anak yang bersiap kompetisi, Tobi suka memberikan soal-soal kreasinya. Kesempatan ini sekaligus dia pakai untuk belajar melihat solusi dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Tobi tengah giat mempersiapkan diri untuk ikut dalam Olimpiade Sains Nasional 2008 di Makassar, Sulawesi Selatan. Karena sudah meraih medali emas pada kategori bidang Matematika tingkat SMP, tahun ini dia ikut di tingkat SMA.

"Dalam berlomba itu yang harus dikalahkan adalah soalnya," kata Tobi.

Dia bertekad akan terus menciptakan soal-soal Matematika. Sesuatu yang baginya terasa menantang untuk meningkatkan kemampuan belajarnya, sekaligus bisa berguna buat para pencinta Matematika.

http://cetak.kompas.com/sosok 14 juni 2008

Tidak ada komentar: