11 Juni 2008

Sekolah Kejuruan Merasa Dimarjinalkan

BANDUNG - Sekolah Menengah Kejuruan merasa dimarjinalkan oleh pemerintah. Karena, mendapat perlakuan berbeda dengan sekolah menengah umum terkait kesempatan mengikuti ujian nasional pendidikan kesetaraan Paket C. Mulai tahun ini, ujian nasional Paket C dinyatakan tertutup bagi siswa SMK.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK se-Kota Bandung Dedi Indrayana mengakui, pada prinsipnya, UNPK Paket C didesain untuk sekolah menengah umum. Sehingga, tidak cocok untuk kejuruan. Sebab, ujiannya menitikberatkan aspek pengetahuan akademis dan bersifat sangat umum. Sementara, SMK justru memfokuskan aspek keterampilan atau vokasi.

"Namun, harusnya kan ada solusi. Bagaimana caranya agar siswa kami tetap bisa mendapatkan ijazah," ujarnya, Rabu (11/6). Menurut Kepala SMKN 8 Kota Bandung ini, peniadaan UNPK Paket C khusus siswa SMK ini adalah bentuk ketidakadilan yang bisa menimbulkan kecemburuan. Padahal, di lain pihak, pemerintah justru punya kebijakan menumbuhkan SMK.

Untuk itu, ia berpendapat perlunya penyempurnaan UNPK Paket C. Artinya, dibuat model UNPK khusus siswa SMK. "Atau, diadakan lagi saja ujian susulan seperti dulu," ucapnya. Penyesuaian lainnya, adalah terkait soal mata pelajaran yang diujikan. Sebab, di UNPK Paket C saat ini, ada sejumlah mata pelajaran yang justru tidak diajarkan di SMK. Misalnya, Biologi, Kimia, Sosiologi, dan Tata Negara.

Yang lebih menyedihkan, ungkapnya, banyak siswa SMK yang telanjur dipesan industri sebelum mereka lulus. Di SMKN 8 misalnya, Juni ini ada 40 siswa yang dikirim ke Jakarta untuk bekerja di sedikitnya dua perusahaan. Industri berani memesan mereka karena kompetensinya, bukan ijazahnya. Namun, dalam kontrak kerja disebutkan, mereka akan dikeluarkan jika tidak bisa memperoleh ijazah tahun ini.

"Bayangkan bagaimana kecewanya siswa jika mereka ternyata tidak lulus padahal sudah telanjur diterima di industri," tuturnya. Di SMKN 8, tahun lalu, ada seorang siswa tidak lulus ujian nasional. Ia mengikuti ujian Paket C dan dinyatakan lulus. Namun, tahun ini justru mengikuti kembali ujian nasional semata-mata karena ingin memperoleh ijazah dari SMK yang katanya lebih membantu peluang dalam mencari kerja.

Kepala SMKN 7 Kota Bandung Entis Sutresna berpendapat senada. UNPK Paket C dalam model yang lama tidaklah cocok dengan siswa SMK. Perlu ada desain baru yang bisa tetap mengakomodasi kepentingan siswa SMK dalam memperoleh ijazah di tahun ini, tanpa harus mengikuti ujian nasional ulang tahun berikutnya.

Ia pesimis, model kebijakan UNPK yang lama bisa menjembatani kebutuhan ini. Sementara ini, tidak akan mampu ujian ini mampu menyesuaikan beragamnya program keahlian di SMK. "Bayangkan, di Kota Bandung saja ada 46 macam program keahlian," ucapnya.

Ia berpendapat, ijazah kelulusan biasanya hanya dibutuhkan siswa yang hendak melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Sebab, perusahaan kebanyakan tidaklah ikut mensyaratkan ijazah akademik. Kompetensi yang dibuktikan melalui sertifikat adalah hal yang lebih penting.

Berdasarkan keterangan Koordinator UNPK Badan Standar Nasional Pendidikan Yunan Yusuf, ujian nasional Paket C tertutup diikuti siswa SMK karena sejumlah mata ujinya ternyata tidak dipelajari di SMK. Apalagi, di SMK, lebih diutamakan kompetensi. Sehingga, pemberian ijazah harusnya disesuaikan dengan kompetensi mereka.

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/06/11/19223125/sekolah.kejuruan.merasa.dimarjinalkan..

Tidak ada komentar: